PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bisnis. Tampilkan semua postingan
Hedonic Treadmill

Hedonic Treadmill

Pertanyaan: Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan? Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yg kemudian dikenal dengan nama: “hedonic treadmill”.

Gampangnya, hedonic treadmill ini adl seperti ini : saat gajimu 5 juta, semuanya habis. Saat gajimu naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga.Kenapa begitu? Krn ekspektasi n gaya hidupmu pasti ikut naik, sejalan dg kenaikan penghasilanmu.Dengan kata lain, nafsumu utk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dg peningkatan income-mu. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill: seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju !

Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan.
Saat income 10 juta/bulan, mau naik Avanza. Saat income 50 juta/bulan pengen berubah naik Alphard. Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic treadmill.

Hedonic treadmill membuat ekspektasimu akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaanmu stagnan, meski income makin tinggi.
Ada eksperimen menarik: seorang pemenang undian berhadiah senilai Rp 5 milyar dilacak kebahagiaannya 6 bulan setelah ia mendapat hadiah.Apa yang terjadi? 6 bulan setelah menang hadiah 5 milyar, level kebahagaiaan orang itu SAMA dengan sebelum ia menang undian berhadiah.Itulah efek hedonic treadmill.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita terhindar dari jebakan hedonic treadmill?
Lolos dari jebakan nafsu materi yg tidak pernah berujung ?

Terapkan lah gaya hidup yg bersahaja ! sekeping gaya hidup yg tidak silau dengan gemerlap kemewahan materi.
Mengubah orientasi hidup ! makin banyak berbagi , semakin banyak memberi kepada orang lain, teruji justru semakin membahagiakan... Bukan -lah banyak mengumpulkan materi yg membuat kebahagiaanmu terpuaskan !
When enough is enough.

Kebahagiaan itu kadang sederhana : misal masih bisa menikmati secangkir kopi panas, memeluk anggota keluarga yg sehat, tersenyum memulai hari hari, menyapa dan mengasih tip ke tukang sampah, lanjut membaca "makanan" spiritual sepanjang perjalanan menuju tempat tugas berbakti utk bangsa dan agama, maka betapa indahnya hidup ini !
Selamat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya kawan.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” (QS al-Takâtsur [102]: 1-3)

"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia semakin kikir.” (QS al-Mârij [70]: 19-21).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Kekayaan itu bukanlah lantaran banyak harta bendanya, akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kebahagiaan jiwa.” (HR al-Bukhari).

Kita memohon kepada Allah untuk menjadi hamba yg pandai bersyukur dan merasa cukup akan nikmat-Nya, serta dihindarkan dari sifat yg selalu marasa kurang dan kurang

Semoga bermanfaat...

CARA KAPITALISME MENGUASAI DUNIA

Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal).

Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.

Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di bank tersebut? Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari bank, yaitu: fix return dan agunan. Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. Siapakah mereka itu? Mereka itu tidak lain adalah kaum kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.

Nah, apakah adanya lembaga perbankan ini sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa?

Yaitu dengan pasar modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas saham untuk dijual kepada masyarakat dengan iming-iming akan diberi deviden.

Siapakah yang memanfaatkan keberadaan pasar modal ini? Dengan persyaratan untuk menjadi emiten dan penilaian investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.

Siapa mereka itu? Kaum kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. Adanya tambahan pasar modal ini, apakah sudah cukup? Bagi kaum kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. Dengan cara apa lagi?

Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. Bagaimana caranya? Menurut teori Karl Marx, dalam pasar persaingan bebas, ada hukum akumulasi kapital (the law of capital accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.

Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.
Agar perusahaan kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan persaingan pasar. Persaingan pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika perusahaan kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).
Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti: sektor telekomunikasi, transportasi, pelabuhan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertambangan, kehutanan, energi, dsb. Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. Lantas bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan mendorong munculnya Undang-Undang Privatisasi BUMN. Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika dengan cara ini kaum kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. Bagaimana cara mengatasinya?

Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor kekuasaan itu sendiri. Kaum kapitalis harus menjadi penguasa, sekaligus tetap sebagai pengusaha.

Untuk menjadi penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya kampanye itu tidak murah. Bagi kaum kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kaum kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka hegemoni (pengaruh) ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan hegemoni ini. Namun, apakah masalah dari kaum kapitalis sudah selesai sampai di sini?

Tentu saja belum. Ternyata hegemoni ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. Mereka justru akan menghadapi problem baru. Apa problemnya?

