PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label ANTI LIBERALISME. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ANTI LIBERALISME. Tampilkan semua postingan
Menjawab logika liberalis tentang ''Agama Warisan"

Menjawab logika liberalis tentang ''Agama Warisan"

Merespon tulisan ANF
Quote: "Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak."
==========>
Orang yang lahir dari keluarga Muslim juga tidak ada jaminan istiqamah sampai mati, banyak yang murtad karena berbagai sebab. Termasuk murtad tanpa sadar karena tidak bangga dengan agamanya sendiri, atau merasa malu/inferior atas ajaran Islam, bahkan bersikap sok kafir.
Quote: "Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan."
==========>
Gembong Atheis, Richard Dawkins berkata: "Gen-gen memang membentuk kita, tapi tidak menentukan kita"
Pembentuk paling mendasar spesies manusia adalah gennya, hal-hal yang selain itu bisa diubah sesuka hatinya. Bahkan gen sebetulnya pun bisa berubah dengan adanya mutasi, sayangnya belum ada mutasi terkendali yang bisa memastikan sifat menguntungkan saja.
Jadi, kewarganegaraan bisa berubah dengan naturalisasi, misalnya Greg Nwokolo dan Christian Gonzales dahulu bukan WNI, tapi sekarang beliau berdua adalah WNI dan sudah bela timnas.
Sayangnya, meski Greg dan Gonzales tidak pernah korupsi, keduanya tidak mungkin jadi presiden. Pasalnya dalam pasal 6 UUD amandemen memberi syarat, Capres-Cawapres harus WNI sejak orok/bayi merah. Kasihan gak mereka?
Sedangkan nama pemberian orang tua itu bisa diubah, tinggal diurus di Catatan Sipil.
Adapun soal agama, sudah disebutkan bahwa selain banyak orang murtad, juga banyak yang menjadi mualaf. Setiap orang punya akal dan hawa nafsu, mau memilih mana. Ikut Islam sampai mati atau pilih kekafiran.
Yang bisanya cuma ngikut orang tuanya itu ya bayi, atau anak yang belum baligh. Apa kamu mau bilang bahwa semua orang masih seperti bocah?
Ajaran Islam tentang anak kecil pun sangat bijak, yaitu sesuai fitrahnya. Jadi, biarpun ada anak orang kafir (non-Muslim), lalu meninggal saat kecil, dia tetap bisa masuk surga.
Lain dengan yang sudah dewasa, lewat akal normal dan kesadarannya, maka semua perbuatannya harus dipertanggung jawabkan.
Quote: "Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara."
==========>
Kalau dengan orang yang lahir dari orang tua pengikut teroris IS*S (ideologi teroris) atau pemberontak separatis bagaimana? Pernah bersitegang gak nduk dengan mereka? Atau kamu tetap "merangkul" hangat mereka. Kan katanya tiap orang sekedar "terima warisan"?
#mikir
Quote: "Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri."
==========>
Konflik itu muncul bukan sebatas alasan SARA, tapi karena berbagai faktor yang tidak diketahui. Sebelum kamu lahir pun gen kamu berlomba dengan jutaan gen saudaramu (sel sperma). Akhirnya kamu menang dan mereka semua mati.
Dalam Islam yang ditekankan adalah sikap adil dan membela kebenaran dari berbagai kezhaliman. Karena di dunia ini tempatnya konflik. Sehingga perjuangan menegakkan keadilan adalah perjuangan seumur hidup. Inilah esensi Islam. Cuma orang bodoh yang bilang ini sebagai jalan salah.
Justru dalam Islam, mati membela hal-hal duniawi termasuk perkara ashobiyah, matinya mati jahiliyah.
Quote: "Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka. Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Saya mengasihani mereka yang bukan muslim, sebab mereka kafir dan matinya masuk neraka. Ternyata, Teman saya yang Kristen juga punya anggapan yang sama terhadap agamanya. Mereka mengasihani orang yang tidak mengimani Yesus sebagai Tuhan, karena orang-orang ini akan masuk neraka, begitulah ajaran agama mereka berkata. Maka, Bayangkan jika kita tak henti menarik satu sama lainnya agar berpindah agama, bayangkan jika masing-masing umat agama tak henti saling beradu superioritas seperti itu, padahal tak akan ada titik temu."
==========>
Saya juga sering merenung mengapa non-Muslim masuk neraka. Jawabannya sederhana, karena mereka kufur terhadap ajaran Islam. Namun mereka memiliki kesempatan sampai ruhnya dicabut di batang leher untuk mengakui Allah.
Di lain sisi, yang Muslim pun punya peluang serupa untuk murtad karena godaan setan, pindah keyakinan atau hal-hal duniawi lain.
Agama itu ibarat sebuah kumpulan gagasan yang diyakini, sehingga pasti saling bersaing.
Ideologi-ideologi sekuler juga bersaing. Separatisme pun bersaing dengan negara. Kaum revolusionis terus bergerak menyiapkan apa yang mereka yakini ideal. Parpol bersaing cari muka merebut pemilih saat pemilu/pilkada, sampai bentrok dan ada yang mati.
Dan jangan lupakan tadi, jutaan gen saudaramu (dalam sel sperma) mati karena kalah bersaing.
Ingin meniadakan persaingan, berarti otomatis memunculkan konflik baru. Karena kamu harus memaksa mereka turut memimpikan utopiamu dengan membuang nilai aslinya.
Qoute: Jalaluddin Rumi mengatakan, "Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh."
==========>
Saya tidak tahu konteks kalimat yang dipotong ini. Apakah Rumi berbicara tentang khilafiyah di internal umat Islam dalam memahami Al-Qur'an dan Hadits (kebenaran dari Tuhan), atau untuk kasus universal (semua manusia dan ideologinya).
Jika konteks perkataan Rumi bermaksud pada khilafiyah internal Muslim. Maka kalimat itu tidak nyambung dengan penggiringan opini di tulisanmu nduk.
Lalu jika konteksnya ternyata kasus universal, maka kalimat Rumi tidak rasional. Ingat ya, di seluruh dunia ini banyak keyakinan, ideologi dan gaya hidup.
Ada yang menyembah pohon karena mengklaim tuhan "nongkrong" di situ. Ada yang Komunis, ada yang hedonis, ada yang boros merusak bumi, ada pelacur, pezinah, teroris dan lain-lain.
Apa mau kamu bilang mereka semua "mewarisi" pecahan kebenaran dari Tuhan?
Quote: "Salah satu karakteristik umat beragama memang saling mengklaim kebenaran agamanya. Mereka juga tidak butuh pembuktian, namanya saja "iman"..."
==========>
Kalau pembuktian fisika adanya Tuhan itu memang tak mungkin, karena fisika adalah ilmu untuk mengobservasi makhluk ciptaan Tuhan.
Tapi, penerapan agama sebagai ilmu ada di dunia nyata. Banyak sekali metode pembuktian dan teori untuk mendukung kebenaran sebuah agama. Misalnya ilmu Hadits dan ushul fiqh.
Hukum syariat juga membutuhkan penelitian di dunia nyata agar bisa mengatasi berbagai masalah sosial. Jadi ada ajaran dasar yang diimani, sementara penerapannya membutuhkan ilmu.
Kamu kira sains tidak diawali dari dogma mendasar yang jadi pijakannya?
Quote "Manusia memang berhak menyampaikan ayat-ayat Tuhan, tapi jangan sesekali mencoba jadi Tuhan. Usah melabeli orang masuk surga atau neraka sebab kita pun masih menghamba."
==========>
Kalau pernyataanmu itu dibalik gini gimana nduk:
"Manusia memang berhak menyampaikan hukum/UU negara, tapi jangan sesekali mencoba jadi negara. Usah melabeli orang penjahat, koruptor, separatis, pemberontak, teroris, anti kebhinekaan, intoleran sebab kita pun masih coba jadi WNI yang baik"
