PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Ilmu kebal dan azimat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu kebal dan azimat. Tampilkan semua postingan

PENCARI BENDA KERAMAT PRING PETHUK YANG DITIPU JIN

Kesaksian menarik dari saudara Arman Nugroho, dia menceritakan :

“saya pernah melihat sendiri bambu petuk yang sepertinya sempurna asli ternyata palsu karna setelah diijinkan untuk dibelah ada sambungan lem dan di pen dengan logam pada satu ruasnya padahal itu bambu dapat dari wirid ribuan (dapat dari alam gaib/dikasih jin). kesimpulan saya : “wah udah capek2 wiridan ribuan kali dikasih barang palsu lagi” . wirid buat mengharap ridho Allah saja lah.”


Ibroh yang didapat adalah sesungguhnya pring pethuk atau benda-benda keramat lainnya itu tidak memiliki kekuatan mistik alami,namun dengan campur tangan jin maka seolah memiliki kekuatan ghoib. Contoh lainnya saya pernah mendengar kisah langsung dari lisan ustadz Fadhlan Adham Hasyim Lc bahwa beliau pernah membongkar jenglot yang tiba-tiba muncul dirumah seseorang ketika dibuang tidak lama kemudian kembali lagi didalam lemari secara ghoib, lalu setelah diberikan sama Ustadz fadhlan dan dibongkar ketahuan bahwa dibuat dari kulit kodok dan fosil binatang.

Jin juga yang ga bisa mendapatkan pring pethuk alami ga mau repot lalu memakai pring buatan palsu kerajinan tangan manusia untuk diberikan pada pencari benda keramat sebagai hadiah wirid bid’ahnya hahahahaha.


Selain itu pring pethuk atau benda-benda keramat lainnya ditinjau dari sisi psikologis hanyalah berfungsi sebagai pembangkit sugesti yang dihajadkannya, contohnya ada orang yang ingin menjadi seorang yang berwibawa, setelah menggunakan benda keramat maka percaya dirinya timbul dan berbicara dengan orang lain menjadi lebih berwibawa semua karena sugesti belaka.
HAKIKAT JIMAT RAJAH WIFIK AUFAK

HAKIKAT JIMAT RAJAH WIFIK AUFAK

 

Mengenai jimat, rajah, wifik atau aufak telah banyak hadits-hadits Rasulullah yang memperingatkan kita supaya kaum muslimin menghindari penggunakan jimat untuk melindungi dari segala mara bahaya atau untuk keperluan lainnya.Islam bahkan melarang ikhtiar dengan memakai jimat.Istilah  Islam di sebut tama’im (kata jamak dari tamimah), yakni jimat-jimat.Tama’im adalah benda-benda tertentu yang biasanya dikalungkan pada leher anak-anak, atau pada bagian tubuhnya yang lain sebagai penangkal jin, penangkal pandangan mata jahat dan sebagainya.


Pemakaian jimat sampai sekarang masih banyak dipercaya sebagian masyarakat Indonesia dengan menggantungkanya pada bagian badan tertentu. Orang yang membutuhkan memberinya nama bermacam-macam seperti tolak bala, hajaz (penjagaan), hijab (penyekat), gaman, penglaris, mendatangkan rizki, menolak penyakit, menolak musuh, menolak pencuri, menolak tuyul, kewibawaan, agar dicintai orang lain, untuk kekebalan,untuk keharmonisan rumah tangga, untuk kemudahan urusan, menaklukkan lawan dan nama-nama lain yang serupa. Padahal sebenarnya hanyalah tipuan syaitan belaka, janji, janji palsu syaithan dan kesesatan yang nyata. Maka dari itu  Agama Islam melarang segala macam jimat.


Semua cara-cara seperti itu tidak dibenarkan oleh agama karena dapat mengantar ummat menjadi ummat yang sesat dan terbelenggu kesesatan. Sebuah riwayat menerangkan sebagai berikut:

Pada suatu hari datang sepuluh orang menghadap Rasulullah hendak membaiat beliau (hendak menyatakan sumpah setia kepada beliau). Sembilan orang mengikrarkan baiatnya masing-masing, sedangkan yang seorang tetap diam. Ketika ditanya kenapa ia bersikap seperti itu ia menjawab, pada bagian atas lengannya terdapat tamimah (jimat). Ia lalu memasukkan tangan ke dalam lengan bajunya, jimat itu ditanggalkan dan dibuang. Pada saat itu Rasulullah menerima pembaiatannya, beliau dengan tegas berkata:“Barangsiapa menggantungkan jimat ia telah berbuat syirik.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Abu Ya’la)
Dalam hadits lain Rasulullah saw. bersabda:“Mantra-mantra, jimat-jimat dan susuk adalah syirik.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqiy)


Yang beliau maksud ialah mengantungkan tamimah pada bagian tubuh dan menggantungkan hati serta kepercayaan kepadanya. Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits berasal dari Imran bin Hashin, bahwasanya Rasulullah pernah melihat pada bagian atas lengan seseorang terdapat sebuah gelang terbuat dari kuningan. Dengan nada mencela beliau bertanya: “Gelang apakah yang engkau pakai?” Orang yang ditanya menjawab:“Saya memakainya untuk menyembuhkan sakit encok (reumatism).” Seketika itu juga Rasulullah saw memperingatkan: “Itu hanya lebih memberatkan dirimu, buanglah! Bila engkau mati dalam keadaan masih memakai gelang itu, engkau tidak akan memperoleh keberuntungan selama-lamanya!” 
Atas dasar itulah para sahabat Nabi dan kaum Tabi’in sangat keras mencela dan tidak dapat membiarkan pemakaian jimat apa saja. Pada suatu hari Hudzaifah melihat seorang mengikatkan seutas benang pada bagian tubuhnya. Di depan orang itu Hudzaifah membaca firman Allah Ta’ala :“Dan sebagian besar dari mereka tidak benar-benar beriman kepada Allah karena masih mempersekutukan-Nya(dengan yang lain).” (QS.Yusuf: 106)
Bahkan tulisan ayat Al-Qur’an murni saja (tidak bercampur dengan yang bukan Al-Qur’an) untuk dijadikan ‘azimah mereka melarangnya sebagai saddan lidz dzari’ah (menutup pintu dosa besar) dan tidak ada shahabat yang menjadikan Al-Qur’an sebagai jimat.

