PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Anti Syiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anti Syiah. Tampilkan semua postingan
Kumpulan Fakta Syiah Bukan Islam

Kumpulan Fakta Syiah Bukan Islam

Sebelum membahas kekeliruan Syi'ah harus kita pahami dahulu bahwa Syi'ah Indonesia adalah Syi'ah Itsna Asyariah bukan Zaidiyah.

Syi'ah Itsna Asyariah adalah syi'ah yang percaya 12 Imam atau disebut Imamiyah. Syi'ah ini yang mayoritas ada didunia termasuk rezim yang berkuasa di iran.

Syi'ah Imamiyah inilah yang disebut Syi'ah Rafidhah, karena mereka mencaci bahkan mereka mengkafirkan para Sahabat Nabi, Syiah Zaidiyah bukan Rafidhah karena tidak mencaci Sahabat

Ciri khas utama syiah ada 2 yaitu kultus berlebuhan kepada ALI serta keturunannya dan peecehan terhadap para Sahabat Nabi.

Saya menyimpulkan 2 ciri khas utama itu adalah wordview nya Syiah , semua aspek dalam agama pasti berpangkal pada 2 hal tersebut.
silahkan yang ingin membuktikan pemikiran Syiah tentang Al-Qur'an dan Hadist, politik , Fiqh diasaskan oleh kultus ALI dan benci kepada para Sahabat.

Konsep Ketuhanan juga dipengaruhi Ideologi kultus Imamah , Konsep Keesaan Syiah berbeda dengan konsep keesaan dalam Islam.
Kitab Al-Kafi kitab hadist Syiah yang utama menjelaskan bahwa yang dimaksud musyrik adalah menyekutukan Imam Ali dengan Imam yang lain.

Lebih jelas lagi dalam kitab AL-Bihar Al-Munawar Kitab rujukan Syiah mengatakan " siapa saja yang tidak percaya ALI adalah Imam pertama adalah Kafir " .

Jadi yang dimaksud Syirik bagi Syiah bukan cuma menyekutukan ALLAH tapi juga meyekutukan ALI dalam kepemimpinan.
Jadi Syiah itu sejatinya golongan takfiriyah yang sebenarnya. Mengkafirkan kaum muslim karena tidak mengangkat Ali dalam Imam Pertama.

Orang yang bukan Syiah mereka sebut Nawashib, sebutan hina , Nawashib menurut Imam-Imam mereka hartanya Halal.

Syiah menyesatkan para Aimmatul Madzhib Imam Mazhab yang empat, Ahlusunnah. Mereka sebut Ahlul Bid'ah Kafir dan Sesat ( Kitab Al-Syiah Hum Ahlussunnah )

Istri Tercinta Rasulullah , Aisya . disesatkan Imam Thabrasi mengatakan Kemuliaan Aisyah gugur karena melawan ALI, dia ingkar kepada ALLAH.

Syiah mengkhafirkan sahabat, menurut mereka sahabat yang Islam cuma 3 yaitu : abu Dzar ,Salman , dan Miqdad.

Kenapa Syiah menghalalkan Mut'ah ? lagi-lagi yang meriwayatkan haramnya Mut'ah itu Umar bin Khattab karena kebenciannya itu hadistnya ditolak.

kenapa Syiah menolah Mushab Utsmani sebagai Al-Qur'an ? karena yang menyusun itu Utsman yang mereka benci.

Syaik Syaduq ulama Syiah mengatakan darah Nawasib ( Muslim Sunni ) itu Hallal.

Dalam kitab Thaharah, Khomaini menyebut Sahabat itu lebih jijik daripada anjing dan babi.

Imam Khomaini pernah berfatwa bahwa Nawasib itu kependudukannya sama dengan musuh yang wajib diperangi ( Ahlul Harb ).

Karena itu cara tepat mengenal Syiah itu dengan menelaah kitab-kitab induk mereka , karena itu ajaran mereka sesungguhnya.

Jangan terkecoh dengan buku-buku Syiah sekarang karena penuh propoganda, intrik dan pengelabuan.

Syiah punya rukun agama yang bernama Taqiyah " La diina Liman Taqiyah " artinnya tidak beragama yang tidak Taqiyyah disebut dalam Al-Kafi.

Karena Taqiyyah itu Imam Syafii berpesan bahwa golongan yang banyak berbohong itu adalah Syiah.

Maka jangan heran jika mereka mengaburkan Fakta-fakta Syiah Sampang , Karena itu bagian dari Aqidah Teologi kebohongan itulah Taqiyyah.

Waspadalah Syiah punya sayap militan, mereka pernah mau kirim relawan kesuriah bantu rezim asad .

Seorang pengurus PBNU pernah menulis Syiah Indonesia sedang siapkan konsep Imamah diindonesia, dalam arti mereka sedang siapkan revolusi.

Syiah membahayakan NKRI, ada fatwa Khomaini yang mewajibkan syiah untuk revolusi dinegara masing-masing.

Gerakan Syiah didukung kelompok liberal. Pokoknya segala aliran yang merusak dan sesat yang diletakkan dalam Islam didukung Syiah . sekarang mereka bersatu.

Visi Syiah-liberal hampir sama dalam hal pelecehan Sahabat Nabi dan meragukan Al-Qur'an.

liberal punya ideologi relativitas ternyata Syiah dalam kampanyenya menggunakan ideologi tersebut untuk kelabui Kaum Sunni.

Contok Relativisme adalah kampanye sunnah-Syiah sama saja, sama Tuhan dan Nabi. ini mencontek kaum Liberal.

Filsafatnya orang syiah ternyata juga berujung fluralisme dan pantaeisme , Filsafatnya mengadopsi paripatetik.

Demikianlah fakta-fakta syiah jika muslim anti liberal maka seharusnya juga anti Syiah mereka sama-sama ideologi perusak Islam

Semoga kita dilindungi dari makar Syiah dan liberal. Amin

Buramnya Mata Najwa… Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok

Buramnya Mata Najwa… Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok

Belajar dari pengalaman, jika memilih pilihlah yang muslim dibandingkan non-muslim, jika anda memegang pendapat ulama yang boleh ikut memilih pada keadaan tertentu
_______________________________
Buramnya Mata Najwa… [Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok]
Oleh: Firdaus Cahyadi
Blogger, Pemerhati Media

Islamedia – Saya termasuk penggemar acara Mata Najwa di Metro TV. Acara Mata Najwa adalah sebuah talk show yang kritis. Apalagi pemandunya adalah Najwa Shihab, perempuan yang cerdas dan seringkali membuat narasumbernya kehabisan jawaban saat dikejar pertanyaan olehnya.

Namun, kemarin malam (7/10), saya agak kaget melihat Mata Najwa dengan tema, “Para Penantang Ahok”. Semula saya memperkirakan di acara talkshow itu akan terjadi perbincangan yang lebih substantif terkait kebijakan-kebijakan Ahok sehingga beberapa orang memilih menjadi penantangnya.

Semula saya juga menduga bahwa persoalan-persoalan yang selama ini mendapat perlawanan dari publik, seperti; pembangunan 6 jalan tol dalam kota, reklamasi pantai utara Jakarta, Proyek Giant Sea Wall, penggusuran warga miskin kota, penanganan banjir, sampah akan menjadi perbincangan seru di talkshow itu. Karena dugaan itulah, saya sengaja menunda makan malam hanya untuk menunggu acara ini.

Namun, dugaan saya salah. Kali ini Mata Najwa justru seperti menghindar dari diskusi-diskusi yang bisa mencerdaskan khalayak. Mata Najwa seperti menggiring talkshow kali ini hanya membahas figur Ahok dari sisi kesantunan dalam bicara dan isu etnis serta agama. Najwa Sihab tidak mengarahkan diskusi mengenai kebijakan Ahok yang kontroversial. Seakan selama ini pihak-pihak yang menantang Ahok tidak ada yang mempermasalahkan kebijakannya. Mereka menantang Ahok karena persoalan kesantunan dalam bicara dan perbedaan etnis serta agama.

Marco Kusumawijaya, salah satu pihak yang diposisikan sebagai penantang Ahok, sempat mengangkat persoalan-persoalan yang substansial dari kota Jakarta, seperti lingkungan hidup, budaya dan keterlibatan warga dalam pengambilan kebijakan. Namun, sayang Najwa Shihab tidak begitu tertarik menggali lebih dalam persoalan-persoalan substantif pengelolaan kota Jakarta itu.

Frame (Bingkai) yang dipakai dalam talkshow Mata Najwa kali ini adalah “Tidak Ada yang Salah dalam Kebijakan Ahok di Jakarta”.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan Ahok yang mendorong pembangunan 6 tol dalam kota, padahal pembangunan tol baru justru akan merangsang penggunaan kendaraan bermotor pribadi, dan akhirnya akan menambah kemacetan serta polusi udara di Ibukota.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan reklamasi dan proyek Giant Sea Wall dari sisi keberlanjutan lingkungan hidup dan sosial.

Mata Najwa kali ini juga gagal menggali lebih dalam ritual penggusuran warga miskin kota yang justru dilestarikan oleh Ahok.

Dalam hati saya bertanya, kenapa Mata Najwa kali ini tidak kritis? Apakah buramnya Mata Najwa dalam episode, “Para Penantang Ahok”, terkait dengan santernya kabar bahwa Partai Nasdem siap dukung Ahok dalam Pilkada Jakarta? Entahlah.