Jadinya ketahuan kan gimana ga rasionalnya pernyataan kayak gitu? Karena definisi kesalahan bisa mengacu ke hukum negara. Jika hukumnya jelas, maka boleh saja melabeli.
Adapun melabeli orang sebagai kafir (orang yang ingkar pada Islam) dan akan masuk ke neraka itu domain hukum Islam yang sudah jelas diturunkan dalam Qur'an dan Hadits. Yang tidak boleh adalah mengkafirkan seorang Muslim. Dan "memuslimkan" orang kafir.
Masak bukan Islam disuruh sholat dan puasa? Dikubur dikafani? Ada-ada Gajah....
Quote: "Latar belakang dari semua perselisihan adalah karena masing-masing warisan mengklaim, 'Golonganku adalah yang terbaik karena Tuhan sendiri yang mengatakannya'. Lantas, pertanyaan saya adalah kalau bukan Tuhan, siapa lagi yang menciptakan para Muslim, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan ateis dan memelihara mereka semua sampai hari ini?"
==========>
Ini bukti kalau kamu tidak paham penciptaan Tuhan. Yang diciptakan-Nya adalah semua hal.
Apa yang pasti terjadi (qadar) dan semua kemungkinan/cara yang bisa terjadi (qadha), telah ditentukan-Nya.
Inilah bijaknya Tuhan, tiap orang bisa memilih (karena semua kemungkinan sudah disiapkan), sehingga ia bertanggung jawab atas pilihannya.
Apa kamu mau bilang teroris IS*S, PKI, maling, koruptor, pemerkosa, begal, dkk itu ada karena "dipelihara" oleh Tuhan. Lalu Tuhan disalahkan?
Yang begitu adalah pemikiran kaum jabariyah.
Adanya agama-agama selain Islam itu ada di ranah kehidupan sosial dan jadi persaingan. Dalam kacamata Islam, mereka tetap salah. Tapi dalam ranah muamalah, kita harus berbuat adil pada mereka.
Quote: "Tidak ada yang meragukan kekuasaan Tuhan. Jika Dia mau, Dia bisa saja menjadikan kita semua sama. Serupa. Seagama. Sebangsa.
Tapi tidak, kan?"
==========>
Apa kamu mau bilang teroris IS*S, PKI, maling, koruptor, pemerkosa, begal, dkk itu ada karena "dipelihara" oleh Tuhan?
Bukan saya mau menyamakan kelompok-kelompok ini dengan agama, tapi ini kritikan atas pemahaman salahmu tentang penciptaan Tuhan.
Ada, dan tercipta, itu bukan berarti benar atau diridhoi oleh-Nya.
Quote: "Apakah jika suatu negara dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama, hal itu akan menjamin kerukunan? Tidak!
Nyatanya, beberapa negara masih rusuh juga padahal agama rakyatnya sama.
==========>
Di Indonesia, sama-sama Pancasilais, sering rusuh ketika politik, pemilu dll. Apa kamu mau bilang Pancasila tidak bisa meredam konflik?
Sekali lagi jangan menyederhanakan konflik dengan mengkambing hitamkan agama. Penyebab konflik itu rumit, bisa rezim kejam, settingan, adu domba, rebutan perempuan, persaingan tanah subur, penjajahan, pendudukan, sengketa bisnis dll.
Quote: "Sebab, jangan heran ketika sentimen mayoritas vs. minoritas masih berkuasa, maka sisi kemanusiaan kita mendadak hilang entah kemana."
==========>
Sentimen mayoritas vs minoritas di Indonesia itu cuma pseudo konflik, yang dibuat oleh kelompok tertentu agar "menggambarkan dirinya terzhalimi".
Sikap yang benar adalah, agar mencegah konflik negara harus adil. Sehingga mayoritas diberi amanah untuk melindungi, sementara minoritas diberi amanah untuk menjaga rasa menghormati.
Quote: "Bayangkan juga seandainya masing-masing agama menuntut agar kitab sucinya digunakan sebagai dasar negara. Maka, tinggal tunggu saja kehancuran Indonesia kita."
==========>
Banyak yang menafsirkan sila-sila Pancasila itu sesuai dengan ajaran Islam, sampai dicocok-cocokkan dengan ayat Al-Qur'an, dan yang melakukannya termasuk sejumlah pejabat negara, apa mau kamu bilang mereka akan menghancurkan NKRI?
Saya sarankan kamu baca lagi sejarah pembentukan negara. Kelompok Islam sudah ngalah demi alasan "maslahat lebih besar".
Coba cari pendapat MUI tentang dasar negara, yaitu sebuah "perjanjian". Karena bersifat perjanjian, maka di konsepnya harus ada yang bisa diterima oleh orang Islam.
Kalau tafsiran perjanjiannya digeser-geser menjadi sekuler, alias tidak bisa diterima kelompok Islam, maka itulah si tukang perusak ketenangan.
Quote: "Karena itulah yang digunakan negara dalam mengambil kebijakan dalam bidang politik, hukum, atau kemanusiaan bukanlah Alquran, Injil, Tripitaka, Weda, atau kitab suci sebuah agama, melainkan Pancasila, Undang-Undang Dasar '45, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Dalam perspektif Pancasila, setiap pemeluk agama bebas meyakini dan menjalankan ajaran agamanya, tapi mereka tak berhak memaksakan sudut pandang dan ajaran agamanya untuk ditempatkan sebagai tolok ukur penilaian terhadap pemeluk agama lain. Hanya karena merasa paling benar, umat agama A tidak berhak mengintervensi kebijakan suatu negara yang terdiri dari bermacam keyakinan."
==========>
Boleh saja agama mengintervensi kebijakan negara, ini dijamin sejak NKRI berdiri. Misalnya menuntut membasmi kemaksiatan dan perzinahan, serta aturan ketertiban beribadah oleh negara.
Terlebih, hukum sipil yang dipakai masih berasal dari warisan penjajah Belanda. Dimana yang dianggap berzinah adalah perselingkuhan. Suka sama suka dianggap bukan perzinahan. Pelacur dan homo pun tidak ada hukumnya.
Dulu pornografi tidak melanggar hukum sebelum UU anti Pornografi.
Maka, aspirasi apapun itu hak setiap golongan, yang penting diperjuangkan secara fair.
Kalau umat Islam menuntut negara mengadopsi hukum pidana baru sesuai syariat, maka ini hak yang dilindungi secara demokratis. Seandainya nih, hukum qisas pembunuhan (yang terbukti adil) diadopsi dalam hukum pidana, lalu disetujui oleh non-Muslim setelah perdebatan sengit untuk diyakinkan. Kamu siapa melarang-larang?
Masak hukum warisan Belanda dianggap "menyatukan NKRI", lalu hukum Islam dari Allah langsung dituduh menghancurkan kedamaian?
#mikir
Quote: "Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini nyaris tercerai-berai bukan karena bom, senjata, peluru, atau rudal, tapi karena orang-orangnya saling mengunggulkan bahkan meributkan warisan masing-masing di media sosial."
==========>
Yang sangat mengancam negara ini adalah orang-orang sekuler yang berambisi menendang pengaruh agama dari negara. Membentur-benturkan mayoritas dengan minoritas. Melarang-larang aspirasi umat Islam dengan alasan "bahayakan keutuhan negara", padahal ini negara berdemokrasi.
"Ketika negara lain sudah pergi ke bulan atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, kita masih sibuk meributkan soal warisan."
==========>
Memangnya manfaat apa setelah sampai ke Bulan? Ada gitu SDA yang bisa ditambang dari Bulan untuk mengganti biaya ekonomi yang habis dipakai untuk misi?
AS saja sudah enggan meluncurkan misi ke Bulan, malah lebih memilih misi perang ke Irak yang kaya minyak dan Afghanistan yang kaya tambang Lithium.
IDEALISME HANGAT-HANGAT TAHI AYAM BANI KOTAK CS