Problemnya adalah terjadinya ekses produksi. Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. Lantas, kemana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan hegemoni di tingkat dunia.

Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang yang padat penduduknya. Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).

Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Jika kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.

Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu perbankan dan pasar modal.

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? Jawabnya tentu saja belum. Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. Caranya? Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.

Untuk melancarkan jalannya ini, kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.

Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. Dengan cara apa? Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai kurs mata uang lokalnya.

Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan sistem kurs mengambang bebas bagi mata uang lokal tersebut. Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?

Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.

Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. Bagaimana caranya? Yaitu dengan melakukan proses liberalisasi pendidikan di negara tersebut. Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya.

Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan subsidi bagi pendidikannya. Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.

Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan sarjana. Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara dan maunya digaji tinggi.

Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara hegemoni kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan intervesi UU. Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. Nah, cara inilah yang akan menjamin proses intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan menempatkan penguasa boneka. Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum kapitalis dunia. Bagaimana strateginya?

Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi boneka. Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.

Nah, apakah ini sudah cukup? Tentu saja belum cukup. Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. Apa problemnya?

Jika hegemoni kaum kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum kapitalis itu sendiri. Mengapa?

Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? Di sinilah diperlukan cara berikutnya.

Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan pengembangan masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil maupun industri kreatif lainnya. Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.

Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. Kaum kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: masyarakat akan tetap memiliki daya beli, akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.

Sampai di titik ini kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? Jawabnya ternyata masih ada. Apa itu? Ancaman krisis ekonomi. Sejarah panjang telah membuktikan bahwa ekonomi kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya krisis ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. Apa itu?

Ternyata sangat sederhana. Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bailout) atau stimulus ekonomi. Dananya berasal dari mana? Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari pajak rakyat. Dengan demikian, jika terjadi krisis ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya. Jawabnya adalah: rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.

Bagaimana hasil akhir dari semua ini? Kaum kapitalis akan tetap jaya dan rakyat selamanya akan tetap menderita. Dimanapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. Itulah produk dari hegemoni kapitalisme dunia. [Dwi Condro Triyono, Ph.D] —

Dagang Mah Sampingan

Dagang Mah Sampingan

Dagang mah sampingan

Dekat rumah orangtua saya ada toko listrik, Terkenal murahnya, Terkenal pula ramahnya. Yang jualan anak dan bapak, Selalu senyum pada pembeli, Ga peduli berapa yang dibeli

Suatu ketika ayah saya punya kabel roll, Gulungan kabel panjang 10 meter itu, Yang mendadak ga bisa nyala. Diutak-atik tetap ga bisa nyala. Walhasil solusinya cuma Lem Biru : Lempar Beli yang Baru

Jadi ayah saya datang kesana, Mau beli kabel roll baru

- A, Beli kabel roll yang bagus ya

+ Ini pak pilihannya, Ada yang 50rb, Ada yang 60rb. Tapi saya saranin sih yang 50rb aja buat dirumah. Yang 60rb mah biasanya buat yang pemakaiannya terus-terusan

Heran ayah saya, Baru sekarang nemu tukang dagang malah nyuruh beli yang murah ?!

- Yaudah yang 50rb itu A, Buat gantiin yang dirumah, Rusak tau-tau ga bisa nyambung ke listrik

+ O gitu pak ? Yaudah gausah beli dulu, Bawa kesini aja, Saya liat dulu, Barangkali bisa saya benerin

Tambah heran ayah saya. Udah nyuruh beli yang murah, Sekarang malah nyuruh gausah beli ?!

Akhirnya acara beli kabel roll baru itu gagal. Kabel roll yang lama dibawa kesana, Diperbaiki 1/2 jam...

Dan digratiskan !

Pedagang macam ini sekarang sudah sulit dijumpai. Mereka dagang dengan niat utama menolong : Menolong orang mendapatkan kebutuhannya, Menolong orang mendapat harga murah, Menolong orang yang kesulitan, Dan segala bentuk pertolongan lainnya yang bisa mereka berikan

Dan karena mereka menolong orang lain, Maka janji Allah berlaku atas mereka

"Barangsiapa yang menolong Allah, Pasti Allah akan menolong kalian !"

