PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Liberalisme Harus Dimusnahkan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liberalisme Harus Dimusnahkan. Tampilkan semua postingan
Bebas Destruktif

Bebas Destruktif

Apakah kebebasan selalu destruktif? Nggak juga. Problem muncul krn kebebasan tdk bs membatasi dirinya sendiri. 

 Apakah manusia punya kebebasan dlm menentukan nasibnya sendiri? Jawabannya ya dan tidak

 Ya, dalam artian memang manusia diberikan hak dan kemampuan utk memilih. 

 Tidak, dalam artian bhw pd hakikatnya Allah SWT telah menjelaskan yg haq utk dipilih dan yg bathil utk ditinggalkan. 

 Dgn kata lain, manusia bisa saja memilih yg bathil, namun kelak akan dipertanggungjawabkan.

 Dlm pertanggungjawaban itu, yg haq takkan jd bathil dan yg bathil takkan jd haq.

 Biasanya manusia mengalami ilusi krn tdk bisa 'melepaskan diri' dari dunia ini.

 Kata “dunia” dlm bhs Indonesia diserap dr bahasa arab “dunya” yg artinya “yg dekat”.

 Mengapa org tertipu dgn dunia? Ya karena ia dekat. Akhirat itu jauh, makanya banyak yg lupa.

 Krn dunia ini dekat dan ada di hadapan mata, maka ada yg menyangka bahwa dunia inilah satu2nya realitas. 

Akibatnya, eksistensi kerap kali disalahpahami sebagai kebenaran. 
 Sederhananya, keberadaan sesuatu dianggap sbg justifikasinya. 

 Dlm paham pluralisme agama, misalnya, terutama bagi penganut tren Hikmah Abadi, logika ini jg digunakan. 

 Mrk katakan, “jika agama2 lain itu bathil, maka mengapa Allah membiarkannya ada selama ribuan tahun?” 

 Mungkin mrk lupa bhw Iblis pun ada, padahal ia dipandang sbg makhluk yg kafir dan zalim o/ Allah. 

Artinya, hanya krn sesuatu itu ada (exist), tdk berarti hal itu dpt dibenarkan. 

 Logika semacam ini sejalan – anehnya – dgn logika sebagian kaum ateis. 

 Mrk berkata, “kalau Tuhan itu ada, kenapa ada peperangan, penderitaan dsb di dunia?”


 Mungkin itulah sebabnya mengapa liberalis yg pluralis, walau ngaku beragama, tp dekat dgn org2 ateis. Logikanya mirip. 

 Demikianlah org2 yg tertipu dgn dunia, atau menganggap bhw dunia ini satu2nya realitas.


Akmal sjafril

Toleransi Akan Terjadi di Seluruh Dunia , Jika dan Hanya Jika Islam yang Memimpin

Beda ya nasib saat muslim jd minoritas di negara-negara mayoritas kafir dg saat kafir jd minoritas di negara mayoritas muslim seperti Indonesia.

Hanya jk muslim jd mayoritas, toleransi terjadi. Jk muslim minoritas, toleransi jd mustahil.

Enak ya jd minoritas di tengah mayoritas muslim, proporsi jumlah gerejanya terbanyak di dunia
Hasyim: gereja di indonesia terbanyak di asia | negara mayoritas muslim terbesar dunia. #toleran http://t.co/mnjjdxsisi

Bahkan sedikit aja jumlahnya naik, minoritas akan membantai muslim. Pembantaian muslim ambon dan poso contohnya.

Toleransi akan terjadi di seluruh dunia , jika dan hanya jk islam yg memimpin
Karena cuma islam yang punya konsep “laa ikraha fid diin”

Cuma islam yang punya aturan koeksistensi
Toleransi baru akan terjadi jk dunia dipimpin islam


Perbedaan ketika islam memimpin spanyol dan ketika kristen memimpin spanyol

Perbedaan perlakuan tentara salib dan tentara muslim 

Jk islam yg jd aturan dunia kembali, toleransi akan kembali hadir . Hanya islam yg cocok jd ideologi dunia

Barat terbukti tdk cocok memimpin dunia , membawa peradaban manusia terjun bebas , pragmatisme menjadi karakter

Yahudi tdk cocok memimpin dunia, krn ia agama ras , bukan untuk semua umat manusia

Kristen tdk cocok memimpin dunia , krn akan membawa dunia kembali ke era “dark age” abad pertengahan

Agama2 selain islam tdk bs dijadikan ideologi dunia, krn ia cuma kumpulan dogma dan ritual
Barat hari ini belum selama islam dalam menguasai dunia . Namun aroma kejatuhan sudah begitu kental , kefrustasian mencekam

Jk kristen yg memimpin dunia 


Barat belum selama islam memimpin dunia, tp kebangkrutan manusia di segala bidang sudah klimaks 