Memakai gaman dan jimat-jimat seperti itu hanya akan menambah berat beban bagi jiwa yang bersangkutan. Hidup menjadi sempit karena karena diikat oleh ikatan tahayul.Rasulullah telah bersabda, ” Barangsiapa menggantungkan (memakai) jimat Allah tidak akan menyempurnakannya (yakni tidak akan menjauhkannya dari musibah) dan barangsiapa menggantungkan tumbal (sejenis jimat untuk menenteramkan perasaan) Allah tidak akan membiarkannya hidup tenteram.” (HR. Imam Ahmad, Al-Hakim dan Thabraniy)


Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Jubair ra menerangkan keutamaan orang yang memperingatkan dan mengambil jimat yang ada pada saudaranya,bahwasanya Rasulullah bersabda, “Barangsiapa memutus (tali) jimat yang berada di leher seseorang sama dengan orang yang memerdekakan budak.”
Seorang tokoh Tabi’in bernama Ibrahim An-Nakh’iy berkata, bahwa mereka (kaum Tabi’in) menolak segala macam tamimah (jimat), yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an maupun dari bukan Al-Qur’an.
Rasulullah saw juga bersabda “Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka semoga tidak disampaikan maksudnya oleh Allah, dan barangsiapa yang mengalungkan wada’ (benda yang diambil dari laut, yang dipergunakan untuk menangkal penyakit ‘ain) maka semoga tidak dipelihara oleh Allah.” (HR. Ahmad: 4/154)


Dari semua penjelasan dan hadits Rasulullah yang telah dijelaskan diatas maka jika masih ada seseorang yang mengaku kyai, ulama, paranormal, dukun baik secara perorangan ataupun dari pesantren, lembaga perguruan ilmu hikmah atau padepokan-padepokan yang mengajarkan cara pembuatan jimat dan memberikannya pada orang lain untuk berbagai keperluan (Biasanya mereka mengambil pengetahuan tentang pembuatan dan fungsi-fungsi jimat diambil dari kitab Syamsul Ma’arif, Mujarrobat Akbar. Sedangkan ilmu untuk membuat jimat dari menyamak kulit berbagai macam binatang mereka mengambil acuan dari kitab Jamiatul Hayawain) maka mereka telah berbuat kesesatan yang nyata dan telah berbuat syirik pada Allah SWT .Sebagaimana Rasulullah telah bersabda :”Sesungguhnya jika menggunakan jampi-jampi, jimat-jimat, maka sesungguhnya ia telah menyekutukan (Allah).”(HR. Ahmad:4/156)
Rasulullah juga telah memperingatkan“Barang siapa yang menggantungkan jimat, maka sesungguhnya ia telah menyekutukan (Allah).” (HR. Ahmad:4/156)
Rajah-rajah (aufaq) yang mereka buat ( dapat berupa foto copy atau tulisan tangan),biasanya ada tulisan ayat Al-Qur’an,doa pada Allah dengan nama-nama aneh,bukan dari Al Asmaul Husna, bukan nama nabi atau malaikat, dan bukan pula nama-nama ulama terkenal. Misalnya: Asy Syatat, Shal’ashun, Ya’shalun, Jaljalut, Ikhrisya, Jirisya.Inilah nama-nama jin yang diundang untuk dimintai pertolongan.Bahkan ada yang jelas: Ya Syaikh Abdul Qadir Jailani aghitsni (wahai  guruku Abdul Qadir Jailani!Tolong selamatkan aku),Ya sayyidi Ali anqidzni (wahai tuanku Ali selamatkan aku),kemudian ditambah angka-angka tertentu dan huruf-huruf tertentu yang tidak ada maknanya. Selain itu juga ada simbol-simbol atau gambar-gambar yang dianggap akan membawa manfaat atau untuk menolak bala’, seperti binatang, lingkaran, kotak-kotak, segitiga, gambar pedang, gambar kepala harimau, duplikat sandal nabi saw, dan lain sebagainya.


Cara penggunaan rajah itu terkadang dibakar kemudian abunya dicampur dengan air dan diminum,direndam di air kemudian diminum, dipendam ditanah, ditempel ditembok, dibuat ikat pinggang, dibungkus lalu dikantongi atau dibuat kalung, dibuat rompi, dibuat sapu tangan.Media penulisan rajah-rajah itu biasanya berfariasi,ada rajah dengan tulisan Arab yang ditulis diatas kertas biasa, logam kuningan, aluminium, sendok, gelas, garpu, piring, kain mori, kayu, kulit binatang dan ditambah batu akik untuk dibuat cincin.


