PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Muhaddits Besar Itu Dulunya Beragama Hindu

Dia adalah Prof. Dr. Muhammad Dhiya'urrahman Al A'dzamy. Berikut biografi singkat beliau yang berhasil kami himpun dari berbagai sumber dan berdasarkan wawancara kami dengan beliau setahun yang lalu.

Beliau dilahirkan di India pada tahun 1362 H/1943 M dari sebuah keluarga Hindu yang taat. Beliau tidak ingat pasti kapan tanggal lahirnya. Semua data tentangnya hilang saat melarikan diri dari India.

Terlahir dari keluarga yg berkecukupan membuatnya mampu melanjutkan pendidikan hingga tingkat tsanawy (SMP). Sejak usia dini minat bacanya cukup tinggi. Banyaknya agama dan kepercayaan di India mendorong rasa ingin tahunya untuk mempelajari berbagai agama, mulai dari Yahudi, Kristen ,Budha dan agama-agama lainnya. Hingga kemudian Allah membukakan hatinya untuk memeluk Islam.

Interaksinya dengan berbagai macam literatur keagamaan mendorongnya menulis berbagai makalah ilmiah di bidang perbandingan agama. Diantara karya beliau dibidang perbandingan agama adalah "Dirasat fi Al-Yahudiyah wa An-Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi. Buku ini dicetak dalam jilid besar oleh "Maktabah Ar-Rusyd"

Perjalanan spiritualnya hingga memeluk islam sangat panjang. Semuanya beliau tuangkan dalam sebuah risalah yang berjudul "Min Dzulumaat Al Watsaniyyah Ila Dhiyaa' Al-Islam"

Saat menyatakan masuk islam, keluarga menolak keras perpindahan yang dilakukannya. Berbagai cara ditempuh agar menyurutkan iman keislamannya. Puncaknya mereka berencana untuk membunuhnya. Karena tekanan dan penindasan yang dialaminya demi mempertahankan keyakinan barunya, beliau melarikan diri ke negara tetangga Pakistan. Di Pakistan beliau ikut sebuah lembaga pendidikan asuhan Jamaah Islamiah (JI) yang diketuai oleh Abul A'la Al Maududy. Disanalah beliau mempelajari dan mendalami Madzhab Hanafy. Hingga akhirnya Allah membimbing beliau untuk sepenuhnya mengikuti dalil dan meninggalkan fanatik madzhab serta Jama'ah Islamiyah. Kisahnya bersama Jamaah Islamiyah bisa dibaca pada bagian terakhir dari buku beliau "Marwiyaat Abu Hurairah" cet. Maktabah Al ghuraba' madinah.

Agar keilmuannya semakin mantap, beliau memutuskan untuk pindah ke negeri Haramain. Di tempat barunya, beliau melanjutkan pendidikan strata satu di Universitas Islam Madinah (UIM). Setelah menyelesaikan pendidikan strata satu, beliau melanjutkan pendidikan pada program pasca sarjana Universitas Al Azhar Kairo di bidang hadits. Setelah meraih predikat Doktor dengan nilai terbaik beliau kembali dan diberi tugas sebagai dosen di Universitas Islam Madinah.

Beberapa tahun kemudian beliau dipercaya untuk menjalankan amanah sebagai Dekan Fakultas Hadits Universitas Islm Madinah. Selain pakar di bidang Hadits, Beliau juga sangat mumpuni di bidang perbandingan agama dan theologi, beliu sering diminta untuk menjadi pembimbing terhadap sejumlah desertasi di didang ini. Sebagai penghormatan atas kerja keras dan pengabdiannya terhadap Islam Kerajaan Saudi Arabia memberinya kewarganegaraan.

Kini beliau -hafidzahullah- tinggal menetap di Madinah Al Munawwarah. Diusianya yang tak lagi muda beliau menghabiskan waktunya untuk menulis pada berbagai disiplin ilmu. Tiga hari dalam sepekan (Senin, Selasa, Rabu ba'da Isya) beliau rutin menyampaikan ta'lim di Masjid Nabawi As-Syarief dengan materi Ilmu Hadits(*).

