PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Membongkar kebusukan tokoh tokoh liberal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Membongkar kebusukan tokoh tokoh liberal. Tampilkan semua postingan
Buramnya Mata Najwa… Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok

Buramnya Mata Najwa… Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok

Belajar dari pengalaman, jika memilih pilihlah yang muslim dibandingkan non-muslim, jika anda memegang pendapat ulama yang boleh ikut memilih pada keadaan tertentu
_______________________________
Buramnya Mata Najwa… [Ketika Metro TV Jadi Alat Kampanye Ahok]
Oleh: Firdaus Cahyadi
Blogger, Pemerhati Media

Islamedia – Saya termasuk penggemar acara Mata Najwa di Metro TV. Acara Mata Najwa adalah sebuah talk show yang kritis. Apalagi pemandunya adalah Najwa Shihab, perempuan yang cerdas dan seringkali membuat narasumbernya kehabisan jawaban saat dikejar pertanyaan olehnya.

Namun, kemarin malam (7/10), saya agak kaget melihat Mata Najwa dengan tema, “Para Penantang Ahok”. Semula saya memperkirakan di acara talkshow itu akan terjadi perbincangan yang lebih substantif terkait kebijakan-kebijakan Ahok sehingga beberapa orang memilih menjadi penantangnya.

Semula saya juga menduga bahwa persoalan-persoalan yang selama ini mendapat perlawanan dari publik, seperti; pembangunan 6 jalan tol dalam kota, reklamasi pantai utara Jakarta, Proyek Giant Sea Wall, penggusuran warga miskin kota, penanganan banjir, sampah akan menjadi perbincangan seru di talkshow itu. Karena dugaan itulah, saya sengaja menunda makan malam hanya untuk menunggu acara ini.

Namun, dugaan saya salah. Kali ini Mata Najwa justru seperti menghindar dari diskusi-diskusi yang bisa mencerdaskan khalayak. Mata Najwa seperti menggiring talkshow kali ini hanya membahas figur Ahok dari sisi kesantunan dalam bicara dan isu etnis serta agama. Najwa Sihab tidak mengarahkan diskusi mengenai kebijakan Ahok yang kontroversial. Seakan selama ini pihak-pihak yang menantang Ahok tidak ada yang mempermasalahkan kebijakannya. Mereka menantang Ahok karena persoalan kesantunan dalam bicara dan perbedaan etnis serta agama.

Marco Kusumawijaya, salah satu pihak yang diposisikan sebagai penantang Ahok, sempat mengangkat persoalan-persoalan yang substansial dari kota Jakarta, seperti lingkungan hidup, budaya dan keterlibatan warga dalam pengambilan kebijakan. Namun, sayang Najwa Shihab tidak begitu tertarik menggali lebih dalam persoalan-persoalan substantif pengelolaan kota Jakarta itu.

Frame (Bingkai) yang dipakai dalam talkshow Mata Najwa kali ini adalah “Tidak Ada yang Salah dalam Kebijakan Ahok di Jakarta”.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan Ahok yang mendorong pembangunan 6 tol dalam kota, padahal pembangunan tol baru justru akan merangsang penggunaan kendaraan bermotor pribadi, dan akhirnya akan menambah kemacetan serta polusi udara di Ibukota.

Mata Najwa kali ini gagal menggali lebih dalam, tentang kebijakan reklamasi dan proyek Giant Sea Wall dari sisi keberlanjutan lingkungan hidup dan sosial.

Mata Najwa kali ini juga gagal menggali lebih dalam ritual penggusuran warga miskin kota yang justru dilestarikan oleh Ahok.

Dalam hati saya bertanya, kenapa Mata Najwa kali ini tidak kritis? Apakah buramnya Mata Najwa dalam episode, “Para Penantang Ahok”, terkait dengan santernya kabar bahwa Partai Nasdem siap dukung Ahok dalam Pilkada Jakarta? Entahlah.

Yang jelas pada episode ini Mata Najwa nampak buram dan tidak memberikan pencerahan ke khalayak. Mata Najwa kali ini lebih mirip acara kampanye Ahok untuk mempertahankan kekuasaannya daripada sebuah diskusi yang mencerdaskan. Sayang sekali…

Kesesatan KETUM PBNU Sholat Bersama Iblis

(Bukti² penyimpangan dan kesesatan-bisa dikatakan kekufuran tingkat tinggi- ketua NU yang sekarang, yang terindikasi syi'ah nhc)

Said Aqil Siradj Bilang Malaikat Munkar Nakir Sampai Sekarang Belum Bisa Menanyai Gus Dur

Dalam video berikut ini pada menit ke 4.25 dan seterusnya Said Aqil Siradj bicara soal Gus Dur sebagai berikut:

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Wahid Hasyim wafat punya putera di atas cerdas. Wahid Hasyim cerdas, puetranya sak nduwure ( di atas) cerdas, Kyai Haji Abdurrahman Wahid, Gus Dur, yang sampai sekarang (Malaikat) Munkar Nakir belum bisa nanyain Gus Dur. Karena di dalam hadits shahih, orang mati dimasukkan ke liang kubur pengiringnya pulang, sunyi sepi, Munkar Nakir datang, tanya man rabbuka (siapa Tuhanmu) waman nabiyyuka (siapa nabimu) dan seterusnya. Gus Dur ga’ pernah sepi kuburannya, sampai sekarang Munkar Nakir masih ngantri nunggu kapan sepine aku tak (kapan sepinya aku akan ...) sampai sekarang belum bisa.itu.

Perkataan Said Aqil Siradj ketua Umum NU itu mari kita bandingkan dengan hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.
Hadits Imam Abu Daud:

حديث عثمان بن عفان رضي الله عنه قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ : ( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) رواه أبو داود (3221) ، وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص198 .

Hadits (dari) Utsman bin Affan Radhiallahu anhu, dia berkata,
“Biasanya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika selesai menguburkan mayat, beliau berdiri dan mengatakan,

( اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ ) (رواه أبو داود (3221) , وصححه الألباني في أحكام الجنائز ص 19)

“Mohonkan ampunan untuk saudara kalian. Dan mintakan baginya keteguhan, karena dia sekarang ditanya.” (HR. Abu Daud, 3221 dinyatakan shahih oleh Al-Albany dalam Ahkamu Al-janaiz, hal. 198)/ http://islamqa.info/id/174715
Selain masalah berkata mengenai hal ghaib (yaitu malaikat) dengan akal-akalan yang menyelisihi hadits shahih, Said Aqil Siradj bicara pula tentang Iblis, dalam shalat.

Inilah beritanya.

***

Tidak Mau Merapatkan Shalat Seperti "Wahabi", Said Aqil Lebih Memilih Shalat Bersama Iblis (Video)

By: Syiah Indonesia on 10:05 AM

Syiahindonesia.com - Setelah menjabat menjadi Ketum PBNU, Said Aqil kembali menuai kontrovesi melalui ceramahnya yang menyatakan bahwa ia lebih senang apabila Syaitan atau Iblis ikut berjama'ah ketimbang mau merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah.

Diantara alasan sikapnya itu adalah karena merapatkan shaf dalam shalat adalah ajaran "wahabi". Padahal, kalau kita tengok beberapa hadits Rasulullah saw, ada nash yang menyebutkan bahwa diantara kesempurnaan shalat adalah rapat dan lurusnya shaf dalam berjama'ah.

Berikut beberapa hadits tentang anjuran merapikan shaf dalam shalat berjama'ah:

سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

”Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk menegakkan sholat.”

Semakna dengannya, hadits Abu Hurairah -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- dalam riwayat Al-Bukhary (722) dan Muslim (435),

Juga sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:

وَأَقِيْمُوْا الصَّفِّ فِي الصَّلاَةِ, فَإِنَّ إِقَامَةِ الصَّفِّ مِنْ حُسْنِ الصَّلاَةِ

“Dan tegakkanlah shaf di dalam shalat, karena sesungguhnya menegakkan shaf termasuk diantara baiknya sholat”.

Ulama Islam seperti Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan dua hadits diatas sebagai berikut:

Kosa Kata Hadits:

1. Sabda beliau [luruskanlah shaf-shaf kalian] yakni, lurus dan seimbanglah dalam bershaf sehingga kalian seakan-akan merupakan garis yang lurus, jangan salah seorang di antara kalian agak ke depan atau agak ke belakang dari yang lainnya, serta merapat dan tutuplah celah-celah kosong yang berada di tengah shaf.

