PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Waspadalah! Lirik Lagu “Indung-Indung” Mengandung Celaan Kepada Aisyah r.a

Waspadalah! Lirik Lagu “Indung-Indung” Mengandung Celaan Kepada Aisyah r.a

- Tahukah anda? Bahwa ternyata lagu qasidahan berjudul “Indung-Indung” menaruh beberapa bait kesesatan?!

Ya! Lagu asal Kalimantan Barat ini mengandung unsur celaan kepada Ummahatul Muslimin Aisyah r.a. Coba simak lirik lagu Indung-Indung berikut ini:

Indung Indung Kepala Lindung
Hujan Di Udik Di Sini Mendung
Anak Siapa Pakai Kerudung
Mata Melirik Kaki Kesandung

Aduh … aduh siti Aisyah
Mandi di kali rambutnya basah
Tidak sembayang, tidak puasa
Di dalam kubur mendapat siksa

Lihatlah lirik bercetak tebal diatas! Lirik tersebut ditunjukan kepada Siti Aisyah alias istri Rasulullah saw.
Kalimat-kalimat dalam lirik tersebut menceritakan bahwa Aisyah mandi di kali (sungai) hingga rambutnya basah. Lebih lanjut, dalam lirik itu pula Aisya dituduh tidak melaksanakan sembahyang (shalat) dan tidak berpuasa, dan Aisyah r.a mendapat siksa di alam kubur. Wal iyadzubillah.

Lirik Lagu Indung-Indung Mengandung Ajaran Sesat Syiah

Berbicara mengenai celaan kepada sahabat dan beberapa ahlul bait Nabi, tentu naluri kita akan mengarah pada ajaran sesat Syiah. Dimana mereka dengan lantang mencela, mengutuk, bahkan mengkafirkan beberapa sahabat Rasulullah serta dua isteri berliau, Aisyah r.a dan Hafshah Ummahatul Muslimin.

Al kulaini, seorang senior ulama Syiah berkata, “para sahabat Nabi yang mulia telah kafir dan murtad terutama Abu Bakar, Umar, Utsman, Klalid bin Walid, Mu’awiyah bin Abu Sufyan, al-Mughirah bin Syu’bah ra, kecuali tiga orang saja.”(Raudhat min al-Kafi, oleh al-Kulaini (8/245)

Yusuf al-Bahrani senior mereka juga berkata, “Aisyah r.a telah murtad setelah wafatnya Nabi saw, sebagaimana murtadnya para sahabat dengan jumlah yang luar biasa besar.” (asy-Syihab ats-Tsaqib fi Bayani Makna an-Nashib, oleh Yusuf al-Bahrani hal. 236).

Apakah ini adalah makar dari kelompok sesat Syiah untuk menipu kaum muslimin? Ataukah Ilin Sumantri selaku pembuat lagu ini teracuni paham sesat Syiah?

Kaum muslimin harus lebih mawas diri terhadap doktrin sesat aliran Syiah ini. Bisa jadi hal yang sudah menjadi kebiasaan dan adat disekitar kita justru terkontaminasi paham Syiah, sehingga tanpa disadari pula kita telah mencela dan menghina Islam.

Kapitalis BIN Anti Islamis

Kapitalis BIN Anti Islamis

Tidak ada negara berdasarkan agama yang ada hanya negara berdasarkan pancasila

doktrin yang abadi tanpa jelas ujungnya di mana

padahal; itu adalah jualan kaum kapitalis kepada negeri ini

mereka jual sekulerisme dan liberalisme didalam usaha nya untuk mengikis nilai nilai islamis

aneh; liberal dipelihara tapi islamis yang jelas sebuah keyakinan agama malah di buang

itulah kapitalis BIN anti kaum islamis

hedonis dan individualis adalah karakter asli kaum kapitalis

maka wajar; musuh kapitalis adalah kaum islamis

kapitalis (sekuler+liberal) vs islamis

kapitalis pula lah yang melahirkan jiwa mafia dan broker

kapitalis juga lah yang menciptakan sapta marga untuk para anggota militer

semua terdoktrin menjadi sebuah ajaran yang satu untuk melawan dan mengkerdilkan kekuatan kaum islamis