Jimat yang ditulis pada lempengan logam dan botol
Kita juga harus waspada karena sekarang ini ada penjualan jimat yang sudah memakai peralatan modern yaitu dengan menggunakan sejenis kartu mirip kartu ATM sebagai media penulisan jimat. Mereka menamakan jimat ‘kartu ATMnya’ dengan nama yang terkesan modern dan ilmiah.
Untuk melegalisir penggunaan jimat mereka biasanya mengilmiahkan fungsi jimat sebagaimana yang mereka katakan dan iklankan sebagai berikut :

“Kami memberikan jimat dengan mengisi energi pengasihan yang berwarna merah muda yang memberi pengaruh menarik perhatian orang kebanyakan dalam radius tertentu. Sehingga jika contohnya jika mengelar dagangan si penjual  selalu laris karena banyak pengunjungnya.Setelah orang berkumpul menonton ‘etalase’ kemudian jimat kedua beraksi, jimat ini berisi energi yang mampu menarik  atau merangsang aktifitas aura atau emosi ‘ingin memiliki’ sehingga orang disekitar tempat tersebut seolah-olah ingin membeli atau memiliki barang dagangan tersebut.”“Kami juga telah menginisiasi jimat ini agar tetap tersambung dengan energi alam semesta hingga jika ada seseorang yang mengantonginya maka akan membuat dirinya selamat dari berbagai mara bahaya,selalu beruntung dan juga berwibawa”

Ada banyak sekali bujuk rayu mereka untuk dapat mengelabui masyarakat demi keuntungan pribadi mereka.Maka berhati-hatilah dengan segala iming-iming fungsi dan keutamaan jimat yang sesungguhnya menyesatkan,kembalilah pada Al-Qur’an dan hadits Rasulullah karena disanalah petunjuk kita untuk kebahagiaan dunia dan akherat kelak.
Jimat ATM
AWAS Azimat Pembawa Petaka

AWAS Azimat Pembawa Petaka



Sungguh jika engkau menyekutukan ALLAH, benar-benar akan hancur amalanmu dan sungguh benar-benar engkau akan menjadi golongan orang-orang yang merugi (QS. Az-Zumar: 65)
Saat ini, klenik bukan suatu yang dianggap tabu dan memalukan. Bahkan terkesan menjadi suatu komoditi yang menguntungkan banyak pihak. Kita lihat di berbagai media, dunia klenik menjadi salah satu daya tarik yang banyak digemari peminatnya. Di media elektronik, dahulu ada acara “Pemburu Hantu”, Uka-uka, sinetron Tuyul dan Mbak Yul, Jini oh Jini dan sebagainya.

Bahkan saat ini untuk media cetak telah diterbitkan majalah khusus mengenai dunia klenik dan produknya, seperti majalah “Misteri”, POSMO, Liberty. Juga kita lihat berbagai iklan dan tawaran pelayanan jasa klenik di koran atau majalah atau tabloid dari para tokohnya yang disebut dengan berbagai gelar seperti kiyai, orang pintar, tabib, paranormal dan sebagainya.
Tidak itu saja dimedia dunia maya (internet) tidak terhitung lagi banyaknya website, blog,forum diskusi yang mengajarkan membuat jimat bahkan juga menjual berbgai macam jimat, wifiq, aufaq
Derasnya gelombang acara klenik di berbagai media ini, cepat atau lambat akan merusakkan aqidah dan keimanan umat Islam. Paling tidak, orang yang minim pengetahuan agamanya akan menganggap bahwa hal tersebut adalah hal-hal lumrah yang tidak berbahaya. Padahal, kalau sampai kita terjatuh ke dalam kesyirikan, maka kita telah terjatuh ke sebesar-besarnya dosa.
ALLAH berfirman, ”sesungguhnya mempersekutukan (ALLAH) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Dan bila mati dalam keadaan syirik, maka dosa itu tidak akan diampuni ALLAH dan akan mengakibatkan kekal di Neraka. Dalam ayat yang lain ALLAH juga berfirman, ”Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan ALLAH, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa’: 48).
Ajimat Termasuk Syirik
Salah satu produk dari jasa perdukunan adalah Ajimat. Ajimat ini dijadikan oleh para dukun untuk mengatasi berbagai keluhan dari para pasiennya. Yang dalam memperolehnya biasanya disertai dengan syarat-syarat tertentu dan lelaku tertentu. Dan biasanya, makin ampuh ajimat itu akan makin mahal pula harga yang dibandrol oleh para ”orang pintar” tersebut. Tapi bagi para penggemar klenik yang yang sudah rabun pikirannya tetap menjadi barang buruan yang sangat dicari, berapapun harganya pasti akan mereka bayar.
Ajimat ini dapat berasal dari berbagai macam bahan, seperti kertas bertulis ayat-ayat Al-Qur’an, huruf-huruf hijaiyah atau angka-angka, atau berbagai simbol yang tidak dapat diketahui maknanya. Ada juga yang berbahan dari benang, kulit hewan, batu, kayu dan lain sebagainya.
Biasanya ajimat ini dipakai sebagai kalung, cincin, sabuk, seperti yang dipakaikan pada anak kecil untuk mencegahnya dari sawan. Atau juga dipasang dan digantungkan di pintu-pintu rumah.
Ajimat adalah benda benda yang dipercaya dapat menghilangkan kesialan, musibah, atau juga dapat mendatangkan kebaikan, seperti mendatangkan rezeki, menjadikan dicintai, dihormati ataupun disegani dan sebagainya.

Keyakinan mereka seperti ini, yaitu mempercayai bahwa suatu balak atau musibah dapat ditolak dengan menggunakan ajimat tertentu, atau rejeki akan berlimpah ruah dengan memakai ajimat tertentu. Maka, mereka telah terjatuh ke dalam kesyirikan.
Rasululah SAW bersabda, ”Sesungguhnya jampi-jampi, ajimat, dan pelet adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Juga dalam riwayat lainnya, Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa menggantungkan ajimat, sungguh ia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Hakim dan Ahmad)

Pembawa Petaka
Sesungguhnya ajimat sedikitpun tidak dapat menolak mudharat atau mendatangkan manfaat. Bahkan sebaliknya, ALLAH membantah keyakinan mereka itu dengan keras. ALLAH berfirman, ”Jika ALLAH menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali DIA. Dan jika ALLAH menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-NYA.” (QS. Yunus: 107)

Juga kepercayaan kepada ajimat ini adalah perbuatan syirik yang akan menghapuskan amal kebaikan dari diri si pelaku. ALLAH berfirman, ””Jika kamu mempersekutukan (TUHAN), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)
Dan ALLAH mengharamkan surga baginya, ALLAH berfirman, ”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) ALLAH, maka pasti ALLAH mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al-Maidah: 72)