Yang jelas pada episode ini Mata Najwa nampak buram dan tidak memberikan pencerahan ke khalayak. Mata Najwa kali ini lebih mirip acara kampanye Ahok untuk mempertahankan kekuasaannya daripada sebuah diskusi yang mencerdaskan. Sayang sekali…

INILAH " PABRIK " Percetakan Kader Syi'ah Terbesar di Indonesia

Namanya : Pesantren YAPI , Bangil - Pasuruan , Jawa Timur.
.
Berikut ini adalah Uraian Penjelasannya :
.
**************************
.
Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil didirikan pada tanggal 21 Juni 1976 oleh Tokoh Syi'ah : Husein bin Abu Bakar Al-Habsyi pada awalnya Dia mendirikan pesantren ini di Bondowoso Jawa Timur, sebelum akhirnya pindah ke kota Bangil - Pasuruan.
.
Bermula dari ditemukannya surat rahasia Habib Hussein al-Habsyi –-pendiri YAPI-– yang ditujukan kepada seseorang di Iran pada tahun 1993. Pihak YAPI tentunya kaget dengan terpublikasinya surat kepada seorang Syi’ah Iran itu. Sebab, surat itu berisi pernyataan Habib Hussein al-Habsyi, bahwa ia membuat taqiyah menyembunyikan ke-Syi’ah-an sebagai strategi dakwah. Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai ulama’ Sunni yang masyhur di kota Bangil.
.
Inilah sebagian isi terjemahan surat yang ditulis berbahasa Arab tersebut adalah sebagai berikut :
.
“Saya ucapkan terima kasih kepada tuan atas usulan yang benar terhadap saya dan sudah lama menjadi pemikiran saya. Yaitu sejak kemenangan Imam atas Syi’ah. Walaupun saya tangguhkan hal itu, namun saya tidak ragu sedikitpun tentang kebenaran Ahlul Bait dan bukan karena takut kepada orang-orang atau jika saya tinggalkan taqiyah maka bukan supaya dipuji orang-orang. Sama sekali tidak! Akan tetapi saya sekarang mempertimbangkan situasi disekitar saya. Fanatisme Sunni secara umum masih kuat. Untuk mendekatkan mereka (kaum Sunni), saya ingin nampak dengan membuka kedok, kemudian membela serangan ulama mereka yang Nawasib (anti Syi’ah) mereka akan mengatakan: Syi’i membela Syi’ah. Saya telah berhasil merangkul sejumlah ulama mereka yang lumayan banyaknya, sehingga mereka memahami jutaan madzhab Ahlul Bait atas lainnya. Saya anggap ini sebagai kemajuan dalam langkah-langkah perjuangan kita...”
.
Majalah AULA –majalah milik Nahdlatul Ulama– pada edisi November 1993 pernah menurunkan berita tentang Syi’ah Bangil dan memuat terjemahan surat itu.
.
Surat ini juga sempat menjadi berita heboh di Pasuruan. Sebab selama ini, Habib Hussein al-Habsyi dikenal masyarakat Pasuruan yang mayoritas Sunni sebagai ulama dari kalangan habaib yang mumpuni. Sebelum itu, pengajiannya di Masjid Agung Bangil dipenuhi jama’ah yang menganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
.
Terungkapnya surat rahasia tersebut membuat masyarakat Bangil berbelok arah. Banyak para asatidz dan santri kemudian keluar dari pesantren YAPI. Sejak itu konflik dalam skala kecil sering terjadi di kota Bangil dan sekitarnya. Hingga pada tahun 2007 masyarakat Bangil dan sekitarnya melakukan demo besar setelah shalat Jum’at untuk menolak paham Syi’ah.
.
Menurut pengakuan seorang warga Bangil, penganut Syi’ah bahkan sudah tidak segan lagi melakukan aktifitas dan pengajian dengan isi doktrin Syi’ah.
.
Disebut dalam salah satu pemakalah, bahwa pesantren YAPI merupakan yayasan milik Syi’ah yang tertua dibanding yayasan lainnya. Dibahas pula dalam seminar itu, bahwa tokoh-tokoh Syi’ah di Indonesia banyak yang alumni YAPI.
.
“YAPI di Jawa Timur menjadi sentra dakwah Syi’ah di propinsi ini.” tulis Habib Thohir dalam makalahnya.
.
Dalam penelitian Disertasinya di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. Mohammad Baharun, MAg mengkategorikan Syi’ah di YAPI sebagai Syi’ah ideologis yang gerakannya rapi dan militan. Untuk penelitian disertasi ini, Baharun yang pernah menjadi wartawan Tempo ini menggunakan ‘informan’ untuk menyelidiki aktivitas Syi’ah di Bangil.
.
Ustadz Baharun, yang kelahiran Bangil itu, dalam disertasinya menjelaskan, Syi’ah ideologis adalah Syi’ah yang tumbuh melalui pengkaderan cukup intensif. Kaderisasi ini melalui pendidikan (sekolah dan pesantren) yang disipakan dengan guru-guru. Ia menemukan bahwa YAPI mengkhususkan diri sebagai lembaga yang sengaja menyiapkan kader-kader (santri yang diharapkan jadi guru/ustadz atau da’i Syi’ah Itsna ‘Asyariyah) yang berkualitas, sehingga dapat menyebarkan doktrin Syi’ah Imamiyah kepada masyarakat luas.
.
Pesantren YAPI pernah beberapa kali di Serang umat Islam
.
Pada tahun 2011 yang silam, pesantren Yapi pernah di serang oleh sekelompok Umat Islam Ahlu Sunnah. sempat terjadi bentrokan yang menimbulkan korban.
.
Menurut Ketua Bidang Organisasi Yayasan Albayyinat Indonesia Habib Achmad Zein Alkaf , bahwa Albayyinat adalah organisasi yang memerangi aliran sesat di Indonesia, terutama Syiah.
.
Ada dua versi mengenai terjadinya penyerangan tersebut. Yang pertama, penyerangan dilakukan sekelompok masyarakat yang sudah lama tidak senang dengan adanya pondok yang beraliran Syiah tersebut.
.
Yang kedua, sesuai dengan informasi yang pihaknya terima dari para Kiai dan Habaib di Bangil, bahwa penyerangan tersebut diawali pelemparan batu dari dalam Pondok Yapi terhadap konvoi umat Islam yang sedang pulang dari menghadiri perayaan Maulid di Singosari di tempat KH Lutfi Basori Alwi.
.
"Mana yang benar, pihak kepolisianlah yang dapat menyelidikinya. Yang penting kejadian tersebut cepat teratasi dan selanjutnya harus cepat diredam," ujar Habib Achmad yang juga A'wan Syuriah PWNU Jatim ini.
.
Menurut dia, memang selama ini sering terjadi keributan antara umat Islam di Bangil dengan golongan Syiah. Penyebabnya tidak lain karena ulah pihak Syiah yang dinilai menyakitkan hati umat Islam.
.
"Misalnya pihak Syiah menerbitkan buku yang isinya menghina pemimpin-pemimpin islam, menghina istri-istri Rasululloh SAW. Juga yang dilakukan oleh orang orang Syiah yang menguasai masjid milik Ahlussunnah wal jamaah," tutur anggota Bidang Fatwa MUI Jatim ini.
.
Kemudian, pengajian-pengajian yang dilakukan oleh orang-orang Syiah yang isinya tidak menyenangkan umat Islam dapat menyulut terjadinya keributan.
.
"Kami rasa pihak kepolisian dengan segala keterbatasannya sudah berusaha meredam perseteruan tersebut, tapi oleh golongan Syiah justru dimanfaatkan untuk lebih aktif menyebarkan alirannya. Kami tahu persis bahwa Ahlussunnah tidak mungkin dipersatukan dengan Syiah, sebab tidak mungkin minyak bisa dicampur dengan air. Apakah sama terang dengan gelap?" tegasnya.
.
Untuk itu, Albayyinat meminta kepada pihak Syiah agar tidak memancing kemarahan umat Islam. "Bagaimanapun kalian (kaum Syiah, red) adalah kelompok minoritas yang harus menghormati umat Islam," imbuhnya.
.
Dan kepada seluruh umat Islam hendaknya dapat menyelesaikan persoalan di Pasuruan itu dengan kepala dingin. Kepada para pejabat hendaknya tidak mengeluarkan statemen yang isinya justru dapat memanaskan situasi. "Marilah situasi yang panas ini, kita redam dengan kata-kata yang menyejukkan hati," pungkasnya.
.
Mantan Pengikut Syi'ah bercerita tentang YAPI
.
Ketika itu hampir seribuan umat Islam se kota surabaya dan sekitarnya, sejak jam 7 pagi sudah memadati ruang utama Masjid Mujahidin Perak Barat Surabaya, Ahad, (15/6/2014 yang silam), untuk mengikuti pengajian rutin bertema “Fakta dan Data Syi’ah di Indonesia.” Pada acara itu menghadirkan pembicara Ustadz Basuki Rahmat (Mantan Da’i Syi’ah) dan Ustadz Farid Ahmad Okbah, MA. (Dewan Dakwah Islamiyah Jakarta).
.
Ustadz Basuki Rahmat menuturkan, pada tahun 80-an, dia berkeinginan untuk berangkat ke Afghanistan, namun karena Imamnya bai’at ke Al Habsyi Bangil, maka dia pun ditempatkan di YAPI Bangil Pasuruan Jawa Timur, sebagai kader yang dipersiapkan berangkat ke Iran. Saat itu dikatakan kepadanya bahwa sama saja, nanti kamu disana juga belajar agama Islam.
.
“Tapi setelah saya di YAPI, kejadiannya sangat mengejutkan, tiap bulan Ramadhan ada kajian Fiqh Syi’ah Itsna ‘Asy’ariyah dari sini saya tahu ajaran Syi’ah itu bagaimana,” tuturnya
.
Dari YAPI juga, lanjut Ustadz Basuki, dirinya mendengar sendiri, terjadinya pelecehan terhadap para Sahabat Nabi dan juga Al Qur’an, sementara tujuan semula saya untuk berangkat ke Afghanistan dalam rangka membela agama Islam mengorbankan nyawa untuk memenuhi panggilan Allah SWT dalam Al Qur’an, malah dilecehkan.
.
“Hampir seluruh kader Syi’ah di Indonesia dikader di YAPI, orang tua mereka banyak yang tidak paham kalau di YAPI itu Pesantren Syi’ah. Mereka hanya terpukau melihat yang punya pondok seorang Habib keturunan Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam. Mereka Tidak tahu kalau yang diajarkan bukan Islam tapi Syiah. Sehingga ketika mereka lulus dan kembali ke daerahnya masing-masing menggantikan orang tuanya – terjun ke masyarakat, mereka menyebarkan ajaran syi’ah, inilah yang menjadi sumber masalah,” lanjut ustadz Basuki.
.
Jika Syi’ah dibiarkan, semakin banyak konflik
.
Selanjutnya Ustadz Basuki memberikan peringatan akan bahaya memelihara Syiah.
.
“Kalau pemerintah Indonesia membiarkan Syi’ah berkembang apalagi sampai memberi ijin pengikut Syi’ah memperingati hari raya mereka semisal Idul Ghodir, Asyura’ yang berisi caci-maki, penghinaan dan pelaknatan kepada para sahabat dan ‘Aisyah istri Nabi saw, maka akan timbul konflik dimana-mana, seperti yang sudah terjadi di Madura, Jember, Situbondo dll,” ujarnya
.
Hal ini karena umat Islam tidak akan tinggal diam melihat orang-orang yang dicintai oleh Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin dicaci-maki, dihina dan dilaknat oleh orang-orang Syi’ah.
.
Mengapa Syiah dapat diterima dan cepat berkembang?
.
Pada acara itu diungkapkan sebab Syiah dapat diterima dan berkembang pesat di tengah-tengah masyarakat. Ustadz Basuki menyebut karena ada doktrin taqiyyah (penipuan). Mantan Da’i Syiah ini menuturkan, bahkan orang syi’ah berani merubah makna ayat Alqur’an, semisal ayat yang berbunyi, fatazawwaduu fa inna khoiroz zaadit taqwaa, mereka plesetkan maknanya berbekallah kamu karena sebaik-baik bekal adalah taqiyyah (tipu muslihat).
.
Kata taqwa di-plesetkan menjadi taqiyyah. Contoh lain, “Ayat yang lain Inna akromakum ‘indalloohi atqookum diartikan sesungguhnya yang paling mulia diantaramu adalah yang paling pandai bertaqiyyah (berbohong). Kata atqookum (yang paling bertaqwa diantaramu) diplesetkan artinya menjadi yang paling pandai bertaqiyyah (berbohong),” ungkapnya.
.
Maka jangan heran, dengan berbekal ajaran taqiyyah inilah, kebanyakan mereka tidak mau dikatakan sebagai penganut paham syiah, karena semakin tinggi kesyiahannya, tidak mau dikatakan Syiah. “Kalau kita jeli, justru dari ucapan dan tingkah lakunya mereka ketahuan sebagai pengikut Syiah,” tuturnya.
.
Syi’ah memfitnah Buya Hamka
.
Disebut pula, Buya Hamka sempat berkunjung ke Iran. Namun sepulang dari kunjungannya itu, beliau mengambil kesimpulan dan menyatakan dengan tegas bahwa Syi’ah itu sesat dan menyesatkan.
.
“Tapi setelah beliau meninggal disebarkanlah isu oleh kalangan Syi’ah bahwa Buya Hamka sebelum meninggal bertaubat dan mengakui kebenaran Syi’ah,” lanjut Ustadz asal Gresik ini.
.
Akhirnya Ustdaz Basuki mengusulkan agar pihak kepolisian RI membentuk pasukan khusus pemburu Syiah. “
.
“Kalau di Malaysia dibentuk polisi khusus untuk memburu Syi’ah, seharusnya di Indonesia juga dibentuk Densus pemburu Syi’ah. Saya khawatir kalau Syi’ah ini tidak diberangus, maka tinggal tunggu waktu saja akan terjadi pertumpahan darah besar-besaran antara Islam dan Syi’ah, karena mereka merusak Islam dan kita pasti lawan. Allaahu Akbar,” pungkasnya.
.
---------------------------------

Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

Kalau Syiah Sesat, Mengapa Boleh Masuk Tanah Suci?

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Bertahun-tahun silam pernah diadakan diskusi antara seorang Ustadz dari PP Persis Bandung dengan Jalaluddin Rahmat (tokoh Syiah asal Bandung). Dalam makalahnya, Ustadz Persis itu tanpa tedeng aling-aling membuat kajian berjudul, “Syiah Bukan Bagian dari Islam”.

Ketika sessi dialog berlangsung, Ustadz Persis itu -dengan pertolongan Allah- mampu mematahkan argumen-argumen Jalaluddin Rahmat. Kejadiannya mirip, ketika dilakukan diskusi di Malang antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz-ustadz Persis Bangil; ketika merespon lahirnya buku Islam Aktual, karya Jalaluddin Rahmat.

Ada satu momen penting menjelang akhir diskusi di Bandung itu. Saat itu Jalaluddin mengatakan, “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?” Nah, atas pernyataan ini, tidak ada tanggapan serius dari para Ustadz di atas.
Ternyata, Mereka Masih Butuh Tanah Suci (Makkah & Madinah).
Dan ternyata, kata-kata serupa itu dipakai oleh Prof. Dr. Umar Shibah, tokoh Syiah yang menyusup ke lembaga MUI Pusat. Ketika kaum Syiah terdesak, dia mengemukakan kalimat pembelaan yang sama. “Kalau Syiah dianggap sesat, mengapa mereka masih boleh berhaji ke Tanah Suci?”
Lalu, bagaimana kalau pertanyaan di atas disampaikan kepada Anda-Anda semua wahai, kaum Muslimin? Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan memberikan jawaban yang tepat, atau memilih menghindar?
Sekedar catatan, konon dalam sebuah diskusi antara Jalaluddin Rahmat dengan Ustadz M. Thalib (sekarang Amir MMI). Saat disana ada kebuntuan argumentasi, katanya Ustadz M. Thalib menantang Jalaluddin melakukan “diskusi secara fisik” di luar. Ya, ini sekedar catatan, agar kita selalu mempersiapkan diri dengan argumen-argumen yang handal sebelum “bersilat” pemahaman dengan orang beda akidah.
Mengapa kaum Syiah masih boleh masuk ke Tanah Suci, baik Makkah Al Mukarramah maupun Madinah Al Munawwarah?
Mari kita jawab pertanyaan ini:

PERTAMA, sebaik-baik jawaban ialah Wallahu a’lam. Hanya Allah yang Tahu sebenar-benar alasan di balik kebijakan Pemerintah Saudi memberikan tempat bagi kaum Syiah untuk ziarah ke Makkah dan Madinah.

KEDUA, dalam sekte Syiah terdapat banyak golongan-golongan. Di antara mereka ada yang lebih dekat ke golongan Ahlus Sunnah (yaitu Syiah Zaidiyyah), ada yang moderat kesesatannya, dan ada yang ekstrim (seperti Imamiyyah dan Ismailiyyah). Terhadap kaum Syiah ekstrim ini, rata-rata para ulama tidak mengakui keislaman mereka. Nah, dalam praktiknya, tidak mudah membedakan kelompok-kelompok tadi.

KETIGA, usia sekte Syiah sudah sangat tua. Hampir setua usia sejarah Islam itu sendiri. Tentu cara menghadapi sekte seperti ini berbeda dengan cara menghadapi Ahmadiyyah, aliran Lia Eden, dll. yang termasuk sekte-sekte baru. Bahkan Syiah sudah mempunyai sejarah sendiri, sebelum kekuasaan negeri Saudi dikuasai Dinasti Saud yang berpaham Salafiyyah. Jauh-jauh hari sebelum Dinasti Ibnu Saud berdiri, kaum Syiah sudah masuk Makkah-Madinah. Ibnu Hajar Al Haitsami penyusun kitab As Shawaiq Al Muhriqah, beliau menulis kitab itu dalam rangka memperingatkan bahaya sekte Syiah yang di masanya banyak muncul di Kota Makkah. Padahal kitab ini termasuk kitab turats klasik, sudah ada jauh sebelum era Dinasti Saud.

KEEMPAT, kalau melihat identitas kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, ya rata-rata tertulis “agama Islam”. Negara Iran saja mengklaim sebagai Jumhuriyyah Al Islamiyyah (Republik Islam). Revolusi mereka disebut Revolusi Islam (Al Tsaurah Al Islamiyyah). Data seperti ini tentu sangat menyulitkan untuk memastikan jenis sekte mereka. Lha wong, semuanya disebut “Islam” atau “Muslim”.

KELIMA, kebanyakan kaum Syiah yang datang ke Makkah atau Madinah, mereka orang awam. Artinya, kesyiahan mereka umumnya hanya ikut-ikutan, karena tradisi, atau karena desakan lingkungan. Orang seperti ini berbeda dengan tokoh-tokoh Syiah ekstrem yang memang sudah dianggap murtad dari jalan Islam. Tanda kalau mereka orang awam yaitu kemauan mereka untuk datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah itu sendiri. Kalau mereka Syiah ekstrim, tak akan mau datang ke Tanah Suci Ahlus Sunnah. Mereka sudah punya “tanah suci” sendiri yaitu: Karbala’, Najaf, dan Qum. Perlakuan terhadap kaum Syiah awam tentu harus berbeda dengan perlakuan kepada kalangan ekstrim mereka.

KEENAM, orang-orang Syiah yang datang ke Tanah Suci Makkah-Madinah sangat diharapkan akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

KETUJUH, hadirnya ribuan kaum Syiah di Tanah Suci Makkah-Madinah, hal tersebut adalah BUKTI BESAR betapa ajaran Islam (Ahlus Sunnah) sesuai dengan fitrah manusia. Meskipun para ulama dan kaum penyesat Syiah sudah bekerja keras sejak ribuan tahun lalu, untuk membuat-buat agama baru yang berbeda dengan ajaran Islam Ahlus Sunnah; tetap saja fitrah mereka tidak bisa dipungkiri, bahwa hati-hati mereka terikat dengan Tanah Suci kaum Muslimin (Makkah-Madinah), bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

KEDELAPAN, kaum Syiah di negerinya sangat biasa memuja kubur, menyembah kubur, tawaf mengelilingi kuburan, meminta tolong kepada ahli kubur, berkorban untuk penghuni kubur, dll. Kalau mereka datang ke Makkah-Madinah, maka praktik “ibadah kubur” itu tidak ada disana. Harapannya, mereka bisa belajar untuk meninggalkan ibadah kubur, kalau nanti mereka sudah kembali ke negerinya. Insya Allah.

KESEMBILAN, pertanyaan di atas sebenarnya lebih layak diajukan ke kaum Syiah sendiri, bukan ke Ahlus Sunnah. Mestinya kaum Syiah jangan bertanya, “Mengapa orang Syiah masih boleh ke Makkah-Madinah?” Mestinya pertanyaan ini diubah dan diajukan ke diri mereka sendiri, “Kalau Anda benar-benar Syiah, mengapa masih datang ke Makkah dan Madinah? Bukankah Anda sudah mempunyai ‘kota suci’ sendiri?”

Demikian sebagian jawaban yang bisa diberikan. Semoga bermanfaat. Pesan spesial dari saya, kalau nanti Prof. Dr. Umar Shihab, atau Prof. Dr. Quraish Shihab (dua tokoh ini saudara kandung, kakak-beradik; bersaudara juga dengan Alwi Shihab, Mantan Menlu di era Abdurrahman Wahid), beralasan dengan alasan tersebut di atas; mohon ada yang meluruskannya. Supaya beliau tidak banyak membuang-buang kalam, tanpa guna.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Abahnya Syakir].
Inilah Daftar Kejahatan Syiah dalam Mengacaukan Pelaksanaan Ibadah Haji

Inilah Daftar Kejahatan Syiah dalam Mengacaukan Pelaksanaan Ibadah Haji

Pemeluk Syiah memiliki rekam jejak buruk dalam sejarah pelaksanaan Ibadah Haji, mereka kerap kali melakukan kekacauan yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa dari umat Islam yang sedang menunaikan Ibadah Haji.
Berikut ini 6 Peristiwa kekacauan yang dilakukan Syiah dalam sepanjang sejarah:
1. Tahun 293 H,  Syi’ah Qaramithah menyerang Kufah, membakar seluruh kabilah Arab Bani Abd al-Qais, dan melakukan aksi pembantaian yang cukup mengerikan.
2. Tahun 312 H, di bawah pimpinan Abu Thahir al-Qarmathi pemeluk Syiah menyerang kafilah yang baru menunaikan Ibadah haji dari Makkah. Mereka membunuhi kaum lelaki dan menawan kaum wanita. Meramapas harta mereka yang lebih dari 1 juta dinar. (Ibn Katsir al-Syafi’i, AL-Bidayah wa al-Nihayah, juz XI, h. 149).
3. Tahun 317 H, Abu Thahir al-Qarmathi sampai ke Makkah pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Dia dan tentaranya membantai para jamaah haji dan mu’tamirin di sekitar Ka’bah, baik mereka yang sedang thawaf, maupun mereka yang bergelantungan di kelambu Ka’bah.
Merampas harta mereka. Dan bukan cuma itu, mereka juga mencabut Hajar al-Aswad dari Ka’bah, dan membawanya ke Kerajaan mereka, dan tetap berada di sana sampai 335 H ( selama + 18 tahun).
(Ibn Katsir al-Syafi’i, AL-Bidayah wa al-Nihayah, juz XI, h. 160).
4. Tahun 1406 H: Jama’ah haji Iran turun di Jeddah. Setelah melalui pemeriksaan, ternyata kebanyakan jama’ah yang berjumlah 500 orang, menyembunyikan bahan peledak C4 di bagian bawah tas. Kemudian bahan peledak tersebut dikumpulkan dan mencapai berat 150 Kg.
5.Tahun 1407 H.Hizbullah bekerja sama dengan Garda Revolusi Iran, dan didukung oleh Jama’ah haji Syiah dari Saudi, mengadakan demonstrasi besar-besaran di Makkah al-Mukarramah, pada musim haji 1407 H. Hasilnya, 402 orang wafat, 85 di antaranya adalah petugas keamanan.
Akibat dari kerusukan ini menyebabkan puluhan bangunan hancur, ratusan wanita, anak-anak, dan orang tua terinjak-injak , dan ratusan ribu jama’ah haji terhambat melaksanakan manasik.
6.Tahun 1409 H. Anggota Hizbullah-Saudi bekerjasama dengan Syi’ah Kuwait melakukan aksi peledakan bom di Kota Makkah.Bahan peledak mereka peroleh dari pejabat (Syi’ah) Kedubes Kuwait di Saudi. Para pelaku diangkat sebagai pahlawan oleh kaum Syi’ah.
Idrus Ramli, Jangan “Ganggu” Aceh Kami!