Kolonialisme dan imperialisme dicetuskan oleh seorang paus

Barat memimpin dunia setelah mereka meninggalkan gereja bersama sejarah dark age nya 

 
Liberalisme Harus Dimusnahkan

Liberalisme Harus Dimusnahkan

Bahaya “Islam Liberal” yang dijuluki sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) telah menimbulkan keresahan secara merata di kalangan Ummat Islam Indonesia
Faham liberal (sepilis) itu telah diharamkan MUI dalam fatwanya, Juli 2005. Namun justru di perguruan tinggi Islam se-Indonesia, faham sepilis itu dikembang suburkan terutama setelah kurikulumnya se-Indonesia diganti oleh Harun Nasution dari madzhab Ahlus Sunnah diganti Mu’tazilah (faham sesat) sejak tahun 1980-an. Dan sejak tahun 2000-an apalagi ketika presidennya Gus Dur (Abdurrahman Wahid) maka faham liberal semakin mengganas. Di samping yang disuntikkan lewat pendidikan tinggi Islam, faham liberal yang membahayakan Islam itu diusung oleh kelompok-kelompok bentukan baru, dan jumlahnya banyak di berbagai kota di Indonesia. Yang pernah didanai lembaga kafir Amerika saja ada 44 kelompok di Indonesia, di antaranya yang terkenal adalah JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dikomandoi oleh Ulil Abshar Abdalla anak kyai namun didikan filsafat di perguruan katholik di Jakarta. Sehingga ketika Ummat Islam membenci faham liberal karena menyadari betapa bahayanya, cukup menyebutnya JIL, walaupun sebenarnya JIL hanyalah satu bagian dari aneka macam yang liberal.

Sebenarnya yang liberal itu bersembunyi di dua jalur. Jalur aman dan terlindungi dan bahkan merata se-Indonesia adalah yang menunggangi pendidikan tinggi Islam se-Indonesia di bawah Departemen Agama yang kini Kementerian Agama. Ini sangat berbahaya, karena tidak mudah diketahui oleh Ummat Islam umum, karena diajarkan di kelas-kelas dalam perkuliahan. Hanya tempo-tempo ketika ada dosen yang sengaja menginjak lafal Allah dengan sengaja, dan kemudian diberitakan di media massa, barulah Ummat Islam mendengarnya, lalu “pura-pura” pihak IAIN atau STAIN tempat kejadian itu memberikan sanksi, katanya. Makanya sampai ada buku karya Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada Pemurtadan di IAIN. Buku itu dibedah pula di berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Itu yang jalur perguruan tinggi Islam.
Satu lagi jalur luaran, seperti JIL bersama 44 kelompok yang pernah didanai lembaga kafir Amerika. Sepak terjang JIL dan lainnya itu meresahkan Ummat Islam, dan sering timbul polemic. Akibatnya, yang lembaga kafir dari Amerika itu tampaknya lebih memilih untuk tetap mendanai racun liberal yang disuntikkan lewat pendidikan tinggi Islam se-Indonesia. Makanya tiap tahun lewat Kementerian Agama dikumpulkanlah 160-an doctor dari UIN, IAIN, STAIN dan lainnya se-Indonesia untuk ditatar di antara yang ketahuan adalah yang penatarnya dedengkot murtad Dr Naser Hamid Abu Zaid yang murtadnya saja resmi atas vonis Mahkamah Agung Mesir 1996, diundang Departemen Agama untuk menatar para dosen se-Indonesia itu tahun 2007. Alhamdulillah, kehadiran dedengkot murtad itu ditolak oleh MUI Riau, karena ketahuan tersebut. Setelah itu khabarnya pertemuan-pertemuan tetap diadakan dan disponsori lembaga kafir dari Amerika, penyelenggaraannya dengan cara boleh dibilang tersembunyi, mungkin agar tidak diprotes seperti di Riau 2007.

Karena selama ini yang dimengerti oleh Ummat Islam umum adalah kelompok liberal yang di luaran seperti JIL dan konco-konconya itu, maka ketika Ummat Islam resah sekarang yang ingin Ummat bubarkan adalah JIL alias kelompok liberal yang di luaran.

Berhasil atau tidak dalam upaya membersihkan Indonesia dari faham JIL alias faham sepilis, yang jelas keresahan Ummat Islam telah memuncak atas bahaya faham yang telah diharamkan MUI tahun 2005 itu. Oleh karena itu, kemungkinan besar setelah langkah ini diaksikan secara merata, nantinya akan diaksikan pula kepada liberal yang selama ini aman yakni Kementerian Agama (kementerian terkorup di Indonesia menurut KPK) dengan perguruan tinggi Islam se-Indonesia yang selama ini ada pemurtadan di sana, yakni menyuntikkan racun sepilis kepada para mahasiswanya.

Genderang aksi sudah ditabuh, dan tampaknya pantang mundur untuk memberantas faham liberal yang haram itu.