PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Agar anak hafal 30 Juz Al Quran sebelum 7 tahun.

Agar anak hafal 30 Juz Al Quran sebelum 7 tahun.

Kiat-kiat ini diungkapkan oleh Syekh Dr. Kamil Al Labudi, 29 Ramadhan 1437 H..

Kiat-kiat ini di sampaikan dirinya berdasarkan pengalaman dirinya dalam membina ke3 putra/putri dirinya hafal Al Quran 30 juz dalam umur 4,5 th. Seluruh putra/putri darinya hafal Al Quran 30 juz sebelum umur mereka 5 thn..

1. Tabarok hafal 30 juz waktu usianya 4,5 th,
2. Yazid hafal 30 juz waktu usianya 4,5 thn,
3. Zainah hafal 30 juz kala usianya 5 thn. .

Inilah kiat-kiatnya :

1. Diwaktu anak kita lahir, dari umur 1 hri perdengarkan Al Quran tiap-tiap harinya 1 juz & ulangi banyaknya 5 kali.
Ulangi terus selama satu bln. Jadi dalam waktu 1 bln 1 juz di ulang sejumlah 150 kali. Sehingga waktu yg digunakan buat menamatkan memperdengarkan Al Quran jumlahnya 30 juz cuma 30 bln, yakni 2,5 th. Saat anak kita usianya 2,5 thn ia telah mendengarkan Al Quran 30 juz jumlahnya 150 kali. .

2. Pilihlah bacaan dari para Masyayikh, para Qori yg populer bacaannya fasih, seperti Qori Syekh Mahmud Kholil Al Hushori, Syekh Shiddiq Al Minsyawi, dll. Atau para Qori dari Saudi Arabia, seperti Syekh Ali Al Hudzaifi, Syekh Muhammad Ayyub, dll..

3. Saat anak kita telah tamat mendengarkan bacaan Al Quran 30 juz, maka ajarkan hafalan kepadanya. Sehari setengah halaman atau satu halaman, ulangi tiap-tiap harinya hingga 5 kali..

4. Buat kiat yg menarik utk anak kita supaya mau menghafal, memberi hadiah dikala mampu mencapai target. .

5. Doa kepada Allah ta'ala supaya dimudahkan dalam membimbing anak kita dalam proses menghafal Al Quran 30 juz. .

Dgn metode seperti ini, cuma butuh waktu 1,5 thn anak kita hafal Al Quran 30 juz. .

Mudahan-mudahan Allah ta'ala memberi KaruniaNya terhadap kita seluruhnya supaya keluarga kita jadi Ahlul Quran & mudah-mudahan putra-putri kita hafal Al Quran 30 juz & berakhlaq dgn akhlaq Al Quran. Aamiin

Kesaksian Freddy Budiman tentang Bisnis Narkoba?

Kesaksian Freddy Budiman tentang Bisnis Narkoba?

Copas

KESAKSIAN HARIS AZHAR (KONTRAS)

"Cerita Busuk Dari Seorang Bandit"

Kesaksian bertemu Freddy Budiman di Lapas Nusa Kambangan (2014)

Di tengah proses persiapan eksekusi hukuman mati yang ketiga dibawah pemerintahan Joko Widodo, saya menyakini bahwa pelaksanaan ini hanya untuk ugal-ugalan popularitas. Bukan karena upaya keadilan. Hukum yang seharusnya bisa bekerja secara komprehensif menyeluruh dalam menanggulangi kejahatan ternyata hanya mimpi. Kasus Penyeludupan Narkoba yang dilakukan Freddy Budiman, sangat menarik disimak, dari sisi kelemahan hukum, sebagaimana yang saya sampaikan dibawah ini.

Di tengah-tengah masa kampanye Pilpres 2014 dan kesibukan saya berpartisipasi memberikan pendidikan HAM di masyarakat di masa kampanye pilpres tersebut, saya memperoleh undangan dari sebuah organisasi gereja. Lembaga ini aktif melakukan pendampingan rohani di Lapas Nusa Kambangan (NK). Melalui undangan gereja ini, saya jadi berkesempatan bertemu dengan sejumlah narapidana dari kasus teroris, korban kasus rekayasa yang dipidana hukuman mati. Antara lain saya bertemu dengan John Refra alias John Kei, juga Freddy Budiman, terpidana mati kasus Narkoba. Kemudian saya juga sempat bertemu Rodrigo Gularte, narapidana WN Brasil yang dieksekusi pada gelombang kedua (April 2015).

