PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Kebusukan Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebusukan Media. Tampilkan semua postingan
FTNAH UMAT ISLAM DI NEGERI INI

FTNAH UMAT ISLAM DI NEGERI INI

Mau menuntut keadilan dibilang MAKAR

Memberantas kemaksiatan dibilang ANARKIS DAN RADIKAL

Pakai kaos bertuliskan lafadz Tauhid dicurigai anggota ISIS

Ngadain pengajian malah dibubarin dituduh ANTI PANCASILA DAN BHINEKA TUNGGAL IKA

Mengajak memilih pemimpin MUSLIM dibilang SARA, JANGAN BAWA BAWA AGAMA dan RASIS

Mengingatkan untuk tidak mengikuti ritual agama lain dibilang INTOLERAN

Kita ini seperti digiring untuk takut meyakini perintah agama, lalu mentertawakan agama sendiri, membenci ulama, hingga akhirnya benci terhadap ajaran agama Islam.

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِـُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٲهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ
.
"Mereka hendak memadamkan cahaya [agama] Allah dengan mulut [ucapan-ucapan] mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya"
(QS Ash-Shof: 8)

Gunawan al Farizi  -

Framing Media yg Gagal di Ujung Kepemimpinan yg Gagal

Framing Media yg Gagal di Ujung Kepemimpinan yg Gagal

"Kalijodo kembali dikuasai preman. Mesin parkir raib." (Trib*nnews 24/4)

Maksud hati ingin memframing opini masyarakat bahwa tanpa kepemimpinan si penista agama, maka Jakarta kembali semrawut. Sayangnya, framing ini terlalu prematur. Gubernur baru belum bekerja. Bahkan, pelantikannya saja masih 6 bulan ke depan. Artinya, kembalinya premanisme di Kalijodo misalnya seperti diberitakan, masih dalam kewajiban dan tanggung jawab gubernur yg sekarang.

Di sisi lainnya, framing ini justru menguatkan kecurigaan bahwa akan ada skenario dan rekayasa kejadian premanisme pasca lengsernya gubernur petahana sang penista agama. Akan ada segala macam daya dan upaya untuk mengganggu stabilitas daerah dan juga program pembangunannya.

Curigai munculnya tagihan janji kampanye yg juga prematur. Curigai negosiasi seorang Menteri tentang reklamasi yg juga prematur. Curigai semua yg datangnya prematur dah tiba-tiba. Kita sedang berada di sebuah kondisi yg serba terbalik sebagaimana digambarkan oleh filusuf terkenal dari Bikini Bottom University, Sponge Bob SquarePant.

lbaratnya begini, ada seorang preman kemudian diangkat menjadi petugas keamanan di sebuah komplek perumahan. Kemudian dia berseloroh, "Sejak saya menjadi petugas keamanan, komplek perumahan ini aman. Entah kalau nanti saya diberhentikan."

Dari seloroh petugas keamanan di atas, siapakah sebetulnya yg menyebabkan kondisi tidak aman di komplek perumahan itu sebelumnya? Dan siapakah tersangka kondisi tidak aman di saat yg akan datang? Kita sudah tahu bersama jawabannya, kan?

***
Wa makaru wamakarallahu Wallahu khairul makirin.

#AMl

CARA PRAKTIS MEMISKINKAN MUSUH AGAMA

CARA PRAKTIS MEMISKINKAN MUSUH AGAMA

Kalau ada media, tokoh, partai, lembaga atau apa saja; mereka SEENAK PERUT menuduh Ummat Islam, memfitnah, membuat kebohongan publik.
.
Orang-orang begituan bisa dituntut ke pengadilan untuk PENCEMARAN NAMA BAIK. Misal dituntut kerugian 100 M dan sejenisnya.
.
Kalau mereka kalah, bisa menanggung MALU, bayar kerugian, kita dapat dana sesuai tuntutan yang dikabulkan. Nanti bisa dipakai sumbangan sosial.
.
Cara praktis MEMISKINKAN kaum anti Islam.
Sebenarnya timbul pertanyaan dalam hati saya,yg sampai sekarang belum ketemu jawabanya.
Bukankah Media sekuler sudah sering memfitnah Umat Islam?kenapa gak ada satupun ormas atau lembaga apapun yg menuntut ke ranah hukum?
Metro Tv,Tv One Koran jawa pos Sindo dll juga sering memuat berita bohong.
Kenapa g dituntut?
Kemana peran Pengacara Muslim? TIM PEMBELA MUSLIM?
Ulil ,Guntur Romli,Saidiman dll juga sudah sering melecehkan Islam?
Kenapa gak dibawa ke ranah hukum?
Buktinya sudah banyak berceceran di sosmed.
Bahkan ada bukti video. 
Kenapa cara mudah seperti ini gak pernah dilakukan? Tinggal screenshot dan laporkan ke ranah hukum.
Dengan Sumber Sama, Mengapa JUDUL HEADLINE KORAN Bertolak belakang?