2. Sabda beliau [termasuk kesempurnaan sholat], yakni penyempurna sholat. Sesuatu dikatakan sempurna jika telah sempurna seluruh bagian-bagiannya, sehingga satu bulan dikatakan sempurna jika harinya sudah genap 30.

3. Sabda beliau [sesungguhnya menegakkan shaf], yakni meluruskan dan menyeimbangkannya ketika hendak mendirikan shalat berjama’ah.

4. Sabda beliau [termasuk diantara baiknya sholat]. Ibnu Baththol menjelaskan bahwa “baiknya sesuatu” adalah kadar tambahan setelah sempurnanya sesuatu tersebut.

[Lihat: Fathul Bary (2/209), ‘Aunul Ma’bud (2/259), dan Faidhul Qodir (2/537) dan (4/115-116)]

Selain itu, ada juga hadits penguat yang menjelaskan akan keharusan merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah, diantaranya:

أَقِيْمُوُا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّمَا تَصُفُّوْنَ بِصُفُوْفِ الْمَلاَئِكَةِ, وَحَاذُوْا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ وَسَدُّوْا الْخَلَلَ وَلِيْنُوْا بِأَيْدِيْ إِخْوَانِكُمْ وَلاَ تَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ. وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ

“Luruskan shaf-shaf kalian karena sesungguhnya kalian itu bershaf seperti shafnya para malaikat. Luruskan di antara bahu-bahu kalian, isi (shaf-shaf) yang kosong, lemah lembutlah terhadap tangan-tangan (lengan) saudara kalian dan janganlah kalian menyisakan celah-celah bagi setan. Barangsiapa yang menyambung shaf, niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barangsiapa yang memutuskannya, maka Allah akan memutuskannya (dari rahmat-Nya)”. HR.Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’iy dan lainnya. Dishohihkan oleh Al-Albany dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (743)

Juga sabda beliau saw:

مَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَبَنَى لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Barang siapa yang menutupi suatu celah (dalam shaf), niscaya Allah akan mengangkat derajatnya karenanya dan akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga”. HR.Ibnu Majah Al-Qozwini dalam Sunan-nya (1004). Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Muhammad Nashir Al-Albany -rahimahullah- dalam Shohih Sunan Ibnu Majah (1004) dan At-Ta’liq Ar-Roghib (1/335) cet. Maktabah Al-Ma’arif , tahun 1421 H.

Dengan demikian, ini menunjukan bahwa merapatkan shaf dalam shalat adalah sebuah anjuran yang patut dilaksanakan oleh kaum muslimin seluruhnya, dan bukan hal yang mengada-ngada. (nisyi/syiahindonesia.com)

Berikut videonya pernyataan Said Aqil yang lebih memilih shalat bersama Iblis ketimbang mengikuti ajaran "wahabi".

https://youtu.be/lLwY4Eeeynw

Sumber: nahimunkar.com

Kami Bukan Pengikut WAHABI. kami mengikuti Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam... — 

Ade Armando dan Kebencian Terhadap Islam

Ade Armando dan Kebencian Terhadap Islam

By: Nandang Burhanudin
****

Di era Jokowi, semua terkuak. Penyanyi yang dahulu "kental" dengan ideologis perlawanan seperti Iwan Fals, kini sangat jelas, ideologi apa yang selama ini diperjuangkan. Sama halnya dengan Ade Armando, sosok yang cukup didengar dalam masalah kebebasan pers dan menghargai perbedaan pandangan. Namun kini menampakkan jati diri sebenarnya, bahwa dahulu ia "menampilkan kesan netral" sebab ketegasan Pak Harto yang "menghadiahi hotel prodio" bagi siapapun yang menodai agama (Islam).

Namun ocehannya di medsos, benar-benar menampilkan kebencian mendalam terhadap Islam dan umatnya. Adapun kebencian di lubuk hatinya, teramat besar. Entahlah, apakah ocehan-ocehan anehnya bagian dari strategi kaum Liberalis-Sekularis-Aliran sesat. Atau hanya "keganjenan intelektual" di tengah pesta pora kaum Islamphobia atas kemenangan Jokowi di panggung kekuasaan.

Bila di negara-negara Arab, kini marak kaum intelektual yang menjadi murtaziqoh (mercenaries/tentara bayaran), maka setali tiga uang di Indonesia pun sama. Prinsip yang dianut sama: Kencingi zamzam, engkau akan terkenal. Benci Islam sebenci-bencinya, dirimu akan kesohor. Lecehkan syariat sehina-hinanya, dirimu akan disebut intelektual handal dan disediakan media yang siap membesarkan.

Mempermasalahkan dana ibadah umroh atau haji, atau mengerdilkan Al-Qur'an, adalah bagian "proyek multinasional" yang teramat gurih. Mereka tahu, umat Islam akan bereaksi keras. Urat saraf akan tegang. Cukup untuk melupakan pelbagai sumber daya alam yang dikeruk Asing dan Aseng. Atau melupakan kebengisan penjajah berwajah pribumi yang berkolaborasi dengan penjajah berwajah China.

Ade Armando, Ulil Abshar Abdalla, Zuhairi memang diarahkan untuk melakonkan peran "bulsit" (penimbul situasi). Menciptakan suasan kebencian yang dikemas dengan jargon-jargon yang susah dimengerti. Apapun sebutannya, meracuni adalah misinya.

Jamaknya seperti di Mesir. Balatentara berbayar ini bahu membahu. Menebar jala-jala jebakan. Kebencian terus ditebar di kalangan umat Islam. Satu persatu dibenturkan. Sebagai misal. Semua elemen dirayu untuk memusuhi dan membenci IM, hingga kudeta terhadap Presiden Mursi dan IM dihabisi. Sebelum itu, mereka memecah dulu kaum Salafy. Kemudian memecah belah kalangan Al-Azhar. Semua sukses dilakukan dan Mesir kini terbelah. Menjadikan HAMAS sebagai musuh dan Israel sebagai kekasih. Ulama-ulama yang telah mengabdi lebih dari 60 tahun dan dikenal penuh dedikasi, kini dipinggirkan.

Praktik di Mesir inipun akan dilakukan di Indonesia. Membenturkan NU-Muhammadiyah, NU vs Wahabi (kelompok Islam antiSyiah). Hingga seorang Ade Armando, membabat habis aib PKS, partai yang dikenal khalayak sebagai partai yang lahir dari rahim gerakan Islam yang masih eksis. Ade Armando menutup mata atas kejahatan-kejahatan BIG, SUPER, dan MAHA yang dilakukan partai berbasis Islam lainnya. Bahkan sama sekali tidak pernah kritis terhadap kejahatan terstruktur, massif, dan terencana dari partai Nasionalis-Kristen seperti PDIP atau parpol lainnya.

Ade Armando lupa, bahwa sebagai muslim, dirinya sepatutnya paham bahwa dalam Islam ada pintu taubat nashuha. Toch pada kenyataannya, sosok seperti LHI, Arifinto, jika pun pernah melakukan kesalahan. Mereka bisa jadi kini tengah menjalani pembersihan diri atas kekhilafan dan salah yang pernah dijalani. Lalu bagaimana dengan koruptor-koruptor MEGAskandal lainnya, yang kini "cuap-cuap" sebagai manusia suci? Apakah yakin mereka tidak menikmati video porno atau terbebas dari perzinahan? (bukan nikah halal seperti yang dilakukan LHI).

Silahkan anda mencibir apapun terhadap tulisan di atas. Namun pada faktanya, kehadiran Islam di panggung kekuasaan memang dihalangi. Levni, mantan menteri Kehakiman Israel dan Moshe Dayan mantan Menhan Israel menegaskan, "Tugas kami adalah menghalangi siapapun dari kalangan Islamis, agar tidak meraih kekuasaan di manapun."