Saya  patut berterima kasih pada Bapak Sitinjak, Kepala Lapas NK (saat itu), yang memberikan kesempatan bisa berbicara dengannya dan bertukar pikiran soal kerja-kerjanya. Menurut saya Pak Sitinjak sangat tegas dan disiplin dalam mengelola penjara. Bersama stafnya beliau melakukan sweeping dan pemantauan terhadap penjara dan narapidana. Pak Sitinjak hampir setiap hari memerintahkan jajarannya melakukan sweeping kepemilikan HP dan senjata tajam. Bahkan saya melihat sendiri hasil sweeping tersebut, ditemukan banyak sekali HP dan sejumlah senjata tajam.

Tetapi malang Pak Sitinjak, di tengah kerja kerasnya membangun integritas penjara yang dipimpinnya, termasuk memasang dua kamera selama 24 jam memonitor Freddy budiman. Beliau menceritakan sendiri, beliau pernah beberapa kali diminta pejabat BNN yang sering berkunjung ke Nusa Kambangan, agar mencabut dua kamera yang mengawasi Freddy Budiman tersebut.

Saya mengangap ini aneh, hingga muncul pertanyaan, kenapa pihak BNN berkeberatan adanya kamera yang mengawasi Freddy Budiman? Bukankah status Freddy Budiman  sebagai penjahat kelas “kakap”  justru harus diawasi secara ketat? Pertanyaan saya ini terjawab oleh cerita dan kesaksian Freddy Budiman sendiri.

Menurut ibu pelayan rohani yang mengajak saya ke NK, Freddy Budiman memang berkeinginan bertemu dan berbicara langsung dengan saya. Pada hari itu menjelang siang, di sebuah ruangan yang diawasi oleh Pak Sitinjak, dua pelayan gereja, dan John Kei, Freddy Budiman bercerita hampir 2 jam, tentang apa yang ia alami, dan kejahatan apa yang ia lakukan.

Freddy Budiman mengatakan kurang lebih begini pada saya:

“Pak Haris, saya bukan orang yang takut mati, saya siap dihukum mati karena kejahatan saya, saya tahu, resiko kejahata yang saya lakukan. Tetapi saya juga kecewa dengan para pejabat dan penegak hukumnya.

"Saya bukan bandar, saya adalah operator penyeludupan narkoba skala besar, saya memiliki bos yang tidak ada di Indonesia. Dia (bos saya) ada di Cina. Kalau saya ingin menyeludupkan narkoba, saya tentunya acarain (atur) itu. Saya telepon polisi, BNN, Bea Cukai dan orang-orang yang saya telpon itu semuanya nitip (menitip harga). Menurut Pak Haris berapa harga narkoba yang saya jual di Jakarta yang pasarannya 200.000 – 300.000 itu?”

Saya menjawab 50.000. Fredi langsung menjawab:

“Salah. Harganya hanya 5000 perak keluar dari pabrik di Cina. Makanya saya tidak pernah takut jika ada yang nitip harga ke saya. Ketika saya telepon si pihak tertentu, ada yang nitip Rp 10.000 per butir, ada yang nitip 30.000 per butir, dan itu saya tidak pernah bilang tidak. Selalu saya okekan. Kenapa Pak Haris?”

Fredy menjawab sendiri. “Karena saya bisa dapat per butir 200.000. Jadi kalau hanya membagi rejeki 10.000- 30.000 ke masing-masing pihak di dalam institusi tertentu, itu tidak ada masalah. Saya hanya butuh 10 miliar, barang saya datang. Dari keuntungan penjualan, saya bisa bagi-bagi puluhan miliar ke sejumlah pejabat di institusi tertentu.”

Fredy melanjutkan ceritanya. “Para polisi ini juga menunjukkan sikap main di berbagai kaki. Ketika saya bawa itu barang, saya ditangkap. Ketika saya ditangkap, barang saya disita. Tapi dari informan saya, bahan dari sitaan itu juga dijual bebas. Saya jadi dipertanyakan oleh bos saya (yang di Cina). 'Katanya udah deal sama polisi, tapi kenapa lo ditangkap? Udah gitu kalau ditangkap kenapa barangnya beredar? Ini yang main polisi atau lo?’”

Menurut Freddy, “Saya tau pak, setiap pabrik yang bikin narkoba, punya ciri masing-masing, mulai bentuk, warna, rasa. Jadi kalau barang saya dijual, saya tahu, dan itu ditemukan oleh jaringan saya di lapangan.”