Dengan Sumber Sama, Mengapa JUDUL HEADLINE KORAN Bertolak belakang?

*Notes fb Rusdi Mathari
PAMFLET. Judul kepala berita beberapa koran yang terbit di Jakarta pada Jumat silam [6 November], berbeda-beda padahal isu dan sumbernya relatif sama. Sebagian besar menyebut perekonomian negara ini sedang lesu, dan hanya sebagian kecil yang menulis sebaliknya.
Beberapa orang lantas mempersoalkan dan memperbandingkan judul-judul koran-koran itu, dan yang paling menarik perhatian adalah judul Kompas dan Sindo, sebab dua koran itu menulis judul yang seolah saling berhadapan: Kompas dengan “Perekonomian Mulai Tumbuh” dan Sindo dengan “Ekonomi Lesu, Pengangguran Melonjak.” Beberapa orang yang menyebarkan perbandingan kedua koran, menyertakan pengantar “mana yang lebih dipercaya?” atau semacam itu, dan tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu tendensius.
Bila membaca dengan cermat kedua berita itu, baik Kompas maupun Sindo sebetulnya menggunakan sumber utama yang sama: BPS. Kompas mengutip keterangan Deputi Kepala Badan Pusat Statistik Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Kecuk Suharyanto, dan Sindo mengutip keterangan Direktur Statistik Kependudukan dan Ketenagakerjaan BPS, Razali Ritonga, selain Kecuk. Redaksi kedua koran lantas melengkapi berita masing-masing dengan sumber-sumber lain.
Kompas memilih pengamat ekonomi UGM, Tony Prasetiantono; Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Hariyadi Sukamdani; Menteri Perdagangan, Thomas Lembong; dan siaran pers dari Deputi Direktur Departemen Komunikasi BI Andiwiana. Sementara redaksi Sindo memilih keterangan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution; pendapat dari Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance [Indef], Enny Sri Hartati; dan keterangan dari Sekretaris Kabinet Pramono Anung.
Dengan sumber utama [BPS] yang sama, berita yang muncul di Kompas dan Sindo semestinya sama, tapi seperti yang sudah bisa dibaca pada kepala berita kedua koran pada Jumat lalu, yang terjadi adalah sebaliknya: bertentangan. Problemnya, sejak lead hingga empat paragraf berikutnya, Kompas tidak menuliskan siapa sumbernya untuk tidak menyebut sumbernya tidak ada.
Sumber Kompas baru muncul pada paragraf kelima dengan mengutip pernyataan Kecuk yang menyatakan, “Pertumbuhan konsumsi rumah tangga-yang menopang PDB dengan kontribusi 54,98 persen-melambat, dari 5,08 persen pada triwulan III-2014 menjadi 4,96 persen pada triwulan III-2015.” Ada pun Sindo, menulis menulis lead-nya dengan sumber dan pernyataan yang jelas: BPS dan Razali.
Pernyataan-pernyataan yang diletakkan di bagian-bagian awal berita Kompas yang menyatakan perekonomian mulai membaik, karena itu bisa disebut sebagai kesimpulan redaksi Kompas, meskipun bila ditelusuri, pernyataan-pernyataan itu kemungkinan besar salah satunya bersumber dari pernyataan Darmin yang dalam berita itu, justru tidak dikutip oleh Kompas. Keterangan Darmin itu bisa diketahui, sebab Sindo mengutip utuh dan jelas pernyataan Darmin.
Pernyataan “Secara kumulatif, hingga kuartalIII/ 2015, ekonomiIndonesia tumbuh 4,71%” yang ditulis Sindo, adalah relatif sama dengan lead yang ditulis Kompas “Perekonomian Indonesia mulai membaik. Produk domestik bruto triwulan III-2015 tumbuh 4,73 persen, sedikit lebih baik dibandingkan dengan triwulan II-2015 yang sebesar 4,67 persen...” Perbedaannya, setelah pernyataan itu, Sindo melengkapinya dengan pernyataan langsung dan jelas dari Darmin: ”Pertumbuhan ekonominya membaik dari kuartal sebelumnya, tapi tidak cukup tinggi menyerap tenaga kerja. Akibatnya, penganggurannya naik.” Dan tidak dengan Kompas.
Koran itu sebaliknya menjadikan pernyataan yang tidak jelas sumbernya, untuk dijadikan judul kepala berita [halaman satu]: “Perekonomian Mulai Tumbuh.” Celakanya, judul itu kemudian bertabrakan dengan penjelasan dari sumber-sumber yang dipilih Kompas yang sebagian besar menyatakan kondisi perekonomian negara ini sesungguhnya memburuk. Pernyataan Lembong yang menyatakan “Pertumbuhan ekonomi masih lumayan positi
Ketika Media ikut berpihak dalam menggiring opini Publik

