PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label A. Mustofa Bisri (gusmus). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label A. Mustofa Bisri (gusmus). Tampilkan semua postingan

Mengapa Fatwa Gus Mus dan SAid aqil Siradj Terkait Larangan Sholat Jum’at Dijalan Tak Ditaati

Argumentasi sederhana ini cukup telak mematahkan fatwa Gus Mus dan Said Aqil Siradj (SAS) terkait larangan sholat Jum’at di jalan. Gus Mus sebut sholat Jum’at di jalan adalah bid’ah besar, sedangkan Said Aqil Siradj sebut tidak sah.

Faktanya, bukan cuma jutaan umat Islam yang tidak mau melaksanakan fatwa Gus Mus dan Said itu, Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta jajarannya pun mengabaikan fatwa petinggi organisasi PBNU itu.

Kenapa bisa demikian? Ulasan sederhana dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Ahmad Musta’in Syafi’ie yang berjudul: “DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51” ini coba menjawabnya.

DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51

Oleh : KH Ahmad Musta’in Syafi’ie
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur

Sekian lama kiai toleransi sengaja “menyembunyikan-mu”, wahai al-Maidah:51. Ternyata Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-Nya sendiri Dia bertindak. Cukup lidah Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar. Kita petik hikmahnya :

1. Aksi 411 and 212 adlh bukti bhw Allah SWT itu ada dan kehendakNya tdk bisa dibendung oleh siapapun. Pemerintah trpaksa harus mengalah, pdhal sblumnya Jokowi sdh pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi doa. Ternyata malah punya daya tarik yg luar biasa. Sluruh negeri menyambut dg nama berbeda, aksi Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll.

Negara jg trpaksa mengeluarkan dana sangt besar utk menfasilitasi aksi 212. Aparat di jalanan trpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol islam. Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, polwan serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat merah-putih melilit kepala. Lucu (?). Mungkin Tuhan sdng menjewer telinga kita, agar slalu “putih” dlm mengemban amanat.

2. Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bhw negeri ini lebih didirikan oleh teriak “Allah Akbar” ketimbang “Haliluya”. Umat islam yg selama ini diam, kini sbgian kecil berani menunjukkan jati dirinya scra alamiah dan sangat militan. Inilah yg disebut “silent majority”. Maka jangan coba-coba mengusik “air tenang” jika tidak ingin hanyut.

3. Aksi ini sungguh peringatan, bahwa : tasamuh, tawazun, tawassut yg dislogankan NU itu perlu ditinjau kembali. Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya. Di samping ada batasan, wajib apa pengawalan yg tegas dan bijak. Sadarlah, betapa kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya, mereka sdh mulai tdk sudi dan meninggalkan gaya PBNU yg tk jelas. Sok toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih” RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” tapi sejatinya “ADL’AFUL IMAN”.

Dialah Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, memaaf. Jika agama dinista, beliau marah besar. Bbrpa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat. Mukmin beneran itu tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, ” asyidda’ ‘ala al-kuffar, ruhama’ bainahum” (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, “asyidda’ ‘ala al-mukminin, ruhama’ bain al-kuffar”. (?)

4. Gus Mus yg membid’ahkan shalat jum’ah di jalan raya dan kiai Sa’id yg menghukumi tdk sah skrang diam soal shalat jum’ah di Silang Monas. Wonten punopo kiai?. Begitulah bila fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtifah fiqih utk kepentingan politik.

Benar, jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan yg ketepatan lewat. Stelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat islam pd umumnya. Maslahah inilah yg tdk beliau lihat. Lagian, tradisi kita sdh biasa menutup jalan utk majlis dzikir, istighatsah, trmasuk haul Gus Dur di pesantren Tebuireng.

Gus Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid’ahkan, tapi sekarang ganti membid’ahkan sesama muslim, “bid’ah besar”. Ternyata, amunisi bid’ah yg ditembakkan Gus Mus ini lbh besar dibanding bid’ah yg ditembakkan nonnahdliyin.

Skedar mmbaca sejarah, bhw zaman Umar ibn al-Khattab, tentara islam shalat jum’ah di jalan sblum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum’ah di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal khilafah Utsmniyah berdiri. Sekali lagi, orang ‘alim mesti melihat sisi maslahah jauh ke depan ketimbang illat “bid’ah” sesaat.

Mengagumkan, fatwa dan puisi Gus Mus begitu manusiawi, tawadlu’, filosufis dan sufistik sehingga mengesankan derajat beliau telah mencapai hakekat keagamaan. Tiba-tiba tega merendahkan ilmu kiai-kiai MUI dengan mengatakan ilmu Syafi’i Ma’arif lebih tinggi. Sungguh membuat penulis tercengang. Ya. karena pernah kuliah di Jogya dan sedikit tahu.

Merendahkan ilmu kiai-kiai MUI sama saja dg merendahkan ilmu ketua Syuriah NU, KH. Ma’ruf Amin. Begitu cerdiknya Gus Mus, “sekali dayung dua kepala kena pentung”. Penulis membatin, ” kok bisa, sekelas ketua Syuriah NU tega merendahkan sesama ketua Syuriah. Ini fenomena apa?”. Hadana Allah. Terpujilah kiai Makruf tdk meladeni. Meski demikian, akan lebih elegan bila kiai Ma’ruf Amin tdk merangkap jabatan. Mohon maaf kiai.