Saya pernah bertanya, "Mengapa anda lebih banyak waktu menulis ketimbang memberi pelajaran..?" Beliau menjawab "Bila aku mati, karyaku adalah kehidupan yang kedua bagiku"

Diantara Karya beliau:

1. Al jaami" al kamil (insyaallah akan dicetak dalam 20 jilid(**)
2. Mu'jam Mustholsh Al-Hadits
3. Dirasaat fil jarh watta'dil
4. Dirasat fi Al Yahudiyah wa An Nashraniyah wa Adyaan Al-Hindi
5. Minnatul Kubro Syarh & Takhrij Sunan As-Shughro (9 jilid)
6. Aqdhiah Rasulillah sallallahu alaihi wasallam karya Ibn al-Thalla' al-Qurtubi (wafat 497 h) (dirosah & tahqiq)

Dan Masih banyak lagi

Catatan:
* Saat ini beliau fokus pada qiroah & ta'liq terhadap Shohih Bukhory
** Kabar itu kami terima dari beliau beberapa pekan sebelum kami meninggalkan Madinah, wallahu a'lam apakah ada perubahan atau tidak.

_______________
Madinah, Ahad 23-04-1435 H
ACT El-Gharantaly

UMAT ISLAM TIDAK TOLERAN?

UMAT ISLAM TIDAK TOLERAN?

Oleh: Dr. Adin Husaini

Pada 1 Juli 2009, Dr. Marwa El-Sherbini, seorang Muslimah yang sedang hamil tiga bulan dibunuh oleh seorang non-Muslim di Pengadilan Dresden Jerman. Dr. Marwa dibunuh dengan sangat biadab. Ia dihujani tusukan pisau sebanyak 18 kali, dan meninggal di ruang sidang.

Dr. Marwa hadir di sing pengadilan, mengadukan seorang pemuda Jerman bernama Alex W yang menjulukinya sebagai “teroris” karena ia mengenakan jilbab. Pada suatu kesempatan, Alex juga pernah berusaha melepas jilbab Marwa, Muslimah asal Mesir. Di persidangan itulah, Alex justru membunuh Dr. Marwa dengan biadab. Suami Marwa yang berusaha membela istrinya justru terkena tembakan petugas.

Mungkin karena korbannya Muslim, dan pelakunya warga asli non-Muslim, peristiwa besar itu tidak menjadi isu nasional, apalagi internasional. Tampaknya, kasus itu bukan komoditas berita yang menarik dan laku dijual!

Bandingkan dengan kasus terlukanya seorang pendeta Kristen HKBP di Ciketing Bekasi, akibat bentrokan dengan massa Muslim. Meskipun terjadi di pelosok kampung, dunia ribut luar biasa. Menlu AS Hilary Clinton sampai ikut berkomentar. Situs berita Kristen www.reformata.com, pada 20 September 2010, menurunkan berita: “Menlu AS Prihatin soal HKBP Ciketing”.

Menyusul kasus Ciketing tersebut, International Crisis Group (ICG), dalam situsnya, (www.crisisgroup.org) juga membuat gambaran buruk terhadap kondisi toleransi beragama di Indonesia: “Religious tolerance in Indonesia has come under increasing strain in recent years, particularly where hardline Islamists and Christian evangelicals compete for the same ground.”

Banyak orang Muslim terbengong-bengong dengan fenomena ketidakdilan informasi yang menimpa mereka. Saat menemani Presiden Barack Obama melihat-lihat Masjid Istiqlal, Prof. KH Ali Musthafa Ya’qub menyampaikan titipan kaum Muslim Washington yang sudah tujuh tahun menunggu izin pendirian Masjid. Padahal, tanah sudah tersedia. Izin sudah diajukan dan belum kunjung keluar.

Masalahnya, yang jadi korban Muslim! Mungkin, oleh berbagai pihak, kasus yang menimpa kaum Muslim dianggap bukan komoditas berita yang menarik dan layak jual.

Kasus-kasus penyerangan tempat ibadah dan orang-orang Muslim di dunia Barat sangat melimpah datanya. Kebencian terhadap Muslim meningkat setelah peristiwa 11 September 2001. Berbagai laporan menunjukkan terjadinya vandalisme di banyak masjid dan kuburan Muslim hampir di seluruh Eropa. Pelecehan terhadap Islam seperti dilakukan oleh politisi Belanda Geert Wilders, juga tidak menjadi isu internasional tentang pelecehan Islam.

Pada 12 Februari 2010, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) menyebarluaskan data perusakan gereja di Indonesia. Kata mereka, hingga awal tahun 2010 telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. Berita ini tersebar ke seluruh dunia.