Fredi melanjutkan lagi. “Dan kenapa hanya saya yang dibongkar? Kemana orang-orang itu? Dalam hitungan saya, selama beberapa tahun kerja menyeludupkan narkoba, saya sudah memberi uang 450 Miliar ke BNN. Saya sudah kasih 90 Milyar ke pejabat tertentu di Mabes Polri. Bahkan saya menggunakan fasilitas mobil TNI bintang 2, di mana si jendral duduk di samping saya ketika saya menyetir mobil tersebut dari Medan sampai Jakarta dengan kondisi di bagian belakang penuh barang narkoba. Perjalanan saya aman tanpa gangguan apapun.

"Saya prihatin dengan pejabat yang seperti ini. Ketika saya ditangkap, saya diminta untuk mengaku dan menceritakan dimana dan siapa bandarnya. Saya bilang, investor saya anak salah satu pejabat tinggi di Korea (saya kurang paham, korut apa korsel- HA). Saya siap nunjukin dimana pabriknya. Dan saya pun berangkat dengan petugas BNN (tidak jelas satu atau dua orang). Kami pergi ke Cina, sampai ke depan pabriknya. Lalu saya bilang kepada petugas BNN, mau ngapain lagi sekarang? Dan akhirnya mereka tidak tahu, sehingga kami pun kembali.

"Saya selalu kooperatif dengan petugas penegak hukum. Kalau ingin bongkar, ayo bongkar. Tapi kooperatif-nya saya dimanfaatkan oleh mereka. Waktu saya dikatakan kabur, sebetulnya saya bukan kabur. Ketika di tahanan, saya didatangi polisi dan ditawari kabur, padahal saya tidak ingin kabur, karena dari dalam penjara pun saya bisa mengendalikan bisnis saya. Tapi saya tahu polisi tersebut butuh uang, jadi saya terima aja. Tapi saya bilang ke dia kalau saya tidak punya uang. Lalu  polisi itu mencari pinjaman uang kira-kira 1 miliar dari harga yang disepakati 2 miliar. Lalu saya pun keluar. Ketika saya keluar, saya berikan janji setengahnya lagi yang saya bayar. Tapi beberapa hari kemudian saya ditangkap lagi. Saya paham bahwa saya ditangkap lagi, karena dari awal saya paham dia hanya akan memeras saya.”

Freddy juga mengekspresikan bahwa dia kasihan dan tidak terima jika orang-orang kecil, seperti supir truk yang membawa kontainer narkoba yang justru dihukum, bukan si petinggi-petinggi yang melindungi.

Kemudian saya bertanya ke Freddy dimana saya bisa dapat cerita ini? Kenapa Anda tidak bongkar cerita ini?

Lalu Freddy menjawab: “Saya sudah cerita ke lawyer saya, kalau saya mau bongkar, ke siapa? Makanya saya penting ketemu Pak Haris, biar Pak Haris bisa menceritakan ke publik luas. Saya siap dihukum mati, tapi saya prihatin dengan kondisi penegak hukum saat ini. Coba Pak Haris baca saja di pledoi saya di pengadilan, seperti saya sampaikan di sana.”

Lalu saya pun mencari pledoi Freddy Budiman, tetapi pledoi tersebut tidak ada di website Mahkamah Agung. Yang ada hanya putusan yang tercantum di website tersebut. Putusan tersebut juga tidak mencantumkan informasi yang disampaikan Freddy, yaitu adanya keterlibatan aparat negara dalam kasusnya.

Kami di KontraS mencoba mencari kontak pengacara Freddy, tetapi menariknya, dengan begitu kayanya informasi di internet, tidak ada satu pun informasi yang mencantumkan dimana dan siapa pengacara Freddy.  Dan kami gagal menemui pengacara Freddy untuk mencari informasi yang disampaikan, apakah masuk ke berkas Freddy Budiman sehingga bisa kami mintakan informasi perkembangan kasus tersebut.***

Haris Azhar (2016).

Cara Kompas Menyerang Erdogan

FRAMING MEDIA adalah sebuah upaya yang dilakukan oleh media massa untuk MENGGIRING OPINI pembaca. Lewat pemilihan kata dst, mereka bisa mengubah persepsi kita. Yang baik bisa jadi terkesan buruk. Yang buruk bisa jadi terkesan baik.

Judul berita Kompas ini adalah contohnya. SECARA LOGIKA, sangat wajar jika seorang presiden memecat orang-orang yang terbukti mengkudeta-nya. Namanya juga pengkhianat, tentu harus "dibasmi".

Namun Kompas sengaja menggunakan istilah BALAS DENDAM, agar muncul kesan bahwa tindakan Erdogan ini bersifat negatif. Bahkan para pelaku kudeta terkesan sebagai "korban kezaliman Erdogan". Ada unsur PLAYING VICTIM di sini.