Tokoh JIL Zuhairi Misrawi: “Yahudi Israel boleh mengambil Mekkah”

Tokoh JIL;  Zuhairi Misrawi.
JAKARTA– Dalam seminar nasional Ahlul Bait Indonesia (ABI) di Gedung Sucofindo Jakarta (08/11/2013), dengan tema “Kepahlawanan dan Nasionalisme Untuk Manusia Indonesia Seutuhnya; Peringatan Hari Pahlawan Nasional dan Asyuro Imam Husein”, Zuhairi Misrawi sebagai salah satu panelis mengeluarkan pernyataan kontroversial.
“Orang-orang Israel Yahudi mengambil Mekkah boleh-boleh saja, karena dulu di Mekkah dan Madinah ada banyak gereja dan sinagog,” ujarnya yang kerap melontarkan ide-ide liberal itu.
Masih dalam kesempatan yang sama, Zuhairi juga menjelaskan bahwa Husein ra. yang wafat sebagai martir di Karbala adalah wujud amar ma’ruf nahi munkar.
Mengutip statement yang disandarkannya pada nabi Muhammad SAW, bahwa perjuangan tertinggi adalah perjuangan melawan nafsu pribadi. Sebab perjuangan melawan musuh di luar Islam sudah selesai.
Menutup pembicaraannya, Zuhairi mengatakan dengan gamblang bahwa dirinya dengan Syiah adalah bersaudara.
“Saya dengan Syiah ini bersaudara, setiap saya tahlillan saya mendoakan ahlul bait, dan Saya tahlilan ini lima kali sehari,” tutup caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) disambut tepuk tangan hadirin.
(Islampos/arrahmah.comSamir MusaSabtu, 5 Muharram 1435 H / 9 November 2013 07:34
***

Cinta Yahudi dan Syiah?

Zuhairi Misrawi tampaknya berbicara untuk menyenang-nyenangkan Syiah dan Yahudi. Syiah sudah bernafsu unmtuk merebut Makkah sejak beberapa waktu yang lalu.
Inilah beritanya.
(nahimunkar.com)
Kisah Disimpangkannya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

Kisah Disimpangkannya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

Kader Ali Moertopo

Menjelang tahun 1959, dan di tahun 1960, IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jogjakarta merekrut tenaga pengajar lulusan Pakistan bernama Moekti Ali. Cara pandang Moekti Ali terhadap Islam sangat berbau Ahmadiyah.

Kemudian hari bergabung pula sebagai tenaga pengajar, seorang yang berpikiran sekuler tamatan Universitas di Canada bernama Harun Nasution.

Di tahu-tahun sekitar itu sejumlah mahasiswa yang kelak menjadi kader Ali Moertopo, Kepala Opsus Operasi Khusus Bakin) menjadi mahasiswa IAIN yaitu Kafrawai (Ridwan) dan Zarqowi Suyuthi. Kedua nama ini kemudian menduduki jabatan teras Departemen Agama dan ‘berjasa’ besar untuk merontokkan Ruh IAIN yang asli dan berganti dengan Ruh ‘bohong-bohongan’.

Seluruh nama-nama tersebut di atas bekerja keras menyimpangkan IAIN dari cita-cita semula.

Yang dijadikan jargon untuk memperoleh dukungan atas tujuan mereka itu adalah “De-NU-nisasi”.

Seperti diketahui, partai Masyumi bubar tahun 1960, dan sejak itu pengendalian IAIN di bawah Departemen Agama yang menterinya selama beberapa periode dijabat tokoh dari partai NU (Nahdlatul Ulama).

Sampai dengan munculnya Moekti Ai sebagai menteri agama pada tahun 1972, khittah IAIN tidak berubah. Hanya saja condong ke NU. Tapi sejak Moekti Ali duduk bersila di departemen agama, wajah IAIN dirubah bertahap bahkan pada akhirnya ‘Ruhnya’ “diketok-magic”sehingga sosok dan jiwa IAIN tidak menjadi jelas bagi khalayak ramai. Mau dikata sebagai kawah chandradimuka penggembleng Gatutkaca-Gatutkaca bernafas Islam, tahunya yang muncul “Durna-Durna” alias Kombayana dan Sengkuni yang kerjanya merongrong Islam seperti Harun Nasution, Djohan Effendi, dan Nurcholish Madjid yang kemudian hari disusul dengan kader-kadernya yang “otak-otakan” seperti Azyumardi Azra dan Lutfie Assyaukani.

Sempurnalah padamnya ‘Ruh’ Islam dari IAIN ketika seorang “mudzabdzab” bernama Munawir Sjadzali menjabat menteri agama (selama dua periode, sepuluh tahun, 1983-1993, Red NM). Hukum Faraid (waris Islam, red) mau dirubahnya padahal nyata-nyata ketentuan Faraid diatur Quran.

Munawir pengasas perubahan IAIN menjadi UIN (Universitas Islam Negeri).

Di zaman Munawir inilah terjadi pengiriman besar-besaran sarjana IAIN bersekolah ke Australia, Canada, dan Amerika Serikat. Expatriat ini kemudian menjadi dosen IAIN, dan sebagian dari mereka jadi “tukang kepruk” yang bengis terhadap Islam.

(Catatan HAJ- wartawan Harian Pelita: dr Tarmizi Taher Menteri Agama pelanjut Munawir ketika berkunjung ke Jogjakarta untuk menjenguk Dr Kunto Wijoyo ilmuwan budayawan yang sedang sakit, tidak lupa beliau mengunjungi mantan Menteri Agama Moekti Ali. Begitu beliau sampai dan bersalaman dengan Moekti Ali lalu duduk, langsung Moekti Ali menekankan agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan. Dan saat kunjuang mau berakhir, begitu dr Tarmizi Taher pamit dan bersalaman untuk pulang, ditegaskan lagi oleh Moekti Ali ke wajah dr Tarmizi Taher, agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan).

IAIN berubah jadi UIN dan ini bukan perubahan nama saja, tapi juga substansi. UIN meliputi fakultas-fakultas: 1. Science Teknologi, 2. Sosial Humaniora, 3. Tarbiyah, 4. Syariah, 5. Ushuluddin, 6. Dakwah, 7. Adab. (catatan: selanjutnya kabarnya ada Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, ada Ekonomi Islam, Red).

Tendensi akhir-akhir ini fakultas nomor 1 dan 2 mendapat minat yang sangat tinggi, fakultas nomor 3 dan 4 masih diminati. Fakultas nomor 5, 6, dan 7, makin merosot peminatnya.

Jika peminatnya makin merosot maka besar kemungkinan pada suatu hari fakultas nomor 5, 6, dan 7 akan ditutup. Hal ini sesuai dengan prinsip kemandirian, keuangan universitas-universitas negeri.

Perubahan IAIN menjadi UIN merupakan bahagian dari suatu skenario besar menghancurkan Islam.

Tampaknya melihat sukses besar yang dicapai dalam menghancurkan IAIN maka sasaran sekarang mulai dialihkan ke pesantren-pesantren.

Wapres Yusuf Kalla (Desember 2005, Red SI), hari-hari terakhir ini tidak bosannya mengkaitkan fenomena terorisme dengan keberadaan pesantren. Pesantren terus menerus dibidik dalam retorika Wapres. Pesantren yang bermasalah dan kini sudah ditutup, di Malaysia, tetapi (kenapa) pesantren Indonesia yang mau diobrak abrik. (Itu ibrat) Orang Betawi bilang: “Nenggak arak di mane mabok di mane?”

Hidup adalah perjuangan. Ini tantangan mutakhir yang harus dihadapi umat Islam dengan sabar dan pikiran yang jernih. (Tulisan ini adalah bagian penutup dari makalah “Kau Apakan Lagi IAIN-Ku Ini?”, oleh Ridwan Saidi, Reprint Media Dakwah edisi 361Desember 2005, dimuat Tabloid Suara Islam, Edisi 197 Tanggal 22 Jumadil Awal -6 Jumadil Akhir 1436H/ 13-27 Maret 2015, halaman 13).

***

Kamis, 21 Jumadil Ula 1436H / March 12, 2015

Quraish Shihab Bukan Mufasir Al Quran

Quraish Shihab Bukan Mufasir Al Quran

Pati, Ahad (15/12/2013) di masjid Al-Islam di kota Pati Jawa Tengah, saat kajian rutin kitab hadits Jamius Shohih Bukhari bersama beliau Ust Mustaqim,LC yang lebih terkenal dalam dunia media Sang Singa Tauhid dari Pantura atau Mantan Santri Tambak Beras Jombang ini kembali membuat tercengang para jama’ahnya.

Setelah menerangkan beberapa Hadits yang dibaca saat kajian sore itu, tibalah saat tanya jawab, maka sontak ada jama’ah yang menanyakan persoalan pada beliau.