Pulang dari sana, Ayah saya jadi duta tidak resmi toko listrik baik hati itu. Semua orang disuruhnya kesana kalau butuh alat listrik, Beliau promosikan kemana-mana, Dengan ekspresi yang insyaAllah pasti menarik orang

Dan AlhamdulIllah sebelum ayah saya promosikan, Toko itu memang sudah ramai. Sudah banyak pembeli yang jadi iklan berjalan bagi toko itu, Yang terkesan pada kebaikannya

Hasil dari cara jualan mereka yang unik adalah dagangannya laris, Dan Entah ikhlas atau tidak, Hidup keduanya InsyaAllah tenteram. Terlihat dari wajah anak dan bapak tersebut yang damai, Selalu tersenyum, Nampak tak ada beban

Kalau lebih banyak pedagang seperti mereka, Hidup ini indah, Pembeli tidak kuatir ditipu baik harga maupun kualitas, Dan pedagang senang usaha untuk beriklan jauh berkurang, Pun tak perlu saling menjatuhkan sesama pedagang atau menjelekkan produk orang lain.

-Fathi Yazid-

Takut Dosa Riba, Mereka Resign Kerja di Bank dan Bikin Al-Hijrah

Al-Hijrah sebuah toko baju muslim yang berlokasi di ITC Kuningan lt 2, blok B4 no 5. Nama ini diambil sebagai titik tolak pendirinya untuk hijrah dari pekerjaan sebelumnya yang bergelimang riba.

Setelah mereka secara intensif mengikuti kajian-kajian Islam disekitar kantor, akhirnya mengerti tentang hukum-hukum perdagangan terutama hukum riba. Salah satu yang membuat mereka takut adalah hadis nabi yang berbunyi:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ

Dari Jabir, beliau mengatakan, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba, korban riba, pencatat, dan saksinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 'Mereka itu dosanya sama.'” (Hr. Muslim, no. 4177)

Memang penuh perjuangan untuk lepas dari lingkaran riba. Sudah bukan menjadi rahasia jika kerja di bank menjanjikan kenyamanan hidup dunia apalagi dengan posisi-posisi tertentu bisa mendapatkan fasilitas berlebih.

Tidak hanya itu, penolakan-penolakan keras dari keluarga juga mereka hadapi. Tapi mereka menanamkan tekad kuat bahwa ini perintah Allah yang wajib ditaati dengan tekad kuat mereka akhirnya bisa keluar dari bank.

“Ya biasalah namanya orang tua, dengan alasan nanti anak mau dikasih makan apa, nanti sekolah anak-anak gimana, gitukan..” Kata Reza yang saat ini menempuh S2 Manajemen Syariah di Universitas Indonesia.

Senada juga diungkapkan oleh Seno yang sempat bingung jika nanti keluar kerja apa, apalagi mertuanya tidak setuju dengan keputusannya keluar dari pekerjaan.

“Ketika mau keluar memang sedikit takut, karena sudah niat lillahi ta’ala sih. Perlu diketahui memang agak sulit untuk keluar karena kerja di bank bisa mendapat banyak (tanda kutip) fasilitas yang bikin orang sulit untuk keluar. Alhamdulillah Allah memudahkan jalan, apalagi keluarga mendukung, jadi ya sudah jalanin saja. Sempat ada penolakan sih juga dari keluarga Istri..”

Nama Toko: Al-Hijrah
Produk: Baju Muslim
Pendiri: Endru, Fajar, Reza, Seno
Alamat: ITC Kuningan lt 2, blok B4 no 5
Contact: 0888-0830-8410

http://pengusahamuslim.com/takut-dosa-riba-mereka-resign-kerja-di-bank-dan-bikin-al-hijrah/

APA YANG KITA CARI DALAM HIDUP INI ?

APA YANG KITA CARI DALAM HIDUP INI ?

Kita hidup di gunung merindukan pantai…
Kita hidup di pantai merindukan gunung…

Kalau kemarau kita tanya kapan hujan?
Di musim hujan kita tanya kapan kemarau?

Diam di rumah pengennya pergi…
Setelah pergi pengennya pulang ke rumah…

Waktu tenang cari keramaian…
Waktu ramai cari ketenangan…

Ketika masih bujang mengeluh kepengen nikah, Sudah berkeluarga, mengeluh belum punya anak, setelah punya anak mengeluh biaya hidup dan pendidikan…

Ternyata SESUATUMU tampak indah karena belum kita miliki…

Kapankah kebahagiaan akan didapatkan kalau kita hanya selalu memikirkan apa yang belum ada, tapi mengabaikan apa yang sudah kita miliki…