IDEALISME HANGAT-HANGAT TAHI AYAM BANI KOTAK CS

Copas by Wendra Setiawan

Sebelum pemilihan:
Ade Armando;
"Mayoritas masyarat DKI adalah golongan masyarakat terdidik. Mereka adalah pemilih rasional. Mereka tidak akan terpengaruh oleh isu-isu agama."

Setelah pemilihan:
Ade Armando;
"57.9 persen masyarakat DKI GOBLOK semua!"
😩
Sebelum hakim memutuskan:
Abu Janda: "Semua harus menerima keputusan hakim. Kita harus belajar dewasa sebagai warga negara. Ini negara hukum, Bung!"

Setelah hakim memutuskan:
Abu Janda: "Hakim b*ngsat! Negara apa ini? Pasti hakimnya disuap! Bebaskan Ahok sekarang juga. Dia tidak bersalah. Jusuf Kalla harus mundur dari kursi Wapres!"
😥

Sebelum sidang berakhir (Demo 55)
Jelantik;
"Itu yang demo-demo tanggal cantik apa pengangguran semua ya? Seharian demo kayak orang nggak punya kerjaan. Dasar kaum radikal intoleran!"

Eh...
Dari kemarin sore hingga tadi malam, Jelantik termasuk salah satu demonstran yang menangis sambil memeluk tiang listrik di depan LP Cipinang. Membakar apa saja yang bisa dibakar, dan bersama teman-temannya berusaha merobohkan pagar bangunan LP. Dan akhirnya Ahok harus dipindahkan karena keamanannya terancam oleh pendukungnya sendiri.
***

Ade Armando, Abu Janda, dan Jelantik, adalah gambaran 42% masyarakat kita yang idealismenya bisa berubah-ubah secara drastis, tergantung mood mereka.

Perubahannya tidak lagi hitungan tahun. Idealisme mereka bisa berubah dalam hitungan detik. Mereka begitu mudah mencap orang lain yang tidak sepaham dengan mereka sebagai golongan radikal, anti Pancasila, tidak taat hukum, intoleran, dan label-label negatif lainnya. Padahal di satu sisi, mereka sendiri mempraktekkan semua secara vulgar.

Mereka juga yang dulu menangis terisak-isak ketika pemerintahan SBY menaikkan BBM bersubsidi sebesar 500 rupiah, ketika pemerintah saat itu tidak lagi mampu menanggung beban subsidi BBM akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia. Mereka mengutuk SBY sebagai vampir penghisap darah rakyat.