Rasulullah SAW juga menegaskan, jika seseorang mati dalam keadaan membawa dosa syirik, maka tempatnya adalah di neraka. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa menemui ALLAH dalam keadaan menyekutukan sesuatu dengan-NYA, ia akan masuk neraka.” (HR. Bukhari-Muslim)
Mudharat lain dari orang yang memakai jimat adalah dia tidak akan disempurnakan urusannya dan tidak diberi ketenangan. Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa yang menggantungkan jimat, maka tidaklah ALLAH akan mnyempurnakan urusannya dan barangsiapa yang meggantungkan (ajimat berupa) karang laut, maka tidaklah ALLAH akan memberikan ketenangan kepadanya.” (HR. Ahmad)

Orang yang memakai jimat juga tidak akan mendapatkan keberuntungan. Dari Imran bin Hushoin, bahwasanya Nabi SAW melihat seorang laki-laki pada lengan atasnya terdapat sebuah gelang berasal dari tembaga, maka Rasulullah SAW bersabda, ”Apa ini?”, Ia menjawab, ”(aku memakainya dengan sebab menolak) Wahinah (penyakit).” Maka Nabi SAW menjawab, ”Lepaskanlah! Sebab tidaklah ia menambah kepadamu kecuali kelemahan dan penyakit. Kalau seandainya kamu meninggal dan benda itu ada padamu, tidaklah engkau beruntung selama-lamanya.” (HR. Ahmad)

Demikianlah ajimat yang dipersangkakan dapat menghilangkan mudharat dan mendatangkan berbagai manfaat, ternyata tidak ada kebaikan di dalamnya bahkan menimpakan malapetaka bagi pemakainya.
Naudzubillahi min dzalik. Kepada ALLAH saja bertawakal orang-orang yang beriman. Dan bacalah doa di bawah ini, semoga ALLAH menghindarkan dari perbuatan syirik kepadanya:
”Ya ALLAH, aku berlindung kepada‐MU dari perbuatan menyekutukan‐MU dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada‐MU dari dosa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
wirid sakti pemangil ruh

wirid sakti pemangil ruh



Awal Juni 2007, Redaksi Majalah Ghoib menerima sepucuk surat dari seorang bapak di Riau. Surat tertanggal 31 Mei itu, ditulis dengan menggunakan tinta hitam dalam dua lembar kertas folio. Dalam surat itu, ia meminta bantuan kepada untuk memusnahkan beberapa benda dan amalan yang telah lama disimpannya. “Mungkin karena kedangkalan pemahaman agama keluarga besar kami, maka selama beberapa tahun kami mengamalkan hal-hal seperti ini,” tulisnya dalam paragraf pembuka. Selanjutnya ia menceritakan, bahwa semua benda dan amalan yang dikirimkannya itu adalah miliknya.

Aktifitas seperti ini, menurutnya sudah menjadi turunan sejak dahulu kala. Bahkan kakek buyutnya konon pernah menuntut ilmu kanuragan selama bertahun-tahun. Pada perkembangan-nya, semua aktivitas ini menurun kepada anak cucunya hingga sekarang. “Wah dosa saya mungkin sudah tidak terkira ya! Sekarang kami ingin hidup tanpa kemusyrikan, benar-benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah,” tulisnya lagi.
Selanjutnya ia menceritakan tentang keadaan adiknya yang mengalami gangguan aneh. Selama sebulan terakhir, adiknya sering mengamuk. Kejadian seperti itu dialami adiknya sebelum diwisuda pada Februari 2007. Mengamuknya hilang-timbul. Kambuhan. Ia semakin bingung, setelah beberapa orang mengatakan hal-hal yang aneh tentang adiknya. Ada yang mengatakan bahwa adiknya diguna-guna. Ada juga yang mengatakan Bahwa adiknya stress akibat nenyusun skripsi. Bahkan ada yang bilang bahwa adiknya itu ketempelan jin kakeknya. Semua pernyataan tersebut semakin membuatnya bingung. “Makanya, selain menyerahkan benda-benda dan amalan ini, kami bertanya kepada Majalah Ghoib banyak hal, supaya hati kami menjadi tentram. Semoga Allah merestui dan meridhoi, serta mengabulkan semua hajat kita. Amin ya Robbal aalamin,”  tulisnya dalam penutup cerita.

Bentuk Jimat
Selain mengirimkan sebuah jimat berbentuk tasbih. Bapak ini juga mengirimkan sebuah amalan berupa wiris-wirid yang diberi nama Ajian Sapujagad. Ajian ini berbentuk wirid-wirid yang dutuliskan dalam dua lembar kertas berbahasa Arab yang ditulis tangan. Ajian ini terdiri dari ajian pokok dan wiris pokok yang terdiri dari bacaan syahadat, sholawat, serta bacaan ayat-ayat al-Qur’an.

“Kesaktian”  Jimat
Ajian ini memiliki manfaat yang sangat banyak, diantaranya: agar dicintai orang khusus, agar disenangi dan dikagumi banyak orang, lebih berwibawa, agar dagangan laris, mempercepat jodoh, memukul lawan langsung pingsan, menghilang dari pandangan orang lain, serta yang sangat aneh adalah bisa memanggil roh atau sukma orang lain. Caranya, baca ajian pokok dengan niat dan doa memanggil roh orang tersebut yang masih hidup. Selanjutnya membaca beberapa surat al-Qur’an dari juz 30. Kemudian sebutkan orang tersebut dan bayangkan wajahnya. Setelah roh itu datang, maka bisa berdialog atau menyampaikan pesan. Ritural ini sebaiknya dilakukan pada malam hari, karena kalau dipanggil pada saat orangnya dalam keadaan masih terbangun, ia akan mengantuk dan tertidur. Untuk bisa melakukan ini, maka harus sering berlatih. Walaupun orang yang mengadakan ritual belum mampu melihat roh tersebut, tetapi ia sudah datang di hadapannya, oleh karena itu agar roh tadi di suruh kembali ke tempat asalnya.