Idrus Ramli, Jangan “Ganggu” Aceh Kami!

Oleh: Khairil Miswar

Banda Aceh, 10 September 2015

Idrus Ramli. Foto hidayatullah.com
Idrus Ramli “cintaku”, ... aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.
Tulisan ini aku tujukan ke hadapan Yang Mulia Kiyai Haji Muhammad Idrus Ramli Hafizahullah. Anggap saja tulisan ini sebagai “surat cintaku” kepadamu. Bukannya aku tidak mengenal kantor Pos, bukan pula aku tak punya ongkos, tapi sengaja kutulis surat ini di sini, agar saudara-saudaraku dan juga saudara-saudaramu dapat membaca surat ini. Meskipun surat ini kutujukan kepadamu, tapi tidak ada secuil rahasia pun dalam surat ini.

Idrus Ramli yang dirahmati Allah, sebelum berpanjang kalam, izinkan aku untuk memperkenalkan diriku padamu. Bukan berarti aku begitu penting untuk engkau kenal, tapi aku hanya menjalankan firman Tuhanku, bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal. Sama halnya seperti dikau yang tak mengenal diriku, pada hakikatnya aku pun tidak mengenal dirimu, aku cuma tahu sedikit saja tentang dirimu. Baiklah, perkenalkan, Aku ini orang Aceh yang lahir di Aceh dan bernenek-moyang Aceh.
Idrus Ramli yang berbahagia, kemarin (10 September 2015) orang-orang di “negeriku” telah melaksanakan satu acara yang mereka sebut sebagai “Parade Ahlussunnah Waljama’ah”.

Dalam surat ini, aku tak hendak mengomentari acara tersebut, tersebab aku tahu bahwa itu adalah hak mereka sebagai warga negara. Mereka mau buat parade, karnaval, maraton, jalan santai atau apapun namanya, itu tidaklah menjadi urusanku. Cuma saja, aku “dengar-dengar”, dikau turut hadir dalam acara itu.

“Sayangku” Idrus Ramli, aku menulis surat ini singkat saja, karena aku tahu engkau tidak punya cukup waktu untuk berlama-lama membaca surat ini. Aku sangat paham akan jadwalmu yang “super sibuk”, hari ini engkau diundang ke Aceh, mungkin besok lusa engkau di undang ke Papua. Kesibukanmu dapat kumaklumi karena engkau adalah “Singa Aswaja” di Asia Tenggara, demikian khabaran yang kudengar dari kawan-kawanmu.
Begini Idrus Ramli, dalam acara “parade” itu, aku melihat beberapa spanduk yang berisikan penolakan terhadap Wahabi, PKI dan Syi’ah. Seperti aku katakan di atas, itu bukan urusanku, karena spanduk itu milik mereka dan yang menulis pun mereka. Cuma saja, aku merasa heran kepada dirimu yang turut memposting foto-foto itu di akunfacebookmu. Engkau nampaknya sangat setuju dengan tulisan-tulisan itu. Secara tidak langsung, engkau telah ridha jika Wahabi disederajatkan dengan PKI dan Syi’ah. Meskipun engkau paham, bahwa Wahabi bukanlah Syi’ah, dan Syi’ah pun bukan Wahabi. Aku yakin seyakin yakinnya bahwa dikau juga paham bahwa Wahabi bukanlah PKI, dan PKI bukanlah Wahabi. Tapi engkau terlihat sangat berbahagia memposting foto-foto itu di facebookmu.
Idrus Ramli yang berbahagia. Soal kedatanganmu ke Aceh, pada prinsipnya tidaklah menjadi urusanku, karena engkau memakai biayamu sendiri. Aku juga paham bahwa kedatanganmu bukanlah “murni” kehendakmu, tapi hanya sekedar memenuhi undangan. Tapi, kemarin engkau pasti telah mendengar dan membaca di spanduk-spanduk bahwa Wahabi tidak layak hidup di Aceh. Dalam hal ini, aku melihat keterlibatanmu sudah terlalu jauh. Engkau telah turut campur dalam urusan rumah tangga kami (Aceh) yang semestinya bisa terselesaikan tanpa kehadiranmu.

Idrus Ramli yang dimuliakan Allah, terkait kebencianmu terhadap Wahabi, itu adalah hakmu, tiada yang mampu melarangmu untuk menebar kebencian terhadap Wahabi. Silahkan dikau membenci Wahabi, tapi lakukan itu di tanahmu sendiri (Jawa), jangan engkau “tebar kebencian” di tanah kami (Aceh). Jika pun Wahabi ingin diusir dari Aceh, maka biarlah itu menjadi urusan masyarakat Aceh, tanpa perlu engkau melibatkan diri.
Idrus Ramli “sayangku”, saat ini kaum muslimin di Papua tengah diuji. Engkau tentu ingat beberapa waktu lalu mesjid mereka dibakar. Datanglah ke sana untuk memberi peringatan kepada pihak-pihak yang telah “mengganggu” saudara-saudara kita. Engkau juga pasti tahu, bahwa kaum muslimin di Suriah juga hidup dalam kesusahan dan terpaksa mengungsi menghidari perang akibat kekejaman si Basyar yang telah melampaui batas. Datangilah mereka, bantu mereka, semangati mereka, karena mereka adalah saudara-saudara kita seiman. Dan yang terpenting, lupakanlah Aceh!
Sebelum aku mengakhiri surat ini, aku pertegas kembali bahwa surat ini aku tujukan kepada engkau seorang wahai Idrus Ramli “tersayang”, bukan untuk yang lain. Idrus Ramli “cintaku”, di akhir surat ini, aku berharap agar engkau tidak lagi “mengusik” kebersamaan kaum muslimin di tanah kami (Aceh). Biarkan Aceh kami hidup damai. Kami sudah lelah berperang. Pergilah, pergilah, dan pergilah engkau, pulang ke “negerimu”.
kompasiana.com/khairilmiswar, 11 September 2015 19:32:00

(nahimunkar.com)