A. Mustofa Bisri (gusmus)


A. Mustofa Bisri adalah seorang kyai yang mengelola Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kyai yang biasa dipanggil dengan sapaan Gus Mus ini adalah alumnus Al Azhar University, Kairo. Ketika di tahun 2003 masyarakat ramai mempermasalahkan goyang ngebor ala Inul Daratista, sang kyai tampil sebagai salah satu pembela. Ekspresi pembelaannya dicurahkan melalui sebuah lukisan yang diberi judul Berdzikir Bersama Inul. Pada lukisan itu, digambarkan sejumlah kyai yang sedang berdzikir dalam posisi mengelilingi Inul yang sedang melakukan aksi goyang ngebor-nya.

Lukisan berukuran 60 cm x 50 cm itu dipamerkan pada acara Pekan Muharram 1424 H di Masjid Agung Al Akbar, Surabaya, yang diselenggarakan Harian Duta Masyarakat (4-9 Maret 2003). Selain KH A.Mustofa Bisri alias Gus Mus, juga dipamerkan lukisan karya Danarto (pengikut Lia Eden?), Djoko Pekik, (alm) Amang Rahman, Zawawi Imron dan lain-lain.


Lukisan Gus Mus itu sempat memancing emosi sebagian warga Surabaya. Pengurus masjid menerima ancaman dari sekelompok orang yang mengatasnamakan pemuda Islam. Isi ancamannya, masjid akan dibakar jika panitia tidak menurunkan lukisan porno tersebut. Ancaman itu diterima pengurus masjid melalui telepon pukul 13.00 WIB, Kamis (6 Maret 2003). 

Menurut Danarto, pelukis kenamaan di Jakarta yang juga kawan Gus Mus, “Saya menilai Gus Mus ingin membela seorang wanita bernama Inul yang sedang tertindas karena di sana-sini muncul pencekalan akibat gaya tariannya.”

Oh, jadi dalam rangka membela Inul yang goyang ngebor-nya dipermasalahkan banyak orang itu, maka Gus Mus membuat lukisan yang dipamerkan di dalam masjid. Astagfirullah al’adziiem. Urusan yang porno-porno kayak gitu koq dibawa-bawa ke masjid!

Kecenderungan Gus Mus terhadap yang porno-porno juga terlihat ketika dia memberikan ilustrasi tentang kebebasan berfikir ala sepilis (sekulerisme, pluralisme agama –menyamakan semua agama— dan liberalisme) yang menurut fatwa MUI dikategorikan sesat dan haram. Bagi Gus Mus, pluralisme agama, liberalisme, dan sekularisme adalah gagasan (ide) dan pemikiran, sehingga tidak bisa diharamkan. Kecuali bila pemikiran itu diejawantahkan dalam tindakan yang merusak dan merugikan orang banyak, baru bisa diharamkan. “Kalau Sampean punya gagasan akan menzinahi bintang film, ia baru haram kalau Anda laksanakan. Kalau masih gagasan, tidak apa-apa.”

Pernyataan itu dikemukakan Gus Mus yang pernah menjabat sebagai Rois Syuriah PB NU kepada Novriantoni dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) yang mewawancarainya pada hari Kamis tangggal 4 Agustus 2005, dalam rangka mengomentari fatwa MUI tentang sesatnya JIL. 

Dari pernyataan Gus Mus itu, maka semakin terbuktilah bahwa kyai itu belum tentu ulama, dan meski seseorang itu digelari ulama, belum tentu ia ulama yang mengikuti Rosululloh SAW. (lihat tulisan berjudul Kyai Belum Tentu Ulama edisi 6 April 2008).

Apa yang dinyatakan Gus Mus itu jelas berselisihan dengan hadits-hadits shahih berikut:
1550 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ النُّطْقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ.
1550 Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shallallahu ‘alahi wasallam bersabda: Allah subhanahu wata’ala telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, di mana dia akan melakukan zina mata dalam bentuk pandangan, zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya manakala kemaluanlah yang menentukannya berlaku atau tidak. (Muttafaq ‘alaih).

عَن أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُوَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ )مسند أحمد:8507(
“Likulli banii aadama haddhun minaz zinaa: fal ‘ainaani tazniyaani wa zinaahuman nadhru, walyadaani tazniyaani wazinaahumal bathsyu, warrijlaani tazniyaani wazinaahumal masy-yu, walfamu yaznii wazinaahul qublu, walqolbu yahwii wa yatamannaa, walfarju yushod
diqu dzaalika au yukaddzibuhu.” 

Artinya: Hadits dari Abu Hurairah, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap bani Adam ada potensi berzina: maka dua mata berzina dan zinanya melihat, dua tangan berzina dan zinanya memegang, dua kaki berzina dan zinanya berjalan, mulut berzina dan berzinanya mencium, hati berzina dan berzinanya cenderung dan mengangan-angan, sedang farji/ kemaluan membenarkan yang demikian itu atau membohongkannya.” (Hadits Musnad Ahmad 8507, juz 2 hal 243, sanadnya shohih, dan hadits-hadits lain banyak, dengan kata-kata yang berbeda namun maknanya sama). 

Benarlah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan bohonglah A. Mustofa Bisri.

- See more at: http://www.nahimunkar.com/gerombolan-porno-dalam-akkbb/#sthash.nqb5ZGbO.dpuf