mesir hancur oleh kaum kapitalis (sekuler+liberal) yang anti dan gelisah terhadap hegemoni kaum islamis

pun dengan jaringan intelejen

saya yakin mesir punya badan intelejen

begitupula dengan indonesia yang memiliki BIN

masa’ intelejen mesir tidak berpihak; kecuali kepada kekuatan anti kaum islamis yaitu militer yang kapitalis (sekuler+liberal)

lalu apa yakin BIN indonesia berpihak kepada siapa

informasi penetapan 16 tahun buat LHI sudah diketahui oleh mereka (praktisi intelejen) sejak vonis tuntutan jaksa penuntut yang 18 tahun

satu hari ini saya investigasi hal tersebut;

apakah praktisi intelejen tahu vonis LHI 16 tahun; sebelum hakim ketok palu

aneh bin ajib; sebagian besar sudah tahu

bukan sebuah rahasia umum lagi; kasus LHI juga melibatkan jaringan intelejen alias ada pesanan intelejen dibalik vonis LHI

tanyakan kepada hendropriyono yang secara personal; buat apa dirinya memiliki ambisius terhadap OTB sejak tahun 70 an sementara OTB itu saat ini sudah berubah menjadi partai bernama PK lalu PKS

memahami vonis 16 tahun adalah memahami tuntutan jaksa penuntut yang 18 tahun; korting 2 tahun dengan mindset mengikuti ‘mau’ nya hendropriyono

saud situmorang yang anggota DAS BIN sekaligus konsultan penyidik KPK pernah keceplosan “kami bergerak mulai tahun 2004″

artinya mulai dari pembebasan ahmad fathanah pada tahun 2004 dari penjara australia oleh hendropriyono

pada waktu itu; setiap rapat di BIN; selalu memakai kode angka ’16’ untuk mengindentifikasi julukan buat PKS

karena PKS pada saat pemilu 2004 mendapatkan nomor urut 16

setelah pada 2002 berubah nama dari PK menjadi PKS

dan ‘kebetulan’ nya pada 2001-2004 kepala BIN nya adalah hendropriyono

tahun 2003 KPK di dirikan

sementara rizal ramli pernah membuat pernyataan; semua lembaga dan BUMN milik negara sudah di susupkan oleh BIN

tidak menutup kemungkinan KPK yang di dirikan pada masa hendropriyono menjabat kepala BIN tidak disusupi oleh intelejen BIN

kembali; vonis LHI adalah pembuktian diri buat seorang hendropriyono terkait si nomor 16 itu di 2004

gile lo ndro berhasil; mari kita tepok tangan kawan kawan para praktisi intelejen, 16 itu kode bahwa ini adalah pembuktian hendropriyono

2004 era dimulainya pergerakan penyusupan untuk penghancuran kepada si nomor 16

hmmmm

judulnya rada kaga nyambung #penyesatan ala bang dw

-bang dw-

Apa Alasan Jokowi Memilih Menteri Perokok?

Maaf jika judul tak sesuai isi.

Mengapa Susi Pudjiastuti diangkat menjadi menteri? Tentu hanya Jokowi dan Tuhan yang tahu jawaban pastinya.

Namun sesuatu yang menarik, nih. Ternyata dari sebuah berita di TEMPO tertanggal 3 April 2014, diketahui bahwa pesawat carteran Jokowi pada Kampanye dulu itu adalah milik maskapai Susi Air. Yang mana daripada pemiliknya adalah Susi Pudjiastuti, Begitulah.

‪#‎Koalisi_Katanya_TanpaSyarat‬

============================

Pesawat Carteran Jokowi Milik Susi Air
KAMIS, 03 APRIL 2014 | 12:56 WIB

http://pemilu.tempo.co/read/news/2014/04/03/271567585/Pesawat-Carteran-Jokowi-Milik-Susi-Air

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan pesawat jet carteran yang ditumpangi Joko Widodo dalam kampanyenya ke Malang pekan lalu merupakan milik maskapai Susi Air.