Karena itu, marilah kita untuk tidak mudah tertipu oleh FRAMING MEDIA.

Jangan sampai kita seperti #mereka yang masih juga tertipu oleh pencitraan demi pencitraan yang dilakukan oleh... ya sudahlah... :-)

Apakah Hukum Islam Kejam? Obrolan Gus Sodrun

Apakah Hukum Islam Kejam? Obrolan Gus Sodrun

ISLAM ITU KEJAM??
.
Pak Sontoloyo (Ps) : Apa bener Gus, hukum Islam itu kejam, sehingga tidak tepat diberlakukan di Indonesia??
Gus Sodrun (Gs) : Memangnya kalo kejam kenapa Pak Sontol? Hukum Islam memang kadang terlihat kejam wong Allah sendiri juga punya sifat "kejam".
.
Ps : ah yang bener Gus sampean ojo ngawur. Allah itu maha pengasih penyayang pengampun.
.
Gs : nah itu pak Sontol, orang kalo yg diingat cuma ARRAHMAN ARRAHIM ALGHOFUR akibatnya bisa celaka. Jadinya berani bahkan rajin maksiat mendurhakai Allah dengan alasan Allah maha pengampun. coba sampean renungkan nama Allah ALMUNTAQIMU.
.
Ps : Artinya apa Gus?
Gs : walah ruu, tanyakan ke gurumu aja syaikh google.
.
Ps : hehe paketanku telas Gus, ajenge isi pulsa sungkan tasik gadah utang.
Gs : ngeten Pak, Allah mengenalkan diriNya dalam Alquran, selain sebagai dzat yang maha pengampun juga maha "kejam" aku pinjam istilah sampean tadi Pak.
{اعلموا أن الله شديد العقاب وأن الله غفور رحيم
} المائدة 98
weruho siro kabeh yen sak tenane Allah iku banget olehe nyikso lan saktenane Allah iku banget ngapurone lan welase.
.
شديد العذاب
شديد البطش
المنتقم
dan banyak lagi. Itu diingat ingat Pak Sontol biar gak "kendel" dosa.
.
Ps : Gih Gus saya paham. trus kalo hukum Islam kejam juga ya Gus?
Gs : Lah menurut sampean bagaimana Pak?
1. Pembunuh harus dihukum mati (qishosh). Kalaupun dimaafkan oleh keluarga korban, tetap wajib membayar diyah 100 ekor unta.
2. Pezina jika status pelakunya sudah nikah, harus dihukum rajam. Badannya dikubur, kelihatan kepalanya trus dilempari batu rame rame di tempat umu sampe mati. Kalo pelakunya perjaka atau perawan, hukumnanya dicambuk 100 kali.
3. Muslim yg pindah agama, atau muslim yg sengaja meninggalkan sholat harus dihukum mati, dipenggal kepalanya.
4. Pencuri harus dipotong tangannya meski yg dicuri hanya senilai 1/4 dinar. Satu dinar itu 4.25 gram emas murni kalo semperempat cuma berapa Pak. Sudah harus ditukar dengan tangan.
dan lain lain Pak.
.
Ps : wah wah wah... hukuman itu kalo menurut otak dangkal saya, melanggar HAM Gus. Tapi karna Allah dan Rasul yg bikin aturan saya gak berani bilang begitu Gus. Tapi kok bisa ya?
.
Gs : nah itu sudah sadar kalo dangkal. Hukuman hukuman itu justru menunjukkan KASIH SAYANG Allah Pak Sontol.  Coba renungkan
1. Mengorbankan nyawa seorang pembunuh demi menyelamatkan ribuan nyawa orang lain yg baik baik. Coba kalo hujum ini benar diterapkan, sampean mau bunuh orang pasti mikir seribu kali. Akhirnya pembunuhan tidak merajalela seperti sekarang.
2. Kalo pezina bener bener dirajam rame rame, hilang satu nyawa tapi berjuta wanita wanita suci selamat dari kejahatan kelamin. Begitu pula pria pria muslim lebih bisa mengontrol kont(r)olnya. Sudah dengar berita Yuyun kan? gadis 14 tahun yg diperkosa 14 pemuda lalu dibunuh? Kemarin barusan berita Eno Parinah, gadis yg diperkosa pacar dan temannya lalu kelaminnya ditusuk cangkul sampe mati? Kalo pelaku pelaku kejahat sejahat ini hanya dipenjara 5-10 tahun dan masih bisa diringankan dengan alasan masih dibawah umur, ya tunggu saja besok bahkan nanti sore akan ada Yuyun dan Eno yg lain.
4. Coba kalo pencuri bener bener dipotong tangannya, pasti Indonesia gak bakal masuk nominasi juara korupsi se dunia. Mengorbankan satu telapak tangan demi menyelamatkan negara Republik Indonesia Raya Merdeka apa itu kejam???

