PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Liberal ?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liberal ?. Tampilkan semua postingan
Makna Liberalisme by '' Ustad Azam ''

Makna Liberalisme by '' Ustad Azam ''

Atas nama paham kebebasan (liberalisme), engkau boleh-boleh saja menyatakan pendapat. Dan atas nama kebebasan pula kami juga boleh-boleh saja menyanggahnya.

Atas nama kebebasan, engkau bisa saja melakukan ajaran agama dan berpemahaman sekehendakmu. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh mengingatkanmu pada pemahaman yg benar.

Atas nama kebebasan, engkau boleh saja berkiblat ke Barat, Timur, Selatan bahkan Utara. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh hanya berkiblat kepada syari'at-Nya dan mengajak kalian turut serta.

Atas nama kebebasan, engkau boleh saja bermaksiat. Dan atas nama kebebasan, kami juga boleh memperingatkanmu, mendakwahimu, dan jika engkau tetap melanggar, kami boleh saja menghukummu.

Jika kalian keberatan, artinya kalian tidak sepenuhnya berpaham kebebasan (liberalisme).

Bebas Destruktif

Bebas Destruktif

Apakah kebebasan selalu destruktif? Nggak juga. Problem muncul krn kebebasan tdk bs membatasi dirinya sendiri. 

 Apakah manusia punya kebebasan dlm menentukan nasibnya sendiri? Jawabannya ya dan tidak

 Ya, dalam artian memang manusia diberikan hak dan kemampuan utk memilih. 

 Tidak, dalam artian bhw pd hakikatnya Allah SWT telah menjelaskan yg haq utk dipilih dan yg bathil utk ditinggalkan. 

 Dgn kata lain, manusia bisa saja memilih yg bathil, namun kelak akan dipertanggungjawabkan.

 Dlm pertanggungjawaban itu, yg haq takkan jd bathil dan yg bathil takkan jd haq.

 Biasanya manusia mengalami ilusi krn tdk bisa 'melepaskan diri' dari dunia ini.

 Kata “dunia” dlm bhs Indonesia diserap dr bahasa arab “dunya” yg artinya “yg dekat”.

 Mengapa org tertipu dgn dunia? Ya karena ia dekat. Akhirat itu jauh, makanya banyak yg lupa.

 Krn dunia ini dekat dan ada di hadapan mata, maka ada yg menyangka bahwa dunia inilah satu2nya realitas. 

Akibatnya, eksistensi kerap kali disalahpahami sebagai kebenaran. 
 Sederhananya, keberadaan sesuatu dianggap sbg justifikasinya. 

 Dlm paham pluralisme agama, misalnya, terutama bagi penganut tren Hikmah Abadi, logika ini jg digunakan. 

 Mrk katakan, “jika agama2 lain itu bathil, maka mengapa Allah membiarkannya ada selama ribuan tahun?” 

 Mungkin mrk lupa bhw Iblis pun ada, padahal ia dipandang sbg makhluk yg kafir dan zalim o/ Allah. 

Artinya, hanya krn sesuatu itu ada (exist), tdk berarti hal itu dpt dibenarkan. 

 Logika semacam ini sejalan – anehnya – dgn logika sebagian kaum ateis. 

 Mrk berkata, “kalau Tuhan itu ada, kenapa ada peperangan, penderitaan dsb di dunia?”


 Mungkin itulah sebabnya mengapa liberalis yg pluralis, walau ngaku beragama, tp dekat dgn org2 ateis. Logikanya mirip. 

 Demikianlah org2 yg tertipu dgn dunia, atau menganggap bhw dunia ini satu2nya realitas.


Akmal sjafril
Ngaku Muslim Kok Liberal???

Ngaku Muslim Kok Liberal???


Dari: Yati 'Pecinta Hujan'

Sebagai muslim, sudah sepantasnya berpikiran, berperasaan, berperilaku yang mencirikan pribadi seorang muslim. Lagian, ngapain juga ada definisi dan istilah berbeda jika ciri-cirinya sama pada semua hal yang sudah dibedakan. Maka, ketika ada istilah muslim (termasuk mukmin), fasik, munafik, dan bahkan musyrik dan kafir, jelas ada maksudnya. Nggak bisa disama-samain bahwa semua itu benar atau semua salah. Kalo gitu nggak usah ada definisi aja. Betul?