Bongkar Jimat
Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Kata nabi, orang yang terbaik bukanlah orang yang tidak pernah melakukan kesalahan, tetapi orang terbaik itu adalah orang yang pernah melakukan kesalahan, lalu segera memperbaikinya serta memohon ampun kepada Allah SWT. Kesadaran menusia untuk memperbaiki dirinya, itulah hal yang paling dicintai Allah. Dalam kasus bapak ini, lagi-lagi kita menemukan amalan-amalan yang menyesatkan yang diberikan oleh seorang dukun. Para dukun tersebut, telah mempergunakan kalimat basmalah, syahadat, shalawat serta beberapa surat dari al-Qur’an untuk perkara yang bathil. Jelas, ini merupakan penghinaan kepada kalimat-kalimat thayyibah tersebut. Para dukun itu telah menjadikan kalimat-kalimat itu untuk aktifitas yang musyrik. Bersekutu dengan jin. Ritual memanggil roh adalah sebuah ritual yang tidak dibenarkan dalam lslam. Karena roh seseorang itu, hanya bisa dipanggil oleh Allah lewat malaikat pencabut nyawa. Kemudian orang tersebut akan mati.
Kita terkadang terkecoh dengan sebutan dukun baik yang berpakaian ustdaz, jika praktiknya menolong orang seperti agar dagangan laris atau memberikan kesaktian untuk kebaikan. Tanpa melihat dari mana dukun itu mendapatkan kesaktian, yang penting digunakan untuk kebaikan. Dukun seperti ini disebut baik, karena tidak menjalankan praktik santet atau gendam dan yang lainnya. Padahal, dalam pandangan syari’at, tidak ada bedanya jenis dukun yang di sebut baik, dengan yang jahat karena santetnya. Keduanya mendapatkan sumber amunisi yang sama, yakni dari syetan. Jangan terkecoh dengan orang yang memberikan amalan dari ayat-ayat suci al-Qur’an, padahal amalan tersebut tanpa terasa telah merusak aqidah kita, seperti ritual pemanggilan roh orang yang masih hidup atau yang sudah mati. Sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi.

Dalam surat al-Isra ayat 85 Allah SWT telah menjelaskan, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.  Katakanlah: “Roh itu adalah perkara Tuhan-ku; dan kami tidak diberikan ilmu pengetahuan melainkan sedikit saja”. Berdasarkan ayat ini, dapatlah difahami bahwa roh itu adalah urusan Allah. Manusia tidak tahu menahu mengenainya kecuali sekadar apa lang diajarkan oleh Allah kepada mereka, karena perkara roh adalah salah satu perkara yang dirahasiakan Allah  dengan ilmu-Nya dan hal itu tertutup dari pengetahuan makhluk. Kalau ada dukun yang bisa melakukan hal tersebut, maka ia telah mendahului Allah. Maka Adzab Allah sangatlah pedih baginya.
Ilmu kebal dan azimat

Ilmu kebal dan azimat

Ilmu Kebal meski disertai bacaan-bacaan yang nampak Islami, atau rajah-rajah tulisan ayat suci Al-Qur ’an itu hanyalah simbol- simbol atau cover belaka untuk pelegitimasian seolah Islami, padahal suatu penyesatan yang sungguh nyata.

Para mujahidin sejati tidak ada dan tidak pernah dalam setiap aksinya melawan kemaksiatan dan kemungkaran sebelum berangkat harus diisi ilmu kebal secara ghoib (atau dibekali ilmu tenaga dalam). Mereka berjihad dengan murni dan jika ada anggota mereka yang luka justru untuk saksi pada hari kiamat nanti bahwa mereka telah terluka dalam amar ma ’ruf nahi munkar.
Berani berperang juga harus berani menanggung resiko terluka dan meninggal, inilah sikap seorang Mujahid sejati!

Islam tidak mengajarkan ilmu kebal, justru melarangnya. Nabi Muhammad pun tak pernah mengajarkan ilmu kekebalan. Beliau pun terluka dan berdarah seperti manusia biasa lainnya (sesuai dengan sunnatullah) saat terkena senjata arab jahiliyyah yang menyerangnya.

Pengisian kekebalan itu tidak lain meminta bantuan kepada bangsa setan laknatullah. Dalam Al-Qur ’an ditegaskan bahwa seorang muslim supaya menghindari hubungan dengan jin karena dapat menyesatkan.

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan ” (Al- Jinn : 6).

Allah Ta’ala juga berfirman : “Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarkan ayat (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (Al- Baqarah:102)

Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari ilmu sihir kekebalan dengan meminta bantuan jin ( yang biasa disebut dengan khadam ilmu kesaktian) sesungguhnya mereka mempelajari hal-hal yang hanya mendatangkan mudharat bagi diri mereka sendiri, dan tidak pula mendatangkan sesuatu kebaikan. Mereka sesungguhnya telah memperjualbelikan diri mereka dengan harga yang sangat murah, itulah sebabnya Allah berfirman “Dan alangkah buruknya perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir itu, seandainya mereka mengetahui ” (Al- Baqarah:102).

Dalam sejarah ilmu sihir, Indonesia pernah mengalami masa-masa ‘ keemasannya,’ yaitu pada zaman bangsa ini masih dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang terdapat hampir di seluruh pelosok tanah air. Ketika itu, banyak sekali orang- orang sakti mandraguna dengan berbagai ilmu kedigdayaan, ajian- ajian, dan senjata-senjata andalan yang dimiliki. Namun ternyata, segala macam ilmu klenik itu tidak berkutik ketika berhadapan dengan Belanda. Ilmu- ilmu yang konon sangat ampuh itu sama sekali tidak ada manfaatnya bagi penjajah Belanda. Mereka tidak mempan oleh ilmu-ilmu kesaktian. Bahkan kemudian, bangsa ini takluk di bawah penjajahan Belanda hingga 350 tahun lamanya. Sungguh ironis, karena tatkala Belanda menjajah, Indonesia masih berada dalam masa-masa ‘keemasan’ di dunia perklenikannya !