Jadilah pribadi yang SELALU BERSYUKUR…
dengan rahmat yang sudah kita miliki…

Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini??
Menutupi telapak tangan saja sulit…

Tapi kalo daun kecil ini nempel di mata kita, maka tertutuplah “BUMI” dengan Daun,

Begitu juga bila hati ditutupi pikiran buruk sekecil apapun, maka kita akan melihat keburukan dimana-mana
Bumi inipun akan tampak buruk…

Jangan menutup mata kita, walaupun hanya dengan daun yang kecil…

Jangan menutupi hati kita, dengan sebuah pikiran buruk, walau cuma seujung kuku…

SYUKURI apa yang sudah kita miliki, sebagai modal untuk meMULIAkanNYA…

Karena hidup adalah :
WAKTU yang dipinjamkan,
dan Harta adalah Amanah yang dipercayakan…
yang semua itu akan di mintai pertanggung jawaban,

Bersyukurlah atas nafas yang masih kita miliki…
Bersyukurlah atas keluarga yang kita miliki…
Bersyukurlah atas pekerjaan yang kita miliki…
Bersyukur dan selalu bersyukur di dalam segala hal. Bersegeralah berlomba dalam kebaikan di mulai dari sekarang.

Selamat meraih kebaikan di hari ini.

�� Ust. Musyaffa Ad Dariny, MA, حفظه الله تعالى
�� Bbg-alilmu.com

Bagaimana cara agar bisa pensiun seperti PNS?

Pernah makan di KFC? Pertanyaan yang ga perlu dijawab sebenarnya.. Sama saja seperti saya nanya: pernah minum coca cola? Tujuan saya bukan menanyakan itu.. Coba perhatikan, apakah pemilik KFC itu nongkrong nungguin usahanya?

Beberapa teman saya, memilih menjadi pengusaha, bukan karena sekedar ingin menjadi kaya.. Kalau sekedar ingin menjadi kaya, semua bidang lain bisa menjadi kaya.. Pegawai kaya? Banyak. Lihat saja Gayus Tambunan.. (hush! koq Gayus yg dijadikan contoh?). Atau lihat para pegawai lain yang sudah mencapai posisi yang tinggi di perusahaannya.. Cukup banyak pegawai yang berpenghasilan bersih di atas 20 juta per bulan, sehingga bisa kita kategorikan kaya..

Wirausaha kaya? Banyak. Dokter spesialis yang kaya bertaburan di seluruh Indonesia.. Artis apalagi. Banyak yang penghasilannya puluhan juta, bukan per bulan, tapi per jam.. Eh, sebentar, memangnya apa bedanya pengusaha dengan wirausaha?

Menurut Robert Kiyosaki, pengusaha dan wirausaha sama-sama tidak bekerja di bawah perintah orang lain.. Mereka sepenuhnya bekerja untuk dirinya sendiri.. Perbedaannya? Setahun. Maksudnya?

Pengusaha, jika ia berhenti total bekerja selama setahun, maka usahanya akan tetap berjalan, bahkan mungkin makin maju.. Sementara wirausaha, tidak. Jika wirausaha bekerja, ia dapat pemasukan. Jika ia berhenti bekerja, maka pemasukannya juga berhenti. Jadi sebenarnya mudah saja untuk mengukur, apakah kita masih termasuk wirausaha, atau sudah masuk kelompok pengusaha.. Coba besok pagi kemas-kemas, kemudian pergi wisata keliling Indonesia, kemudian akhirnya menetap di Papua untuk belajar memanah.. Lalu sambil memakai koteka, coba kita kembali ke rumah setahun kemudian, dan tinjau usaha kita.. Kalau ternyata usaha kita ambruk, dan rumah kita sudah dipasang plang rumah ini dijual oleh bank untuk bayar utang, berarti kita masih masuk kelompok wirausaha..

Nah, inilah salah satu daya tarik pengusaha: pensiunnya.. Beda dengan pegawai, di mana saat pensiun, penghasilan sering kali terpotong menjadi kurang dibawah setengah gaji, sementara mereka sudah terbiasa dengan gaya hidup bergaji penuh selama puluhan tahun. Tidak heran saya cukup sering melihat para pensiunan pegawai yang pusing memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, yang akhirnya malah menggantungkan hidup pada anak-anaknya.. Saya rasa, hidup di bawah belas kasihan orang lain, walaupun itu anak kita sendiri, tidaklah sehat.. Anak-anak kita kelak, sudah punya tanggung jawab sendiri, untuk menghidupi keluarganya..