Tapi ketika pemerintahan berganti, kemudian mereka berbalik menjadi golongan yang mengutuk orang-orang yang menangis ketika pemerintah menghapus hampir semua subsidi, sebagai golongan masyarakat manja dan pemalas.

Begitulah. Harap maklum. Yang waras ngalah!

Mengapa Fatwa Gus Mus dan SAid aqil Siradj Terkait Larangan Sholat Jum’at Dijalan Tak Ditaati

Argumentasi sederhana ini cukup telak mematahkan fatwa Gus Mus dan Said Aqil Siradj (SAS) terkait larangan sholat Jum’at di jalan. Gus Mus sebut sholat Jum’at di jalan adalah bid’ah besar, sedangkan Said Aqil Siradj sebut tidak sah.

Faktanya, bukan cuma jutaan umat Islam yang tidak mau melaksanakan fatwa Gus Mus dan Said itu, Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla serta jajarannya pun mengabaikan fatwa petinggi organisasi PBNU itu.

Kenapa bisa demikian? Ulasan sederhana dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur KH Ahmad Musta’in Syafi’ie yang berjudul: “DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51” ini coba menjawabnya.

DAHSYATNYA ENERGI AL-MAIDAH:51

Oleh : KH Ahmad Musta’in Syafi’ie
Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur

Sekian lama kiai toleransi sengaja “menyembunyikan-mu”, wahai al-Maidah:51. Ternyata Pemilikmu tersinggung. Lalu, dengan cara-Nya sendiri Dia bertindak. Cukup lidah Ahok diplesetkan dan NKRI tersentak menggelegar, menggelepar. Kita petik hikmahnya :

1. Aksi 411 and 212 adlh bukti bhw Allah SWT itu ada dan kehendakNya tdk bisa dibendung oleh siapapun. Pemerintah trpaksa harus mengalah, pdhal sblumnya Jokowi sdh pamer militer. Kini aksi diarahkan menjadi doa. Ternyata malah punya daya tarik yg luar biasa. Sluruh negeri menyambut dg nama berbeda, aksi Nusantara Bersatu, istighatsah militer dll.

Negara jg trpaksa mengeluarkan dana sangt besar utk menfasilitasi aksi 212. Aparat di jalanan trpaksa harus menyesuaikan diri dg menggunakan simbol-simbol islam. Polisi pakai surban putih, membuat tim khusus bernama ASMAUL HUSNA, polwan serentak berjilbab, Habib papan atas memimpin istighatsah pakai ikat merah-putih melilit kepala. Lucu (?). Mungkin Tuhan sdng menjewer telinga kita, agar slalu “putih” dlm mengemban amanat.

2. Mestinya penguasa dan para cukong sadar, bhw negeri ini lebih didirikan oleh teriak “Allah Akbar” ketimbang “Haliluya”. Umat islam yg selama ini diam, kini sbgian kecil berani menunjukkan jati dirinya scra alamiah dan sangat militan. Inilah yg disebut “silent majority”. Maka jangan coba-coba mengusik “air tenang” jika tidak ingin hanyut.

3. Aksi ini sungguh peringatan, bahwa : tasamuh, tawazun, tawassut yg dislogankan NU itu perlu ditinjau kembali. Bukan pada konsepnya, tapi praktiknya. Di samping ada batasan, wajib apa pengawalan yg tegas dan bijak. Sadarlah, betapa kaum Nahdliyin diam-diam mengapresiasi aksi ini secara suka rela. Artinya, mereka sdh mulai tdk sudi dan meninggalkan gaya PBNU yg tk jelas. Sok toleransi, tapi tak ada aksi. Berdalih” RAHMATAN LIL ‘ALAMIN” tapi sejatinya “ADL’AFUL IMAN”.

Dialah Rasulullah SAW, saat pribadinya disakiti, memaaf. Jika agama dinista, beliau marah besar. Bbrpa suku dan pribadi dikutuk dan dilaknat. Mukmin beneran itu tegas-keras kepada kafir, berkasih sayang sesama mukmin, ” asyidda’ ‘ala al-kuffar, ruhama’ bainahum” (Al-Fath:29). Tapi sebagian oknum PBNU, kiai toleransi, kiai seni sekarang cenderung sebaliknya, “asyidda’ ‘ala al-mukminin, ruhama’ bain al-kuffar”. (?)

4. Gus Mus yg membid’ahkan shalat jum’ah di jalan raya dan kiai Sa’id yg menghukumi tdk sah skrang diam soal shalat jum’ah di Silang Monas. Wonten punopo kiai?. Begitulah bila fatwa beraroma dan tendensius, hanya melihat illat hukum secara pendek dan sesaat. Terlalu naif menggunakan ikhtifah fiqih utk kepentingan politik.

Benar, jika itu mengganggu lalu lintas. Tapi hanya sebentar dan hanya pengguna jalan yg ketepatan lewat. Stelahnya, ada maslahah sangat besar bagi umat islam pd umumnya. Maslahah inilah yg tdk beliau lihat. Lagian, tradisi kita sdh biasa menutup jalan utk majlis dzikir, istighatsah, trmasuk haul Gus Dur di pesantren Tebuireng.

Gus Mus pernah mencak-mencak saat amaliah kaum Nahdliyin dibid’ahkan, tapi sekarang ganti membid’ahkan sesama muslim, “bid’ah besar”. Ternyata, amunisi bid’ah yg ditembakkan Gus Mus ini lbh besar dibanding bid’ah yg ditembakkan nonnahdliyin.

Skedar mmbaca sejarah, bhw zaman Umar ibn al-Khattab, tentara islam shalat jum’ah di jalan sblum menaklukkan negeri futuhat. Sultan Muhammad al-Fatih shalat jum’ah di sepanjang pantai Marmara sebelum menjebol benteng Konstatinopel. Inilah awal khilafah Utsmniyah berdiri. Sekali lagi, orang ‘alim mesti melihat sisi maslahah jauh ke depan ketimbang illat “bid’ah” sesaat.