Ketika Media ikut berpihak dalam menggiring opini Publik

Lingkarannews.com- Media kini tak ubah menjadi sebuah tunggangan politik sebuah kepentingan, dari menjadi pembangun karakter tentang seorang pemimpin hingga ikut berpihak dalam salah satu pilihan politik.

Netralitas dan independesi Media kini banyak dipertanyakan

Bergerak dan mengarahkan sesuai dengan kepentingan yang ‘membayar’, ini jelas menunjukkan asas simbiosis mutualisme (asas salaing membutuhkan); kondisi persaingan media yang semakin ketat, ditambah kondisi ekonomi yang terus melambat sehingga publik mulai sedikit mencari jawaban di media (daya beli), mereka (para pemilik media) harus berpikir dan memutar otaknya bagaimana caranya bisa mendapatkan kucuran modal bantuan.

Kucuran modal bantuan atau kucuran dana abadi untuk media bisa terus hidup dan di bantu dengan sistem pengiklanan dari perusahaan afiliasi; adalah tidaklah gratis

Tidak gratis artinya media tersebut mulai harus bisa menjadi tameng pertahanan citra atau image sebuah kepentingan, juga bersamaan menjadi tunggangan penggiringan opini publik atas sebuah kepentingan

Media butuh keberpihakan untuk tetap hidup

Idealisme serta hal lainnya, adalah sebuah ‘mimpi’ manis disiang bolong pada saat ini.

Bahkan kini media sengaja dibangun demi kepentingan kekuatan politik tertentu, bos bos media adalah pemain politik secara otomatis medianya menjadi ‘brand’ atasnama diri dan kepentingan politiknya sendiri.

Media yang hidup karena bosnya adalah pemain politik, bergerak menunggu angin yang ditiup sang bos itu ke arah kepentingan politik yang mana, maka disanalah media itu terwarnai

Sementara media yang hidup dengan harapan menjadi bagian kepentingan politik tertentu, akan selalu menunggu pesanan siapa yang membayar, peluru peluru pembangunan opini itu diarahkan kemana.

Kini media tak ubahnya sebuah mesin penghasil uang dengan misi kepentingan yang sudah diemban oleh para pemiliknya; ikuti arah angin nya kemana, idealisme sudah lama ditinggalkan.

Victim Playing Ala Jokowi Cs

Victim Playing Ala Jokowi Cs

Entah sampai kapan teknik pengalihan simpati ini akan terus digunakan. Mungkin sampai masyarakat cukup jeli dan pintar dalam membaca situasi (social and political quetion).

Pada awalnya dilakukan sederhana. Dalam skala kecil. Misalnya, dulu sempat ada kasus pembakaran posko relawan "you know who". Kemudian dihebohkanlah oleh media. Agar terkesan mereka menjadi korban dan menarik simpati dan dukungan bahwa mereka dizhalimi. Tentunya, berharap bahwa masyarakat kemudian menyalahkan kubu satunya sebagai tersangka.

Dan itu berhasil. Opini terbangun. Namun siapa sebenarnya pelaku pembakarannya? Mereka sendirilah yg melakukannya.