“Ust sampai hari ini saya terheran-heran, mengapa orang sekelas Quraish Shihab yang mengarang tafsir Al Misbah dan mendapatkan pujian dari banyak kalangan kok mengatakan bahwa jilbab itu adalah produk budaya bukan sebuah kewajiban, sebenarnya beliau ini mufasir atau apa Ust?” demikian pertanyaan yang di sampaikan.

Tanpa panjang lebar, Ust yang lama belajar di negeri piramid Mesir ini menjawab dengan tegas “ooo perlu jamaah ketahui bahwa Quraish Shihab itu bukan seorang Mufasir, dia cuma seorang lulusan S3 di Mesir yang mempelajari tentang tafsir Al quran, jadi kita harus bisa membedakan orang yang sedang belajar dengan ahli itu beda”.

Kemudian beliau menceritakan kejadian menarik bersangkutan dengan Quraish Shihab waktu di Mesir, kata Ust yang kini tinggal di Pati ini “saya masih ingat tahun 1997 saat itu kami mahasiswa yang belajar di al Azhar Mesir dikumpulkan untuk mendengarkan presentasinya bersangkutan dengan jilbab.

Setelah panjang lebar dia menerangkan, akhirnya dia mengatakan “saya tidak menemukan satu ayat pun dalam tafsir imam qurthubi yang berjumlah hampir 3 jilid itu, tentang diperintahkannya wanita berjilbab, akan tetapi imam al Qurtubi mengatakan bahwa itu adalah produk budaya,” dengan sangat sungguh-sungguh ust yang sekarang lebih memilih jualan di pasar itu menceritakan.

Kemudian beliau melanjutkan, “setelah itu tiba-tiba ada wanita bercadar berdiri dimana dia adalah seorang mahasiswi al Azhar yang berasal dari Kalimantan mengatakan “maaf bapak, saya telah membaca tafsir imam al Qurtubi hingga lima kali khatam, akan tetapi saya tidak pernah menemukan kalimat bahwa jilbab itu adalah hasil produk budaya, di halaman berapakah kalimat itu berada? wahh langsung saja mixnya di berikan MC lalu ke belakang,” demikian akhir kisahnya.

Beliau Ust Mustaqim,Lc juga mengatakan sangat beda antara orang yang belajar dalam bidang al Quran meskipun dia seorang profesor dengan seorang Mufasir, karena seorang Mufasir pasti akan menyelaraskan amal dan ilmunya, sedangkan Quraish Shihab membiarkan anaknya telanjang tanpa jilbab.

Semoga umat Islam Indonesia tidak terkecoh kepada para Ulama atau Asatidz yang bertitle tinggi tapi liberal dibandingkan para penyeru tauhid yang lurus. (KSL)

Sumber Berita: www.islamlagi.com/ Senin, 16 Desember 2013 – 14:22:06 WIB
(nahimunkar.com) Posted on Jul 19th, 2014

Hanibal Wijayanta: Media Massa dan Perubahan Sosial

Hanibal Wijayanta  )*

Wartawan  Utama,  Produser Eksekutif  Liputan  ANTV
Menurut  catatan sejarah,  media  massa  terbukti  mampu  mendorong dan  mengubah kondisi sosial  masyarakat.  Dengan pemberitaan  yang kontinyu, terarah  dan  sistematis, pers  mampu  mempengaruhi pilihan,  sikap  dan  opini masyarakat. Media  massa  juga  bisa  membujuk pembaca  dan  pirsawan, dengan  merangsang  emosi, perasaan  serta  pikiran mereka  lewat  berbagai pendapat  dan  komentar. Mereka  juga  bisa  memberikan  status legitimasi  terhadap  sesuatu hal.  Media  massa  juga  bisa  mendefinisikan  dan  membentuk  persepsi atas  realitas  tertentu kepada  para  pembaca. 

Karena  itu,  sejak  dulu  banyak  orang, penguasa, dan kelompok kepentingan,  memanfaatkan  media  massa  sebagai corong,  alat,  dan  mesin propaganda rekayasa  sosial.  Paul  Joseph  Goebbels,  Menteri Propaganda  Nazi  Jerman adalah  contoh  gamblang pemanfaatan  media  sebagai mesin  rekayasa  sosial.  Goebbels  adalah pelopor  dan  pengembang teknik  propaganda  Argentum  ad  nausem  atau  teknik  Big  Lie (kebohongan  besar). 

Prinsip  utama  teknik  ini  adalah  menyebarluaskan  berita bohong  melalui  media  massa  sebanyak mungkin  dan  sesering mungkin  sehingga  kebohongan itu  kemudian  dianggap sebagai  suatu  kebenaran. Cara  ini  cukup  sederhana,  namun  sangat  efektif dan  mampu  mengubah persepsi,  serta  pada  gilirannya  mengubah sikap  dan  perilaku masyarakat.  Dengan  memobilisir media  massa,  Goebbels membentuk  persepsi  Bangsa Jerman  adalah  ras  terbaik,  dan  Bangsa  Yahudi ras  terkutuk  yang  harus  dilenyapkan. 

Di  Indonesia, pers  juga  berfungsi sebagai  alat  rekayasa sosial.  Perubahan  terjadi sesuai  perkembangan  zaman. Di  masa  pergerakan, pers  menjadi  media  perlawanan  terhadap penjajah.  Media  menjadi penyemai  faham  nasionalisme. Coba  tengok  pamflet-pamflet,  koran, dan  majalah  di  zaman  Belanda seperti  Bintang  Timur, Cahaya  Asia,  Pasundan, Djawa,  Panjebar  Semangat dan  sebagainya.  Saat  itu  media  massa  menjadi agen  perubahan  sosial untuk  meraih  kemerdekaan.

Begitu  Indonesia merdeka  dan  partai politik  tumbuh,  pers  menjelma  menjadi alat  partai.  Koran, majalah  dan  kantor berita  menjadi  organ  partai,  mesin  agitasi  dan  propaganda,  demikian pula  wartawannya.  Harian Rakyat  menjadi  koran  onderbouw  Partai Komunis  Indonesia  (PKI), Merdeka  corong  Partai Nasionalis  Indonesia  (PNI), Abadi  media  Partai  Masyumi,  Partai Sosialis  Indonesia  (PSI)  punya  harian Indonesia  Raya  dan  Pedoman,  Nahdlatul Ulama  eksis  dengan koran  Duta  Masyarakat, dan  sebagainya.  Tiap  hari,  koran  hadir  dengan slogan  partai,  polemik, dan  debat  yang  berpihak  kepada partai  mereka.  Saat  itu  media  massa  menjadi pengarah  opini  dan  pembentuk  persepsi massa  sebagaimana  dikehendaki partai.

Ketika  Orde  Baru  menancapkan kekuasaan,  breidel  media  massa,  penangkapan dan  penahanan  wartawan atas  tuduhan  merongrong kewibawaan  pemerintah  sering terjadi.  Karena  tekanan bertubi-tubi,  wartawan,  pers  dan  media  massa  kompak tiarap.  Self-censorship  menjadi  lumrah, budaya  telepon  dimaklumi. Karena  takut  pada  hantu  breidel dan  tekanan  penguasa, pers  di  masa  Orde  Baru  bereinkarnasi.  Pers  berubah  menjadi penganjur  pembangunan,  corong penguasa,  dan  penyebar ide  kekaryaan  ala  Orde  Baru.  Dalam  keadaan ini,  pers  menjadi alat  rekayasa  sosial rezim  Orde  Baru.

Angin  segar  berhembus  saat  musim  reformasi tiba.  Seiring  keruntuhan Orde  Baru,  setelah tiga  dasa  warsa  dikerangkeng,  pers  akhirnya  ‘dibebaskan’. Surat  Izin  Terbit (SIT),  Surat  Izin  Usaha  Penerbitan Pers  (SIUPP)  dan  segala  tetek  bengek  perizinan dihapus.  Media  massa  menjadi  bebas, terbuka,  merdeka,  dan  berani  memberitakan hal-hal  tabu  menurut Orde  Baru.  Era  reformasi  membuka kesempatan  pers  memberitakan berbagai  konflik  sosial, kerusuhan  dan  kasus  penyalahgunaan  wewenang dari  berbagai  angle, tanpa  perlu  takut  bakal  dijewer pemerintah,  Departemen  Penerangan, maupun  tentara.  Saat  itu,  pers  menjadi  idola  masyarakat  yang  sekian  lama  terbelenggu  kekuasaan dan  menuntun  masyarakat menjadi  melek  informasi. 