Syi’ah dan rangkaian kasus peledakan di Indonesia

Syi’ah dan rangkaian kasus peledakan di Indonesia

MENJELANG AKHIR TAHUN 1984, masyarakat Indonesia sempat dikejutkan oleh kasus peledakan yang terjadi di gereja Katholik Sasana Budaya di jalan MGR Sugiyopranoto, Malang; serta peledakan di gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) di jalan Arief Margono, Malang, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 24 Desember 1984 malam.
Belum sempat terungkap pelaku dan motif yang melatari peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) itu, kurang dari sebulan kemudian, persisnya pada tanggal 21 Januari 1985 dini hari terjadi lagi ledakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Kasus peledakan itu nyaris tak terungkap bahkan belum diketahui saling berkaitan. Masih misteri. Namun misteri itu tak berapa lama berlangsung. Ketika pada tanggal 16 Maret 1985 terjadi ledakan di Bus Pemudi Expres jurusan Denpasar. Tepatnya ketika posisi bus berada di desa Sumber Kencono, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi. Maka, kasus peledakan di Malang dan Candi Borobudur pun terkuak. Bahkan, rencana peledakan selanjutnya di Bali, juga terungkap.
Pada kasus peledakan (tanpa sengaja) di Bus Pemudi Expres, tiga dari empat pelakunya tewas menjadi korban bahan peledak yang mereka bawa sendiri, yang rencananya akan digunakan untuk melakukan peledakan di Bali. Ketiganya adalah Abdul Hakim, Hamzah alias Supriono (warga jalan Juanda Gang VIII Malang), dan Imam Al Ghazali Hasan. Satu orang yang selamat namun luka-luka cukup parah adalah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Dari sosok kelahiran Ambon tanggal 21 November 1959 ini, pelaku peledakan di Malang dan Candi Borobudur terungkap.
Tokoh utamanya, Ibrahim alias Jawad dan Husin Ali Al-Habsyi (kelahiran Ambon, 28 Januari 1953) yang merupakan kakak sulung Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Ibrahim alias Jawad merupakan kawan baik Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra sejak lahir. Husin Ali Al-Habsyi selain tercatat sebagai warga jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang, juga beralamat di jalan Cimanuk 203, Garut, Jawa Barat.
Siapa Ibrahim alias Jawad?
Menurut penuturan ibu kandungnya yang bernama Ratiah atau biasa juga dipangggil dengan sebutan Ny. Abdul Latief Rachim, nama asli Ibrahim alias Jawad adalah Krisno Triwibowo (warga jalan Ketindan no. 62, Lawang, Malang, Jawa Timur). Nama itu kemudian diganti oleh sang nenek menjadi Ibrahim. Namun demikian, sang nenek biasa memanggil sang cucunya ini dengan nama Jawad.
Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo merupakan anak ketiga Ratiah, yang pernah kuliah di Fakultas Sastra Inggris Universitas Jember. Belum rampung studi di Fakultas Sastra, Ibrahim mengutarakan maksudnya untuk menempuh pendidikan di Arab. Maksud itu disampaikan Ibrahim kepada Ratiah sang ibu pada tahun 1982.
Sekitar tiga bulan setelah Ibrahim alias Jawad mengaku berangkat studi ke Arab, Ratiah mendapat sepucuk surat dari sang anak. Ternyata, surat dari Ibrahim alias Jawad itu berasal dari sebuah alamat di Iran. Melalui sepucuk surat itulah Ratiah akhirnya menyadari bahwa sang anak belajar agama di Iran. Yang jelas, Ratiah sama sekali tidak membiayai anaknya sekolah agama ke Iran, tapi ada pihak lain yang membiayai Ibrahim.
Tahun 1984, Ibrahim alias Jawad pulang kampung ke Lawang, Malang, Jawa Timur. Sejak pulang studi di Iran itu, rumah Ratiah banyak kedatangan tamu yang ingin bertemu dengan anaknya, Ibrahim alias Jawad alias Krisno Triwibowo, seperti Husin Ali Al-Habsyi yang tunanetra, Achmad Muladawilah, Hamzah alias Supriono dan sebagainya.
Husin Ali Al-Habsyi dan Ibrahim alias Jawad selain berkawan baik juga mempunyai pandangan yang sama. Bila Ibrahim alias Jawad sepulang dari Iran ingin mengembangkan paham syi’ah ke Indonesia, maka Husin Ali Al-Habsyi ingin menjadi imam di Indonesia seperti Khomeini di Iran. Menurut M. Achwan, Husin Ali Al-Habsyi saat ceramah sering mengucapkan slogan atau semboyan yang sering diucapkan Khomeini: “… tidak Timur dan tidak Barat, tidak Sunni dan tidak Syi’ah, tetapi pemerintahan Islam…”
Pernyataan Ibrahim alias Jawad yang ingin mengembangkan paham syi’ah laknatullah di Indonesia ini, antara lain bisa didengar melalui kesaksian Abdul Kadir Ali Al-Habsyi yang sempat menghadiri pengajian di rumah M. Achwan di jalan Ir. H. Juanda VIII No. 17, Malang (atau jalan Ir. H. Juanda VIII No.10 RT 002 RW 011 Kecamatan Jodipan, Malang Kota). Pengajian yang berlangsung pada bulan November 1984 itu, narasumbernya adalah Ibrahim alias Jawad yang belum lama kembali dari Iran. Saat itulah Ibrahim menyatakan tekadnya memasukkan faham syi’ah ke Indonesia.
Hal yang sama juga pernah diakui oleh Achmad Muladawilah yang pernah mengikuti pengajian di rumah M. Achwan dengan narasumber Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad selain menyampaikan perbedaan antara syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah), ia juga mengutarakan harapannya agar syi’ah bisa berkembang di Indonesia.
Untuk mencapai tujunnya memasukkan paham sesat syiah laknatullah ke Indonesia, Ibrahim alias Jawad antara lain menempuh cara berupa peledakan di gereja Katholik Sasana Budaya dan gedung Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT), Malang, Jawa Timur; juga Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah; dan satu rencana gagal di Kuta, Bali; dengan maksud agar pemerintah Indonesia memperhatikan dan mau menerima kehendaknya.
Selain Abdul Kadir Ali Al-Habsyi dan Ahmad Muladawilah, ke-SYI’AH-an Ibrahim alias Jawad juga bisa diperoleh melalui pengakuan Sugeng Budiono, yang pernah mengikuti dialog antara Ibrahim alias Jawad dengan anak-anak remaja dari Mesjid Mujahidin. Dialog tersebut berlangsung di kediaman M. Achwan. Saat itu Ibrahim alias Jawad menjelaskan perbedaan antara hadits Sunni (Ahlis Sunnah) dan hadits syi’ah, juga perbedaan antara shalat orang Sunni (Ahlis Sunnah) dengan syi’ah.
Sosok M. Achwan (kelahiran Tulung Agung, 04 Mei 1948), saat ini dikenal sebagai salah satu deklarator JAT (Jama’ah Ansharut Tauhid) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Bahkan sejak Abu Bakar Ba’asyir mendekam di tahanan Bareskrim Mabes Polri, sosok M. Achwan dipercaya menjadi Amir Biniyabah (amir pengganti). Sebelumnya, sosok M. Achwan dikenal sebagai Ketua Wilayah Jawa Timur Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) saat Abu Bakar Ba’asyir masih menjabat sebagai Ketua AHWA (ahlul halli wal aqdi).
Selama ini sosok M. Achwan memang mempunyai kedekatan dengan Abu Bakar Ba’asyir. Terbukti, M. Achwan diberi mandat oleh Abu Bakar Ba’asyir untuk membesuk Munfiatun alias Fitri di LP Wanita Sukun Malang. Munfiatun merupakan istri Noordin M. Top yang saat itu dalam pencarian pihak berwenang. Noordin M. Top akhirnya tewas tertembak pada hari Kamis tanggal 17 September 2009, di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Jawa Tengah.
Menurut keterangan Ratiah, pada tanggal 7 April 1985 Ibrahim alias Jawad bersama istrinya berangkat ke Iran. Kepada Ratiah, Ibrahim alias Jawad berpesan bahwa ia akan kembali ke tanah air sekitar lima atau enam tahun lagi. Ibrahim alias Jawad juga sempat berpesan, bila ada tamu bernama Basirun Sinene mencari dirinya (Ibrahim alias Jawad) dan membawa (menitipkan) sesuatu agar diterima. Akhirnya, masih di bulan Maret 1985, sosok bernama Basirun datang juga, menitipkan sebuah bungkusan yang diakuinya berisi kaos oblong.
Sosok Ibrahim alias Jawad bisa eksis di komunitas tertentu tak lain karena kedekatannya dengan Husin Ali Al-Habsyi. Apalagi Ibrahim alias Jawad ini kemudian menjadi salah satu narasumber pada forum pengajian yang diselenggarakan di kediaman M. Achwan. Dalam tempo singkat Ibrahim alias Jawad selain sudah bisa menunjukkan eksistensinya juga dengan mudah melakukan perekrutan, untuk mendukung pelaksanaan misinya. Salah satunya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi (adik kandung Husin Ali Al-Habsyi) yang berhasil direkrutnya.
Dalam tempo singkat, tak sampai dua tahun belajar agama di Iran, sosok Ibrahim alias Jawad ketika kembali ke tanah air sudah sedemikian radikal. Hal ini dapat dibuktikan melalui serangkaian peledakan yang terjadi di Malang (24 Desember 1984), dan di Candi Borobudur (21 Januari 1985), serta rencana peledakan Pantai Kuta Bali pada Maret 1985 yang gagal. Tidak sekedar radikal, Ibahim sudah menjelma menjadi sosok yang bisa merakit bahan peledak dan mengajarkan kepada orang-orang yang direkrutnya, seperti Achmad Muladawilah. Bahkan ia terlihat begitu tajir, karena terbukti mampu membiaya semuanya.
Lebih jauh lagi, selain radikal, piawai merakit bahan peledak dan tajir, Ibrahim alias Jawad ternyata juga licin. Sebelum semuanya terungkap, ia sudah lebih dulu hengkang ke Iran bersama istrinya. Hingga kini, keberadaannya tidak terdeteksi.
Pasca tertangkapnya Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, tokoh penting di belakang itu semua mulai terungkap jelas, termasuk Husin Ali Al-Habsyi. Kakak sulung Abdul Kadir Al-Habsyi ini, tak mau kalah dari sobat karibnya Ibrahim Alias Jawad yang hengkang ke Iran, ia pun hengkang ke Balikpapan dengan menumpang pesawat Garuda (GIA) pada tanggal 17 April 1985.
Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan melalui Bandara Juanda Surabaya, diantar oleh Hasan Ali Basyaeb, salah satu sobatnya yang berdomisili di Bangil, Jawa Timur. Bahkan, tiket ke Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi itu dibeli oleh Hasan Ali Basyaeb.
Menurut kesimpulan aparat keamanan saat itu, peledakan di Malang (24 Desember 1984) dan Candi Borobudur (21 Januari 1985), tidak ada kaitannya dengan kasus peledakan BCA di Jakarta yang terjadi sebelumnya (04 Oktober 1984), serta tidak ada kaitannya dengan Abdul Kadir Jaelani dan kawan-kawan. Namun, justru berkaitan dengan Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir.
Kesimpulan itu memang belum tentu benar. Namun ada fakta yang menarik, bahwa Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir saat ‘hijrah’ ke Malaysia terjadi pada bulan April 1985. Pada bulan yang sama, Husin Ali Al-Habsyi hengkang ke Balikpapan. Fakta menarik lainnya adalah, kasus peledakan di tanah air yang disangkakan ada keterlibatan Abu Bakar Ba’asyir di dalamnya adalah kasus yang hampir mirip dengan tahun 1984-1985.
Pada 24 Desember 1984, sasaran peledakan adalah gereja, begitu juga peledakan tanggal 24 Desember 2000 yang menjadikan gereja sebagai sasaran, konon dilakukan oleh oknum JI (Jama’ah Islamiyah) yang pimpinannya konon Abu Bakar Ba’asyir. Begitu juga dengan kasus rencana peledakan pantai Kuta Bali (pertengahan Maret 1985) yang gagal, mempunyai kesamaan objek dengan kasus peledakan Bali pertama (12 Oktober 2002, jalan Legian-Kuta) dan peledakan Bali kedua (01 Oktober 2005 Kuta, Jimbaran).
Beberapa kesamaan itu memang belum tentu menunjukkan bahwa keduanya ada keterkaitan. Wallahu a’lam.
Hasan Ali Basyaeb yang membelikan tiket Surabaya-Balikpapan untuk Husin Ali Al-Habsyi, dan mengantarkan penceramah tuna netra itu ke Bandara Juanda Surabaya, ternyata juga pernah mengantarkan Husin Ali Al-Habsyi ceramah di Lekok dan Pasuruan, Jawa Timur. Artinya, mereka punya kedekatan.
Terbukti, sebelum hengkang ke Balikpapan, Husin Ali Al-Habsyi bersama Achmad Muladawilah pernah mengunjungi toko Hasan Ali Basyaeb di Bangil, menitipkan sesuatu di dalam bungkusan kertas semen yang diakuinya berisi telur asin. Bungkusan kertas semen itu berada dalam sebuah tas plastik. Ketika itu Husin Ali Al-Habsyi berpesan, bahwa telur asin itu dititipkan selama satu bulan, dan jangan dibuka.