Fantastis! Ada 1200 gereja dirusak di Indonesia, sebuah negeri Muslim terbesar di dunia! Wajar jika dari ekspose angka itu akan muncul persepsi negatif terhadap Indonesia dan kaum Muslim. Setidaknya, bisa muncul opini, betapa biadab dan tidak tolerannya orang Muslim di Indonesia! Jika kasus satu gereja di Ciketing Bekasi saja sampai ke telinga Hillary Clinton, bagaimana dengan kasus 1.200 perusakan gereja!

Sayang, tidak ada analisis komprehensif dan jujur mengapa dan jenis kerusakan apa yang dialami gereja-gereja itu. Data Badan Litbang Kementerian Agama menunjukkan, pertumbuhan gereja Protestan di Indonesia pada periode 1977-2004, menunjukkkan angka yang fantastis, yakni 131,38 persen. Gereja Katolik lebih fantastis, 152 persen. Sedangkan pertumbuhan rumah ibadah umat Islam meningkat 64,22 persen pada periode yang sama.

Angka pertumbuhan gereja di Indonesia yang fantastis itu mestinya juga diekspose oleh lembaga-lembaga Kristen ke dunia internasional, agar laporan mereka lebih berimbang dan fair terhadap kondisi keberagamaan di Indonesia! Itu jika ada keinginan untuk membangun Indonesia sebagai rumah bersama, agar lebih adil, makmur, dan sejahtera.
Dalam soal toleransi beragama, antara opini dan fakta memang bisa jauh berbeda. Umat Islam sudah kenyang dengan rekayasa semacam itu. Dunia Barat bepuluh tahun tertipu oleh opini yang diciptakan kaum Zionis, bahwa negeri Palestina adalah tanah kosong, tanpa penduduk. Bertahun-tahun banyak orang Barat percaya, bahwa Israel adalah “David” sedangkan negara-negara Arab adalah “Goliath”. Kini, banyak yang sudah terbuka matanya, apa yang sebenarnya terjadi.

Dalam beberapa kali mengikuti perjalanan jurnalistik ke luar negeri, antara tahun 1996-1997, saya melihat bagaimana masalah Islamisasi di Timtim itu kadangkala diangkat oleh wartawan Barat dalam acara jumpa pers dengan pejabat-pejabat pemerintah RI. Mereka termakan oleh kampanye Uskup Belo selama bertahun-tahun bahwa telah terjadi Islamisasi di Timtim yang antara lain difasilitasi oleh ABRI.

Padahal, fakta bicara lain. Yang terjadi di masa integrasi Timtim dengan Indonesia adalah Katolikisasi! Bukan Islamisasi! Hasil penelitian Prof. Bilver Singh dari Singapore National University, menunjukkan, pada 1972, orang Katolik Timtim hanya berjumlah 187.540 dari jumlah penduduk 674.550 jiwa (27,8 persen). Tahun 1994, jumlah orang Katolik menjadi 722.789 dari 783.086 jumlah penduduk (92,3 persen). Tahun 1994, umat Islam di Timtim hanya 3,1 persen. Jadi dalam tempo 22 tahun di bawah Indonesia, jumlah orang Katolik Timtim meningkat 356,3%. Padahal, Portugis saja, selama 450 tahun menjajah Timtim hanya mampu mengkatolikkan 27,8% orang Timtim.

Melihat pertambahan penduduk Katolik yang sangat fantastis itu, Thomas Michel, Sekretaris Eksekutif Federasi Konferensi para Uskup Asia yang berpusat di Bangkok, menyatakan, “Gereja Katolik di Timtim berkembang lebih cepat dibanding wilayah lain mana pun di dunia.” (Lihat, Bilveer Singh, Timor Timur, Indonesia dan Dunia, Mitos dan Kenyataan (Jakarta: IPS, 1998).

Itu fakta. Tapi, opini di dunia internasional berbeda. Sejumlah kasus Islamisasi di Timtim diangkat dan dibesar-besarkan sehingga menenggelamkan gambar besar kondisi keagamaan di Timtim saat itu.