Ps : Iya ya Gus.
Gs : Coba kalo ada dokter mengamputasi kaki pasien demi menyelamatkan sekujur badan apakah itu dokter kejam? pilih amputasi atau pilih mati? mikir dong Pak.
.
Ps : Iya ini lagi mikir Gus. hehe
Gs : Kalo ada orang tua atau guru jewer muridnya biar gak nakal apa itu kejam??? Kalo ada ibu maksa anaknya minum obat pahit apa itu kejam?? Kalo sekolah yg mengeluarkan muridnya karena nakal, apa itu kejam?? Kalo murid/santri belum waktunya naik kelas dinaikkan belum waktunya lulus diluluskan akhirnya keluar dari pondok masih goblok trus di masyarakat diserahi urusan agama karena pernah mondok apa itu pengasuh pondok bijaksana???  Trus kalo gak diluluskan dulu, biar masa belajarnya lebih lama apa itu kyai kejam???
.
Ps : Tapi Gus seandainya ada pezina dilempari batu kepalanya sampe mati apa sampean gak kasihan??
Gs : GAK. Coba baca Alquran tegas ada larangan untuk mengkasihani pezina yg dieksekusi.
{الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة ولا تأخذكم بهما رأفة في دين الله إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر وليشهد عذابهما طائفة من المؤمنين
} النور 2
Gak boleh kasihan kalo kamu beriman. Malah disuruh menyaksikan banyak orang mukmin. Biar jadi renungan.
.
Ps : Tapi Gus, coba bayangkan bagaimana kalo yg itu anak sampean atau kelurga sampean?
.
Gs : Waduh Naudzubillah pak sontol, semoga keluarga kita diselamatkan dari maksiyat. Tapi kalo hukum diukur dengan "perasaan iba" yo bujat kabeh Pak.
.
Rasulullah saw saja bersabda
ﻭاﻳﻢ اﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺑﻨﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺳﺮﻗﺖ ﻟﻘﻄﻌﺖ ﻳﺪﻫﺎ
yg kurang lebih artinya "JIKA FATIMAH BINTI MUHAMMAD MENCURI PASTI KUPOTING TANGANNYA". Ini contoh dari Rasul Pak Sontol.
.
Ps : Iya ya Gus tapi gak usah tinggi tinggi nadanya
Gs : heheh... ya harus tinggi Pak Sontol, mencerdaskan orang itu harus penuh tenaga dan sungguh sungguh. Kalo sampean baca nanti biar cerdas. heheheh.
.
Kalo anak sampean kondisi darurat di ICU, nangis nangis minta pulang, apa sampean paksa bawa pulang atau nurut dokter harus nginap?? Kalo anak sampean belum waktunya pulang dari pondok tapi nangis minta lulus apa sampean paksa bawa pulang atau nurut sama Kyai, biarkan dipondok sampe dinyatakan lulus sama Kyai?
.
Kalo anak sampean gak boleh makan ini itu sama dokter, gak boleh bawa hape di pondok sama kyai, sementara anak sampean merengek minta makanan itu, minta hape sampean nuruti siapa?

Ps : hehe... ya nurut dokter dan kyai Gus, wong dokter sama Kyai menahan anak saya itu demi kebaikan anak saya kok. melarang ini itu demi anak saya kok.

Gs : Nah itu Pak, masih banyak orang tua yg lebih menuruti anak dari pada kebaikan anaknya.
.
Ps : Gus Sodrun, monggo diunjuk kopine, kayaknya kita ngobrol terlalu panjang nanti yg baca bosen. Kayaknya juga bertele tele diluar tema.
Gs : Monggo... sruptttt. Aku kan cuma jawab pertanyaan sampean Pak Sontol. sampean aja yg kebanyakan tanya. hehe

Cerita Seorang Muslim di London

Cerita Seorang Muslim di London

Inferiority CompleX

----------------------------------------------
Cerita hari ini rada sedih. Saya ditugaskan buat jaga satu stand Indonesia di dekat icon utama kota london, yaitu London Bridge. Para pemilik stand pameran minta ada penjaga dari mahasiswa Indonesia untuk membantu komunikasi dengan pengunjung. Pas sampai disana, pemilik stand, yang namanya berbau Sunda, disana tampangnya terlihat asem begitu saya datang. Satu kawannya, seorang cewek, bertanya, "Mas ikhwan ya?". Hah, emangnya kenapa pikir saya.

