PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Jodoh Itu...

Jodoh Itu...

*Jodoh itu.... (baca sampai habis, biar paham)

1. Jangan menikah karena kesepian, menikah karena orang lain sudah menikah semua, tinggal kita seorang yang belum, aduhai, pernikahan itu bukan trend, yang semua orang bisa ikut-ikutan, apalagi karena nggak enak terlihat aneh sendiri. Dan terlepas dari itu, catat baik-baik, banyak orang yang setelah menikah, dia tetap merasa sepi, sendirian.

2. Jangan menikah karena alasan orang lain. Itu betul, dalam peristiwa dramatis, kita bisa segera menikah agar orang tua sempat menyaksikan sebelum meninggal, agar mereka bahagia. Tapi menikahlah karena alasan kita sendiri, jadikan itu patokan terbesar. Karena yang menjalani kehidupan berumah-tangga itu adalah kita, bukan orang lain. Dan karena, jika besok lusa pernikahan itu gagal, kita tidak menyalahkan orang lain--itu sungguh tiada manfaatnya.

3. Semua pernikahan itu punya masalah. Bohong jika ada yang bilang keluarga mereka baik-baik saja sepanjang masa. Lantas kenapa sebuah pernikahan bisa awet? Karena ada yang sabar dan mengalah. Satu-satunya bekal pernikahan yang tiada pernah kurang adalah: sabar. Punya sabar segunung, tetap kurang banyak. Punya sabar selangit, pun tetap kurang banyak. Jadi bekalnya tidak harus mobil, rumah, peralatan dapur, dsbgnya. Sekelas orang sabar saja masih membutuhkan rasa sabar ekstra.

4. Kita tidak pernah tahu siapa jodoh terbaik kita. Tidak ada alatnya, tidak ada aplikasinya, dan tidak akan ditemukan. Kita baru tahu setelah kita menjalani pernikahan tersebut. Dan rumitnya, itu juga belum cukup. Banyak yang berpisah jalan setelah sekian lama menikah. Lantas kapan dong kita baru tahu persis? Tidak ada jawabannya. Nah, dengan situasi seperti itu, jangan habiskan waktu dengan cemas apakah ini jodoh terbaik atau bukan. Jika kalian muslim, tegakkanlah shalat istikharah, dapatkan keyakinan, kemudian bismillah, jalani dengan mantap.

5. Well, tidak ada jodoh yang sempurna di dunia ini. Semua orang pasti punya kekurangan. Ada yang ganteng/cantik pol, ternyata kalau tidur ngoroknya seperti sirene. Ada yang bertanggung-jawab nan setia, ternyata pelupa, dia lupa harus menjemput istrinya di manalah. Tapi kita selalu bisa membuat yang tidak sempurna itu menjadi indah, keren, seperti pelangi, sepanjang kita bersedia menerima kekurangannya. Orang2 yang sibuk memasang kriteria sempurna bagi calon jodohnya, akan hidup sendiri hingga alien menyerang bumi.

6. Tidak ada yang tahu kapan persisnya kita akan menikah. Eh, yang masih kecentilan, manja-manja, ternyata besok sudah menikah, atau malah punya anak dua. Yang terlihat dewasa sekali, sudah siap sekali, bahkan bijak nian bicara soal menikah, ternyata bertahun-tahun tetap sendiri. Maka, saat kita tidak tahu kapan jodoh itu akan datang, fokuslah memperbaiki diri sendiri. Saat kesempatannya datang, ingatlah nasehat lama, kesempatan baik tidak datang dua kali. Tapi ketika kesempatannya lolos, gagal, juga ingatlah petuah orang tua, akan selalu ada kesempatan2 berikutnya bagi orang yang sabar.

7. Pekerjaan tetap, mapan, dan lain-lain itu jangan dijadikan syarat mutlak mencari jodoh. Itu betul, sungguh menyenangkan jika jodoh kita ternyata sudah mapan, berkecukupan. Tapi boleh jadi akan lebih spesial lagi, jika kita bersama-sama menjalani hidup sederhana, untuk kemudian menjadi lebih baik setiap harinya. Lebih baik pastikan saja, semua pihak memahami tanggungjawabnya. Misal, adalah tanggungjawab suami mencari nafkah. Boleh istri bekerja? Ikut membantu nafkah keluarga? Dikembalikan ke masing2 pasangan mau seperti apa. Tapi jelas sekali, jika istri bekerja, penghasilannya adalah milik dia--soal dia mau memberikannya ke keluarga atau tidak, itu urusan dia. Tanggungjawab mutlak tetap ada di suami. Pemahaman2 seperti ini penting loh, agar kalian laki-laki yang sekarang sibuk galau, apalagi sibuk tebar pesona, tahu persis saat menikah nanti.