Pada suatu saat, ketika Husin Ali Al-Habsyi sudah hengkang ke Balikpapan, Hasan Ali Basyaeb didatangi Achmad Muladawilah di tokonya di Bangil, dengan tujuan mencari Husin Ali Al-Habsyi. Tentu saja pencarian itu sia-sia. Saat itu Achmad Muladawilah mengatakan kepada Hasan Ali Basyaeb, bahwa Husin Ali Al-Habsyi terlibat kasus peledakan Candi Borobudur dan bangunan Gereja di Malang. Maka, sejak saat itu, titipan telur asin yang selama ini ditaruh di atas lemari langsung dibuang ke toilet oleh Hasan Ali Basyaeb.
Kesaksian Achmad Muladawilah
Salah satu aktivitas Achmad Muladawilah adalah mengikuti pengajian yang digelar di kediaman Husin Ali Al-Habsyi. Di tempat inilah, pada tahun 1984, ia kenal dengan Abdul kadir Ali Al-Habsyi yang merupakan adik kandung Husin Ali Al-Habsyi.
Sebelum kasus peledakan gereja di Malang terjadi, Achmad Muladawilah pernah mengantar Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi memang tinggal menumpang di rumah sang kakak (jalan Prof. M. Yamin gang V no. 02 Malang), namun belakangan Abdul Kadir Al-Habsyi mengontrak rumah di jalan Kebalen Wetan no. 502 Malang.
Di tempat itu pulalah Achmad Muladawilah bertemu Ibrahim alias Jawad. Suatu ketika Ibrahim alias Jawad bertanya kepadanya: “Apa yang telah Anda perbuat untuk Islam?” Ketika itu Achmad Muladawilah menjawab: “Belum berbuat apa-apa.” Serta-merta Ibrahim alias Jawad langsung menyanggah: “Itu bukan jawaban.”
Pada tanggal 24 Desember 1984, sekitar jam 11:00 siang, Achmad Muladawilah diminta Ibrahim alias Jawad ke rumah Husin Ali Al-Habsyi karena ada yang akan dibicarakan. Kebetulan saat itu ada orangtua Husin Ali Al-Habsyi. Maka, mereka berdua menuju ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Sebelumnya Achmad Muladawilah diminta membeli tiga buah jam weker oleh Husin Ali Al-Habsyi untuk diantarkan ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Achmad Muladawilah kemudian pulang setelah mengantarkan ketiga jam weker tadi.
Setelah Maghrib, masih tanggal 24 Desember 1984, Achmad Muladawilah bersama Ibrahim alias Jawad kembali ke rumah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Di situ, Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi diberi masing-masing satu tas kresek berisi bahan peledak. Sambil menyerahkan tas kresek tersebut, Ibrahim alias Jawad menyatakan: “ini jawaban atas pertanyaannya.” Maksudnya, Achmad Muladawilah diperintahkan oleh Ibrahim untuk meledakkan gereja GPIB (Gereja Protestan Indonesia Barat), sebagai wujud “telah berbuat sesuatu untuk Islam”. Peledakan ini menurut Ibrahim alias Jawad dimaksudkan sebagai kejutan, sehingga diupayakan jangan sampai jatuh korban manusia.
Saat itu, di gereja GPIB sedang ada misa, sehingga rencana peledakan dibatalkannya. Achmad Muladawilah kemudian kembali ke Alun-alun untuk bertemu dengan Ibrahim alias Jawad. Saat itu Ibrahim alias Jawad memerintahkan untuk meledakkan gereja manapun. Kemudian Achmad Muladawilah melemparkan bahan peledak ke bangunan gereja Katholik Sasana Budaya yang terletak di jalan MGR Sugiyopranoto (sebelah utara Sarinah). Setelah itu, ia pulang.
Sekitar tiga pekan setelah melempar peledak di gereja Katholik, yaitu pada tanggal 16 Januari 1985, Achmad Muladawilah diajak oleh Husin Ali Al-Habsyi ke rumah Ibrahim alias Jawad di Lawang, Malang. Saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi ikut serta. Di tempat Ibrahim alias Jawad, mereka membicarakan seputar perbedaan antara Syi’ah dan Sunni (Ahlis Sunnah). Menjelang pulang, Ibrahim alias Jawad memanggil Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi untuk diajak bicara. Ketika itu Ibrahim alias Jawad mengajak keduanya berkemah ke Jawa Tengah, namun lokasi persisnya belum disebutkan.
Pada tanggal 17 Januari 1985,  Achmad Muladawilah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi mendatangi rumah Ibrahim alias jawad di Lawang, Malang untuk menanyakan kapan saat berkemah yang dimaksud. Namun saat itu Ibrahim tidak ada. Mereka pun kembali ke Malang.
Pada tanggal 18 Januari 1985 malam, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad serta Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, mempersiapkan diri menuju Yogyakarta. Sebelum berangkat, Husin Ali Al-Habsyi berpesan kepada ketiganya agar berhati-hati. Setelah sekian jam dalam perjalanan, ketiganya tiba di terminal Yogyakarta sekitar pukul 04:00 pagi. Mereka pun segera menunaikan shalat Subuh di Mushala yang ada di terminal Yogyakarta.
Setelah shalat Subuh, barulah Ibrahim alias Jawad mengatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah meledakkan Candi Borobudur. Saat itu, Achmad Muladawilah terkejut, dan mempertanyakan rencana itu. Saat itu Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah diam, seraya menjanjikan akan mengajak Achmad Muladawilah berangkat ke Iran. Saat itu juga Ibrahim alias Jawad memberi uang sebesar Rp 30.000 untuk mengurus paspor. Saat itu US$1 setara dengan Rp 1.000, bandingkan dengan kurs saat ini yang mencapai Rp 9.000 per US$.
Saat itu bukan hanya Achmad Muladawilah yang terkejut, juga Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Bahkan, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi tidak sekedar terkejut tetapi ketakutan setelah mendengar rencana Ibrahim alias Jawad hendak meledakkan Candi Borobudur.
Usai shalat Subuh, 19 Januari 1985, dari terminal Yogya mereka melanjutkan perjalanan dengan bis jurusan Magelang. Tiba di kawasan Candi Borobudur sekitar pukul 11:00 siang. Mereka hendak langsung masuk ke kawasan Candi Borobudur, namun ditolak oleh petugas karena membawa tas. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mencari penginapan (Losmen Borobudur).
Dari losmen, mereka (Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi) makan siang. Dilanjutkan dengan melihat-lihat lokasi Candi Borobudur. Sekitar pukul 14:00 ketiganya kembali ke losmen, dan istirahat.
Keesokan paginya, 20 Januari 1985, Achmad Muladawilah, Ibrahim alias Jawad dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi kembali melihat-lihat Candi Borobudur. Rencananya ada 14 buah bom yang akan diledakkan.
Menurut penuturan Achmad Muladawilah, saat itu Abdul Kadir Ali Al-Habsyi terlihat gelisah dan takut, sehingga disuruh pulang oleh Ibrahim alias Jawad pada pukul 15:00 tanggal 20 Januari 1985, dengan membawa tas berisi pakaian Achmad Muladawilah dan satu bahan peledak yang tidak sempurna, sedangkan bahan peledak yang sudah terpasang tetap berada di Losmen bersama Ibrahim alias Jawad dan Achmad Muladawilah.
Masih tanggal 20 Januari 1985, setelah Abdul Kadir Ali Al-Habsyi pulang, Achmad Muladawilah dan Ibrahim alias Jawad kala senja menjelang menuju ke kawasan Candi Borobudur untuk meletakkan sejumlah bom yang telah dirakit di Losmen Borobudur. Mereka meletakkan empat bom di stupa paling atas, lima bom lainnya di stupa bawahnya, sedangkan stupa terbawah dipasangi empat bom. Total terpasang tiga belas bom. Satu bom yang tidak sempurna sudah dibawa pulang oleh Abdul Kadir Ali Al-Habsyi.
Menurut pengakuan Achmad Muladawilah, Ibrahim yang mengetes dan merakit keseluruhan bom tersebut, sedangkan dirinya hanya meletakkan sejumlah bom di lokasi-lokasi tersebut. Saat dibawa ke lokasi, keseluruhan bom itu (13 buah) sudah siap pakai, tinggal menyambungkan kabel tertentu saja.
Keseluruhan bom tersebut dipasangi timer, dan diatur akan meledak sekitar lima jam setelah dipasang. Setelah meletakkan sejumlah bom, keduanya bergegas meninggalkan lokasi dan menuju Lawang, Malang. Mereka tidak kembali ke Losmen, dan tidak mengetahui saat bom meledak. Achmad Muladawilah mengetahui ledakan tersebut dari pemberitaan TVRI pada tanggal 21 Januari 1985 jam 21:00 waktu setempat.
Pasca peledakan Candi Borobudur, Achmad Muladawilah pernah dipanggil lagi oleh Ibrahim (ke Lawang) untuk diajak melakukan peledakan di Bali, namun ia menolak karena ia merasa takut. Namun saat Ibrahim menyuruh Achmad Muladawilah membawa 12 buah bom ke Malang (ke rumah Husin Ali Al-Habsyi), ia tak kuasa menolaknya.
Pada tanggal 07 Maret 1985, Achmad Muladawilah dipanggil Husin Ali Al-Habsyi, ditugaskan untuk menyiapkan sejumlah  bahan peledak.
Keesokan harinya, 08 Maret 1985, Achmad Muladawilah merakit sejumlah bom di rumah Husin Ali Al-Habsyi. Tiba-tiba ia kedatangan Sodiq Musyawa yang langsung masuk ke kamar tempat Achmad Muladawilah sedang merakit bom. Karena takut ketahuan, bahan peledak yang sedang dirakit dimasukkannya ke kolong tempat tidur, namun meledak dan melukai Achmad Muladawilah dan Sodik Musyawa.
Sepekan kemudian, tanggal 15 Maret 1985, Achmad Muladawilah mendatangi rumah Husin Ali Al-Habsyi. Di situ sudah ada Abdul Hakim, Moch Rifai, Abdul Kadir Ali Al-Habsyi, Ghozali dan Hamzah. Saat itu, Achmad Muladawilah ditugaskan memberi petunjuk kepada Hamzah dan Ghozali bagaimana cara menggunakan bahan peledak tersebut.
Saat itu, Husin Ali Al-Habsyi menunjuk Abdul hakim sebagai pimpinan rombongan, sedangkan anggotanya adalah Ghozali, Hamzah dan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi. Mereka membawa dua tas berisi bahan peledak.
Sehari kemudian, tanggal 16 Maret 1985, Achmad Muladawilah yang tidak ikut rombongan, membaca koran yang memberitakan kasus peledakan yang terjadi di dalam Bus Pemudi Expres.
Achmad Muladawilah yang pernah dijanjikan oleh Ibrahim alias Jawad akan diberangkatkan ke Iran ini, juga pernah dititipi sejumlah bahan peledak yang belum dirakit oleh Ibrahim alias Jawad. Saat itu, 16 Maret 1985, bahan peledak tersebut dibawanya pulang. Barulah setelah ada kasus peledakan di Bus Pemudi Expres, Achmad Muladawilah memindahkan bom-bom tersebut ke tokonya. Beberapa hari kemudian, bahan peledak itu diambil oleh seseorang bernama Abdul Kadir (bukan Abdul Kadir Ali Al-Habsyi).
Achmad Muladawilah selama ini juga sering menemani Husin Ali Al-Habsyi ceramah agama ke luar kota, seperti Pandean dan sebagainya. Artinya, ia mempunyai kedekatan dengan kedua tokoh penting kasus peledakan 24 Desember 1984 dan peledakan Candi Borobudur Januari 1985. Namun, di berbagai kesempatan Husin Ali Al-Habsyi selalu menyangkal keterlibatannya pada kasus tersebut, dengan memanfaatkan status tuna netra yang disandangnya: “… saya ini tuna netra yang tidak bisa membedakan antara jenang (dodol) dengan bom…”
Peradilan manusia dan proses hukum sekuler memang telah menguntungkan sosok seperti Husin Ali Al-Habsyi, sehingga ia kemudian berhasil mendapatkan grasi dari presiden Habibie pada 23 Maret 1999. Permohonan grasi itu sudah diajukan keluarga Husin Ali Al-Habsyi sejak Oktober 1994 lalu, ketika Soeharto yang selama ini selalu dicercanya masih menjabat sebagai presiden RI. Di masa Habibie pula Abdul Kadir Al-Habsyi setelah menjalani masa hukuman selama 10 tahun, mendapat remisi.
Berbeda dengan itu, Ibrahim alias Jawad hingga kini tak ketahuan rimbanya: apakah ia masih tetap berada di Iran, atau sudah kembali ke Indonesia dengan identitas baru? Yang jelas, sejak tahun 2000, terorisme seperti tak habis-habisnya menghantui kita. Bersamaan dengan itu, gerakan syi’ah di Indonesia semakin terbuka dan semakin berani, hingga merembes ke segala penjuru, temasuk media cetak, media elektronik seperti TV dan Radio, dan sebagainya.
Ironisnya, ketika gerakan syi’ah laknatullah semakin eksis di Indonesia, sejumlah tokoh Islam yang selama ini mengaku Sunni (Ahlis Sunnah), kelihatan takut-takut menyatakan syi’ah sebagai paham sesat dan menyesatkan. Begitu juga dengan sejumlah media berbau Islam yang konon menjalankan misi dakwah Islam, kelihatan lebih cenderung cari aman. Barangkali inilah fenomena lemahnya iman di kalangan pegiat dakwah Islam.
(tede/nahimunkar.com)