Pernah mendengar jargon "Hanya Kecurangan yg Dapat Mengalahkan Kita"? Ini juga adalah teknik victim playing dalam skala yg lebih besar dan 'rumit'. Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Dan rupanya, victim playing juga masih digunakan untuk mendongkrak popularitas penguasa sekarang yg cenderung jatuh hingga 40% saja. Di tengah serapan APBN yg juga masih rendah. Di tengah ketidakmampuan (baca: ketidakpedulian) menangani bencana asap dan lainnya. Sekarang mereka bermain opini sebagai korban dengan pernyataan : "Jangan bakar hutan untuk menggulingkan pemerintahan".

Hey... Ayo buktikan saja perusahaan pembakar hutan itu. Jangan disembunyikan. Ada di pihak mana para pembakar durjana itu? Semua sangat bisa terjawab secara terbuka.

Mereka lupa, dalam psikologi introgasi, yg membuat statement atau opini atau alibi, justru yg pertama kali dicurigai.

Sudahlah, tidak perlu bersembunyi di balik victim playing. Tidak perlu juga bersembunyi di balik aksi para relawan kemanusiaan dalam menangani bencana ini. Tidak perlu menunjuk hidung si itu dan si ini. Buktikan saja kalian bekerja. Jika kalian bersih, kenapa harus risih? Jika benar, kenapa harus gentar? Jika memang tidak takut, jangan jadi pengecut.

Camkan, kalian, dengan kekuasaan kalian, sangat mungkin dapat membuat tipu daya. Tapi ingat, Allah Maha Melihat. Allah Maha berkuasa membongkar segala tipu daya.

Saran saya, bertaubat sebelum segala sesuatunya terlambat.

#MelawanMafiaPembakarHutan
#SelamatkanIndonesia
#LintasanPikiran

-AMI-

Buramnya Mata Najwa… Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok

Buramnya Mata Najwa… Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok

Belajar dari pengalaman, jika memilih pilihlah yang muslim dibandingkan non-muslim, jika anda memegang pendapat ulama yang boleh ikut memilih pada keadaan tertentu
_______________________________
Buramnya Mata Najwa… [Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok]
Oleh: Firdaus Cahyadi
Blogger, Pemerhati Media

Islamedia – Saya termasuk penggemar acara Mata Najwa di Metro TV. Acara Mata Najwa adalah sebuah talk show yang kritis. Apalagi pemandunya adalah Najwa Shihab, perempuan yang cerdas dan seringkali membuat narasumbernya kehabisan jawaban saat dikejar pertanyaan olehnya.

Namun, kemarin malam (7/10), saya agak kaget melihat Mata Najwa dengan tema, “Para Penantang Ahok”. Semula saya memperkirakan di acara talkshow itu akan terjadi perbincangan yang lebih substantif terkait kebijakan-kebijakan Ahok sehingga beberapa orang memilih menjadi penantangnya.

Semula saya juga menduga bahwa persoalan-persoalan yang selama ini mendapat perlawanan dari publik, seperti; pembangunan 6 jalan tol dalam kota, reklamasi pantai utara Jakarta, Proyek Giant Sea Wall, penggusuran warga miskin kota, penanganan banjir, sampah akan menjadi perbincangan seru di talkshow itu. Karena dugaan itulah, saya sengaja menunda makan malam hanya untuk menunggu acara ini.

Namun, dugaan saya salah. Kali ini Mata Najwa justru seperti menghindar dari diskusi-diskusi yang bisa mencerdaskan khalayak. Mata Najwa seperti menggiring talkshow kali ini hanya membahas figur Ahok dari sisi kesantunan dalam bicara dan isu etnis serta agama. Najwa Sihab tidak mengarahkan diskusi mengenai kebijakan Ahok yang kontroversial. Seakan selama ini pihak-pihak yang menantang Ahok tidak ada yang mempermasalahkan kebijakannya. Mereka menantang Ahok karena persoalan kesantunan dalam bicara dan perbedaan etnis serta agama.

Marco Kusumawijaya, salah satu pihak yang diposisikan sebagai penantang Ahok, sempat mengangkat persoalan-persoalan yang substansial dari kota Jakarta, seperti lingkungan hidup, budaya dan keterlibatan warga dalam pengambilan kebijakan. Namun, sayang Najwa Shihab tidak begitu tertarik menggali lebih dalam persoalan-persoalan substantif pengelolaan kota Jakarta itu.