Namun,  ketika keterbukaaan  makin  marak, faham  kebebasan  juga  makin  berkembang. Di  masa  ini,  sebagian  awak  pers  seolah kehilangan  orientasi.  Saking bebasnya,  mereka  kadang keblinger,  berlebihan  dan  bahkan  sering merasa  paling  benar  sendiri.  Tanpa  konfirmasi,  tanpa  cek  dan  ricek,  tanpa  mengedepankan  prinsip cover  both  side,  mereka berani  menurunkan  berita peka.  Di  masa  ini,  dengan enteng  pers  menerabas kode  etik,  melanggar prinsip  moralitas,  dan  pornografi  pun  merajalela. 

Sebagian  dari  mereka  kemudian hanya  mengikuti  keinginan pemilik  modal  dan  menyajikan  berita yang  ‘pokoknya  laku’  tanpa  peduli isi,  kualitas  dan  memaksakan  logika. Sementara  itu,  yang  lain  justru terjebak  perang  opini  para  pejabat, pemangku  kepentingan,  dan  kelompok  penekan yang  bebas  berkoar, sementara  pers  tak  mampu  memfilter pendapat  mereka.  Parahnya, jika  selama  puluhan tahun  bedil  dan  penjara  menjadi penakhluk  wartawan,  pers,  dan  media, kini  kibasan  cek  dan  gepokan rupiah  sangat  efektif menundukkan  kegalakan  mereka. 

Parahnya, jika  selama  puluhan tahun  bedil  dan  penjara  menjadi penakhluk  wartawan,  pers,  dan  media, kini  kibasan  cek  dan  gepokan rupiah  sangat  efektif menundukkan  kegalakan  mereka.
Dalam  kondisi ini,  peran  pers  sebagai  agen  perubahan  sosial tetap  berfungsi.  Namun, perubahan  sosial  yang  diembannya  bisa  melenceng  dan  menyimpang  dari  nilai  luhur  kemanusiaan,  etika, dan  agama.  Faham-faham aneh  bertebaran,  ide-ide melenceng,  dan  kesesatan berpikir  merajalela.  Sementara, mereka  yang  bergandengan tangan  dengan  pemilik modal,  penguasa  atau  kelompok  kepentingan juga  tak  lagi  berpihak  kepada kebenaran  sejati.  Kondisi semakin  parah  ketika pers  menjadi  sekadar tukang  foto  kopi,  tukang  gong,  pemberi  stempel dan  penyalur  ludah  narasumber  tanpa  pernah  mengkaji, menelaah  dan  menyaring informasi  secara  benar. 

Kini,  menjelang Pemilu  Presiden  2014,  masyarakat  disuguhi berbagai  media  yang  cenderung  berpihak. Seperti  yang  terjadi di  tengah  masyarakat dan  elit  penguasa, kini  media  massa  pun  terbelah. Media  yang  dimiliki bowheer  pendukung Calon  Presiden  A,  tulisan  atau  siarannya  cenderung berisi  puja-puji  untuk  kontestan  A,  dan  caci-maki bahkan  fitnah  kepada kontestan  B.  Sebaliknya media  milik  konglomerat pendukung  Calon  Presiden B,  tulisan  atau  siarannya  berisi puja-puji  untuk  kontestan B,  dan  berita buruk  serta  tudingan miring  ke  kontestan A.  Walhasil  isi  media  kini  penuh  dengan berita  panas,  insinuasi, provokatif,  dan  tidak  seimbang.   
Tak  hanya  karena  dimiliki milyarder  pendukung  Calon  Presiden,  para  wartawan  pun  terbelah  karena kecenderungan  dukungan  pribadi. Biasanya  dukungan  terbangun karena  kedekatan  mereka dengan  masing-masing  Calon, Partai  Pendukung,  atau  tokoh-tokoh  pendukung masing-masing.  Ada  juga  wartawan  dan  media  yang  menyatakan  keberpihakan mereka  karena  merasa lebih  sreg  dengan Calon  tertentu  dan  tidak  percaya kepada  Calon  lain.  Sedikit  banyak, dukungan  mereka  tercermin pada  produk  pers  dan  penyikapan mereka  terhadap  berbagai isu.  Media  sosial yang  kini  marak, semakin  menegaskan  kecenderungan keberpihakan  para  wartawan secara  pribadi.   

Sebagian  wartawan dan  media  massa  masih  mencoba bersikap  wajar  dengan sekadar  berkomentar  dan  menjelaskan  posisi mereka.  Namun  kini  banyak  di  antara  media  yang  dengan lantang  menyatakan  sebagai pendukung  kontestan  tertentu. Bahkan  ada  yang  memposisikan  diri  sebagai  endorser, tim  sukses,  dan  bahkan  seakan-akan menjadi  propaganda  officer  laksana  Joseph  Goebbels,  dengan turut  bermanuver  serampangan, brutal,  dan  ugal-ugalan. Tentu  saja  perkembangan ini  sangat  memprihatinkan. 

Padahal,  pers,  media  massa, dan  wartawan,  telah  ditahbiskan  sebagai watchdog  alias  anjing  penjaga demokrasi.  Pers  juga  sering  dijuluki sebagai  the  fourth  estate alias  pilar  keempat negara.  Dia  juga  dijuluki  sebagai ujung  tombak  perubahan sosial  atau  the  agent  of  social changes,  dan  bahkan merekalah  the  servants  of  the  thruth atau  para  pengabdi kebenaran. 

Dengan  serangkaian predikat  itu,  sudah  selayaknya  wartawan  dan  media  mengambil posisi  netral,  setia  kepada  profesi yang  mewajibkan  dia  tidak  berpihak kepada  siapa  pun,  dan  setia  kepada  pilihan hidup  untuk  menjadi pengawal  kebenaran.  Belum  lagi  jika  kita  mencermati pernyataan  Pemimpin  Perancis Napoleon  Bonaparte:  “A  journalist is  a  grumbler, a  censurer,  a  giver  of  advice,  a  regent  of  sovereigns,  a  tutor  of  nations.  (Seorang wartawan  adalah  penggerutu, tukang  kritik,  pemberi saran,  pemilik  kedaulatan, guru  bangsa).
Namun,  serangkaian julukan  hebat  itu  kini  seolah hanya  menjadi  mitos. Banyak  insan  pers  terjangkiti  sindrom heroisme  gara-gara  julukan-julukan  wah  tadi.  Sindrom ini  sering  berubah menjadi  penyakit  akut.  Meski  tak  semua,  banyak wartawan  dan  media  yang  secara sengaja  memposisikan  diri  tinggi,  dan  merasa  jumawa dengan  berbagai  label  yang  terlanjur diberikan.  Sindrom  heroisme ini  juga  memunculkan semacam  ilusi  kekebalan di  kalangan  insan  pers  dan  media  massa, sehingga  dengan  enteng memprovokasi,  memancing,  dan  memberitakan  hal-hal sumir  dan  insinuatif. 

Ada  sementara wartawan  merasa  seolah bisa  melanggar  aturan, etika,  norma,  maupun undang-undang,  karena  merasa memiliki  ‘vaksin  kekebalan’ yang  tak  dimiliki kalangan  lain.  Insan  pers  kadang merasa  memiliki  ‘kasta’ lebih  tinggi  dari  pada  profesi lain,  sehingga  sering mengharap  fasilitas  dari  pemegang  oritas, kekuasaan  atau  masyarakat. Padahal,  profesi  wartawan sama  seperti  profesi lain.  Wartawan,  jurnalis, reporter,  juga  manusia. Mereka  bisa  lupa,  salah  dan  khilaf,  serta  harus  tetap  menaati  hukum, norma,  etika,  dan  peraturan. 
Melihat  kiprah sebagian  jurnalis,  pers,  dan  media  menjelang  Pemilu Presiden  2014  ini,  tak  pelak  lagi  bahwa  situasi  panas  di  tengah masyarakat  ini  tak  lepas  dari  peran  media. Selain  berbagai  berita, iklan  yang  mondar-mandir menghiasi  layar  televisi, terdengar  di  radio, terpampang  di  halaman media  cetak,  dan  muncul  di  media  internet, turut  membentuk  persepsi masyarakat  tentang  cita-cita, keinginan,  harapan  di  masa  depan, serta  para  pemimpin yang  mereka  harapkan. Namun,  media  pun  telah  menguak sisi  gelap  persepsi masyarakat,  sikap  atas  perbedaan  pendapat, faham  dan  keyakinan yang  berbeda,  serta  pensikapan  yang  beragam  terhadap berbagai  hal  yang  menyangkut  peri  kehidupan  mereka. 