Inilah TRIO PEMBELA SYI'AH -KELUARGA SHIHAB

Ketiganya masing-masing Adalah 'orang Ternama' dan seringkali tampil di Media Publik negeri ini.
1. Umar Shihab (Kakak Tertua).
Kakek tua ini adalah seorang 'Antek' Pembela Syi'ah yang bercokol di MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, dan masih tetap Aktif sebagai Anggota di Lembaga tersebut hingga detik ini.
2. Quraish Shihab.
Seorang yang mengklaim dirinya sebagai Ahli Tafsir Al-Qur'an dan seringkali muncul di beberapa Media TV dalam acara Tafsir Al-Misbah.
3. Alwi Shihab.
Orang ini adalah Politisi dan Pejabat yang pernah duduk dalam Kabinet Pemerintahan di Era GusDur. Bahkan saat ini pernah mendapat tugas Khusus dari Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan Surat-surat Kepercayaan kepada Presiden Iran, Hasan Rouhani.
Dari Beberapa Sumber yang kami kutip, telah menyebutkan bahwa Keluarga besar Shihab adalah termasuk Warga Keturunan Arab yang berasal dari Daerah Hadramaut, Yaman. Kemudian Orang Tua mereka hijrah dan bermukim di Sulawesi Selatan, negeri Indonesia.
Pada beberapa Kesempatan, secara terpisah masing-masing dari ketiga Tokoh bersaudara ini seringkali tampil membela Ajaran Sesat Syi'ah di depan Media Publik.
Namun Aneh-nya, di antara mereka ada yang menolak di sebut pengikut Syi'ah , walaupun sangat gigih membela ajaran Syi'ah.
Orang itu adalah : Quraish Shihab.
.
Sama halnya dengan kedua saudaranya, Umar dan Alwi. Quraish Shihab pun menginginkan adanya : TAQRIB (persatuan) antara ajaran Sesat Syi'ah dengan Agama Islam Ahlu Sunnah (Sunni). bahkan Quraish menganggap perbedaan antara Sunni dengan Syi'ah hanya pada masalah Furu'iyyah (Masalah Kecil saja) dan tidak perlu di besar-besarkan.
.
NA'UDZUBILLAHI MIN ZALIK ....!!!
.
Hendaknya Umat Islam Negeri ini berhati-hati dengan ketiga orang bersaudara di atas ...!
.
Jauh-jauh hari Para Ulama Ahlu Sunnah telah mengingatkan hal yang membahayakan seperti ini.
.
" Orang Alim (berilmu) Namun Menyesatkan "
.
Oleh karena itu Janganlah Fanatik Buta dengan Orang Alim yang ternyata Menyesatkan . Sangat Berbahaya !
.
Karena sesungguhnya Ada Tiga hal yang bisa merusak Agama , yaitu :
.
1. Bahaya tergelincirnya orang alim,
2. bantahan orang munafik,
3. dan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.
.
Ulama Besar Ahlu Sunnah, Imam Ibnu Taimiyah mengingatkan bahaya tergelincirnya orang alim, bantahan orang munafik, dan pemimpin-pemimpin yang menyesatkan, dengan mengemukakan atsar dari Umar dan Abu Darda’.
.
وَقَالَ زِيَادُ بْنُ حُدَيْرٍ : قَالَ عُمَرُ : ثَلَاثٌ يَهْدِمْنَ الدِّينَ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ وَأَئِمَّةٌ مُضِلُّونَ
.
Ziyad bin Hudair berkata, Umar telah berkata : Tiga perkara yang merusak agama, adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an, dan pemimpin-pemimpin (imam-imam) yang menyesatkan.
.
وَقَالَ الْحَسَنُ : قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ : إنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ زَلَّةَ الْعَالِمِ وَجِدَالَ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ,...
.
Al-Hasan berkata, telah berkata Abu Darda’: “Sesungguhnya di antara hal yang aku khawatirkan atas kamu sekalian adalam tergelincirnya orang alim (ulama), dan bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an… (Ibnu Taimiyyah, Kitab al-Fatawa Al-Kubro, juz 9 halaman 108).
.
عَنْ زِيَادِ بْنِ حُدَيْرٍ قَالَ قَالَ لِى عُمَرُ : هَلْ تَعْرِفُ مَا يَهْدِمُ الإِسْلاَمَ؟ قَالَ قُلْتُ : لاَ. قَالَ : يَهْدِمُهُ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ وَحُكْمُ الأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ
.
Dari Ziyad bin Hudair, ia berkata, Umar telah berkata kepadaku: Apakah kamu tahu apa yang menghancurkan Islam? Ia (Ziyad) berkata, aku berkata: Tidak. Ia (Umar) berkata: yang menghancurkan Islam adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafik dengan al-Qur’an, dan hukum (keputusan) pemimpin-pemimpin yang menyesatkan. --. (HR. ad-Darimi, dan berkata Syaikh Husain Asad: isnadnya –pertalian riwayatnya—shahih).
.
Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah menegaskan :
.
وَلِهَذَا قِيلَ : احْذَرُوا زَلَّةَ الْعَالِمِ فَإِنَّهُ إذَا زَلَّ زَلَّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ
.
Oleh karena itu dikatakan: Awas hati-hati (hindarilah) tergelincirnya orang alim (ulama), karena sesungguhnya ketika ia tergelincir maka tergelincirlah dunia karena tergelincirnya (ulama itu).
(Ibnu Taimiyah, kitab Majmu’ Fatawa, juz 4 halaman 296).
.
Wallahu A'lam.... Wallahu Al Musta'an.
Agus Abu Bakar Al Habsy

Agus Abu Bakar Al Habsy

Agus Abu Bakar Al Habsy, tokoh Syi’ah yang lahir pada 9 Agustus 1960 di kota Makassar ini termasuk diantara tokoh-tokoh Syiah yang terjun ke kancah perpolitikan Indonesia. Saat ini dia menjabat sebagai dewan pembina partai Demokrat dan dikenal dekat dengan presiden SBY.

Alumni UI kelahiran Makassar ini dulu aktif di Masjid Arif Rahman Hakim (ARH). Agus al-Habsyi bahkan menjadi juru bicara Syiah dalam debat dengan kelompok Sunni yang diwakili oleh Prof. Rasjidi, Imam Masjid Arif Rahman Hakim saat itu. Setelah kalah debat, Agus al-Habsyi dilarang melakukan kegiatan di Masjid ARH dan dicopot semua jabatannya di organisasi kemahasiswaan.

Namun Agus al-Habsyi tidak berhenti di situ mendakwahkan ajaran Syiah di kampus UI, sejumlah mahasiswa berhasil dipengaruhi dan direkrut menjadi Syiah. Setelah menamatkan studi di UI, Agus Abubakar al-Habsyi menjadi ketua Yayasan Baitul Hikmah di Depok dan terjun ke dunia politik. Agus al-Habsyi membantu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendirikan Partai Demokrat tahun 2001. Dia kemudian diangkat menjadi Ketua DPP. Saat ini, Agus Abubakar al-Habsyi menjabat sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat dan ikut menyeleksi Capres 2014 Demokrat.

Pada tahun 1989, sejumlah mahasiswa Syiah yang kuliah di UI mendirikan kelompok studi Abu Dzar yang dipimpin oleh Haryanto dan Yussa Agustian. Kedua orang ini adalah binaan Agus Abubakar al-Habsyi, yang diperintahkan untuk mendirikan HMI yang berwarna Syiah sebagai tempat menyemai bibit-bibit Syiah. Setelah berhasil merekrut sejumlah pengikut lewat kelompok studi ini, mereka melanjutkan langkahnya dengan mendirikan HMI berhaluan Syiah di UI. Rudy Suharto dan Kukuh Sulastyoko (Fak. Matematika & Sains) bersama Didi Hardian (Fak. Teknik), dibantu Syaiful Bahri dari Guna Dharma dengan dipandu oleh senior mereka; Zulvan Lindan dan Furqon Bukhori, akhirnya berhasil mendirikan HMI cabang UI, Depok, yang menganut pemikiran Syiah.

Ketika konflik Sunni-Syiah meletus di Sampang, Madura dia termasuk yang paling vokal menyuarakan bahwa Syiah "ditindas" oleh orang-orang Islam yang tidak memahami ajaran Islam.

Agus Abu Bakar sendiri baru-baru ini menunjukkan jatidiri sebenarnya di seminar Hari Asyuro Syiah yang digelar oleh Ahlul Bait Indonesia (ABI) dengan tema  “Kepahlawanan dan Nasionalisme Untuk Manusia Indonesia Seutuhnya; Peringatan Hari Pahlawan Nasional dan Asyuro Imam Husein” di Gedung Sucofindo Jakarta (08/11/2013) mendapat protes keras dari karyawan Sucofindo.Dan berakhir dengan pengusirannya olah karyawan Sucofindo karena bersikap arogan. Kejadian pengusiran ini bermula saat  anggota dewan Pembina Partai Demokrat  muncul secara tiba-tiba dari pintu utama Gedung Sucofindo ke arah kumpulan karyawan Sucofindo yang melakukan aksi protes.(dbs)

Surat Terbuka Santri Madura untuk Alwi Shihab

Sadar atau tanpa anda sadari, anda telah menyakiti dan mencabik-cabik hati Ummat Islam Indonesia.
Ketahuilah Sdr. Alwi bahwa menyakiti Hati Seorang Mu’min/Muslim dan Menjadi Penyebab timbulnya Fitnah adalah merupakan dosa besar.