Coba, apa yang mendasari bahwa kamu bisa membedakan antara harimau, beruang, burung, anjing, kucing, dan gajah? Bisa karena bentuknya, bisa karena perilakunya, bisa karena sifatnya dan sejenisnyalah sehingga hewan- hewan tersebut diberikan nama berbeda karena perilaku dan karakternya berbeda. Lalu, jika ada yang bilang bahwa harimau dan gajah sama aja, baik perilaku dan karakternya, kira- kira apa yang akan kamu lakukan kepada orang yang nyampein pernyataan seperti ini? Aneh! Mungkin istilah ini bisa jadi salah satu yang kamu lontarkan menyikapi pendapat orang tersebut. Tetapi akan lain kalo ada orang yang bilang bahwa baik gajah maupun harimau dan hewan lainnya meskipun berbeda-beda bentuk dan karakter, tetap saja nggak memiliki akal. Ini baru pernyataan yang benar. Tetapi sayangnya kita tidak sedang ngobrolin hal itu. Bro en Sis, definisi iman dan kufur jelas. Begitupun perbedaan antara tauhid dan syirik juga nyata terang benderang. Maka, ketika ada orang yang menyamakan bahwa orang yang beriman dan orang yang kafir akan sama- sama masuk surga, itu adalah pernyataan yang kacau nggak masuk akal. Begitu juga jika ada orang yang menyamakan antara orang yang mengesakan Allah Swt dengan orang yang menyekutukan Allah Swt., berarti orang itu nggak ngerti definisi yang telah dibuat. Lalu, jika mukmin dan kafir dianggap sama dan bisa masuk surga, orang yang musyrik dan yang mengesakan Allah dianggap tidak berbeda, buat apa ada surga dan neraka serta ada istilah benar dan salah? Iya nggak sih?

Nah, sesuai dengan judul MGTS kali ini, ngaku muslim tapi liberal juga adalah sebuah keanehan. Gejala split personality alias pecah kepribadian. Muslim ya muslim, liberal ya liberal. Nggak bisa digabungkan istilah itu. Sebab, sudah jelas putih adalah putih dan hitam adalah hitam. Tak bercampur keduanya kecuali yang menginginkannya.

Muslim adalah muslim, liberal juga adalah liberal. Secara definisi sederhana juga sudah jelas, muslim artinya taat, sementara liberal inginnya bebas tak terikat aturan. Tuh kan, jelas bertolak belakang, bukan lagi beda. Bahkan itu terkategori bertentangan dan melakukan penentangan. Sehingga memang menjadi aneh jika ada yang ngaku muslim tetapi pikiran dan perasaannya liberal. Tak mau tunduk pada syariat Islam. Ngikutin hawa nafsunya sendiri aja. Yee.. ini sih biasanya hanya terjadi pada orang yang belum kuat imannya.

Film “?” contoh nyata kerusakan akidah Bro en Sis, saya memang belum pernah nonton film ini. Jika pun berpendapat bahwa film garapan Hanung Bramantyo tersebut merusak akidah kaum muslimin, saya menyandarkan kepada pendapat mereka yang sudah menonton film tersebut secara langsung. Saya membaca, insya Allah dengan cermat pendapat-pendapat KH Cholil Ridwan dari MUI, juga Dr Adian Husaini, penulis dan peneliti di INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations). Beliau berdua nonton secara langsung gala premier film tersebut pada 6 April 2011 di Jakarta. Saya insya Allah meyakini bahwa pengamatan mereka terhadap film itu sudah benar. Dengan demikian, meski saya belum menonton film tersebut, cukup bagi saya untuk ikut mengambil kesimpulan bahwa film tersebut berpotensi merusak akidah umat Islam, terutama yang keimanannya masih lemah. Apa sih inti pesan yang ditaburkan di film yang skenarionya ditulis oleh nonmuslim itu?

Intinya adalah menebarkan ajaran pluralisme agama. Apa itu? Hmm.. gini deh sederhananya: pluralisme sering diartikan sebagai paham yang mentoleransi adanya ragam pemikiran, agama, kebudayaan, peradaban dan lain-lain. Munculnya ide pluralisme didasarkan pada keinginan untuk melenyapkan ‘ klaim keberanan’ (truth claim) yang katanya dianggap menjadi pemicu munculnya sikap ekstrem, radikal, perang atas nama agama, konflik horisontal, serta penindasan atas nama agama. Oya, menurut kaum pluralis, konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama baru sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya yang paling benar. Lha, terus buat apa ada iman dan kufur ada tauhid dan syirik? Jelas banget Bro, para pegiat pluralisme agama adalah orang-orang yang hendak menghancurkan keyakinan umat bergama terhadap agamanya. Apa yang ada di film “?”( baca: tanda tanya, karena memang produser dan sutradaranya belum menentukan judulnya, buktinya disediakan sayembara bagi yang bisa bikin judul bagi film tersebut) sehingga dikategorikan film sesat dan menyesatkan? Sekilas aja ya. Sebenarnya banyak contoh adegan yang merusak, tapi saya pilih satu yang cukup serius dan diberikan penekanan khusus oleh Dr Adian Husaini. Saya ambil dari webiste www.insistnet.com.