Pesawat mungil tersebut hanya bisa memuat tujuh penumpang. "Itu pesawat Susi Air dengan kapasitas tujuh tempat duduk," kata Hasto lewat pesan pendek kepada Tempo, Rabu, 2 April 2014. (Baca: Jokowi Pakai Jet, PDIP: Asal Bukan Pesawat Kepresidenan).

Hasto belum membeberkan ongkos yang harus dirogoh PDIP guna mencarter pesawat itu. Menurut Hasto, pesawat itu merupakan bantuan dari pihak ketiga yang akan dilaporkan sebagai dana kampanye PDIP. Hasto pun tak menyebutkan siapa pihak ketiga yang dia maksud.

"Pesawat itu tak sembarangan. Pemilik pesawat menceritakan bagaimana perjuangannya ekspor ikan, hingga akhirnya bisa membeli pesawat sendiri," kata Hasto. (Baca: Naik Jet Pribadi, Jokowi: Apa Saya Punya Pesawat?).

Pemilik maskapai Susi Air, Susi Pudjiastuti, sebelumnya dikenal sebagai pengusaha hasil laut untuk keperluan ekspor. Dalam beragam kesempatan, Susi sempat bercerita, awalnya dia hanya membeli pesawat untuk keperluan transportasi hasil lautnya ke pintu-pintu ekspor.

Lama-lama pesawat itu dia gunakan untuk membuka jalur penerbangan komersial. Susi Air kini dikenal sebagai maskapai yang lebih berfokus pada penerbangan perintis. Pihak Susi Air belum memberi konfirmasi apakah pesawat yang digunakan Jokowi itu bantuan mereka atau PDIP yang menyewanya.

Ahad, 30 April 2014, calon presiden PDIP sekaligus juru kampanye mereka, Jokowi, diketahui menggunakan pesawat Susi Air dari Kalimantan Selatan ke Malang untuk berkampanye. Hasto mengatakan Jokowi memang harus menggunakan pesawat itu.

Dia menyatakan Jokowi selalu menggunakan pesawat komersial kelas ekonomi jika hendak berkampanye ke daerah. Namun mantan Wali Kota Solo itu dipaksa menumpang penerbangan khusus bila lokasi yang didatangi sulit dijangkau dengan jadwal penerbangan komersial.

Jokowi sudah membantah bahwa pesawat yang ia tumpangi itu merupakan miliknya pribadi Dia mengaku hanya diajak oleh pengurus PDIP untuk naik pesawat itu guna melanjutkan kampanye ke Malang, Jawa Timur. (Baca juga: Kampanye, Prabowo Gunakan Pesawat dan Helikopter Pribadi).

Bebas Finansial Ala Rosulullah

Bebas Finansial Ala Rosulullah

Kawan.., alkisah disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang dengan langkah gontai datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.

Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu.

“Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.

“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah.

Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya. “Saya mau membelinya dua dirham”

Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”

Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.

Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.

Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.

KEPERLUAN KONSUMTIF

Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.

Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.

MODAL

Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.

Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.

Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.

SEDEKAH

Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.

Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.

Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.

Semoga Bermanfaat..

Ketika Jokowi Menentang ''Anarkisme''

Jokowi Menentang "Anarkisme" oleh FPI, Tapi Membela Anarkisme oleh "Relawan" PDIP

Lihatlah foto yang saya lampirkan. Saksikan perbedaan sikap yang sangat bertolak belakang. Jangan lupa saksikan pula cara Jokowi bereaksi, bahasa seperti apa yang ia gunakan. Rasanya aneh, seorang pemimpin sekelas Presiden mengeluarkan pendapat dengan gaya preman seperti itu.

Berikut saya copy paste sumber beritanya.

========================

Jokowi: Salah sendiri tvOne manas-manasin
http://www.merdeka.com/pemilu-2014/jokowi-salah-sendiri-tvone-manas-manasin.html

Merdeka.com - Kandidat presiden nomor urut dua Joko Widodo ( Jokowi ) meminta media massa tidak ikut memanas-manasi suasana kampanye pemilihan presiden (pilpres). Hal itu dikatakan Jokowi terkait adanya tindakan pengepungan salah satu stasiun televisi swasta di Jakarta dan Yogyakarta oleh massa PDIP karena pemberitaan stasiun televisi tersebut yang dianggap menyudutkan Jokowi atas isu keterkaitannya dengan PKI.