Lalu ga berapa lama, satu mahasiswi yang akan berganti shift dengan saya mengajak bicara. "Mas, bapak itu maunya standnya dijaga perempuan". OK lah, mungkin saya bisa ajak tukeran dengan kawan lain. Pas sudah cari2, eh ternyata ga ada yg bisa diajak tukeran. Balik lah saya ke pemilik Stand dan sampaikan bahwa tidak ada pengganti penjaga wanita. Dengan "cold blood" dia bilang, "Ya udah saya sendiri aja, Mas".

Saya perhatikan gerak-geriknya, lho koq rada melambai!!! Paham lah saya alasan sebetulnya dibalik penolakannya. Orang macam gini biasanya baru pontang-panting cari makhluk berjenggot pas menjelang sakaratul maut, sekalian minta disolatin jenazah. Kita ga usah heran.

Lebih menyedihkankan lagi, buat transport ke lokasi acara saja secara normal sehari ini bisa habis 10 pound (silakan kalikan dengan rupiah). Koq iya membatalkan sepihak dengan alasan yang dibuat2.

Istri saya nasibnya lebih baik, meskipun nampaknya juga kurang diterima lantaran berjilbab dan bergamis lebar. Pemilik stand kain batik tempat dia berjaga kurang ramah melihat penampilannya.

Tapi satu yang ajib ya ikhwan, wanita2 bule lebih banyak menghampiri istri saya dan tanpa canggung bertanya panjang lebar tentang batik selama berjam2 ketimbang nyamperin penjaga2 dari kalangan mahasiswa yang seksi2. Subhanallah. Saya heran, tapi tidak terlalu heran.

Orang2 asli Inggris sangat ramah, jauh lebih welcome dari orang Indonesia sendiri terhadap muslim berjilbab, bercadar, berjenggot, dan bergamis. Itu pengalaman saya membandingkan hidup di Indo, Jerman, dan Inggris. Kampus saya sendiri berusaha menghindari jadwal kuliah sampai bentrok sama salat jumat, demi menghormati kaum muslimin. Kampus menerbitkan angket pertanyaan tentang waktu2 apakah Anda ingin kuliah tidak ada karena alasan relijius.

Minggu lalu pihak kampus meminta saya mengajar satu hari kuliah animasi 3D untuk bulan Juni ini khusus untuk mahasiswa PhD. Mereka bertanya, menu makanan apa yang saya inginkan setelah saya ngajar agar bisa disiapkan kampus. Saya jawab bulan Juni saya puasa Ramadhan, jadi ga perlu nyiapin menu buat saya. Diluar dugaan, staff kampus tersebut membalas bahwa dia tahun lalu ikutan puasa Ramadhan juga, padahal beliau non muslim. 

Acara yang diselenggarakan kementrian KUKM ini kalo mau jujur, sangat membuat kita malu. Tidak satu pun acara2 begini berani menampilkan identitas kita sebagai negara muslim terbesar. Saya datang ke KBRI Jerman, melulu isinya arca2 dan patung Bali. Sampai2 seorang bule muallaf Jerman ketika saya temani untuk mengurus visa Indonesia di Berlin bertanya dengan heran, "Zico, negaramu ini betulan negara muslim???". Saya jawab, Ya.

"Kenapa ada patung2 dewa ini di embassy kamu?" sahutnya.

Saya terdiam ga bisa jawab. Pertanyaannya sangat menohok. KBRI yang seharusnya jadi simbol yang menggambarkan wajah utama negeri Indonesia dan penduduknya, jadi diwakili oleh gambaran tanah secuil yang orang namai pulau Bali. Dan patung2 itu bukanlah representasi penduduk Indonesia. Dan bule ini bertanya tepat di simbol tersebut.

Silakan survey, berapakah banyak penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan arca Bali dibanding penduduk Indonesia yang dirumahnya menyimpan Quran? Apakah arca Bali ini mewakili gambaran mayoritas Indonesia?

Saya injakkan kaki di KBRI London, yah mirip2 juga nasibnya dengan KBRI Berlin. Meski saya tahu sebagian karyawan KBRI disana sudah menjalankan ibadah haji.