8. Mencari jodoh itu tidak rumit. Ini beneran loh. Mencari jodoh itu sederhana. Kalian bisa meminta orang tua mencarikan (karena itu juga salah-satu kewajiban mereka). Juga bisa minta sahabat menjadi intel perjodohan. Jodoh itu ada di mana-mana, di sekolah, di kampus, di tempat kerja, di angkutan umum saat berangkat beraktivitas, di mesjid, di komplek rumah, dll, dll. Tapi kenapa kadang terasa rumit sekali? Karena kitalah yang membuatnya rumit. Catat baik-baik, di dunia ini sudah milyaran orang pernah menikah. Milyaran pasangan. Nah, di mana rumitnya jika orang lain toh milyaran telah menikah.

9. Terakhir, kalau kalian mau belajar banyak hal tentang jodoh, maka jangan belajar dari novel2 (apalagi novel Tere Liye), dari film fiksi, dari sinetron, serial. Aduh, itu fiksi loh. Dikarang2 saja sama penulis ceritanya. Melainkan belajarlah dari orang tua di sekitar kalian. Kakek-nenek, opa-oma, mbah buyut, yang sudah menikah puluhan tahun, tapi tetap langgeng dan bahagia. Amati, pelajari, dengarkan nasehat mereka, itu penting sekali, kehidupan mereka bisa jadi contoh. Maka besok lusa saat kita menikah, mendadak muncul masalah serius, kita bisa meneladani mereka, bagaimana cara mereka mengatasi masalah. Itu selalu bisa jadi pelajaran kehidupan yang tiada ternilai.

*Tere Liye

Kisah Mukidi dengan Wanita

Seorang wanita gaul bertanya pada Mukidi yang sdh soleh:

Wanita: "Kenapa sih kamu nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya aku ini hina ya?"

Mukidi: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu karena saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Mukidi : "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Mukidi : "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua wanita layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup tubuh segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

MUKIDI : (Membuka sebuah rambutan, lalu memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada wanita tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".

Mukidi : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang pasti memilih yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan wanita untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan wanita juga".

Wanita: "Terimakasih ya, aku semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita.
Subhanallah. Ngomong-ngomong Mas Mukidi sudah punya pacar belum?"

Mukidi: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi sekarang punya temen istimewa"

Mukidi: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya jelas yang baru lah"

Mukidi: "Kalau suatu saat Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya pasti saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Mukidi: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci bernama pernikahan. menjadi pasangan yang saling mencintai karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum akad suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkanyang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata pemuda tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, aku semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah aku lakukan?"

Mukidi : (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah menerima taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita datang dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas Mukidi, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya bisa berubah lebih baik”

Mukidi: “Aamiin YRA"

Sekilas Terdengar biasa, Tapi Bisa Berbahaya

Sekilas Terdengar biasa, Tapi Bisa Berbahaya

1. Saudara laki-laki bertanya kepada adik perempuannya, saat berkunjung, seminggu setelah saudara perempuannya itu melahirkan:
"Hadiah apa yang diberikan suamimu setelah engkau melahirkan?"
"Tidak ada." jawabnya pendek. Saudara laki-lakinya berkata lagi, "Masa sih, apa engkau tidak berharga di sisinya? Aku bahkan sering memberi hadiah untuk istriku walau tanpa alasan yang istimewa."

Siang itu, ketika suaminya lelah pulang dari kantor menemukan istrinya merajuk di rumah. Keduanya lalu terlibat pertengkaran. Sebulan kemudian, antara suami dan istri ini terjadi perceraian. Dari mana sumber masalah? Kalimat sederhana yang diucapkan saudara laki-laki sang istri tadi.