Selanjutnya, lebih ironis lagi. Sudah tahu ilmu-ilmu kesaktian tidak mempan melawan Belanda, anak bangsa ini masih saja banyak yang mempelajari dan percaya pada hal- hal yang berbau klenik (Tenaga dalam dan ilmu metafisika). Dan itu berlangsung terus hingga masa kita sekarang ini. Masa di mana kita sudah merdeka dan modern.

Celakanya lagi sekarang ilmu kekebalan sudah dikemas lebih modern (juga lebih terkesan ilmiah) dengan tidak lagi memakai jimat, tidak pakai puasa, tidak pakai mantra dan tidak memakai ritual yang aneh-aneh…..”Cukup latihan Tenaga Dalam dan menyerap energi alam ” itulah kemasan modern ilmu kekebalan. Namun sesungguhnya esensinya sama ….kekebalan dari TD atau TM tidak lain hanyalah tipu daya Iblis Laknatullah yang sudah di-update software ilmu kekebalannya mengikuti era modern saat ini.

Hati-hatilah jangan menjadi orang pengecut yang takut mati hingga berbuat syirik, bid’ah dan khurafat dengan belajar ilmu kebal.

Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Abu Al Khashib] telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Mubarak] dari [Al Hasan] dari ['Imran bin Al Hushain], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat gelang dari kuningan di tangan seorang laki-laki, maka beliau bertanya: “Apakah maksud dari gelang ini?” laki-laki itu menjawab, “ Ini adalah wahinah.” Beliau bersabda: “ Lepaslah, karena jimat itu tidak akan menambahmu melainkan kesengsaraan. ” Sunan Ibnu Majah-3522. lidwa.com Wahinah: (zimat untuk melemahkan orang lain).

Sedikit penjelasan: Sebagian di massyarakat kita zimat masih dipegang. Bahkan mereka mengganti tulisan-tulisan di dalamnya dengan ayat-ayat Al Qur’an atau nama-nama Allah, terkadang mencampurkannya. Sekalipun telah bertuliskan ayatul Qur’an tetap saja meragukan dan memungkinkan orang untuk terjerumus ke dalam syirik.

Karena secara otomatis pemakainya akan mengagungkan benda tersebut, bahkan bila tak terbawa (ketinggalan) benda tersebut justru menjadi lemah keyakinan. Ini jelas membuat lupa kepada Allah sebagai tempat bertawakkal tetapi justru bertawakkal kepada benda. Jika ia bertawakkal kepada Allah (seperti membaca do’a / zikir), maka pastilah ia tidak memerlukan benda- benda (zimat) tersebut.

Diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad, dari Uqbah bin Amir secara marfu ’, (Nabi bersabda) “Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka Allah tidak akan menyempurnakan urusannya, dan barangsiapa yang menggantungkan wada ’ah (kerang) maka Allah tidak akan memberikan ketenangan baginya.” Dalam riwayat lainnya, “

Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik. ”

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar." (QS. An-Nisa: 48)

"Sesungguhnya jampi-jampi, jimat dan pelet termasuk kesyirikan." (HR. Ahmad dan Abu Daud, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)

Hakekat Jimat Jimat pada masa jahiliyah dahulu dikalungkan pada anak kecil atau binatang untuk menolak 'ain (pandangan hasad/dengki, berakibat mudharat bagi orang yang dipandang). Namun pada hakekatnya jimat tidaklah terbatas pada bentuk dan kasus tersebut, akan tetapi mencakup semua benda dari bahan apapun, dikalungkan, digantungkan, diletakkan di tempat manapun dengan maksud untuk menghilangkan atau menangkal marabahaya. Jadi jimat bisa berupa kalung, batu akik, keris, cincin, sabuk (ikat pinggang), atau benda- benda yang digantungkan pada tempat tertentu, seperti di atas pintu, di dalam kendaraan, dipasang pada ikat pinggang, sebagai susuk, atau ditulis di kertas dan dimasukkan di saku celana, dan lain-lain dengan maksud mengusir atau tolak bala'. (Lihat Mutiara Faedah Kitab Tauhid).

Ingatlah bahwa setiap jimat pasti tidak terbukti secara syari'at (dalil dari Allah dan Rasul-Nya) maupun logika (hasil eksperimen ilmiah) dapat memberikan manfaat atau menolak bahaya.
Mengintip Karomah para Wali

Mengintip Karomah para Wali

Mengintip Karomah para Wali
Posted on Juni 7, 2010 by Perdana Akhmad S.Psi

Manusia Di Indonesia khususnya sangat senang jika membaca kisah karomah para wali, buku-buku tentang karomah para wali laris manis bak kacang goreng. Bahkan sudah banyak orang yang berusaha agar mendapatkan karomah wali tersebut, ada yang belajar silat, ngalap berkah kubur wali, sampai berdo’a dan berkurban kepada sang wali tersebut. nah apa sebenarnya karomah itu, benarkah karomah bisa dipelajari ? berikut penjelasannya..

Anggapan keliru tentang wali :

1. Wali harus punya kromah. senantiasa memiliki kesaktian yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu sekehendak dia.

Banyak anggapan di masyarakat bahwa seorang wali itu mesti memiliki karomah yang nyata bahkan bisa dipertontonkan kepada khalayak ramai. Seperti tahan pedang dan sebagainya. Tapi sebetulnya itu semua adalah tipuan setan. Seorang wali boleh jadi ia diberi karomah yang nyata boleh jadi tidak, tapi karomah yang paling besar di sisi wali adalah istiqomah dalam menjalankan ajaran agama, bukan berarti kita mengingkari adanya karomah tapi yang kita ingkari adalah asumsi banyak orang bila ia tidak memiliki karomah berarti ia bukan wali. Oleh sebab itu Abu ‘Ali Al Jurjaany berpesan: “Jadilah engkau penuntut istiqomah bukan penuntut karomah, sesungguhnya dirimu lebih condong untuk mencari karomah, danTuhanmu menuntut darimu istiqomah”.