Nah pertanyaannya, bagaimana caranya pindah dari wirausaha menjadi pengusaha, sehingga penghasilan kita tetap, atau bahkan meningkat, walau kita sudah berhenti bekerja? Jawabnya cuma satu: sistem.

Saya punya langganan bakso, dari sejak tahun 90an sampai sekarang.. Dari sejak pertama saya kali makan di sana, sampai sekarang puluhan tahun kemudian, yang saya temui tetap sama: lokasi sama, besar warung tetap sama, tidak punya cabang, bahkan sang pemilik masih tetap nongkrong di meja kasir yang sama, hanya saja sudah bertambah tua.. Saya cukup heran: baksonya enak, warungnya selalu ramai, harganya masuk akal, pelayanannya cukup bagus, dan sudah cukup terkenal di Medan, kenapa sepertinya tidak ada perkembangan? Pernah saya iseng tanya ke bapak tua pemiliknya: “Kenapa ga dikembangkan usahanya pak? Minimal buka cabang satu lagi?” Bapak itu menjawab dengan senyuman lebar khasnya: “Walah mas, ngurus satu aja sudah habis waktu saya.. Mana sanggup saya ngurus dua warung sekaligus?”

Lha, kembali ke awal cerita ini: memangnya para pemilik KFC itu kerjanya nongkrong di warung KFCnya? Saya yakin ada beberapa cabang yang dimiliki pemilik yang sama.. Pertanyaannya: kenapa usaha KFC bisa berkembang terus, walau tidak ditongkrongi, sementara usaha bakso bapak itu tidak berkembang sama sekali? Saya tidak bisa membayangkan seorang pengusaha, yang mempunyai 50 tempat usaha dengan berbagai jenis usaha yang berbeda di seluruh Indonesia, harus keliling-keliling nongkrongin 50 tempat usaha sekaligus.. Kenapa ada orang yang bisa punya banyak perusahaan, sementara ada orang yang kehabisan waktu hanya untuk mengurusi satu warung? Sekali lagi jawabnya sederhana: sistem.

Sistem, dalam bahasa awam, adalah sekumpulan hal-hal kecil yang distandarkan, yang jika dilakukan, akan membentuk kinerja.. KFC, sudah punya aturan standar yang jelas.. Kadang kita menyebutnya sebagai SOP (Standard Operating Procedure). Mulai dari cara melayani konsumen, pembukuan, tata interiornya, cara melatih pegawai, berapa lama ayam digoreng dan dalam suhu berapa derajat, bahkan sampai arah menyapu lantainya, semua sudah distandarkan.. Semua cabang KFC mempunyai sistem yang sama, dan semua sudah melalui riset yang mendalam.. Bahkan sampai pilihan warna kursi dan mengapa KFC menggunakan kaca tembus pandang sebagai dinding, semua melalui riset.. Sehingga, siapapun yang diberi tugas memimpin cabang tersebut, cabang tersebut tetap bisa berjalan dengan baik.. Sistemnya juga dibuat sedemikian rupa, sehingga potensi kecurangan pegawai juga bisa diminimalisir..

Itulah yang perlu kita lakukan jika ingin menjadi pengusaha: membentuk sistem. Tidak mudah? Iya. Kita harus meluangkan waktu untuk menemukan standar yang tepat untuk semuanya di dalam usaha kita, sama seperti KFC, lalu mengcopynya ke cabang yang baru.. Itupun belum tentu langsung berhasil, karena cabang yang baru berarti menemui masalah yang baru.. Semua usaha waralaba, seperti KFC dan Indomaret, terus menerus menyempurnakan sistemnya, sehingga diharapkan mampu menjawab masalah apapun yang muncul di cabang manapun.. Sehingga di beberapa negara, ada aturan bahwa sebuah jenis usaha baru boleh diwaralabakan setelah lima tahun berdiri.. Setelah lima tahun, diharapkan sistemnya sudah mapan, sehingga tidak ada pembeli hak waralaba yang dirugikan karena sistem yang masih coba-coba..

Dan, lebih dari itu, membentuk sistem berarti kita harus mampu untuk berbagi wewenang dan rezeki kepada orang lain.. Kita harus mampu mengikhlaskan cabang-cabang usaha kita dipimpin oleh orang lain, dan mengikhlaskan sebagian keuntungan untuk menggaji orang lain untuk mengawasi cabang-cabang kita.. Tapi coba renungkan, mana yang lebih baik, punya satu toko dengan penghasilan 20 juta rupiah, atau punya 10 toko dengan penghasilan masing-masing 5 juta rupiah, dan kita tidak perlu terlibat secara aktif mengurusnya? Tanpa kemauan dan kemampuan untuk berbagi, maka kita akan sulit sekali untuk sekedar mengembangkan 2 toko, apalagi sampai 10 toko..