2. Saat arisan seorang ibu bertanya:
"Rumahmu ini apa tidak terlalu sempit? Bukankah anak-anakmu banyak?”
rumah yang tadinya terasa lapang, sejak saat itu mulai dirasa sempit oleh penghuninya.
Ketenangan pun menghilang, saat keluarga ini mulai terbelit hutang kala mencoba membeli rumah besar dengan cara kredit ke bank.

3. Seorang teman bertanya:
''Berapa gajimu sebulan kerja di toko si fulan?"
Ia menjawab, "1 juta rupiah."
"Cuma 1 juta rupiah? Sedikit sekali ia menghargai keringatmu. Apa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupmu? "
Sejak saat itu ia jadi membenci pekerjaannya. Ia lalu meminta kenaikan gaji pada pemilik toko. Sayangnya pemilik toko menolak dan mem-PHK nya. Kini ia malah tidak berpenghasilan dan jadi pengangguran.

4. Seseorang bertanya pada kakek tua:
"Berapa kali anakmu mengunjungimu dalam sebulan? "
Si kakek menjawab, "Sebulan sekali."
Sang penanya menimpali, "Wah keterlaluan sekali anak-anakmu itu. Di usia senjamu ini seharusnya mereka mengunjungimu lebih sering." Hati si Kakek menjadi sempit, padahal tadinya ia amat rela terhadap anak-anaknya. Ia jadi sering menangis dan ini memperburuk kesehatan dan kondisi badannya.

Apa sebenarnya keuntungan yang kita peroleh ketika bertanya seperti pertanyaan-pertanyaan di atas? Jagalah diri dari mencampuri kehidupan orang lain. Mengecilkan dunia mereka. Menanamkan rasa tak rela pada apa yang mereka miliki. Mengkritisi penghasilan dan keluarga mereka, dst…dst.

Jika terus berperilaku seperti itu, kita akan menjadi agen kerusakan di muka bumi ini. Bila ada bom yang meledak, cobalah introspeksi diri. Bisa jadi kitalah yang menyalakan sumbunya.

Sumber: Dari berbagai sumber

#COPAS (semoga penulisnya mendapat pahala)

TUJUH PERKARA YANG MENGALIR PAHALANYA

TUJUH PERKARA YANG MENGALIR PAHALANYA

Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallaam bersabda :

"Ada tujuh perkara yang terus mengalir pahalanya bagi seorang hamba meski ia sudah meninggal dunia di dalam kuburnya :

1. orang yang mengajarkan ilmu.
2. mengalirkan air dari sungai,
3. menggali sumur,
4. menanam pohon kurma.
5. membangun masjid,
6. mewariskan mushaf, dan
7. meninggalkan anak yg beristighfar baginya sepeninggalnya."
[Hadis hasan riwayat al-Bazzar, Abu Nu’aim dan al-Baihaqi. Lihat: Shahih al-Jami’ ash-Shaghir oleh al-Albani no. 3602]

[•] PENJELASAN SINGKAT

1). Mengajarkan Ilmu.
Yakni ilmu yang bermanfaat yang dapat memberikan pengetahuan kepada manusia tentang Islam, mengenalkan dirinya kepada Allah ta’ala, menunjukinya kepada jalan yang lurus. Ilmu yg membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebatilan, serta yang halal dan yang haram.
2). Mengalirkan Air dari Sungai.
Maksudnya adalah membuat saluran air dari sungai atau mata air. Sehingga dapat mengalir ke perumahan penduduk dan untuk bercocok tanam. Masyarakat dapat menggunakannya untuk keperluan minum, menyirami tanaman, dan untuk minuman hewan ternak, dll.
3). Menggali Sumur.
Dengan amalan mulia ini berarti ia telah berbuat baik & menghilangkn kesusahan manusia. Dengan memudahkan mereka memperoleh
air untuk keperluan sehari-hari. Sebab air merupakan sumber kehidupan yang sangat penting bagi semuanya.
4). Menanam Pohon Kurma.
Pohon kurma merupakan sayyidul-asyjaar (tuannya pepohonan), pohon yang paling utama, banyak manfaatnya dan bisa dirasakan oleh banyak manusia. Disebutkannya pohon kurma secara khusus tidak menunjukkan bahwa menanam pohon di sini hanya terbatas pada pohon kurma, namun mencakup pohon lainnya.