"Tapi kan medianya ikut bantu manas-manasin. Salah sendiri manas-manasin. Makanya jangan ikut manas-manasin. Jangan sekali-kali salahkan relawan," kata Jokowi saat konferensi pers di Bandung, seperti dikutip dari Antara, Kamis (3/7).

Jokowi mengatakan dirinya tidak memiliki kontrol penuh atas tindakan para relawan maupun simpatisan meski dalam setiap kesempatan kampanye dirinya mengaku selalu mengingatkan relawan agar selalu sabar.

"Meski sudah saya sampaikan di mana-mana bahwa kejelekan harus dibalas kebaikan, tapi kan tidak mungkin semuanya bisa kita handle. Mungkin kali ini memang sudah keterlaluan sampai mereka bereaksi," kata Jokowi .

Jokowi mengaku sudah sangat terbuka pada media terkait silsilah keluarganya sehingga tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

"Sebenarnya kita kurang sabar apa? Sejak awal kita diamkan tapi yang terakhir ini penghinaan besar karena bukan hanya ditujukan pada saya tapi pada keluarga saya juga. Jumlah relawan itu ribuan tidak mungkin kita suruh sabar semua," katanya.

Sebelumnya, Kantor tvOne Biro Daerah Istimewa Yogyakarta disegel massa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Rabu malam. Penyegelan terkait pemberitaan yang dianggap menyudutkan partai itu.

[hhw]

=======================

Jokowi: Ormas yang Anarkis, Kita Gebuk
http://news.detik.com/read/2014/10/09/162959/2714466/10/jokowi-ormas-yang-anarkis-kita-gebuk

Jakarta - Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) menanggapi adanya ormas-ormas yang sering bertindak melanggar hukum. Jokowi memastikan ormas-ormas seperti itu harus ditindak tegas.

"Kalau tindak anarkis, jelas, gebuk, penegakan hukum," ujar Jokowi di Balai Kita DKI, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (9/10/2014).

Menurut Jokowi, apapun ormasnya, jika sudah bertindak di luar aturan harus ditindak tegas. "Siapa pun yang anarkis, digebuk. Diartikan aja sendiri," katanya tanpa menjelaskan detil.

Sementara itu, terkait dengan status ormas Front Pembela Islam (FPI) yang disebut oleh Wakil Gubernur DKI tidak terdaftar di Pemprov DKI, Jokowi malah balik bertanya.

"Kenapa dibiarin?" ujar Jokowi tanpa melanjutkan pernyataannya.

(jor/mok)

 Blunder Pencitraan Adian Napitupulu oleh Kompas

Blunder Pencitraan Adian Napitupulu oleh Kompas


Demam pencitraan akhir-akhir ini melanda para pejabat negara di Indonesia. Tidak hanya terjadi pada wajah-wajah lama perpolitikan Indonesia namun juga melanda wajah-wajah baru perpolitikan Indonesia saat ini.


Pencitraan yang dilakukan tokoh-tokoh politik Indonesia melibatkan media-media besar yang ada, tentunya dengan bayaran yang besar pula. Hal ini bukan tanpa alasan, karena dengan melakukan hal ini maka hal-hal kecil menjadi hal besar, bahkan yang tak seharusnya menjadi berita tapi dibuat-buat sehingga menjadi berita yang menjadi seseorang seakan-akan sederhana, sering memperhatikan rakyat, dengan bahasa penuh kebohongan lainnya.



Hal inilah yang dilakukan oleh politisi yang baru masuk senayan dari partai yang bergambar kerbau dan bermoncong putih, PDIP Perjuangan, Adian Napitupulu. Sebagai orang yang katanya berperan dalam meruntuhkan titah orde baru, tentunya wajah Adian Napitupulu menjadi tidak asing bagi siapa saja, namun nyatanya dia tetap membutuhkan yang namanya pencitraan.



Mulai dari kata “Bajingan kalian semua” di akun twitter pribadi miliknya, menolak menginap di hotel mewah sampai dengan memakai jas murah ketika mengikuti pelantikan sebagai anggota DPR. Namun sayangnya, mungkin redaktur media, dalam hal ini KOMPAS.com mungkin masih baru dan belum begitu memahami dunia pencitraan yang sedang digelutinya yang menjadikan pencitraan menjadi lucu dan seakan menjadi pembodohan kepada rakyat.