Sungguh  sangat  menggembirakan jika  media  massa  mampu  mengarahkan, mengubah  dan  membentuk masyarakat  Indonesia  menjadi lebih  baik  dengan berbagai  silang  pendapat yang  berkecamuk  menjelang Pemilu  Presiden  2014  ini.  Tapi  betapa  mengerikannya jika  media  massa  dan  wartawan justru  menjadi  penyumbang terbesar  bagi  perpecahan dan  kehancuran  negeri ini.


Bebas Destruktif

Bebas Destruktif

Apakah kebebasan selalu destruktif? Nggak juga. Problem muncul krn kebebasan tdk bs membatasi dirinya sendiri. 

 Apakah manusia punya kebebasan dlm menentukan nasibnya sendiri? Jawabannya ya dan tidak

 Ya, dalam artian memang manusia diberikan hak dan kemampuan utk memilih. 

 Tidak, dalam artian bhw pd hakikatnya Allah SWT telah menjelaskan yg haq utk dipilih dan yg bathil utk ditinggalkan. 

 Dgn kata lain, manusia bisa saja memilih yg bathil, namun kelak akan dipertanggungjawabkan.

 Dlm pertanggungjawaban itu, yg haq takkan jd bathil dan yg bathil takkan jd haq.

 Biasanya manusia mengalami ilusi krn tdk bisa 'melepaskan diri' dari dunia ini.

 Kata “dunia” dlm bhs Indonesia diserap dr bahasa arab “dunya” yg artinya “yg dekat”.

 Mengapa org tertipu dgn dunia? Ya karena ia dekat. Akhirat itu jauh, makanya banyak yg lupa.

 Krn dunia ini dekat dan ada di hadapan mata, maka ada yg menyangka bahwa dunia inilah satu2nya realitas. 

Akibatnya, eksistensi kerap kali disalahpahami sebagai kebenaran. 
 Sederhananya, keberadaan sesuatu dianggap sbg justifikasinya. 

 Dlm paham pluralisme agama, misalnya, terutama bagi penganut tren Hikmah Abadi, logika ini jg digunakan. 

 Mrk katakan, “jika agama2 lain itu bathil, maka mengapa Allah membiarkannya ada selama ribuan tahun?” 

 Mungkin mrk lupa bhw Iblis pun ada, padahal ia dipandang sbg makhluk yg kafir dan zalim o/ Allah. 

Artinya, hanya krn sesuatu itu ada (exist), tdk berarti hal itu dpt dibenarkan. 

 Logika semacam ini sejalan – anehnya – dgn logika sebagian kaum ateis. 

 Mrk berkata, “kalau Tuhan itu ada, kenapa ada peperangan, penderitaan dsb di dunia?”


 Mungkin itulah sebabnya mengapa liberalis yg pluralis, walau ngaku beragama, tp dekat dgn org2 ateis. Logikanya mirip. 

 Demikianlah org2 yg tertipu dgn dunia, atau menganggap bhw dunia ini satu2nya realitas.


Akmal sjafril
MELAWAN “Setan JIL” DI SARANGNYA

MELAWAN “Setan JIL” DI SARANGNYA

Pengantar Redaksi:

Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara   bedah buku di UIN (alias IAIN) Jakarta. Buku yang   dibedah berjudul “Ada Pemurtadan di IAIN” karya Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah   anak-anak JIL.

 Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya  audiens yang menghadiri acara ini. Jumlahnya seribu   lebih. Dan yang lebih mengagetkan lagi, massa yang   banyak itu justru berasal dari luar UIN, yaitu mereka   yang kontra JIL. Tentu saja kehadiran mereka itu   membuat komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro JIL)   menjadi ciut. 

Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak   memberi kesempatan kepada audiens untuk terlibat dalam   tanya jawab. Meski demikian, kedua ‘pakar’ JIL   kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad   At-Tamimi.

Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang tak terduga itu, nampaknya menunjukkan bahwa generasi  muda Islam kita memang masih banyak yang waras. Kedua,   menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis Islam di internet yang turut   mensosialisasikan adanya acara tersebut, ternyata   cukup efektif. Ketiga, ini merupakan pertolongan Allah   SWT. 

Sayangnya, ketika ‘cendekiawan dan misionaris JIL’ ini   keok -bahkan di sarangnya sendiri- tidak ada satu pun media massa yang mempublikasikannya. Oleh karena itu,  merupakan kewajiban kita untuk mempublikasikan laporanpandangan mata di bawah ini yang disusun oleh akh Abu   Qori.

  Mau Menyanggah Malah Kejeblos

Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada  Pemurtadan di IAIN, tetapi yang terjadi justru   sebaliknya. Para misionaris JIL itu malah terperosok   ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum bedah buku yang semula diharapkan dapat ‘membantai’ Hartono Ahmad Jaiz malah menjadi ajang pembuktian  bahwa di IAIN memang ada pemurtadan. Hujjah-hujjah yang diajukan para misionaris JIL itu justru secara tidak langsung malah meneguhkan adanya proses  pemurtadan di IAIN.

Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu berlangsung di Masjid Kampus UIN (Universitas Islam  Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16 April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi’ul Awwal   1426 Hijriah. 

Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata dihadiri 1000-an peserta, sebagian besar justru   berasal dari luar kampus UIN. Sehingga, perhelatanyang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan Filsafat, karena tidak mampu menampung audiens, dipindahkan ke Masjid, khususnya di lantai 2 dan 3.

Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan  adanya pemurtadan di IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz  (penulis buku yang dibedah) dan Muhammad At-Tamimi dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan dua pembicara  lainnya -yang tampaknya membawa misi untuk menepis danya pemurtadan di IAIN namun justru hujjah-hujjahnya menggunakan pemahaman, materi, dan  metode orang murtad- adalah Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga termasuk penyusun CDL KHI (Counter Draft Legal   Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia yang   telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan dan bertentangan dengan Islam. 

  Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan tepuk tangan bertalu-talu, meski moderator sudah  mengingatkan agar tidak bertepuk tangan di dalam   masjid.  Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith   dan Ulil justru menambah bukti bahwa apa-apa yang   ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN terbitan   Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu,  memang benar adanya.Karena, hujjah-hujjah dan metode dua pembicara yang pro IAIN dalam membantah buku itu  memang diambil dari materi dan pemahaman kelompok   ataupun tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya oleh  para ulama. Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang   tanpa dasar, lalu sampai berani menolak hadits yang  shahih, dan hukum Allah swt dalam Al-Qur’an. Di   samping itu masih disertai dengan  kebohongan-kebohongan untuk memberikan cap-cap sangat   buruk kepada penulis buku. Akibatnya, ketika kebohongan-kebohongan itu dibalikkan oleh penulis buku, maka terkuaklah kesempurnaan bahwa produk dan  bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela IAIN   justru lebih buruk dari yang telah ditulis di buku   itu. 

  Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih  seram dibanding dengan kenyataan yang ditemukan di  lapangan, melalui forum bedah buku tersebut.   Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela   IAIN ketika bedah buku itu adalah:

  1. Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat  buruk kepada penulis buku.
  2. Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham kekufuran, dan justru ditawarkan kepada penulis buku agar mempelajarinya. Bahkan mereka meng-klaim bahwa di  IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi sesungguhnya adalah proses adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang  dijadikan hujjah adalah penafsiran orang-orang yang  sudah divonis oleh para ulama sebagai kafir ataupun   zindiq yaitu Ikhwanus Shofa’ dan Ibnu ‘Arabi tokoh tasawuf sesat berfaham wihdatul adyan (menyamakan  semua agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan Tuhan). 