Lalu kenapa kita harus susah payah membentuk sistem, kalau usaha kita sudah berhasil membuat kita kaya? Kenapa kita harus menginvestasikan uang, tenaga dan fikiran, jika sekarang saja usaha kita sudah cukup maju? Jawabnya mudah: kita tidak pernah tahu berapa lama kita diberi waktu oleh Tuhan berkarya di dunia ini.. Di zaman di mana banyak orang kena stroke atau penyakit jantung di usia 30an, bagaimana kita bisa berharap kita akan hidup selamanya? Jika suatu saat kita sakit keras dan tidak mampu bekerja lagi, atau bahkan meninggal, bagaimana nasib usaha kita? Atau pertanyaan yang lebih tajam: bagaimana nasib keluarga kita, yang mungkin menggantungkan hidupnya terhadap penghasilan kita? (apalagi jika kita adalah pegawai).. Banyak sekali wirausaha yang dikendalikan penuh oleh kebijakan pemiliknya, dimana sang pemilik adalah sistem itu sendiri, sehingga di saat pemiliknya meninggal, sistemnya ikut berpulang, dan akhirnya usahanya ikutan menutup mata..

Akhirnya, jika kita ingin meninggalkan warisan yang berharga untuk penerus kita, mari kita bentuk sistem.. Kita bisa memilih membangun sistem sendiri, atau membeli hak waralaba dari perusahaan-perusahaan yang sistemnya sudah mapan.. Yang manapun pilihan kita, ingatlah, bahwa semua susah payah itu demi masa tua kita, dan demi masa depan anak cucu kita..

Membangun usaha tanpa sistem seperti mendorong batu besar di jalan rata. Kita mendorong, batunya jalan. Kita berhenti, batunya berhenti.

Membangun usaha dengan sistem, seperti mendorong batu besar di sebuah tanjakan. Lebih berat dan lebih sulit, bahkan jika kita berhenti di tengah tanjakan, batu besar itu akan menggelinding dan melindas kita. Tapi jika kita teruskan sampai puncak tanjakan, batu itu akan terus meluncur turun, dengan atau tanpa kita..

Seri Pegawai vs Pengusaha yang lain, lihat di sini:

http://www.kompasiana.com/dianjatikusuma

Judul asli
'Pegawai Vs Pengusaha, bagaimana cara pensiun?'

Inilah Alasan Anti Investasi Asing

Inilah Alasan Anti Investasi Asing

Oleh Azzam Mujahid Izzulhaq

Jika engkau mengira bahwa investasi asing itu adalah mereka datang bawa uang, mendirikan dan menjalankan usaha di Indonesia, lalu bagi hasil secara adil dengan Indonesia, engkau sepertinya masih bermimpi.

Karena faktanya, para investor asing itu tidak pernah membawa uang. Uang untuk menjalankan usaha adalah hasil 'pinjaman' dari bank asing yg ada di Indonesia dan atau bank nasional yg sahamnya sudah menjadi milik asing. Jadi ya uang rakyat Indonesia juga.

Lalu mereka memilih modal berupa bahan baku pun kebanyakan dari negara mereka. Contoh saja, di perusahaan milik Amerika yg saya lihat dengan mata kepala sendiri, perangkat komputer yg mereka gunakan built up dengan merk DELL, mobil operasional dengan merk FORD, mengasuransikan karyawannya ke PRUDENTIAL (lalu Prudential memberikan kredit ke perusahaan itu kembali, jadi sebetulnya ini adalah lingkaran kapitalis mereka) dan lain sebagainya sampai gantungan kunci saja bukan 'made in Indonesia'. Untuk gantungan kunci saja mereka yg bawa. Ketika ditanya kenapa, ini sudah profesional penunjukannya dan bla bla bla. Pret....

Apa yg didapat oleh Indonesia? Sedikit pajak dan royalti serta sedikit penyerapan tenaga kerja. Pajak yg seringkali telat dibayarkan, royalti yg tidak sesuai serta tenaga kerja yg dibayar murah. Keren kan?