Inferiority complex. Rasa malu dengan indentitas. Urusan identitas begini, saya lebih salut sama manusia yang asalnya dari India, Pakistan, dan Bangladesh. Jumlah mereka bejibun di London. Mereka sukses taklukkan London. Orang-orang kaya penguasa ritel di London adalah mereka. Bahkan mereka pilih sendiri Gubernur mereka untuk London, Sadiq Khan!!!

Sukses mereka bukan dengan menanggalkan identitas mereka. Bukan.
Mohon maaf bangsaku.

Mereka ini puluhan tahun seliweran di London dengan mengenakan peci, gamis, dan wanitanya sebagian malah bercadar. Ga malu mereka dengan identitas. Sering saya melihat seorang yang saya kira dia Imam mesjid, karena air mukanya nampak seperti orang saleh dan berjenggot lebat. Ternyata dia seorang polisi, lengkap dengan pistol dan lencananya. Sejumlah petugas pemerintah di London ini ngga canggung sehari2 bekerja dengan memakai peci. Mulai dari petugas kereta api, bis, pengatur lalin, dll.

Daerah Barking tempat saya tinggal beberapa minggu lalu lebih ganas. Cuman jarak radius 1 kilo dari rumah terdapat 5 mesjid ke segala arah penjurunya. Restoran2 ayam "KFC" India dan dan toko2 daging halal bertebaran. Mereka ga canggung pasang tulisan ayat Quran selebar plang Tokonya. Kadang gede2 ditulis kalimat syahadat persis didepan pinta kaca restoran. Toko daging halal dekat rumah saya unik lagi, Murattal disetel sangat nyaring di toko tersebut. Anda pernah lihat pemandangan tersebut di pasar2 Indonesia?

Buat salat jumat di mesjid terdekat rumah saya, saya harus tiba sejam sebelum khutbah dimulai jika ingin kebagian tempat solat didalam mesjid. Kalo ga, pasti saya salat dihalaman mesjid, padahal mesjidnya 3 tingkat. Kalo apes, saya terpaksa ikut jumatan kloter kedua sejam kemudian.

Sembari memperhatikan tingkah bangsa kita di pameran ini, tiba2 saya disampiri seorang security. "Are you an Indonesian?".. "Are you an Imaam here". "No, I am just visitor".

Hah, justru, sang sekurity dengan jenggotnya dan jambangnya yang lebat itu jauh lebih pas sebagai imam dari pada saya. "Where are you come from", tanyaku. "I was born here, but my parents came from Bangladesh". Saya katakan dalam bahasa Bangladesh "Vallo Achi (Apa kabarmu?)".

Kaget si Bangladesh ini dengan sapaan saya dalam bahasa ibunya. Ini emang kunci untuk mencairkan hati orang Bangladesh. Tapi saya pun ga kalah kaget. Seorang yang lahir di negara Inggris, tapi ga kagok sama krisis identitas.

"Saya malu dengan Bangladesh. Disana mesjid banyak dan azan terdengar dimana2, tetapi mesjid sepi. Di Inggris, azan tidak terdengar, tapi salat jamaah di mesjid selalu penuh".

"Sialan!!!" pikir gw dalam hati. Itu mah Indonesia banget.

"Muslim Indonesia jauh lebih baik dari Muslim Bangladesh", ujarnya penuh semangat. Tetes air segede kepala turun dikepala saya, persis kayak Nobita diceramahin Suneo.

Puas lihat gonjrang-gonjreng, tari2, dansa-dansi, dan segala aksi ala Guruh Soekarno Putra di pameran Indo, seorang turis mendekati saya, "Are you Indonesian?". "Yes", I said.

"Apakah acara seperti ini rutin diadakan setiap bulan?", tanyanya. Setelah menjawab pertanyaannya, saya balik bertanya, "Where are you come from". Dijawab, "Saudi!".

Oh great, mari kita buka kunci hati orang ini. "Ah, takallamta bi lughatil arabiyah (Jadi kamu berbicara dengan bahasa Arab)".
"Naam".
"Fushah (Fasih dalam Bahasa Arab Asli)?", tanyaku.

"Aiwah", katanya.

Benar saja dia terlihat senang ada orang Indo bicara dalam bahasa dia. Celakanya dia mulai menyangka bahasa Arab saya level native. Lalu dia bicara dengan cepat dan bertanya macam2. Untung dia pakai bahasa Arab asli. Umumnya kawan2 kami dulu orang2 Arab Maroko dan Aljazair bicara dengan bahasa arab dialek darijah atau dialek alien lain.