Memanfaatkan kebiasaan rakyat Indonesia yang malas membaca, Kompas membuat judul berita dan isi berita yang bertolak belakang sehingga Adian tampak bak politisi yang merakyat dan sederhana. Padahal judul berita dan isi berita tidak nyambung sama sekali.



Mulai dari berita dengan judul “Ini alasan Adian pakai jas Rp 80.000,- di pelantikan DPR” (Baca: Ini Alasan Adian Napitupulu Pakai Jas Murah Dipelantikan DPR) yang membuat tertawa. Rasanya Adian tak perlu memberikan alasan kenapa harus menggunakan jas dengan harga Rp 80.000,- pada pelantikan. Karena memang tidak ada aturan yang mewajibkan menggunakan jas mewah pada saat pelantikan sebagai anggota DPR. Anehnya, wartawa Kompas justru membuat awalan berita bahwa Adian tak mau ambil pusing dengan aturan yang diberikan kepada anggota DPR yang baru. Jika ada anggota DPR lainnya yang membaca ini tentunya akan membuat mereka tertawa.



Kemudian berita dengan judul “Jadi anggota DPR, Adian Napitupulu tolak menginap di hotel mewah” (Baca: Jadi Anggota DPR, Adian Napitupulu Tolak Menginap di Hotel Mewah) yang lagi-lagi berasal dari media Kompas. Antara judul dan isi berita sangatlah bertolak belakang. Pencitraan seorang Adian justru sangat tampak di berita ini, dengan dikatakan menolak di hotel mewah, padahal sesungguhnya Adian Napitupulu menolak menginap karena dimintai deposit oleh pihak hotel sebesar 1 juta rupiah. Apakah karena tidak membawa uang pada saat tersebut atau justru sedang menunjukkan arogansinya pada pihak hotel sebagai anggota DPR, Adian menyebutkan “Logika saja, kami dipilih mengawasi anggaran negara ribuan triliun, mengawasi 17.000 pulau dan 200 juta lebih penduduk Indonesia. Masa pihak hotel tak percaya kami untuk urusan handuk, asbak, dan sandal hotel?”, lebih parahnya wartawan Kompas justru membuat redaksi Adian mengecam aturan dari pihak hotel tersebut.



Yang seharusnya berita ini menjadi pencitraan justru mengarahkan pembaca pada fakta sebenarnya, dimana Adian merupakan orang yang tidak bisa taat pada aturan dan justru bersifat arogan dengan membanggakan dirinya sebagai anggota DPR. Bagaimana nantinya dengan aturan-aturan lainnya yang menurutnya justru merendahkan harga diri seorang anggota DPR.



Dari hal di atas, tentunya menjadi contoh yang buruk ketika melakukan pencitraan, apalagi justru dengan dana dan bahan yang sangat pas-pasan, sehingga bukan citra yang diraih justru mempertontonkan kebodohan diri sendiri kepada publik.
Dilema Khatib Partisan

Dilema Khatib Partisan

Dilema Khatib Partisan

Drs. Cepluk Multikultur berseri-seri. Pasalnya, dia diminta menjadi khatib Idul Adha tahun ini. Di akun Facebooknya, Ustadz Cepluk, begitu biasa dia disapa, sudah nulis status panjang. Sekedar ngasih tahu bahwa dia akan naik mimbar tahun ini. Sekaligus ngundang jamaah fesbukiyyah nawarin mereka ikut solat dan bisa dengerin khutbahnya. Biar dapet pencerahan tulisnya. Apalagi jadi khatib tahun ini posisi Ustadz Cepluk sudah tidak seperti setahun lalu. Sekarang dia bukan lagi ustadz an sich, tapi tokoh kader partai yang sangat loyal, anggota dewan, deket dengan orang-orang gedean dan orang penting.

"Ini sangat strategis," pikirnya.

Apalagi saat panitia menyodorkan tema "Idul Quban Dan Revolusi Mental Melawan Kejahatan Sosial", Ustadz Cepluk sangat antusias.