[diringkas dari sebuah selebaran karya Syaikh Abdurrazzaq bin Abdulmuhsin al-Badr]

Berapapun Harga Kehormatanmu

Berapapun Harga Kehormatanmu

Al Huthoiah dan Az Zabarqon adalah dua orang penyair sangat terkenal di masa kekhilafahan Umar bin Khattab.

Ketika Al Huthoiah sering kali menyerang dan mengejek Az Zabarqon dan siapapun dengan syairnya yang tajam, Umar menegur dan melarangnya. Tapi ia terus melakukannya tetapi dengan cara halus yang tidak dipahami kecuali oleh penyair handal semisalnya.

Suatu hari Az Zabarqon mengadukan Al Huthoiah kepada Umar atas syairnya:

Tinggalkan kemuliaan itu, tak usah mencarinya.
Duduklah, karena engkaulah yang makan dan berpakaian.

Umar berkata: "Itu hanya teguran".

Az Zabarqon berkata: "Apakah hidupku ini hanya sebatas makan dan berpakaian? Demi Allah wahai amirul mu’minin, belum pernah ia menghina saya yang lebih menyakitkan dari ini".

Maka Umar pun harus bertanya kepada penyair handal Rasulullah yang masih hidup Hassan bin Tsabit. “Ya, bahkan ia telah membuang kotoran di atasnya,” jelas Hassan.

Umar memutuskan untuk memenjarakan Al Huthoiah agar menjaga kehormatan muslimin dari lisan buruknya itu.

Di penjara, Al Huthoiah bersyair untuk Umar:

Bagaimana menurutmu tentang anak-anak burung yang tinggal di Dzi Marakh

Bulunya tumbuh lembut di sekitar tembolok, tak ada air dan tak ada pohon

Kau lemparkan pencari makannya di lubang yang gelap

Maafkanlah, bagimu keselamatan Allah, wahai Umar

Karena kasihan, Umar mengeluarkannya dari penjara dan mewanti-wantinya agar tidak lagi menghina siapapun dengan syairnya. Al Huthoiah berkata: "Kalau begitu keluargaku akan mati kelaparan".
(Karena mereka bersyair utk mencari uang)

Mendengar itu, Umar memberikan kepadanya 3000 Dirham (sekitar 180 juta Rupiah) dengan perjanjian agar ia berhenti bersyair yang mencederai kehormatan orang lain.

Dan Al Huthoiah pun berhenti.

Terlalu mahal kehormatan muslimin untuk dicederai!!! Berapapun harga perlindungannya, mari kita beli.

Jangan justru menjadi penyebab cederanya kehormatan saudara.

Keselamatan untukmu, wahai Umar...

‪#‎budiashari‬
SENYUMAN DAN SEGELAS TEH

SENYUMAN DAN SEGELAS TEH


😊🍵

Seorang guru di Jeddah bercerita :
Di saat saya sedang berada di ruang guru,  saya membuat segelas teh untuk diminum, tapi lonceng kemudian berbunyi sementara tehnya masih sangat panas, dan disekolah ini semua guru wajib untuk bersegera menuju kelas saat lonceng sudah berbunyi.

Saya kemudian melihat seorang OB ( Office Boy ) berkebangsaan Filiphina, saya tersenyum kepadanya dan memberinya segelas teh itu.

Keesokan harinya, OB itu datang kepada saya dan berkata kalau dia sangat kaget, itu adalah kali pertama ada seorang guru yang tersenyum kepadanya dan bahkan memberinya segelas teh, dia merasa kalau ada sesuatu yang salah.

Dengan berat saya berkata kepadanya :
" saya ingin memuliakanmu dan kami orang islam, dan beginilah akhlaq kami "

Dia ( OB ) berkata :
" saya disini sudah 2 tahun bekerja , tak ada satu pun dari guru-guru yang ada yang berbicara dengan saya dan memberi saya senyuman ... sebenarnya saya punya ijazah S2 cuma karena kemiskinan dan kebutuhan hidup akhirnya saya mengambil pekerjaan ini "

Saya tidak percaya dan ingin membuktikan pengakuannya, saya lalu mengundangnya ke rumah, kebetulah saya punya seorang anak yang duduk di kelas 3 SMA, saya lalu menyodorkan buku ensiklopedia berbahasa inggris, dia ( sang OB ) lalu membacanya tanpa terbata-bata, saya pun akhirnya yakin kalau dia berkata jujur.