"Apa rencanamu jika selesai kuliah disini nanti?", katanya

Saya balas, "Orang-orang Indonesia butuh orang seperti kami sebagai pengajar dalam bidang komputer dan sains". Dalam hati gw mikir nasibnya Dr. Warsito, Ricky Elson, dan jenius2 lain yang harus kick ass dari Indonesia, ato ga kudu ngajar di mana aje ada kampus yang metromini lewat didepannya. Tapi udah telat rasanya mo coba eksis di jalur artis.

"Nak, apakah kamu sudah mendakwahi orang-orang disini?", katanya. Wah, pertanyaan berat ini. Saya jawab sebisanya terkait kegiatan kaum muslimin Indonesia di London.

Orang seperti kamu harusnya ngajar di Saudi. Allah akan memuliakanmu. Negara kami akan sangat memuliakanmu. Saya berdoa semoga kuliahmu dan istrimu segera selesai dan bisa bermanfaat bagi bangsamu. Ga lama beliau pun pamit.

Lalu menjelang maghrib, tibalah waktunya pulang. Security Bangladesh itu menghampiri, "Brother, will you again tomorrow?".

"I will, Insha Allah". Dan beliau pun nampak senang.

Saya habiskan sisa hari berdua istri melihat2 London Bridge yang indah ini dengan lampunya yang warni-warni. Malamnya bahkan jembatan ini nampak jauh lebih indah.

Ternyata, tidak perlu krisis identitas untuk dihormati orang. Bahkan waktu kita malu dengan identitas bangsa, itulah nampak mental asli kita sebagai negara bekas jajahan.

(Al-Akh Zico Pratama Putra -hafizhahullah-. Mahasiswa Ph.D di Queens Mary of London)

Sampaikan Pesan Ini Pada Penggemar Emha dan Sujiwo tejo

Sampaikan Pesan Ini Pada Penggemar Emha dan Sujiwo tejo

Orang Yahudi gak terima Nabi terakhir orang arab, mereka maunya org mereka sampe dibela bela in pindah ke Madinah lagi mereka namun ujungnya mereka kecewa.

Varian Yahudi berikutnya adalah mereka menolak arab dan menginginkan islam berasal dari negeri mereka (kejawen) tanah jawa dan mereka punya slogan "Islam versi Nusantara"  benci sorban,benci jubah putih,benci jilbab,benci jenggot,benci ana antum, tapi suka sekali dengan rokok dan ungkapan janc*k ,asu dan lain lain yg saru dan kasar.

Lalu apa bedanya ,antara kedua varian Yahudi ini?

Yang satu nasib di dunianya bagus dimana makan keju dan steak, varian ke 2 nya memang bangsa gak tau malu, dah makan tempe bongkrek, marus, genjer ampe buah gohok di kira anggur namun tetap mereka merasa bisa menaklukan dunia dengan semar dan petruk pesakitan dari tumaritis.

Jawaban Jika Ada Yang Menitip Salam

jawaban ketika mendapat titipan salam:

وَعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ

Wa Alaihissalam warahmatullah

“baginya salam dan rahmat Allah”

Catatan:
bagi yang belum belajar bahasa Arab harus memahami kata ganti (dhamir), jika wanita maka diganti menjadi “alaihaa” sedangkan untuk jamak diganti “alaihim”

Kita diperintahkan agar menjawab penghormatan dan salam, jika kita diberi penghormatan atau salam. Kita balasa dengan yang lebih baik atau yang semisalnya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Apabila kamu diberi penghormatan/salam dengan sesuatu penghormatan/salam, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)…..” (An-Nisa’ 86)

Al-Baghawi berkata,

والمراد بالتحية هاهنا ، السلام ، يقول : إذا سلم عليكم مسلم فأجيبوا بأحسن منها أو ردوها كما سلم

“Yang dimaksud dengan penghormatan adalah salam, jika ada seorang muslim yang mengucapkan salam maka jawablah dengan yang lebih baik atau jawablah salam dengan semisal.” (Tafsir Al-Baghawi)

Berikut adalah lafadz jawaban jika ada yang menitip salam. Sebagaimana dalam hadits.

Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Wahai Aisyah, Tadi Jibril mengirimkan salam kepadamu”. Aku (Aisyah) menjawab: “Dan baginya salam dan rahmat Allah, engkau (Rasulullah) dapat melihat apa yang tak dapat kami lihat”.  (HR. Bukhari no. 6249 dan Muslim no. 2447)

http://muslimafiyah.com/jawaban-jika-ada-yang-menitip-salam.html

Penyusun: Raehanul Bahraen

Add Pاn BB muslimafiyah.com 5AE1E629
Telegram: www.telegram.me/muslimafiyah