"Oke, saya terima permintaan saudara. Tema yang saudara minta, cocok sekali dengan visi saya," sambut Ustadz Cepluk pada panitia.

Panitia mengangguk-angguk senang. Pasalnya, panitia juga punya target. Ustadz Cepluk itu sudah mulai tenar. Anggota dewan. Sering nongol di tivi pula. Saat dia jadi khatib nanti, pasti jama'ah membludak. Nah kalo jama'ah membludak, uang sumbangan jama'ah pastinya juga membludak.

"Tolong ya, nanti saat saya khutbah direkam."
"Baik, Pak. Kalo perlu rekaman videonya akan kami unggah di YouTube."
"Bagus!" sambut Ustadz Cepluk senang.

***

Sehari menjelang Idul Adha.

"Halo ustadz, saya Memet. Panitia salat Ied. Jangan lupa ya Ustadz, esok salat Ied jam setengah tujuh udah mulai. Ustadz khutbah."
"Lha? Besok khutbah?"
"Lha? Kan sebulan sebelumnya ustadz sudah menyatakan oke."
"Wadduh! Saya masih di Surabaya. Rapat konsolidasi partai. Kok, saya bisa lupa gini ya."

Twew!

Ustadz Cepluk memang super sibuk sejak sebelum pemilu legislatif. Sangat super sibuk menjelang pilpres. Untunglah calon presiden jagoannya menang telak. Nah karena sibuk jadi tim sukses dan menangani relawan, Ustadz Cepluk sampe lupa dia sudah punya janji jadi khatib Idul Adha tahun ini.
"Gimana dong Ustadz? Ribuan jamaah pasti kecewa kalo Ustadz batal naik mimbar. Bisa babak belur panitia."
"Jama'ahnya ribuan?"
"Perkiraannya begitu Ustadz. Promosi di Facebook dan Twitter ampuh. Sehari bisa lima puluhan yang konfirmasi nelpon panitia minta alamat lokasi salat. Belum lagi penduduk tiga kelurahan. Separuhnya saja yang hadir, sudah seribu dua ratusan."
Ustadz Cepluk melongo, tapi juga seneng. Lha, naskah khutbahnya bagaimana? Seketika Ustadz Cepluk mikir berat. Cling! Bohlam di kepalanya nyala. Idenya muncul. Ustadz Cepluk lega.
"Halo, jadi gimana Ustadz?"
"Oke oke. Malam ini juga saya terbang ke Jakarta. Tolong saya dijemput besok pagi."
"Baik, Ustadz. Syukron."

***

Ba'da Shubuh.

"Halo, Ustadz Noval?"
"Ya. Halo."
"Ustadz, Cepluk nih. Mao tanya, ente khutbah di mana pagi ini?"
"Oh Ustadz Cepluk. Saya di Maharaja. Ada apa?"

Ustadz Cepluk cerita ngalor ngidul ngetan ngulon. Ujung-ujungnya minta joinan teks khutbah. Noval maklum, bekas kawannya dulu itu sudah jadi orang penting. Banyak agenda sampe lupa bikin teks khutbah.

"Tapi, apa naskah saya cocok dengan Ustadz?"
"Ustadz bahas apa?"
"Berkorban kaitannya dengan revolusi mental."
"Wah, cocok, cocok. Tolong e-mailkan ya. Sekarang."
"Tapi ..."
"Udah engga usah tapi tapi. Saya tunggu. Oh iya, tolong ikhlaskan ya, naskah ustadz saya pake."

***

Lima menit menjelang salat.

Jamaah membludak. Jika dijumblah-jambleh, ada sekitar dua ribuan jama'ah. Panitia sudah menghitung-hitung, andaikan separuh saja jama'ah masing-masing berinfak 10.000, berarti sudah sepuluh juta infak terkumpul.
Lain panitia, lain Ustadz Cepluk. Ustadz Cepluk agak gelisah. i-Padnya sudah bolak-balik dibuka tutup. Rupanya e-mail dari ustadz Noval belom juga dia terima. Ustadz Cepluk sudah narik nafas berulang-ulang. Barulah matanya berbinar-binar lima menit menjelang salat saat i-Padnya bersiul tanda ada e-mail masuk. Waktu lima menit benar-benar waktu mepet. Saat i-Padnya dibuka, baru baca judulnya, imam sudah mau mulai takbir. Lega. Ustadz Cepluk sumringah.