Mengagumkan, fatwa dan puisi Gus Mus begitu manusiawi, tawadlu’, filosufis dan sufistik sehingga mengesankan derajat beliau telah mencapai hakekat keagamaan. Tiba-tiba tega merendahkan ilmu kiai-kiai MUI dengan mengatakan ilmu Syafi’i Ma’arif lebih tinggi. Sungguh membuat penulis tercengang. Ya. karena pernah kuliah di Jogya dan sedikit tahu.

Merendahkan ilmu kiai-kiai MUI sama saja dg merendahkan ilmu ketua Syuriah NU, KH. Ma’ruf Amin. Begitu cerdiknya Gus Mus, “sekali dayung dua kepala kena pentung”. Penulis membatin, ” kok bisa, sekelas ketua Syuriah NU tega merendahkan sesama ketua Syuriah. Ini fenomena apa?”. Hadana Allah. Terpujilah kiai Makruf tdk meladeni. Meski demikian, akan lebih elegan bila kiai Ma’ruf Amin tdk merangkap jabatan. Mohon maaf kiai.

Apakah Hukum Islam Kejam? Obrolan Gus Sodrun

Apakah Hukum Islam Kejam? Obrolan Gus Sodrun

ISLAM ITU KEJAM??
.
Pak Sontoloyo (Ps) : Apa bener Gus, hukum Islam itu kejam, sehingga tidak tepat diberlakukan di Indonesia??
Gus Sodrun (Gs) : Memangnya kalo kejam kenapa Pak Sontol? Hukum Islam memang kadang terlihat kejam wong Allah sendiri juga punya sifat "kejam".
.
Ps : ah yang bener Gus sampean ojo ngawur. Allah itu maha pengasih penyayang pengampun.
.
Gs : nah itu pak Sontol, orang kalo yg diingat cuma ARRAHMAN ARRAHIM ALGHOFUR akibatnya bisa celaka. Jadinya berani bahkan rajin maksiat mendurhakai Allah dengan alasan Allah maha pengampun. coba sampean renungkan nama Allah ALMUNTAQIMU.
.
Ps : Artinya apa Gus?
Gs : walah ruu, tanyakan ke gurumu aja syaikh google.
.
Ps : hehe paketanku telas Gus, ajenge isi pulsa sungkan tasik gadah utang.
Gs : ngeten Pak, Allah mengenalkan diriNya dalam Alquran, selain sebagai dzat yang maha pengampun juga maha "kejam" aku pinjam istilah sampean tadi Pak.
{اعلموا أن الله شديد العقاب وأن الله غفور رحيم
} المائدة 98
weruho siro kabeh yen sak tenane Allah iku banget olehe nyikso lan saktenane Allah iku banget ngapurone lan welase.
.
شديد العذاب
شديد البطش
المنتقم
dan banyak lagi. Itu diingat ingat Pak Sontol biar gak "kendel" dosa.
.
Ps : Gih Gus saya paham. trus kalo hukum Islam kejam juga ya Gus?
Gs : Lah menurut sampean bagaimana Pak?
1. Pembunuh harus dihukum mati (qishosh). Kalaupun dimaafkan oleh keluarga korban, tetap wajib membayar diyah 100 ekor unta.
2. Pezina jika status pelakunya sudah nikah, harus dihukum rajam. Badannya dikubur, kelihatan kepalanya trus dilempari batu rame rame di tempat umu sampe mati. Kalo pelakunya perjaka atau perawan, hukumnanya dicambuk 100 kali.
3. Muslim yg pindah agama, atau muslim yg sengaja meninggalkan sholat harus dihukum mati, dipenggal kepalanya.
4. Pencuri harus dipotong tangannya meski yg dicuri hanya senilai 1/4 dinar. Satu dinar itu 4.25 gram emas murni kalo semperempat cuma berapa Pak. Sudah harus ditukar dengan tangan.
dan lain lain Pak.
.
Ps : wah wah wah... hukuman itu kalo menurut otak dangkal saya, melanggar HAM Gus. Tapi karna Allah dan Rasul yg bikin aturan saya gak berani bilang begitu Gus. Tapi kok bisa ya?
.
Gs : nah itu sudah sadar kalo dangkal. Hukuman hukuman itu justru menunjukkan KASIH SAYANG Allah Pak Sontol.  Coba renungkan
1. Mengorbankan nyawa seorang pembunuh demi menyelamatkan ribuan nyawa orang lain yg baik baik. Coba kalo hujum ini benar diterapkan, sampean mau bunuh orang pasti mikir seribu kali. Akhirnya pembunuhan tidak merajalela seperti sekarang.
2. Kalo pezina bener bener dirajam rame rame, hilang satu nyawa tapi berjuta wanita wanita suci selamat dari kejahatan kelamin. Begitu pula pria pria muslim lebih bisa mengontrol kont(r)olnya. Sudah dengar berita Yuyun kan? gadis 14 tahun yg diperkosa 14 pemuda lalu dibunuh? Kemarin barusan berita Eno Parinah, gadis yg diperkosa pacar dan temannya lalu kelaminnya ditusuk cangkul sampe mati? Kalo pelaku pelaku kejahat sejahat ini hanya dipenjara 5-10 tahun dan masih bisa diringankan dengan alasan masih dibawah umur, ya tunggu saja besok bahkan nanti sore akan ada Yuyun dan Eno yg lain.
4. Coba kalo pencuri bener bener dipotong tangannya, pasti Indonesia gak bakal masuk nominasi juara korupsi se dunia. Mengorbankan satu telapak tangan demi menyelamatkan negara Republik Indonesia Raya Merdeka apa itu kejam???