Contoh lagi, perusahaan kecap FM menggaji karyawannya yg di Amerika Utara sebesar USD 10.70 per jam. Dengan level yg sama, tanggung jawab dan beban kerja yg sama, FM menggaji karyawannya yg di Indonesia sebesar USD 0.98 per jamnya. Padahal, gaji karyawan yg di Amerika Utara itu dicover dari produksi kecap di pabrik Indonesia. Miris kan?

Ada lagi, perusahaan sandal jepit yg ada di Indonesia rata-rata memproduksi sendal jepit tanpa merk. Dengan begitu dia bisa membayar upah buruhnya dengan sangat murah. Contoh, sandal jepit merk R membayar upah buruhnya sebesar USD 2.46 per hari untuk target 100 pasang sendal jepit selesai diproduksi oleh satu orang. Berapa harga sepasang sendal jepit itu di pasaran dunia? USD 100! Edyan!

So, bangga dengan banyaknya investor asing berdatangan ke Indonesia? Come on, berpikir ulang dong. Cek saja, berapa keuntungan Indonesia dari investasi asing yg sudah ada? Menguntungkan? Sayangnya tidak!

Berapa cadangan logam mulia yg dimiliki oleh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas keuangan negara? Berapa cadangan logam mulia yg dimiliki Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas keuangan mereka? Bagaikan langit dan bumi. Padahal, logam mulia yg dimiliki mereka adalah hasil dari kekayaan alam Indonesia, yg digali oleh buruh-buruh Indonesia, atas keringat darah dan air mata anak-anak Indonesia.

Itulah sebabnya, saya tidak bangga saat semakin banyak perusahaan asing menanamkan 'modal'nya di Indonesia. Sama sekali tidak.

Sumber tulisan: https://www.facebook.com/azzam.izzulhaq/posts/10202912609361176

Bebas Finansial Ala Rosulullah

Bebas Finansial Ala Rosulullah

Kawan.., alkisah disebutkan bahwa pada suatu ketika ada seorang laki-laki yang dengan langkah gontai datang menghadap Rasulullah. Ia sedang didera problem finansial; tak bisa memberikan nafkah kepada keluarganya. Bahkan hari itu ia tidak memiliki uang sepeserpun.

Dengan penuh kasih, Rasulullah mendengarkan keluhan orang itu. Lantas beliau bertanya apakah ia punya sesuatu untuk dijual. “Saya punya kain untuk selimut dan cangkir untuk minum ya Rasulullah,” jawab laki-laki itu.

Rasulullah pun kemudian melelang dua barang itu.

“Saya mau membelinya satu dirham ya Rasulullah,” kata salah seorang sahabat.

“Adakah yang mau membelinya dua atau tiga dirham?” tanya Rasulullah.

Inilah lelang pertama dalam Islam. Dan lelang itu dimenangkan oleh seorang sahabat lainnya. “Saya mau membelinya dua dirham”

Rasulullah memberikan hasil lelang itu kepada laki-laki tersebut. “Yang satu dirham engkau belikan makanan untuk keluargamu, yang satu dirham kau belikan kapak. Lalu kembalilah ke sini.”

Setelah membelikan makanan untuk keluarganya, laki-laki itu datang kembali kepada Rasulullah dengan sebilah kapak di tangannya. “Nah, sekarang carilah kayu bakar dengan kapak itu…” demikian kira-kira nasehat Rasulullah. Hingga beberapa hari kemudian, laki-laki itu kembali menghadap Rasulullah dan melaporkan bahwa ia telah mendapatkan 10 dirham dari usahanya. Ia tak lagi kekurangan uang untuk menafkahi keluarganya.

Salman Al Farisi punya rumus 1-1-1. Bermodalkan uang 1 dirham, ia membuat anyaman dan dijualnya 3 dirham. 1 dirham ia gunakan untuk keperluan keluarganya, 1 dirham ia sedekahkan, dan 1 dirham ia gunakan kembali sebagai modal. Sepertinya sederhana, namun dengan cara itu sahabat ini bisa memenuhi kebutuhan keluarganya dan bisa sedekah setiap hari. Penting dicatat, sedekah setiap hari.

Nasehat Rasulullah yang dijalankan oleh laki-laki di atas dan juga amalan Salman Al Farisi memberikan petunjuk kepada kita cara dasar mengelola keuangan. Yakni, bagilah penghasilan kita menjadi tiga bagian; satu untuk keperluan konsumtif, satu untuk modal dan satu untuk sedekah. Pembagian ini tidak harus sama persis seperti yang dilakukan Salman Al Farisi.