Dr Adian Husaini menuliskan sebagai berikut: Alkisah, Rika, seorang istri yang kecewa terhadap suami. Rika memutuskan pindah agama, dari Islam menjadi Katolik.

Ia berujar, bahwa kepindahan agamanya bukan berarti mengkhianati Tuhan. Meskipun Katolik, Rika sangat toleran. Anaknya, – masih kecil, bernama Abi –dibiarkannya tetap Muslim. Bahkan, ia mengantar jemput anaknya ke masjid, belajar mengaji al- Quran. Di bulan puasa, dia temani dan dia ajar Abi berdoa makan sahur. Di Film “?” (Tanda Tanya), Rika ditampilkan sebagai sosok ideal: murtad dari Islam, tapi toleran dan suka kerukunan. Pada segmen lain, secara verbatim Rika mengatakan, BAHWA agama-agama ibarat jalan setapak yang berbeda- beda tetapi menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan. Kata Rika mengutip ungkapan sebuah buku, “… semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan. ” Mulanya, kemurtadan Rika tidak direstui ibunya. Anaknya yang Muslim pun awalnya menggugat. Tapi, di ujung film, Rika sudah diterima sebagai “ orang murtad” dari Islam. Bahkan, ada juga yang memujinya telah mengambil langkah besar dalam hidupnya. Kisah dan sosok Rika cukup mendominasi alur cerita dalam film “?” garapan Hanung Bramantyo ini. Rika tidak dipersoalkan kemurtadannya. Padahal, dalam pandangan Islam, murtad adalah kesalahan besar.

Saat duduk di bangku SMP, saya sudah menamatkan satu Kitab berjudul Sullamut Tawfiq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari Imam Nawawi al-Bantani, sehingga beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya dipasangkan dengan Kitab Safinatun Najah. ( www.insistnet.com) Murtad dari Islam adalah haram Bro en Sis, saya setuju dengan cara pandang Dr Adian Husaini dalam menyikapi film tersebut. Sebab, saat ini orang dengan mudah gonta-ganti agama atau bahkan tidak beragama sama sekali. Jika seseorang murtad alias keluar dari agama Islam (kasusnya bisa pindah ke agama lain atau memilih tidak beragama) maka dihukumi haram dan jika diperingatkan tidak mau, negara berhak membunuhnya agar orang lain tidak mencontoh perbuatan murtad orang tersebut.

Imam Bukhari meriwayatkan dari‘Ikrimah yang berkata, “Dihadapkan kepada Amirul Mukminin ‘Ali ra orang-orang zindiq, kemudian beliau ra membakar mereka. Hal ini disampaikan kepada ‘Ibnu ‘Abbas dan ia berkata, “Seandainya aku (yang menghukum), maka aku tidak akan membakarnya karena larangan dari Rasulullah saw. dimana beliau bersabda: “ Janganlah kalian mengadzab (menghukum) dengan ‘ adzabnya Allah.” Dan aku (Ibnu ‘Abbas) akan membunuhnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw., “ Barangsiapa mengganti agamanya (murtad), maka bunuhlah dia. ”

Membunuh laki-laki yang murtad berdasarkan dzahir hadis tersebut. Sedangkan membunuh wanita yang murtad berdasarkan keumuman hadis. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “ Barangsiapa mengganti (agamanya)”. Sedangkan lafadz “man” termasuk lafadz umum. Juga diriwayatkan oleh Daruquthniy dan Baihaqiy dari Jabir, “ Bahwa Ummu Marwan telah murtad. Rasulullah saw. memerintahkan untuk menasihatinya agar ia kembali kepada Islam. Jika ia bertaubat (maka dibiarkan), bila ia tidak, maka dibunuh.” (Abdurrahman al- Maliki, Sistem Sanksi dalam Islam, hlm. 128-129) Kalo sekarang gimana? Kan nggak ada negara Islam? Ya, tidak boleh ada yang menghukumya dengan cara seperti itu. Tetapi mereka akan RUGI di akhirat jika ketika mati masih kafir. Why? Karena akan diazab oleh Allah Swt. sesuai dengan firmanNya (yang artinya): “Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS al- Baqarah [2]: 217) Ih, naudzubillah min dzalik ya. Jangan sampe gara-gara nonton film itu kamu jadi murtad. Nggak banget lah! Ok deh Bro en Sis, kita kudu kuatin iman kita kepada Allah Swt. Sebagai muslim kita nggak boleh (bahkan haram) untuk menjadi liberal alias tidak mau taat kepada aturan Allah Swt. dan RasulNya. Apalagi jika menjadi kafir. Jadi, yuk kita giat perdalam ajaran Islam, lalu pahami dan amalkan agar keimanan kita kian kokoh tak tergoyahkan. Insya Allah.