Ini kepiawaian mencipta opini! Perlu diacungijempol. Tokoh agama menjalankan fungsinya sebagai juru kampanye, bahwa umatnya tertindas, terancam, dan perlu pertolongan dunia internasional. Dan, kampanye itu menuai hasil yang mengagumkan! Dunia diminta percaya bahwa kaum Kristen terancam dan tertindas di Indonesia; bahwa tidak ada toleransi, tidak ada kebebasan beragama di negeri Muslim ini. Berbagai LSM di Indonesia sibuk mengumumkan hasil penelitian bahwa kondisi kebebasan beragama di Indonesia sangat buruk.
Cara eksploitasi kasus di luar batas proporsinya ini sangat merugikan citra bangsa. Padahal, lihatlah fakta besarnya! Muslim Indonesia sudah terbiasa dengan keberagaman dalam kehidupan beragama. Umat Muslim terbiasa menerima pejabat-pejebat non-Muslim duduk di posisi-posisi penting kenegaraan. Umat Muslim sangat biasa melihat tayangan-tayangan acara agama lain di stasiun televisi nasional. Hari libur keagamaan pun dibagi secara proporsional.

Tengoklah, berapa gelintir orang Muslim yang diberi kesempatan untuk menjadi pejabat tinggi di negara-negara Barat, sampai saat ini. Tengoklah, apakah kaum Muslim di sana bebas mengumandangkan azan, sebagaimana kaum Kristen di Indonesia bebas membunyikan lonceng gereja. Apa ada hari libur untuk kaum Muslim saat berhari raya, sebagaimana kaum Kristen menikmati libur Natal dan Paskah?

Tengoklah pusat-pusat pembelanjaan dan televisi-televisi Indonesia saat perayaan Natal! Apakah kaum Kristen dihalang-halangi untuk merayakan Natal dan hari besar lainnya? Justru yang terjadi sebaliknya. Di Indonesia, sebuah negeri Muslim, suasana Natal begitu bebas merambah seluruh aspek media massa.

Dalam kondisi maraknya ritual Kristen dan Kristenisasi di Indonesia, sungguh suatu “kecerdikan yang luar biasa” dalam bidang teknik pencitraan, bahwa Indonesia dicitrakan sebagai sebuah negeri yang tidak memberikan toleransi beragama kepada minoritas Kristen. Seolah-olah mereka adalahn umat yang tertindas dan teraniaya. Adanya kasus-kasus tertentu diangkat dan dieksploitasi begitu dahsyat sehingga Indonesia dicitrakan sebagai negeri yang tidak ada kebebasan beragama.

Tentu, adilnya, jika ingin menikmati kecantikan wajah seorang gadis, lihatlah seluruh wajahnya! Jika hanya satu dua jerawat yang diteropong dan dipelototi habis-habisan, maka wajah cantik itu akan hilang dari pandangan mata!

Kaum Muslim pasti sangat mencintai negeri ini. Muslim pasti mencintai toleransi, kerukunan, dan perdamaian. Hanya saja, tokoh Islam Indonesia M. Natsir, pernah memohon: “…kalaulah ada suatu harta yang kami cintai dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula memotong tali warisan ini!”

Kaum Muslim perlu terus mengambil hikmah dan pelajaran dari berbagai kasus yang menimpa mereka. Juga, kaum Muslim, terutama para aktivis dakwah, perlu terus meningkatkan kualitas dan kemampuan dakwahnya, agar mereka tidak mudah dikelabui dan diperdayakan. Toleransi umat Islam dinegeri ini tidak dihargai, justru umat Islam dicitrakan sebagai umat yang tidak toleran, padahal secara umum, mereka sudah berbuat begitu baik kepada kalangan non-Muslim dalam berbagai bidang kehidupan. (17 Desember 2010).

Alur diubahnya Rupiah kita menjadi peluru tentara Zionis-Isael

Alur diubahnya Rupiah kita menjadi peluru tentara Zionis-Isael

Alur diubahnya Rupiah kita menjadi peluru tentara Zionis-Isael sebenarnya sangat sederhana. Ini adalah ilustrasi yang mudah. Misal, di dekat rumah kita berdiri salah satu gerai makanan cepat saji yang berasal dari Amerika, sebut saja namanya “McDul”. 