Ps : Iya ya Gus.
Gs : Coba kalo ada dokter mengamputasi kaki pasien demi menyelamatkan sekujur badan apakah itu dokter kejam? pilih amputasi atau pilih mati? mikir dong Pak.
.
Ps : Iya ini lagi mikir Gus. hehe
Gs : Kalo ada orang tua atau guru jewer muridnya biar gak nakal apa itu kejam??? Kalo ada ibu maksa anaknya minum obat pahit apa itu kejam?? Kalo sekolah yg mengeluarkan muridnya karena nakal, apa itu kejam?? Kalo murid/santri belum waktunya naik kelas dinaikkan belum waktunya lulus diluluskan akhirnya keluar dari pondok masih goblok trus di masyarakat diserahi urusan agama karena pernah mondok apa itu pengasuh pondok bijaksana???  Trus kalo gak diluluskan dulu, biar masa belajarnya lebih lama apa itu kyai kejam???
.
Ps : Tapi Gus seandainya ada pezina dilempari batu kepalanya sampe mati apa sampean gak kasihan??
Gs : GAK. Coba baca Alquran tegas ada larangan untuk mengkasihani pezina yg dieksekusi.
{الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة ولا تأخذكم بهما رأفة في دين الله إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر وليشهد عذابهما طائفة من المؤمنين
} النور 2
Gak boleh kasihan kalo kamu beriman. Malah disuruh menyaksikan banyak orang mukmin. Biar jadi renungan.
.
Ps : Tapi Gus, coba bayangkan bagaimana kalo yg itu anak sampean atau kelurga sampean?
.
Gs : Waduh Naudzubillah pak sontol, semoga keluarga kita diselamatkan dari maksiyat. Tapi kalo hukum diukur dengan "perasaan iba" yo bujat kabeh Pak.
.
Rasulullah saw saja bersabda
ﻭاﻳﻢ اﻟﻠﻪ ﻟﻮ ﺃﻥ ﻓﺎﻃﻤﺔ ﺑﻨﺖ ﻣﺤﻤﺪ ﺳﺮﻗﺖ ﻟﻘﻄﻌﺖ ﻳﺪﻫﺎ
yg kurang lebih artinya "JIKA FATIMAH BINTI MUHAMMAD MENCURI PASTI KUPOTING TANGANNYA". Ini contoh dari Rasul Pak Sontol.
.
Ps : Iya ya Gus tapi gak usah tinggi tinggi nadanya
Gs : heheh... ya harus tinggi Pak Sontol, mencerdaskan orang itu harus penuh tenaga dan sungguh sungguh. Kalo sampean baca nanti biar cerdas. heheheh.
.
Kalo anak sampean kondisi darurat di ICU, nangis nangis minta pulang, apa sampean paksa bawa pulang atau nurut dokter harus nginap?? Kalo anak sampean belum waktunya pulang dari pondok tapi nangis minta lulus apa sampean paksa bawa pulang atau nurut sama Kyai, biarkan dipondok sampe dinyatakan lulus sama Kyai?
.
Kalo anak sampean gak boleh makan ini itu sama dokter, gak boleh bawa hape di pondok sama kyai, sementara anak sampean merengek minta makanan itu, minta hape sampean nuruti siapa?

Ps : hehe... ya nurut dokter dan kyai Gus, wong dokter sama Kyai menahan anak saya itu demi kebaikan anak saya kok. melarang ini itu demi anak saya kok.

Gs : Nah itu Pak, masih banyak orang tua yg lebih menuruti anak dari pada kebaikan anaknya.
.
Ps : Gus Sodrun, monggo diunjuk kopine, kayaknya kita ngobrol terlalu panjang nanti yg baca bosen. Kayaknya juga bertele tele diluar tema.
Gs : Monggo... sruptttt. Aku kan cuma jawab pertanyaan sampean Pak Sontol. sampean aja yg kebanyakan tanya. hehe

Makna Liberalisme by '' Ustad Azam ''

Makna Liberalisme by '' Ustad Azam ''

Atas nama paham kebebasan (liberalisme), engkau boleh-boleh saja menyatakan pendapat. Dan atas nama kebebasan pula kami juga boleh-boleh saja menyanggahnya.

Atas nama kebebasan, engkau bisa saja melakukan ajaran agama dan berpemahaman sekehendakmu. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh mengingatkanmu pada pemahaman yg benar.

Atas nama kebebasan, engkau boleh saja berkiblat ke Barat, Timur, Selatan bahkan Utara. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh hanya berkiblat kepada syari'at-Nya dan mengajak kalian turut serta.

Atas nama kebebasan, engkau boleh saja bermaksiat. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh memperingatkanmu, mendakwahimu, dan jika engkau tetap melanggar, kami boleh saja menghukummu.

Jika kalian keberatan, artinya kalian tidak sepenuhnya berpaham kebebasan (liberalisme).

Rahmatan lil alamin Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Rahmatan lil alamin Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Rahmatan lil alamin
Oleh: Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Tidak lama setelah Nabi wafat umat Islam “mengusir” tentara Romawi dan “menduduki” Syria. Di zaman Umar Ibn Khatab kekaisaran Persia “ditaklukkan” dan Palestina “dikuasai”. Pada awal abad ke delapan Spanyol dibawah kerajaan Hispania yang dikuasai oleh orang Kristen Visigoth “ditundukkan” oleh Tariq bin Ziad. Di Mesir Muslim dibawah komando Amr bin al-As “memukul mundur” pasukan Byzantium dan “mengusai” orang-orang Kristen Coptic. Pada abad ke 15 Konstantinople, salah satu bagian dari kekaisaran Romawi “ditaklukkan” panglima muda al-Fatih. Di dunia Melayu umat Islam “mengusir” kepercayaan animism, dinamisme dan agama-agama kultural lainnya.

Istilah-istilah mengusir, menduduki, menaklukkan, menguasai, mendesak dan sebagainya adalah bahasa politik dan bersifat negatif. Tapi apa yang sebenarnya terjadi jauh dari kesan itu. Sebab ketika Islam masuk Syria orang-orang Kristen yang merasa selamat dari Romawi dan Yunani. Michael the Elder, Patriach dari Jacobus mengakui “Tuhan telah membangkitkan putera-putera Ismail dari Selatan (maksudnya Muslim) untuk menyelamatkan kita dari Romawi”.

Ketika pasukan Muslim dibawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, pendukuk Kristen setempat menulis surat kepadanya. Isinya “kami lebih bersimpati kepada suadara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami… Pemerintah Islam lebih adil daripada pemerintah Byzantium”.

Pada waktu Umar memasuki Yerussalem ia menandatangai perjanjian. Diantara isinya:”…gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, ….salib-salib atau harta mereka tidak akan diganggu…dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya”. Orang tidak pernah konflik dengan umat Kristen. Justru konflik antar sekte di di Gereja Holy Sepulchre, atau the Church of the Resurrection didamaikan orang Islam.