Betapa banyaknya para sahabat yang merupakan orang terdepan dalam barisan para wali tidak memiliki karomah. Begitu pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hamba yang paling mulia di sisi Allah waktu berhijrah beliau mengendarai unta bukan mengendarai angin, begitu pula dalam perperangan beliau memakai baju besi bahkan pernah cedera pada waktu perang uhud. Karomah bukan sebagai syarat mutlak bagi seorang wali. Karomah diberikan Allah kepada seseorang boleh jadi sebagai cobaan dan ujian baginya, atau untuk menambah keyakinannya kepada ajaran Allah, atau pertolongan dari Allah terhadap orang tersebut dalam kesulitan.

Para ulama menyebutkan seseorang yang tidak butuh kepada karomah lebih baik dari orang yang butuh kepada karomah. Bahkan kebanyakan para ulama salaf bila Mereka mendapat karomah justru Mereka bersedih dan tidak merasa bangga karena mereka takut bila hal tersebut adalah istidraaj (tipuan). Begitu pula mereka takut bila di akhirat kelak tidak lagi menerima balasan amalan mereka setelah mereka menerima waktu di dunia dalam bentuk karomah. Begitu pula bila mereka di beri karomah, mereka justru menyembunyikannya bukan memamerkannya atau berbangga diri di hadapan orang lain.
ketahuilah, selain ada wali Alloh ada juga wali syaithon !!
wali syaiton ini lah yang mengelabuhi manusia, ia mendapatkan berbagai kemampuan aneh karena bekerjasama dengan syaiton, naudzubillah. karena karomah dan sihir ada perbedaannya :
Karomah :
kejadian di luar kebiasaan yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba tanpa disertai pengakuan (pemiliknya) sebagai seorang nabi, tidak memiliki pendahuluan tertentu berupa doa, bacaan, ataupun dzikir khusus, yang terjadi pada seorang hamba yang shalih, baik dia mengetahui terjadinya (karamah tersebut) ataupun tidak, dalam rangka mengokohkan hamba tersebut dan agamanya. (Syarhu Ushulil I’tiqad, 9/15 dan Syarhu Al Aqidah Al Wasithiyah, 2/298 karya Asy Syaikh Ibnu Utsaimin—rahimahullah).
Karomah itu tanpa dipelajari, dan tidak bisa diulang-ulang dan dimainkan sesuka hatinya dan tidak bisa diwariskan atau diturunkan (sebagaimana ilmu tenaga dalam, metafisik, dkk).
Sihir :
datangnya dari syaiton dan bisa dipelajari, bisa diturunkan / diwariskan asalkan memenuhi persyaratan syaiton tsb.

Apakah Setiap yang Di Luar Kebiasaan Disebut Karamah?
Sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan, bisa dikelompokkan menjadi tiga:
- Mukjizat, terjadi pada para rasul dan nabi.
- Karamah, terjadi pada para wali Allah.
- Tipuan setan, terjadi pada wali-wali setan.
(At Tanbihaatus Saniyyah hal. 312-313).
Lalu bagaimana membedakan antara karamah dan tipu daya setan? Tentunya, dengan mengenal sejauh mana keimanan dan ketakwaan masing-masing orang yang mendapatkan hal luar biasa tersebut, maka benarlah apa yang di ucapkan oleh Imam Syafi’i rohimahulloh.
Al Imam Asy Syafi’i—rahimahullah—berkata, “Apabila kalian melihat seseorang berjalan di atas air atau terbang di udara maka janganlah mempercayainya dan tertipu dengannya sampai kalian mengetahui bagaimana dia dalam mengikuti Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam.” (A’lamus Sunnah Al Manshurah hal. 193).
K.H. Hasyim Al Asy’ari—rahimahullah—(tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, NU) berkata, “Barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah tanpa mengikuti sunnah, maka pengakuannya adalah kebohongan.” (Ad Durar Al Muntasirah, hal. 4).
2. Wali mengatahui yang ghoib ??!!
Maka keliru, pemahaman yang berkembang di masyarakat kita saat ini, bahwa wali itu identik dengan ulama atau kyai yang memiliki keajaiban dan ilmu yang aneh-aneh. Meskipun dia adalah seorang kyai yang banyak meninggalkan kewajiban syariat, pernyataannya sering merugikan dan menyakiti umat Islam, mengobok-obok syariat, bahkan menjadi penolong musuh-musuh Allah, Yahudi dan Nasrani.
“Di sisi-Nya (Allah) segala kunci-kunci yang gaib, tiada yang dapat mengetahuinya kecuali Dia (Allah)”. (QS. Al An’aam, ayat : 59). Dan firman Allah, “Katakanlah” :tiada seorang pun di langit maupun di bumi yang dapat mengetahui hal yang gaib kecuali Allah”. (QS. An Naml, ayat: 65).