Walau karyawannya orang Indonesia, juga para pemasok bahan-bahan mentahnya juga orang Indonesia, dan empunya gerai tersebut juga pengusaha Indonesia, namun karena gerai makanan cepat saji “McDul” itu berasal dari AS, hak patennya milik pengusaha AS, dan ada biaya waralaba yang harus disetor secara rutin dari gerai makan dekat rumah kita itu kepada markas besarnya di AS, maka sebenarnya gerai McDul di dekat rumah kita itu merupakan satu tentakel atau salah satu cabang dari ratusan ribu gerai makanan cepat saji McDul yang markas besarnya ada di Amerika. 

Sebagian keuntungan dari gerai McDul di dekat rumah kita itu akan mengalir ke pusat McDul di Amerika Serikat. Padahal, menurut sejumlah bukti yang ada, perusahaan McDul di AS itu diketahui telah menyumbangkan sebagian labanya ke Israel.
Apakah mereka ingin mengubah keyakinan umat Islam?

Apakah mereka ingin mengubah keyakinan umat Islam?

Apakah mereka ingin mengubah keyakinan umat Islam? Bukan. Sepanjang yg saya tahu mereka 'tidak tertarik' dengan itu. Menjadikan umat Islam berubah keyakinan dan kemudian memeluk agama mereka, bagi mereka bukanlah prestasi yg luar biasa.

Lagian pula, mereka tahu bahwa tidak mudah untuk berpindah agama.

Lalu untuk apa?

Pertama, adalah masalah eksistensi. Apa yg (oknum) mereka lakukan adalah masalah eksistensi. Sebagai warga minoritas yg hidup di negara yg berpenduduk muslim terbanyak di dunia, mereka butuh perhatian publik bahkan dunia bahwa mereka itu ada dan tidak diam saja.

Crusade war tetap berlanjut. Walau dengan cara yg berbeda.

Kedua, dan ini INTI-nya, adalah menguji (test case) seberapa besar efek dari 'perang pemikiran' yg telah gencar mereka lakukan pasca kekalahan mereka di Crusade War 'terakhir' pada tahun 1254.

Seperti yg kita ketahui bahwa, pasca kekalahan mereka pada Crusade War 'terakhir' yg dipimpin oleh Louis IX, mereka sadar bahwa memerangi umat Islam dengan cara peperangan langsung adalah sebuah hal yg mustahil. Melakukannya sama saja dengan bunuh diri.

Maka Louis IX saat itu mencanangkan strategi perang baru yg dinamai 'Perang Pemikiran'.

"Misi utama kita bukan menghancurkan kaum muslimin lalu mengeluarkan mereka dari agama Islam dan berpindah ke agama kita. Misi utama kita adalah melahirlan generasi baru yg jauh dari nilai-nilai Islam (Al Quran dan Sunnah). Generasi yg tidak mempunyai keterikatan dengan Allah. Generasi yg tidak mempunyai keterikatan moral. Generasi yg tunduk kepada kita. Generasi yg malas dan hanya mengejar hawa nafsunya" (Semuel Zweimer, 1936).

"Percuma kita memerangi umat Islam. Kita selamanya tidak akan pernah mampu menguasai mereka sepanjang di dada pemuda dan pemudi masih ada Al Quran. Tugas utama kita adalah mencabut Al Quran dari hati mereka. Baru kita akan menang dan menguasai mereka.

Minuman keras dan musik lebih menghancurkan umat Muhammad daripada seribu meriam. Oleh karena itu, tanamkan kepada hati mereka rasa cinta terhadap materi dan ketakutan atas mati..." (Gleed Stones, Mantan PM Inggris)

Nah, setelah era 'menuai' infiltrasi pemikiran yg mulai dilakukan ratusan tahun lalu, menumbuh kembangkan 'kepercayaan' baru (liberalisme, sekularisme, sll). Saat ini adalah saat 'memanen'.

Dulu mereka tiarap. Menjalankan misinya secara sembunyi-sembunyi. Sekarang mereka sudah berani menampakkan diri.

Ya. Saat puncak-puncaknya umat Islam mengalami kelemahan di sana sini, dan terlena dengan bergelimangnya materi duniawi.

Maka, jangan kaget dengan penguasaan media, informasi, teknologi, hingga bidang politik dan ekonomi dijalankan secara masif.

Citra Islam dikerdilkan dengan teroris, tukang kawin, anti HAM, dll. Sementara mereka berlindung di balik topeng pahlawan HAM, emansipasi, toleransi, dll.

Satu-satunya cara adalah kita bangun dari tidur pulas kita. Kita sadar dari keterlenaan dunia. Kita kembali mulai berbenah. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan penyadaran-penyadaran kepada masyarakat akan begitu besarnya potensi umat Islam.