Abdul Aziz Marwan Gubernur Mesir memberi izin orang-orang Kristen pegawai istana untuk mendirikan gereja di Halwan. Di Andalus Islam, Kristen dan Yahudi hidup damai bertahun-tahun. Seorang specialist sastra Iberia di Universitas Yale, Maria Rosa Mencoal dalam karyanya berjudul The Ornament of the World (2003) berterus terang. Ia menulis "Toleransi merupakan aspek melekat pada masyarakat Andalus dan nasib non-Muslim lebih baik daripada dibawah Kristen Eropah”. Tapi berakhirnya kekuasaan Islam, berakhir pula toleransi itu.

Jika fakta-fakta ini dicermati, istilah menguasai, menaklukkan, mengusir dan bahkan menjajah tidak layak untuk dipakai. Yang lebih cocok, sesuai dengan namanya, Islam ‘menyelamatkan’ atau ‘membebaskan’ bangsa-bangsa tertindas. Maka tidak heran jika Thomas Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam menyatakan:” Kemenangan kaum Muslimin berarti kebebasan beragama (bagi non-Muslim), sesuatu yang telah berabad-abad mereka dambakan”. Anehnya Bernard Lewis menganggap toleransi dalam Islam tidak ada asal usulnya.

Rahmat Islam yang lain ada dalam keseluruhan ajarannya. Syariatnya menjaga jiwa, keturuan, agama, harta dan akal manusia dari kehancuran. Ritual peribadatannya menyentuh aspek jiwa dan raga, aspek sosial dan individual, aspek spiritual dan material. Prinsip hidupnya seimbang tidak materialistis dan tidak spiritualistis, tidak melulu dunia atau melulu kherat. Sayyid Qutb mensifatinya dengan istilah tawazun. Penghargaannya pada orang kaya dan orang miskin, wanita dan laki-laki sama meski tidak harus memakai teori gender dan diklaim sosialistis atau feministis.

Konsep tuhannya “transenden” artinya jauh dan tak terjangkau. Tidak serupa apapun, karena itu tidak bisa diberhalakan. Tapi juga “immanen”, lebih dekat dari urat nadi kita. Dan yang terpenting Allah dalam Islam bersifat Alim (Maha Tahu). Karena itu wahyu yang diturunkanNya sarat dengan perintah berfikir dan mencari ilmu. Dari kitab suci itu pula lahir berbagai disiplin ilmu. Ulum al-Qur’an, Tafsir, Hadith, Fiqih, Kalam, tasawwuf, mawarith, Nahwu dan Sarf lahir dari sebab memahami al-Qur’an.

Inilah rahasianya mengapa umat Islam menjadi rahmat dunia dengan ilmu. Dengan ilmu dan iman khazanah ilmu pengetahuan Yunani, Persia, India, Mesir dan sebagainya dihidupkan. Dari India Muslim menemukan angka nol. Asas bagi matematik dan ilmu computer masa kini. Di Persia Ibn Syatir mengembangkan astronomi yang buku-bukunya menginspirasi Copernicus menemukan teori heliosentrisme. Di Baghdad Ibn Haitham menemukan teori optic, tanpa teori ini camera tidak akan pernah wujud.

Di zaman Umayyah di Spanyol dan Abbasiyah di Baghdad budaya ilmunya sangat tinggi. Di Cordoba saja terdapat 75 perspustakaan. Lebih ramai dari mall di zaman postmodern. Di Baghdad koleksi seorang ulama mencapai 400.000 judul buku. Menjadi ulama lebih bergengsi daripada menjadi pengusaha. Inilah peradaban ilmu.

Tapi ilmu bukan sekedar ilmu, tapi juga menjadi amal alias teknologi. Di Spanyol irigasinya waktu itu tercanggih di dunia. Hasil panennya memberi makanan orang Spanyol yang kelaparan dan tertindas. Tata kotanya tidak ada duanya di Eropah. Menurut Tertius Chandler dalam, Four Thousand Years of Urban Growth: An Historical Census populasi Cordoba waktu itu sekitar 500.000, mengalahkan Konstantinopel. Kemakmurannya mengalahkan penduduk Eropah. Sain dan teknologi yang lahir karena inspirasi al-Qur’an dan kecerdasan jiwa-jiwa yang beriman dan bertawhid. Itulah “misykat” kehidupan.

Tauhid inilah yang digambarkan dalam surah Ibrahim (24-25) sebagai “kalimat tayyibah” (kalimat yang baik), dan peradaban ilmunya sebagai “syajarah tayyibah” (pohon yang baik). Pohon itu memberi makan atau menghidupi orang pada setiap musimnya, dengan izin Tuhannya. Tujuannya satu “agar mereka ingat” nikmat Tuhannya. Tapi begitulah manusia, banyak yang telah memakan buah (baca rahmat) peradaban Islam dan banyak yang tidak ingat. Allah Maha Benar.

Sufi Mengecam Orang Yang Beribadah Karena Surga dan Neraka

Sufi mengecam orang yang menyembah Allah karena menginginkan surga dan takut neraka. Menurut mereka hanya boleh menyembah Allah karena cinta kepada Allah. Oleh karena itu seorang sufi, Rabiatul ‘Adawiyah berkata, “Ya Allah jika aku menyembahMu karena ingin surga, maka tutup pintu surga bagiku. Jika aku menyembahMu karena takut neraka, maka buka pintu neraka untukku” Itu adalah sifat sombong dan riya. Dalam Islam kita diajarkan untuk mencintai Allah dan Rasulnya di atas yang lain termasuk diri kita sendiri. Meski demikian kita juga diperintahkan untuk berharap akan surga dan takut api neraka.

Mereka membatasi ibadah hanya pada aspek al-mahabbah (kecintaan) saja dengan mengenyampingkan aspek-aspek lainnya, seperti aspek al-khauf (rasa takut) dan ar-raja` (pengharapan), sebagaimana terlihat dalam ucapan beberapa orang ahli tashawwuf: "Aku beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, bukan karena aku mengharapkan masuk surga, dan juga bukan karena takut masuk neraka". (!?)