Termasuk para nabi dan rasul sekalipun tidak dapat mengetahui hal yang gaib kecuali sebatas apa yang diwahyukan Allah kepada Mereka. Sebagaimana firman Allah kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Katakanlah: Aku tidak mengatakan kepada kalian bahwa di sisiku gudang-gudang rezeki Allah, dan aku pun tidak mengetahui hal yang gaib”. (QS. Al
An’aam, ayat: 50). Dan firman Allah: “Katakanlah: aku tidak memiliki untuk diriku manfaat dan tidak pula (menolak) mudarat, dan jika seandainya aku mengetahui hal yang gaib tentulah aku akan (memperoleh) kebaikan yang amat banyak dan tidak akan pernah ditimpa kejelekan”. (QS. Al
A’raaf, ayat: 188). Asumsi sesat ini telah menjerumuskan banyak manusia kejalan kesyirikan, sehingga Mereka lebih merasa takut kepada wali dari pada takut kepada Allah, atau meminta dan berdoa kepada wali yang sudah mati yang Mereka sebut dengan tawassul. Yang pada hakikatnya adalah kesyirikan semata. Karena meminta kepada makhluk adalah syirik. Tidak ada bedanya dengan kesyirikan yang dilakukan oleh kaum Nuh ‘alaihis salam. Dan orang-orang kafir Quraisy pada zaman jahiliyah. Dengan argumentasi yang sama bahwa Mereka para wali itu orang suci yang akan menyampaikan doa Mereka pada Allah. Hal inilah yang dilakukan kaum
musyrikin sebagaimana yang disebutkan Allah dalam firman-Nya: “Ingatlah; milik Allah-lah agama yang suci (dari syirik), dan orang-orang mengambil wali (pelindung) selain Allah berkata: kami tidak menyembah Mereka melainkan supaya Mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (QS. Az Zumar, ayat: 3).

3. Berlebihan kepada wali

Sesungguhnya menghormati wali bukanlah dengan berdoa di kuburannya, justru ini adalah perbuatan yang di benci wali itu sendiri karena telah menyekutukannya dengan Allah. Manakah yang lebih tinggi kehormatan seorang wali di sisi Allah dengan kehormatan seorang nabi? Jelas nabi lebih tinggi. Jangankan meminta kepada wali kepada nabi sekalipun tidak boleh berdoa. Jangankan saat setelah mati di waktu hidup saja nabi tidak mampu mendatangkan manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain setelah mati!. Kalau hal itu benar tentulah para sahabat akan berbondong-bondong ke kuburan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Mereka kekeringan atau kelaparan atau saat diserang oleh musuh. Tapi kenyataan justru sebaliknya, saat paceklik terjadi di Madinah, Umar bin Khaththab mengajak kaum muslimin melakukan shalat istikharah kemudian menyuruh Abbas bin Abdul Muthalib berdoa, karena kedekatannya dengan Nabi, bukannya Umar meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena kehidupan beliau di alam barzah tidak bisa disamakan dengan kehidupan di alam dunia.

Kemudian bentuk lain dari cara setan dalam menyesatkan wali-walinya adalah dengan memotivasi seseorang melakukan amalan-amalan bid’ah, sebagai contoh kisah yang amat mashur yaitu kisah Sunan Kalijaga, kita tidak mengetahui apakah itu benar dilakukan beliau atau kisah yang didustakan atas nama beliau, namun kita tidak mengingkari kalau memang beliau seorang wali, yang kita cermati adalah kisah kewalian beliau yang jauh dari tuntunan sunnah, yaitu beliau bersemedi selama empat puluh hari di tepi sebuah sungai kemudian di akhir persemedian beliau mendapatkan karomah. Kejanggalan pertama dari kisah ini adalah bagaimana beliau melakukan shalat, kalau beliau shalat berarti telah meninggalkan shalat berjamaah dan shalat Jum’at? adakah petunjuk dari Rasulullah untuk mencari karomah dengan persemedian seperti ini? Dengan meninggalkan shalat atau meninggalkan shalat berjamaah dan shalat Jum’at.

Banyak orang berasumsi bila seseorang memiliki atau dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dianggap sebagai wali. Padahal belum tentu, boleh jadi itu adalah tipuan atau sihir, atas bantuan setan dan jin setelah ia melakukan apa yang diminta oleh jin dan setan tersebut. Seperti ada orang yang bisa terbang atau berjalan di atas air atau tahan pedang atau bisa memberi tahu tentang sesuatu yang hilang, oleh sebab itu yang perlu dicermati dari setiap orang memiliki halhal yang serupa adalah bagaimana amalannya apakah amalannya sehari-hari menurut sunnah atau tidak?  Karena setan bisa membawa seseorang untuk terbang, atau memberi tahu para walinya sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain. Sebagaimana Dajjal yang akan datang di akhir zaman memiliki kekuatan yang luar biasa. Begitu pula para kaum musyrikin dapat mendengar suara dari berhala yang mereka sembah, pada hal itu adalah suara setan. Dan banyak sekali kejadian yang luar biasa dimiliki oleh orang-orang yang sesat begitu pula orang yang murtad dsb. Yang kesemuanya adalah atas tipuan setan.

Sebagaimana yang diriwayatkan dalam kisah seorang Nabi palsu Mukhtar bin Abi ‘Ubaid, yang mengaku sebagai Nabi. Ia mengaku bahwa dia menerima wahyu, lalu seseorang berkata kepadaIbnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas: sesungguhnya Mukhtar mengaku diturunkan kepadanya wahyu? Dua orang sahabat tersebut menjawab: benar, kemudian salah seorang dari Mereka membaca firman Allah: “Maukah kamu Aku beritakan kepada siapa turunnya para setan? Mereka turun kepada setiap pendusta yang banyak dosa “. (Asy Syu’araa, ayat: 221-222). Dan yang lain membaca firman Allah, “Dan sesungguhnya para setan itu mewahyukan kepada wali-wali Mereka untuk membantahmu”. (QS. Al An’aam, ayat: 121).

Oleh sebab itu bila seseorang mendapat ilham dia tidak boleh langsung percaya sampai ia mengukur kebenarannya dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Karena nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya dalam diri anak Adam terdapat bisikan dari setan dan bisikan dari malaikat”. (HR. A t Tirmizy no. 2988).

Berkata Abu Sulaiman Ad Daraany: “Boleh jadi terbetik di hatiku apa yang terbetik di hati Mereka (orang-orang sufi) maka aku tidak menerimanya kecuali dengan dua saksi dari kitab dan sunnah.”