  3. Melecehkan penulis -yang banyak mengutip  ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi- dengan tuduhan  terlalu ‘memberhalakan’ huruf-huruf Al-Qur’an. Tuduhanitu didibalikkan oleh penulis: karena penulis   mengikuti Al-Qur’an, maka pada hari Jum’at ia pun   melaksanakan shalat Jum’at; sedangkan Ulil, justru   leha-leha berseminar dengan orang Kristen membahas tentang Tuhan di hari Jum’at dari jam 10 hingga 13 dan  tidak shalat Jum’at, tandas Hartono Ahmad Jaiz sambil   mengangkat Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang memberitakan bahwa Ulil tidak Shalat Jum’at.

   4. Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang yang melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an, karena penulis tak membolehkan nikah beda agama. Penulis  menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun Kamal dan Dr Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita  muslimah dengan lelaki Nasrani, dan lelaki muslim   dengan wanita Konghucu. Pernikahan itu bertentangan   dengan Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10 dan  Al-Baqarah (2) ayat 221. Muqsith yang alumni dan dosen UIN Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN yang   melanggar ayat-ayat itu dan malahan memberi cap buruk  kepada penulis buku. Maka, Muhammad At-Tamimi dengan tegas menyatakan penolakan terhadap ayat itu sebagai  sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan   dalih “menurut saya". 

  5. Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq penulis dan isi buku, karena tuduhan-tuduhan Muqsith  dan Ulil itu tak sesuai fakta, maka lebih drastis lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal anjing hu akbar, dengan mengemukakan bahwa dzikir  dengan lafal anjing hu akbar pun kalau niatnya… (tidak  jelas suara Muqsith karena suara hadirin gemuruh) maka bisa meninggikan maqamnya ( maqam di sisi Iblis…). Ungkapan itu menjadikan para hadirin berteriak gemuruh, menyiratkan  kejengkelan karena justru keluar betul keaslian produk  IAIN yang diangkat jadi dosen ternyata seburuk itu pemikirannya dan keyakinannya. Bagaimana lagi para  mahasiswa asuhannya nanti.?? 

  6. Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun dirinya mengakui bahwa hadits itu shohih, hanya karena  keberanian menurut dirinya. Ulil juga mengakui bahwa dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan. Maka Muhamad At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila  pertama dan Muqsith orang gila kedua. Karena Allah swt  telah menurunkan wahyu tetapi ditolak dan disebut tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur.  Berbohong atau memutar balikkan   Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith mengemukakan bahwa penulis buku ini sampai menulis: Si  jompo Sinta Nuriyah. “Penulis ini akhlaqnya masih   akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman  tentunya tidak menulis seperti itu,” kata Muqsith. 

Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz (penulis), bahwa di buku Ada Pemurtadan di IAIN ini  tidak ada tulisan yang bunyinya si jompo. Yang ada   hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah jompo. Lantas, lanjut Hartono, “yang tidak berakhlaq itu yang mengubah perkataan ini atau siapa?” Dan juga,   “orang yang mengajak berdzikir dengan lafal anjing hu akbar (di IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian orang   yang tidak menulis si jompo dikatakan menulis si jompo  dan dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak berakhlaq dan imannya perlu dipertanyakan itu siapa.”  Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah  karena sempitnya waktu, adalah perkataan Muqsith bahwa   Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro (karangan  As-Sya’roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad, aurat wanita itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan   depan dan belakang). 

  Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang dosen dan alumni UIN Jakarta itu apakah ingin  mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi ini bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam membela IAIN itu telah menyembunyikan sesuatu. 

  Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka (al-hurroh) dan wanita budak (al-ammah). Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuhnya, kecuali mukanya dan  kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik, Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya. Menurut Abu Hanifah, seluruh tubuh wanita   adalah aurat kecuali mukanya, dua telapak tangannya, dan dua telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad, (seluruh tubuh wanita adalah aurat) kecuali mukanya   saja. (Al-Mizanul Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan I,  Darul Fikr Beirut, dalam hal syarat sahnya sholat  tentang menutup aurat).  Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah antara pusarnya dan lututnya seperti aurat laki-laki.  Ini menurut pendapat Malik, Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa  auratnya (wanita budak/al-ammah) adalah qubul dan   dubur saja. (ibid). Dalam Kitab Mizanul Kubro itu  dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus sholih adalah  yang pertama (aurat budak wanita, antara pusar dan   lutut) karena tidak adanya syahwat untuk melihat budak  wanita di luar sholat, lebih-lebih ketika sholat.   (ibid). 

Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu  dikutip pendapatnya bahwa aurat wanita merdeka  (al-hurrah) adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan  dua telapak tangannya atau bahkan seluruh tubuh  kecuali muka saja  

  Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan,bahwa wanita sekarang, pengertiannya ya wanita yang disebut al-hurroh itu. Lalu kok bisa-bisanya Muqsith  Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini mengatakan  bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kibro, berpendapat bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul dan   dubur. Itulah cara berbohong untuk mengkampanyekan agar wanita sekarang yang sebagian mereka sudah  memperlihatkan pusarnya itu agar lebih bertelanjang   lagi.

   Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Ahmad   Jaiz melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an, karena Hartono mengharamkan nikah beda agama.  Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu.  Dalam buku itu sudah ditulis, yang dipersoalkan adalah wanita muslimah dinikahi lelaki kafir, Non  Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim menikahi wanita Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan   bahwa tidak ada ayat yang mengharamkan nikah beda  agama. Itu juga menyembunyikan ayat, hingga dibantah   dengan seru oleh seorang pemuda/mahasiswa secara spontan dengan mengacungkan Al-Qur’an.  Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur’an, tentunya mau   mengakui, Ayatnya sudah jelas, QS 60: 10, QS 2: 221, dan tentang kafirnya Ahli Kitab dalam Surat  Al-Bayyinah ayat 6. 

 Dengan cara menyembunyikan ayat, hingga justru menghalalkan nikah beda agama (seperti  yang telah disebutkan itu) adalah satu bukti justru  adanya faham yang dihembuskan dari UIN Jakarta adalah  yang menentang ayat Al-Qur’an itu. Membela kekufuran dengan kekufuran Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan  faham kekufuran. Yaitu kilah bahwa IAIN tidak mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi penafsiran.

   Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham Ikhwanus Shofa’ yang tidak perlu melaksanakan yang  fardhu-fardhu/wajib-wajib dan cukup dengan bertasbih.

Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru faham yang tidak perlu mengerjakan yang  fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang sebenar-benarnya kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya dalam Kitab Tafsir Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah  dalam Majmu’ Al-Fatawa. 

  Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam  Al-Qurthubi yang dimulai dengan menukil ulasan gurunya, al-Imam Abu al-’Abbas, mengenai golongan ahli kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu: “Mereka itu berkata: Hukum-hukum syara’ yang umum adalah untuk para nabi dan orang awam. Adapun para wali dan  golongan khusus tidak memerlukan nas-nas (agama),   sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang terdapat dalam hati mereka. Mereka berhukum  berdasarkan apa yang terlintas dalam fikiran mereka.” 

  Golongan ini juga berkata: “Ini disebabkan kesucian  hati mereka dari kekotoran dan keteguhannya maka   terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi, hakikat-hakikat ketuhanan, mereka mengikuti rahasia-rahasia alam, mereka mengetahui hukum-hukum yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum yang bersifat umum, seperti yang berlaku kepada  Khidir. Mencukupi baginya (Khidir) ilmu-ilmu yang  terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa yang ada pada kefahaman Musa.” Golongan ini juga menyebut: “Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau  telah diberikan fatwa oleh para penfatwa.” 

  Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini dengan berkata: “Kata guru kami r.a.: Ini adalah  perkataan zindiq dan kufur, dibunuhlah siapa pun yang  mengucapkannya dan dia tidak diminta taubatnya, karena dia telah ingkar terhadap apa yang diketahui dari  syariat. Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan-Nya  dan melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak diketahui melainkan melalui perantaraan rasul-rasul yang menjadi para utusan antara Allah dan  makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan  perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum.  Allah memilih mereka untuk itu dan mengkhususkan   urusan ini hanya untuk mereka.”

   “Telah menjadi ijma’ salaf dan khalaf bahwa tidak ada  jalan mengetahui hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan suruhan dan larangan-Nya walaupun sedikit,  melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang berkata  “Disana ada cara lain untuk mengetahui suruhan dan larangan Allah tanpa melalui para rasul atau tidak   memerlukan para rasul” maka dia adalah kafir, dihukum   bunuh tidak diminta bertaubat, dan tidak diperlukan untuk tanya jawab dengannya (al-Jami’ li Ahkam  al-Quran jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr,   Beirut). 