Frame (Bingkai) yang dipakai dalam talkshow Mata Najwa kali ini adalah “Tidak Ada yang Salah dalam Kebijakan Ahok di Jakarta”.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan Ahok yang mendorong pembangunan 6 tol dalam kota, padahal pembangunan tol baru justru akan merangsang penggunaan kendaraan bermotor pribadi, dan akhirnya akan menambah kemacetan serta polusi udara di Ibukota.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan reklamasi dan proyek Giant Sea Wall dari sisi keberlanjutan lingkungan hidup dan sosial.

Mata Najwa kali ini juga gagal menggali lebih dalam ritual penggusuran warga miskin kota yang justru dilestarikan oleh Ahok.

Dalam hati saya bertanya, kenapa Mata Najwa kali ini tidak kritis? Apakah buramnya Mata Najwa dalam episode, “Para Penantang Ahok”, terkait dengan santernya kabar bahwa Partai Nasdem siap dukung Ahok dalam Pilkada Jakarta? Entahlah.

Yang jelas pada episode ini Mata Najwa nampak buram dan tidak memberikan pencerahan ke khalayak. Mata Najwa kali ini lebih mirip acara kampanye Ahok untuk mempertahankan kekuasaannya daripada sebuah diskusi yang mencerdaskan. Sayang sekali…

Rusia Membasmi ISIS ?

Rusia Membasmi ISIS ?

Membasmi ISIS atau Daesh (tukang jagal) hanya kedok Putin di media-media melalui konferensi pers dan bualan diplomatik para politikus penipu.

Karena basis militer rezim Assad di barat Suriah (Latakia, Tartous, Damaskus) jauh dari pusat Daesh di Raqqah, jadi tak ada penerjunan "ground army" rezim/sekutu Rusia yang masif untuk merebut wilayah dari Daesh. Teori serangan udara itu sederhana, tanpa pasukan darat, serangan udara pesawat Sukhoi, rudal jarak jauh dll itu tak akan menghasilkan apa-apa.

Justru serangan udara Rusia dan Assad lebih banyak menyasar pejuang Suriah yang memang berhadapan langsung dengan tentara darat rezim.

So. bagi si Rusia yang ingin dicapai adalah mempertahan rezim pro Moskow di Suriah. Banyak skenario dan tahapan yang bisa dibuat, diantaranya:
1. Secepatnya memperkuat rezim Assad dari gempuran oposisi
2. Mengamankan wilayah yang dikontrol secara de facto oleh rezim, seluas mungkin
3. Menyiapkan transisi politik dan membentuk koalisi nasional (pemerintah boneka baru), bisa saja Basyar diturunkan tapi tidak akan mengubah pemerintahan yang pro Rusia
4. Memecah Suriah jadi 2 negara (ini mungkin) atau menjadikan Suriah sebagai negara sektarian (bagi-bagi jatah politik) seperti Lebanon dan Irak.

-----------------------------------
Mari membantu perjuangan Ahlusunnah Suriah melalui Misi Medis Suriah dengan menyisihkan harta kita. Salurkan donasi terbaik anda melalui rekening berikut:

Suriah (Umum)
- MANDIRI 900 0019 330 720 (Kcp. Katamso, Yogyakarta)
- BCA 1691 967 749 (Kcu. Ahmad Dahlan, Yogyakarta)
- BRI 0029 0110 999 7500 (Kcu. Cik Ditiro,Yogyakarta)
- BNI 0317 563 523 (Kcp. Parang Tritis,Yogyakarta)
Semua atas nama IKRIMAH, Konfirmasi (opsional): Ikrimah 081809406405

Suriah (Khusus pesantren)
@100 dolar permeter persegi pembangunan
- BCA 0201251621 (KCP Teluk Betung Lampung)
- MANDIRI 114 000 511 3413 (KC Bandar Lampung)
- BRI 5590-01-010972-53-8 (unit Bandar Agung Lampung)
Semua atas nama DIMAS ADITYO, Konfirmasi: Akhi Dimas Adityo 085758894656 (WA) atau 081367342714 (SMS-Telp)

Jazakumullah khairal jaza
Allah Yubaarik fiikum wa fii maalikum