Assalamu ‘alaikum Warohmatullah Wabarakatuh…

Bersama dengan Keluarnya Pernyataan anda mengenai masalah kepemimpinan di Indonesia ini, bahwa “Indonesia Saat ini Lebih Baik di Pimpin oleh Orang Non Muslim yang Adil dari pada oleh Orang Muslim yang Dholim” adalah sangat tendensius serta sesat dan menyesatkan Ummat Islam Indonesia,

Kami Tidak tau tujuan anda apakah itu Demi Politik, Uang atau memang anda keblinger dalam memahami agama Islam. Hanya ALLAH SWT yang Maha Mengetahui.

Ketahuilah Saudara Alwi pertama bahwa memilih orang Non Islam jadi Pemimpin Orang-orang Islam adalah Haram Hukumnya dalam Syariat.

Kedua anda telah berlaku tidak adil dengan Memposisikan Ummat Islam di Indonesia adalah Dholim.

Ketiga bahasa yang anda tampilkan adalah bahasa yang Tendensius terhadap orang atau golongan tertentu.

Keempat Dengan Bahasa tersebut seolah- olah anda mengatakan dan menghakimi bahwa Ummat Islam di Indonesia ini tidak ada yang baik alias Dholim semua.

Apakah anda tidak mempunyai bahasa lain atau memang anda tidak pandai mengolah bahasa sehingga sadar atau tanpa anda sadari, anda telah menyakiti dan mencabik-cabik hati Ummat Islam Indonesia.

Ketahuilah Sdr. Alwi bahwa menyakiti Hati Seorang Mu’min/Muslim dan Menjadi Penyebab timbulnya Fitnah adalah merupakan dosa besar, Kembalilah Ke Jalan ALLAH SWT DENGAN TAUBATAN NASUHA, Sudah cukup penderitaan Ummat Islam di Indonesia dengan diombang ambingkan oleh Aliran- aliran sesat yang tumbuh bagai Lumut di pinggir selokan dan jangan ditambah lagi dengan Kesesatan baru yang pada akhirnya jadi penyebab timbulnya Fitnah.

Kami tidak ingin berdebat dengan dalil-dalil ilahiah dalam Masalah ini karena Dalil-dalil ilahiah terlalu Agung untuk kami perdebatkan dengan anda apabila bertujuan politik, Uang dan ketenaran semata.
Wassalamu ‘Alaikum Warahmatullah Wabarakatuh…

Ttd: Santri Madura.

nugarislurus.com, 6 Maret 2015

Imam Besar Masjid Istiqlal: Syi’ah & Kelompok Liberal Sudah Masuk ke PBNU

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Ali Mustafa Yaqub mengungkapkan bahwa aliran sesat Syi’ah dan kelompok Islam Liberal (Islib) sudah masuk dan menyusup ke salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni PBNU.
”Ada pengurus PBNU yang selalu membela Syi’ah dan selalu hadir dalam acara-acara Syi’ah. Paling tidak dia selalu hadir dalam acara Asyura dan selalu menjadi pembicara utama,” kata Ali Mustafa kepada BANGSAONLINE.com, pada Jum’at (24/4/2015) siang.
Berbeda dengan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) yang menurut Ali Mustafa toleran terhadap perbedaan, aliran sesat Syi’ah hanya memberi dua pilihan. “Ikut saya atau saya bunuh,” ujar Ali Mustafa mencontohkan doktrin paham dan ajaran Syi’ah. Karena itu menurut dia, Syi’ah sangat bahaya jika berkembang di Indonesia.
Ali Mustafa mengungkapkan, indikasi aliran sesat Syi’ah sudah masuk ke dalam PBNU sangat jelas. ”Dulu Jamiyatul Qurra Wal Huffadz (Jamqur) pernah kerjasama dengan Syi’ah, saya sempat baca MoU-nya. Tapi akhirnya ketahuan lalu dibatalkan,” ungkapnya.
MoU (Memorandum of Understanding) atau nota kesepahaman antara PBNU dengan Syi’ah ini sempat heboh. Banyak media online melansir berita MoU PBNU dengan Universitas al-Mustafa al-’Alamiyah, Qom, Iran itu.
Dokumen kerjasama di bidang pendidikan, riset dan kebudayaan itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan persetujuan Syuriah PBNU. Dokumen tertanggal 27 Oktober 2011 itu dibuat dalam dua bahasa, Persia dan Indonesia. KH Sahal Mahfudz yang saat itu menjabat sebagai Rais ‘Aam marah dan membatalkan MoU tersebut.
Karena itu, Ali Mustafa berharap jangan sampai pengurus PBNU yang sudah jelas sekali terindikasi sebagai pembela Syi’ah dipilih lagi dalam Muktamar NU mendatang. ”Kalau masih dipilih lagi, NU lampu merah, dan semua berdosa,” tandasnya. [GA] (Panjimas.com)AHAD, 21 RAJAB 1436H / MAY 10, 2015
(nahimunkar.com)
Inilah kejanggalan-kejanggalan imigran Syiah di Balikpapan

Inilah kejanggalan-kejanggalan imigran Syiah di Balikpapan

Kehadiran sekitar 6.000 imigran Syiah di seluruh wilayah Indonesia sejak Oktober 2014 lalu memang mengundang banyak pertanyaan. Tapi, apakah sebenarnya yang memicu kecurigaan masyarakat setempat terhadap imigran Syiah?

Selama beberapa hari terakhir, Fajar Shadiq, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menelusuri fakta imigran Syiah di Balikpapan. Patut diakui, ada sejumlah kejanggalan yang menimbulkan pertanyaan besar. Berikut fakta kejanggalan-kejanggalan imigran Syiah di Balikpapan,

1. Bisa memakai fasilitas penerbangan domestik
IKLAN

Menurut Ketua Komisi I DPRD Balikpapan, H. Syukri Wahid, sejak Bulan Oktober hingga 7 Desember gelombang imigran masuk ke bandara udara Balikpapan lewat satu maskapai penerbangan.

“Itu setiap hari ada, datangnya 4-5 orang tiap hari kecuali tanggal 5 Desember. Sebelumnya juga datang secara bertahap,” ujar Syukri Wahid kepada JITU.

Pertanyaannya adalah, kenapa maskapai penerbangan mengizinkan? Padahal para imigran itu hanya bermodalkan sertifikat UNHCR. Sementara, di sertifikat UNHCR itu tertulis pemegang sertifikat tersebut tidak boleh mendekati area bandara. “Dekat saja tidak boleh kenapa bisa difasilitasi?” tanya Syukri.

2. Mayoritas imigran tersebut berasal dari Afghanistan

UNHCR menyatakan sampai dengan akhir November 2014, ada 6,348 pencari suaka terdaftar di UNHCR Jakarta secara kumulatif.Sebagian besar dari mereka berasal dari Afghanistan (60%), Iran (9%), Somalia (6%) dan Iraq (6%). Tentu ini juga mengundang pertanyaan. Mengapa para imigran dari suku Hazara di Afghanistan itu seperti ‘diarahkan’ ke Indonesia? Siapa yang mengatur kedatangan mereka?

Padahal kita tahu banyak negara lain yang juga tengah dirundung konflik seperti Suriah, Iraq, Libya, Yaman, Pakistan atau Myanmar yang paling dekat. Tapi justru mengapa jumlah pengungsi Afghanistan yang berideologi syiah ini yang mendominasi jumlah pengungsi di Indonesia?

3. Tidak ada identitas

Dari wawancara anggota JITU kepada pihak imigrasi di Balikpapan, memang para imigran syiah tersebut hanya bermodalkan sertifikat pengungsi dari UNHCR untuk bisa masuk ke Indonesia. Mereka sama sekali tidak memiliki paspor, KTP atau penanda identitas lainnya. Bahkan, menurut Ketua Komisi I DPRD Balikpapan, H. Syukri Wahid yang sempat bertanya kepada salah seorang pengungsi Afghan, mereka telah membuat paspor palsu sampai ke Malaysia, tapi kemudian mereka bakar.

Menurut para pengungsi, mereka lari dari Afghanistan menuju Pakistan kemudian menelusuri jalan darat hingga Thailand dan akhirnya Malaysia. Mereka tiba di Malaysia dengan membawa paspor palsu, tapi kemudian mereka bakar ketika akan sudah tiba di Indonesia supaya tidak dikenai delik pemalsuan identitas. “Ketika sudah di Indonesia mereka membakar paspornya. Jadi dia tahu kelemahan kita ini. Tidak seperti di Malaysia yang ketat. kita ini terlalu longgar,” ujar Syukri Wahid.

4. Data pengungsi terkesan direkayasa

Jika dilihat dari penampilan dan perawakan para imigran syiah ini, maka bisa diambil kesimpulan bahwa mereka memang angkatan kerja. Mereka muda, tanpa perempuan dan anak kecil dan fisiknya cukup baik. Tapi setelah kami amati dalam daftar nama para imigran syiah ini banyak dari mereka yang lahir pada tanggal 1 Januari. Terlalu mudah untuk suatu kebetulan.

5. Rudenim baru dibuat langsung overload

Menurut pihak imigrasi Balikpapan, Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Lamaru baru diresmikan pada bulan Oktober 2014, dengan dana sepenuhnya ditanggung IOM (International Organization of Migration). Sementara, Australia telah menutup pintu pengungsi dan pencari suaka sejak 1 Juli 2014. Oleh karena itu, para imigran ini berbondong-bondong ke tempat yang ada Rudenimnya, karena di situ mereka berharap didata oleh UNHCR.

“Dengan ditutupnya pintu Australia bagaimanapun caranya bisa sampai gak diproses, terus akhirnya mereka (imigran) mengunjungi tempat-tempat yang ada Rudenimnya berharap bisa masuk ke Rudenim,” ujar Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rumah Detensi Imigrasi Lamaru Balikpapan, Edu Andarius Aria saat ditemui di Balikpapan pada Kamis (11/12).

Saat ini, ada sekitar 300 imigran di Balikpapan, sementara kapasitas Rudenim hanya menampung 144 orang.

6. Fasilitas mewah

Dengan bantuan dari sebuah NGO bernama IOM, (International Organization of Migration), para imigran ini betul-betul dibuat nyaman tinggal di Indonesia. Tiap hari, mereka mendapatkan jatah makan catering 3×1 hari, mendapat ruang menonton televisi beragam saluran internasional via TV kabel, fasilitas olahraga yang lengkap, serta rekreasi berenang ke laut setiap pekannya.

Yang lebih gila lagi, pada Hari Imigran Internasional yang jatuh pada 18 Desember, IOM akan mendatangkan hiburan berupa band musik ke dalam Rudenim.

Laporan Fajar Shadiq

(ukasyah/arrahmah.com)