Memang benar, aspek al-mahabbah merupakan landasan ibadah. Akan tetapi, ibadah itu tidak hanya terbatas pada aspek al-mahabbah saja, seperti persepsi orang-orang ahli tashawwuf. Karena, ibadah itu memiliki banyak jenis dan aspek yang melandasinya selain aspek al-mahabbah, misalnya aspek al-khauf, ar-raja`, adz-dzull (penghinaan diri), al-khudhû` (ketundukkan), do'a, dan aspek-aspek lainnya.

Salah seorang ulama Salaf berkata: "Barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan kecintaan semata, maka dia adalah seorang zindiq (kafir). Barang siapa yang beribadah kepada Allah l dengan pengharapan semata, maka dia adalah seorang Murji'ah. Barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan ketakutan semata, maka dia adalah seorang Haruuriyyah (Khawarij). Dan barang siapa yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan kecintaan, ketakutan dan pengharapan, maka dialah seorang mukmin sejati dan muwah-hid (orang yang bertauhid dengan benar)".

Oleh karena itu, Allah Azza wa Jalla memuji sifat para nabi dan rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sa;;a, yang mereka senantiasa berdoa kepada-Nya dengan perasaan takut dan berharap, dan mereka adalah orang-orang yang selalu mengharapkan rahmat-Nya dan takut terhadap siksaan-Nya.

a. Allah berfirman:

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ () وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ

“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih.” [QS. Al-hijr: 49-50]

Allah juga berfirman:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” [QS. Al-A’raaf: 56]

Maka dalam ayat-ayat ini Allah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya untuk berdoa kepada-Nya -dan doa itu adalah ibadah- karena takut dari neraka-Nya dan berharap akan surga-Nya dan hendaknyalah seorang muslim itu antara takut dan harap sehingga akan seimbang perikehidupan pelajar dan akan baik keadaannya.

b. Di dalam sebuah hadits, Rasulullah berdoa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka.” [Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud]

Ayat-ayat dan hadits ini adalah bantahan terhadap orang-orang sufi yang mengatakan bahwa mereka itu beribadah kepada Allah tidak mengharap surga-Nya dan tidak takut kepada neraka-Nya. Seolah-olah mereka tidak mendengar Al-Qur’an dan hadits yang telah disebutkan di muka.

MERAIH KEMERDEKAAN HAKIKI

MERAIH KEMERDEKAAN HAKIKI

Indonesia memang sudah 70 tahun merdeka dari penjajahan fisik (militer). Namun, sejak merdeka tahun 1945 dari penjajahan fisik (militer) hingga saat ini, sesungguhnya negeri ini masuk dalam perangkap penjajahan gaya baru, yakni penjajahan non – fisik (non – militer). Artinya, hingga kini Indonesia sesungguhnya masih terjajah dan belum sepenuhnya merdeka secara hakiki.

Penjajahan (imperialisme) adalah politik untuk menguasai wilayah lain demi kepentingan pihak yang menguasai. Penjajahan gaya lama dilakukan dengan kekuatan militer, mengambil-alih dan menduduki satu wilayah serta membentuk pemerintahan kolonial di Negara/wilayah jajahan. Namun, cara ini secara umum sudah ditinggalkan karena membangkitkan perlawanan dari penduduk wilayah yang dijajah, yang merasakan langsung penjajahan secara nyata. Karena itu penjajahan akhirnya dilakukan dengan gaya baru yang tidak mudah dirasakan oleh pihak terjajah, yaitu melalui control serta menanamkan pengaruh ekonomi, politik, pemikiran, budaya, hokum dan hankam atas wilayah yang djajah. Namun, tujuan akhirnya sama, yaitu mengalirkan kekayaan wilayah itu ke negara penjajah.

Indonesia adalah contoh nyata negeri yang masih terjajah. Dari sisi pembuatan aturan dan kebijakan, banyak sekali UU di negeri ini yang didiktekan oleh pihak asing. Di antaranya melalui LoI dengan IMF. Banyak utang – yang sesungguhnya menjadi alat penjajahan – dialirkan ke Indonesia oleh berbagai lembaga donor baik IMF, Bank Dunia, ADB, Usaid dan sebagainya. Perubahan konstitusi negeri ini pun tak lepas dari peran dan campur tangan asing. Banyak dari UU itu disponsori bahkan draft(rancangan)-nya dibuat oleh pihak asing di antaranya melalui program utang, bantuan teknis, dan lainnya.

Akibatnya, lahir banyak UU dan kebijakan Pemerintah yang bercorak neoliberal, yang lebih menguntungkan asing dan swasta serta merugikan rakyat banyak. UU bercorak liberal itu hakekatnya melegalkan penjajahan baru (neoimperialisme) ini. Karena itu meski sudah 70 tahun “merdeka” negeri ini masih banyak bergantung pada asing. Bahan pangan baik makanan pokok, garam, gandum, kedelai, susu dan lain-lain banyak impor. Akibat ketergantungan itu, ditambah permainan para pelaku pasar yang berwatak kapitalis, gejolak harga-harga menjadi fakta keseharian. Melonjaknya harga daging sapi dan cabe saat ini adalah salah satunya.

Akibat UU dan kebijakan neoliberal, sumber daya alam dan kekayaan negeri ini lebih banyak dikuasai oleh swasta asing dan aseng. Pengerukan kekayaan negeri demi kemakmuran asing dan aseng yang dijalankan oleh banyak perusahaan asing dan aseng pun – mirip zaman VOC dulu – terus berlangsung . Yang paling baru, PT. Freeport yang telah mengeruk kekayaan emas di bumi Papua baru saja diberi perpanjangan khusus ijin mengekspor kosentrat tembaga sebanyak 775 ribu ton.

Di sisi lain, juga lahir banyak kebijakan neoliberal yang meminimalkan peran negara dalam mengurus rakyat. Bahkan tanggung jawab negara dialihkan ke pundak rakyat. Tanggung jawab pelayanan kesehatan, misalnya dialihkan dari Negara ke pundak rakyat melalui asuransi social kesehatan (BPJS).