Jama'ah terpukau. Khutbah Ustadz Cepluk luar biasa. Judulnya Revolusi Mental Ala Ibrahim 'alaihissalaam. Lama-kelamaan bahkan jama'ah pada heran, salut dan terharu.

"Sudah saatnya," seru Ustadz Cepluk, "umat meniru Ibrahim yang berani menghancurkan berhala dan maksiat, bukan malah mendukung maksiat. Berhala modern banyak wujudnya. Sekarang berhala itu bisa jadi jelmaan prostitusi. Dukung aparat menghilangkan praktek prostitusi, bukan malah jadi beking prostitusi," ucap Ustadz Cepluk dalam khutbahnya.

"Jika ada kelompok, organisasi, partai politik, LSM yang terang-terangan atau malu-malu mendukung si Dolly misalnya, mereka harus direvolusi mentalnya," lanjut Ustadz Cepluk lagi. Tapi suara Ustadz Cepluk mulai turun temponya.

"Berhala-berhala modern bisa juga berbentuk aliran-aliran sesat, kelompok pendukung nabi palsu, para phobia Islam, atau kumpulan orang-orang yang alergi dengan segala yang berbau larangan pornografi dan porno aksi, maka berhati-hatilah. Mereka-mereka itu lah yang perlu direvolusi mentalnya. Termasuk mental saudara-saudara juga perlu direvolusi jika saudara masih bergabung atau setuju dalam kelompok itu," tegas khutbah Ustadz Cepluk. Suara Ustadz Cepluk makin terus turun temponya.
"Berhala sekarang ini bisa jadi bentuknya adalah korupsi. Saudara-saudara, gunakan akal dan pikiran, jangan asal pilih, jangan asal ikut-ikutan, coba lihat itu, ada anggota dewan yang gagal dilantik karena kesangkut kasus korupsi. Kalau kemarin ada di antara kita yang memilih partai yang paling mererod koruptornya, mental saudara-saudara juga perlu direvolusi," sebut Ustadz Cepluk yang makin pelan suaranya. Tapi jama'ah malah antusias campur heran. Kok suara Ustadz Cepluk makin sirep.

Jama'ah terkesima. Mungkin kalau itu bukan khutbah, mereka pasti sudah bertepuk tangan riuh rendah.

"Sidang Ied rahimakumullah. Yang terakhir, Ibrahim itu santun, akhlaknya karimah dan ucapannya lembut. Ibrahim hanya tegas pada kemusyrikan, galak pada berhala dan segala yang menyekutukan Allah dan kemunkaran. Tetapi segalak-galaknya Ibrahim pada kemusyrikan, beliau tidak pernah kasar pada penyembah patung sekalipun. Memang patung-patung musyrikin itu dihancurkan. Tapi saat tangan-tangan kukuh Ibrahim menghancurkan berhala-berhala itu dengan liukkan kapaknya, mulutnya tidak mengumbar sumpah serapah, "Bangsat! Bajjingan kalian semua!" Tidak saudara-saudara. Jika ada manusia yang levelnya tidak lebih tinggi dari telapak kaki Ibrahim saja memuntahkan umpatan semacam itu, bukan hanya mentalnya yang wajib direvolusi, tapi mulut dan lidahnya harus diganti dengan yang baru. Hatinya harus direndam dengan byclean pemutih. Dan otaknya harus diinstall ulang."

Do'a.

Jamaah puas tercerahkan. Panitia puas infak melimpah. Apalagi ada sate kambing dan sup iga sapi jadi lauk istimewa hari itu. Hanya Ustadz Cepluk yang pucat pasi. Esoknya Ustadz Cepluk dikabari, videonya sudah diunggah di YouTube. Ustadz Cepluk mendadak meriang.

Selamat merayakan Idul Adha 1435 H.

Malam Minggu yang berkesan di rumah santri, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, 2014.