Waktu yg lalu di Papua, gereja-gereja satu suara. Para pendeta, pastor dan tokoh agama mereka tidak henti-hentinya berkhotbah untuk 'mensukseskan' Pemilu untuk memuluskan kemenangan para tokoh daerah dan tokoh nasional yg sejalan dengan misi mereka. Sahabat sudah tahu sendiri siapanya. Dan kini, mari perhatikan 'balasan' dari sang tokoh yg dimenangkan:

1. Pembebasan tahanan politik Papua yg berupaya menjadikan Papua terlepas dari Indonesia.
2. Memperpanjang kontrak PT. Freeport Indonesia.
3. Dalam tragedi Tolikara, Prseiden malah mengundang 'provokator'-nya ke Istana Negara. Hal yg kontra jika pelaku tragedi intoleran adalah Muslim.
4. Berdiam diri atas tanpa klarifikasi atas isu pernyataannya mendukung Referendum Papua.
5. Dan lain-lain hal sebagainya.

Sementara umat Islam dibuat berpecah.

-AMI'

“GEREJA KATEDRAL DI JAKARTA DI BAKAR ORANG-ORANG BERJENGGOT dan CELANA CINGKRANG!”

“GEREJA KATEDRAL DI JAKARTA DI BAKAR ORANG-ORANG BERJENGGOT dan CELANA CINGKRANG!”

Sedang asyik beribadah digereja tiba-tiba sekelompok orang berjanggut dan bercelana cingkrang serta berjidat hitam membakar GEREJA Katredral di Jakarta, sontak para jema’at gereja lari ketakutan. Tak kalah METROTV-pun menyiarkannya hampir FULL 24 JAM nonstop dg HeadLine “Teroris membakar Gereja Katredral Jakarta”. Berita inipun meluas hingga mancanegara, lalu diwawancarailah para korban disana dan pendeta utk menceritakan kekejaman para teroris, diundang pula narasumber pengamat teroris dan JIL/Islam Toleran. Pengamat teroris mengatakan, para pelaku ada hubungannya dg ajaran radikal ustadz Abu Bakar Baasyir dan terindikasi dg jaringan teroris internasional/JI dan lulusan pesantren Ngruki, Solo dan perlu diadakan DERADIKALISASI diseluruh pesantren yang ada di Indonesia (sampai sekolahnyapun kena getahnya, beda dg koruptor yg tdk dikaitkan dg sekolahnya dulu).

Sedang JIL (Jaringan Islam Liberal)/Islam Toleran berpendapat, Islam itu agama indah dan damai, kalau kita berpuasa maka wajib bagi kita menghormati yang tidak puasa, kalau ada PSK/miras wajib bagi kita menghormati PSK, karena apa? Karena bisa jadi PSK lebih mulia dari ibumu, bisa jadi ibumu nanti masuk neraka sedang PSK itu masuk surga, kalau ada masjid dibakar ya wajib bagi kita menghormati yang membakar, itulah yang namanya TOLERAN karena Islam adalah agama damai, stop kekerasan atas nama Agama. Kalau mau berjihad…berjihadlah melawan hawa nafsu diri sendiri. Lawanlah rasa marah ketika masjid dibakar atau Muslim Palestina dibom dan tersenyumlah. Sudah bisa membangun 10 masjid belum? Sudah bisa menghajikan orang sekampung belum? Sedekah saja gak mampu malah mau berjihad ngebela Palestina segala. Kalau ada orang menampar pipi kiri maka berilah pipi kanan untuk ditampar lg. Lagian ngapain berjihad jauh-jauh padahal tetanggamu sendiri kelaparan. Sepulangnya wawancara distasiun TV itu, kedua narasumber itu makan bersama di KFC sambil terkekeh-kekeh menghitung uang diamplop hasil komisi wawancara.
Tak berapa lama DENSUS 88 berhasil membunuh para TERDUGA TERORIS, ada yg sedang sholat langsung ditembak, ada juga yg ditembak didepan isteri dan anak-anaknya padahal tak melawan dan tak bawa senjata apa-apa. Setelahnya KAPOLRI mengadakan konperensi pers mengumumkan daftar nama-nama teroris beserta foto-fotonya yang berhasil ditembak mati dan disiarkan keseluruh nusantara.
Bang JIL&JIN-pun tak mau kalah ikut berkomentar…inilah kelompok KHAWARIJ alias anjing-anjing neraka yang tidak taat dg ULIL AMRIK yang mengkafirkan para pemimpin yg bersekutu dg Amerika/Rusia! Mereka wajib hukumnya dibunuh, BRAVO DENSUS 88! Maka wajib bagi kita berjihad menjaga gereja-gereja diseluruh Indonesia dari serangan teroris! Kalau tidak suka Indonesia, silakan pindah ke Arab….stop Arabisasi! Usir orang Arab dari Indonesia mari kita kembali ke Islam Nusantara/JIN.*Acara ini ditayangkan berhari-hari siang dan malam tanpa henti. Sayangnya cerita diatas hanya fiktif karangan ane belaka….Baca Juga: Terungkap SURAT LARANGAN IDUL FITRI Dari Gereja, Yang Berakhir Pembakaran Saat Sholat ‘Ied Di Tolikara Papua
==================================================