KEPERLUAN KONSUMTIF

Untuk soal ini, rasanya tidak perlu diperintahkan pun orang pasti melakukannya. Bahkan banyak orang yang menghabiskan hampir seluruh penghasilannya untuk keperluan konsumtif. Tidak sedikit yang malah terjebak pada masalah finansial karena terlalu menuruti keinginan konsumtif hingga penghasilannya tak tersisa, bahkan akhirnya minus.

Yang perlu menjadi catatan, bagi seorang suami, membelanjakan penghasilan untuk keperluan konsumtif artinya adalah memberikan nafkah kepada keluarganya. Jangan sampai seperti sebagian laki-laki yang menghabiskan banyak uang untuk rokok dan ke warung, sementara makanan untuk anak dan istrinya terabaikan.

MODAL

Sisihkanlah penghasilan atau uang Anda untuk modal. Bahkan, kalaupun Anda adalah seorang karyawan atau pegawai. Sisihkanlah setiap bulan gaji Anda untuk menjadi modal atau membeli aset. Menurut Robert T. Kyosaki, inilah yang membedakan orang-orang kaya dengan orang-orang kelas menengah dan orang miskin. Orang kaya membeli aset, orang kelas menengah dan orang miskin menghabiskan uangnya untuk keperluan konsumtif. Dan seringkali orang kelas menengah menyangka telah membeli aset, padahal mereka membeli barang konsumtif; liabilitas.

Aset adalah modal atau barang yang menghasilkan pemasukan, sedangkan liabilitas adalah barang yang justru mendatangkan pengeluaran. Barangnya bisa jadi sama, tetapi yang satu aset, yang satu liabilitas. Misalnya orang yang membeli mobil dan direntalkan. Hasil rental lebih besar dari cicilan. Ini aset. Tetapi kalau seseorang membeli mobil untuk gengsi-gengsian, ia terbebani dengan cicilan, biaya perawatan dan lain-lain, ini justru menjadi liabilitas. Robert T Kiyosaki menemukan, mengapa orang-orang kelas menengah sulit menjadi orang kaya, karena berapapun gaji atau penghasilan mereka, mereka menghabiskan gaji itu dengan memperbesar cicilan. Berbeda dengan orang yang membeli aset atau modal yang semakin lama semakin banyak menambah kekayaan mereka.

Jangan dianggap bahwa aset atau modal itu hanya yang terlihat, tangible. Ada pula yang tak terlihat, intangible. Contohnya ilmu dan skill. Jika Anda adalah tipe profesional, meningkatkan kompetensi dan skill adalah bagian dari modal, bagian dari aset. Dengan kompetensi yang makin handal, nilai Anda meningkat. Penghasilan juga meningkat.

SEDEKAH

Jangan lupa sisihkan penghasilan Anda untuk sedekah. Mengapa? Sebab ia adalah bekal untuk kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Baik sedekah wajib berupa zakat maupun sedekah sunnah.

Apa yang dilakukan Salman Al Farisi adalah amal yang luar biasa. Ia bersedekah senilai apa yang menjadi keperluan konsumtif keluarganya. Jadi kita kita punya gaji atau penghasilan tiga juta, lalu kebutuhan konsumtif keluarga kita satu juta, kita baru bisa menandingi Salman Al Farisi jika bersedekah satu juta pula. Namun karena ada hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa sedekah satu bukit tidak dapat menyamai sedekah satu mud para sahabat, kita tak pernah mampu menandingi sedekah Salman Al Farisi.

Harta sejati kita yang bermanfaat di akhirat nanti adalah apa yang kita sedekahkan. Lalu mengapa kita membagi penghasilan kita menjadi tiga bagian; konsumsi, modal dan sedekah? Mengapa tidak semuanya disedekahkan? Sebab konsumsi dan modal sesungguhnya juga pendukung sedekah kita. Jika keperluan konsumsi kita terpenuhi, maka fisik kita relatif lebih sehat. Dengan fisik yang sehat, kita bisa beribadah dan bekerja yang sebagian hasilnya untuk sedekah. Mengapa perlu mengalokasikan untuk modal/aset? Karena ia akan semakin memperbesar pemasukan kita dan dengannya kita menjadi lebih mudah untuk bersedekah dalam jumlah lebih besar dan juga lebih banyak beramal.

Semoga Bermanfaat..