  Gejala Pemurtadan di IAIN

  Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala pemurtadan di AIN, di antaranya buku Harun Nasution  untuk IAIN berjudul Islam Dipandang dari Berbagai   Aspeknya menyatakan bahwa agama monotheisme itu Islam,  Kristen (Protestan dan Katolik), dan Hindu. Juga buku Sejarah Pembaharuan Pemikiran Islam tulisan Harun  Nasution untuk IAIN diantara isinya menyebut Rifaat  At-Tahtawi (Mesir) sebagai pembaharu, dan bahkan dalam  makalah dosen IAIN di bawah bimbingan Harun Nasution   di SPS (Studi Purna Sarjana) di IAIN Jogja 1977, Rifaat At-Tahtawi yang menghalalkan dansa-dansa laki perempuan disebut sebagai pembuka pintu ijtihad. Ini  adalah penyesatan. Mana ada pembaru dalam Islam   menghalalkan yang haram. Padahal dalam hadits, ada potensi zina bagi mata, tangan, mulut, hati dan dibenarkan atau dibohongkan oleh farji/ kemaluan kata   Hartono. 

  Hal itu dibantah Abdul Muqsith Ghozali dengan kitab  I’anatut Tholibin terbitan Toha Putra Semarang, dengan  dibacakan tentang definisi zina, lalu Muqsith   mengatakan, kalau hasyafah (kemaluan lali-laki) ditekuk maka bukan zina. Begitu juga dengan tangan. Hartono menjawab, “bagaimana ini, tentang zina, tangan   punya potensi zina itu saya mengutip hadits Nabi saw. Kenapa hadits Nabi dibantah pakai kitab I’anatut  Tholibin? Ya seperti inilah keluaran dari IAIN,” tegas   Hartono dengan menuding Muqsith yang di sebelah   kanannya. 

  Attamimi dengan suara lantang menantang Ulil Abshar Abdalla yang menolak hadits, yang walaupun shohih di  kitab Bukhori, namun menurut Ulil tidak sesuai, maka  ulil menolaknya. Contohnya hadis tentang orang sholat jadi batal karena adanya yang lewat yaitu anjing,  orang perempuan, dan khimar/keledai. Kata Ulil, “di  sini perempuan disamakan dengan anjing dan keledai. Jadi saya tolak, walaupun itu ada di Kitab Shohih  Bukhori,” kata Ulil. 

  Kata At-Tamimi, “apakah anda ini ahli hadits? Apa keahlian anda. Dalam hal ilmu agama ini tidak bisa hanya dengan perkataan ‘pendapat saya’. Di ilmu teknik dunia saja tidak bisa dengan ‘pendapat saya’ . Memang anda ahli apa? Apakah ahli hadits? Saya tantang anda bicara tentang hadits. Bahkan kumpulkan seluruh orang  JIL, cukup saya hadapi sendirian. Tidak bisa bicara  agama kok ‘menurut saya’, ‘menurut saya’. Bukan hanya perempuan yang disamakan dengan binatang, semua  laki-laki yang tidak percaya kepada Al-Qur’an dan  As-sunnah seperti anda ini dinyatakan dalam Al-Qur’an  seperti binatang,” seru At-Tamimi dengan lantang,   disambut dengan suara gemuruh hadirin. 

  Dua orang yang membela IAIN dan ingin merobohkan fakta pada buku Ada Pemurtadan di IAIN itu setelah gagal memberikan cap-cap buruk karena dibalikkan dengan  telak, maka justru menolak hukum Allah (sebagian  ditentang, dan bahkan dinyatakan tidak ada hukum Tuhan), dan menolak hadits walaupun diakui shahih.

  Di situ justru pada dasarnya mereka menampakkan tambahan bukti yang ada pada ungkapan-ungkapan mereka sebagai alumni, dosen dan pembela IAIN bahwa  sebenarnya IAIN memang jelas ada pemurtadan. Jadi, mereka mau menepis Adanya pemurtadan di IAIN tetapi justru terperosok pada penguatan bahwa memang benar  ada pemurtadan di IAIN secara sistematis. Itu tentu  saja sangat berbahaya. 

  Buku Ada Pemurtadan di IAIN dibedah pertama kali di Islamic Book Fair di Istora Senayan Jakarta, Ahad 27 Maret 2005. Pembicara Dr Roem Rowi dosen pasca sarjana  IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tafsir; dan penulis buku Hartono Ahmad Jaiz. Hadirin sekitar 500 orang. Dr Roem Rowi mengakui, di IAIN dia mengajar tafsir, namun mahasiswanya dirusak oleh pemikiran-pemikiran yang  diajarkan dalam materi pemikiran Islam (dan sejarah kebudayaan Islam), yang itu justru materi kuliah  dasar, semua mahasiswa harus ikut.

   Sehingga, ketika ditanya peserta bedah buku, ke mana untuk mendidikkan anak di perguruan tinggi yang  islami, Dr Roem Rowi tidak memberikan rekomendasi, hanya menunjuk di antaranya Universitas Islam Internasional di Malaysia. Sedangkan ketika ditanya tentang kurikulum, seberapa peran menteri agama dalam membuat kurikulum di IAIN, Roem Rowi menjawab, menteri agama masa lalu ya hanya mengikuti Dr Harun Nasution. “Seakan perkataan Harun Nasution itu qoululloh (firman  Alloh) bagi menteri agama yang lalu,” ujar Roem Rowi   yang meraih gelar doktornya dari Universitas al-Azhar  Mesir ini. 

  Disebut Ada Pemurtadan di IAIN, menurut buku itu, karena kurikulumnya, materi kuliahnya, sistem  pengajarannya, cara mengajarnya, dan dosen-dosennya banyak yang tidak sesuai dengan sistem pemahaman Islam yang benar. Tidak merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, dengan manhaj salafus shalih. Tetapi yang dijadikan  mata kuliah dasar justru sejarah pemikiran Islam dan sejarah kebudayaan Islam, yang semuanya bukan dasar Islam, dan disampaikan tidak secara ilmu islami, tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan sistem  pemahaman yang benar. Diajarkan secara liar, yaitu tanpa sanad (pertalian riwayat) hingga boleh  berkomentar apa saja sampai menghina para sahabat   sekalipun.  Akibatnya, alumni IAIN tidak bisa membedakan antara madzhab-madzhab (yang perbedaannya itu dalam wilayah furu’/ cabang, jadi boleh saja) dengan sekte-sekte  sesat (firoq dhollah) yang sudah berbeda dengan hal pokok yang benar. Bahkan sampai tak bisa membedakan  antara mukmin dengan kafir, ketika diajari tasawuf  falsafi dan apa yang disebut filsafat Islam (semuanya   dalam materi kuliah sejarah pemikiran Islam dalam mata kuliah dasar). Akibatnya, mereka menyamakan semua agama. Itulah sebenar-benarnya pemurtadan secara  sistematis lewat jalur perguruan tinggi Islam se-Indonesia baik negeri maupun swasta. Maka kurikulum, sistem pengajaran, materi, metode, dan  dosen pengajarnya perlu ditinjau ulang.

  Pembelajaran  dosen-dosen IAIN ke Barat untuk studi Islam pun perlu   dihentikan, menurut penulis buku, karena itu menjadi sumber utama pemurtadan tersebut.  Usai bedah buku di UIN Jakarta, hadirin pun berjama’ah  shalat dhuhur, tanpa ada dosen ataupun mahasiswa UIN yang maju jadi imam, hingga Ustadz Mustofa Aini  seorang hadirin alumni Universitas Islam Madinah maju untuk mengimami setelah agak lama ditunggu-tunggu tak ada yang maju. 

 Ulil, Muqsith dan sebagian besar   panitia dari BEM Fak Usuhuluddin dan Filsafat UIN   Jakarta tidak tampak ikut shalat berjama’ah. Mereka berada di mihrab sebelah imaman. Kemudian Ulil diiringi para panitia turun dan pulang setelah hadirin  yang shalat berjama’ah telah bubar pulang. 
  “Kampus Islam tidak mencerminkan Islam,” keluh di   antara yang hadir.