ALHAMDULILLAH…beruntung ternyata pelakunya BUKAN ORANG ISLAM ketika terjadi TRAGEDI di Papua, DENSUS 88-pun bisa tidur dg nyenyak, MetroTV-pun pura-pura tidak tahu dan penggiat HAM diam membisu, maka tragedi pembakaran Masjid itu seperti tidak terjadi apa-apa alias HANYA dianggap perbuatan oknum biasa yang terganggu suara speaker akibat kumandang TAKBIR yg dialunkan dihari raya IDUL FITRI. Para pejabat mungkin sedang memikirkan perlu adanya PERDA pelarangan pengeras suara di masjid-masjid karena dianggap sebagai provokasi+polusi suara dan pelarangan JILBAB karena bentuk Arabisasi serta perbanyak lokalisasi PSK diapartemen2 sebagaimana saran Ahok dan tempat maksiat sebagai bentuk pro Westernisasi atau pro Komunis dg menghilangkan kolom agama di KTP.

=================================================

Semoga Papua dan daerah-daerah di Indonesia tetap aman dan damai, banyak yang ingin Indonesia hancur seperti keinginan skenario separatis teroris OPM dukungan Australia yg banyak membunuh TNI dan RMS dukungan Belanda.

Permainan Intelijen dalam Konflik Tolikara, Papua?

Ada permaiInan intelijen di Tolikara, Papua. Ada pihak ketiga sebagai "penumpang gelap" yang bermain di Tolikara. Tujuan skenario adalah konflik komunal antar-umat beragama di Papua.

Agenda lanjutannya adalah konflik horizontal antara penganut Kristen versus Muslim yang bersifat meluas. Ketika telah muncul kerusuhan sosial bermotif SARA, maka akan dimunculkan stigma bahwa telah terjadi intoleransi.

Agenda selanjutnya adalah kehadiran pasukan asing (baret biru / pasukan PBB) di Bumi Cendrawasih --- ini sering terjadi di berbagai negara.

Ujung-ujungnya adalah Referendum. Apakah kita siap melepas Papua dari Bumi Pertiwi, jika umat Muslim terbawa larut oleh hidden agenda ini? Agenda tersembunyi sering lolos dari pantauan. Pemilik agenda ingin menguasai sumberdaya alam secara total, jika Papua bisa lepas dari NKRI.

Pola semacam ini sukses di Timor Timur, yang akhirnya Timor Timur berhasil dipisahkan dari bingkai NKRI.

Pertanyaan sederhana, seandainya Papua cuma menghasilkan koteka dan akik paparaja, mungkinkah meletus "insiden Tolikara" ?

Insiden Tolikara adalah bahan permainan cantik intelijen. Konflik di Tolikara tidak berdiri secara tunggal sebagai fenomena sosial.

Anak-anak bangsa justru gaduh pada permainan-permainan di hilir persoalan bangsa yang besar ini.

Semoga kita semua tidak terprovokasi permainan kotor yang akan merusak kehidupan beragama di Indonesia, kita tetap Bhinneka Tunggal Ika.

Oleh: Yani Bertiana: chirpstory.com/li/276979

CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).

Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.

Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?

Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.

Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.

Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?

Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).
Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.

Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini?

Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?

Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?

Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.

Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?

Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?

Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.

Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?

Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.

Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia. [Dwi Condro Triyono, Ph.D] —