Dia kemudian rutin ziyarah kerumah saya setiap jumat, dia lalu mengumumkan keislamannya, bahkan bisa meyakinkan 10 orang temannya untuk ikut masuk islam

Sebabnya :

" SENYUMAN DAN SEGELAS TEH "

Rasulullah bersabda : " Jangan engkau menganggap remeh sebuah kebaikan, bahkan jika kebaikan itu hanya meperlihatkan wajah yang sumringah di hadapan saudaramu saat bertemu "

Semoga ALLAH memaafkan kita semua dari segala kekurangan - kekurangan yang ada.
Tetaplah tersenyum. :)

-------------------
Diterjemahkan dari kisah yang di muat di akun resmi FB Syekh Muhammad Al 'Arifi - hafidzahhullah - .

#COPAS

Riba Yang Paling Ringan Dosanya Semisal Menzinahi Ibu Kandung Sendiri

pengakuannya: selama ini hanya bayar bunga riba  KPR saja

# Riba Yang Paling Ringan Dosanya Semisal Menzinahi Ibu Kandung Sendiri

Jika Ada Berita Seorang Anak Menzinahi Ibu Sendiri, Tentu Kita Geram Sekali “Anak Durhaka Dan Tidak Tahu Malu”, Itu Mungkin Komentar Kita

Bagaimana Jika Kita Mendengar Hadits Ini?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam Bersabda,

الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ

“Riba Itu Ada 73 Pintu (Dosa). Yang Paling Ringan Adalah Semisal Dosa Seseorang Yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri. Sedangkan Riba Yang Paling Besar Adalah Apabila Seseorang Melanggar Kehormatan Saudaranya.”

(HR. Al Hakim Dan Al Baihaqi Dalam Syu’abul Iman Syaikh Al Albani Mengatakan Bahwa Hadits Ini Shahih Dilihat Dari Jalur Lainnya)

Itu Yang Paling Ringan..
Demikianlah Bagaimana Sistem Riba Merusak Kehidupan Dan Merusak Perekonomian Suatu Bangsa Dan Banyak Dari Umat Islam Yang Tidak Menyadari. Memang Sistem Riba Tidak Langsung Terlihat Dampaknya Atau Secara Individu Tidak Terlalu Terlihat. Akan Tetapi Secara Sistem Akan Merusak Sistem Perekonomian Dan Bisa Menruntuhkan Perekonomian Suatu Bangsa

Berikut bahaya lain dan ancaman bagi pelaku dan pendukung riba:

-Akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَْ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.”[Al-Baqarah: 278-279]

-Dilaknat semua yang mendukung riba

dari sahabat Jabir bin Abdillahradhiallahu ‘anhu bahwasannya ia menuturkan,

لعن رسول الله صلّى الله عليه وسلّم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه، وقال: (هم سواء). رواه مسلم

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknati pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan / membayar riba(nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Dan beliau juga bersabda, ‘Mereka itu sama dalam hal dosanya’.” (HR. Muslim).

–Termasuk dosa besar yang membinasakan,

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ

“Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?” Beliau mengatakan, “(1) Menyekutukan Allah, (2) sihir, (3) membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, (4) memakan harta anak yatim, (5) memakan riba, (6) melarikan diri dari medan peperangan, (7) menuduh wanita yang menjaga kehormatannya (bahwa ia dituduh berzina)” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)

Demikian semoga bermanfaat.

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

http://muslimafiyah.com/riba-yang-paling-ringan-dosanya-semisal-menzinahi-ibu-kandung-sendiri.html

MENGAPA BANYAK ORANG BANGGA MENEKAN HARGA PADA PEDAGANG KECIL?

MENGAPA BANYAK ORANG BANGGA MENEKAN HARGA PADA PEDAGANG KECIL?

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi Pak Ujang (65 tahun), pemilik kios ikan kecil di bilangan Jakarta Pusat.
Saya sering ke sana. Kiosnya sangat sederhana, berupa papan kecil seluas 2,5 x 4 meter.
Beliau sudah lebih dari 30 tahun berjualan ikan di sana.
Di sudut kanan toko terdapat sebuah tangga menuju lantai dua.
Lantai yang memiliki tinggi 1 m merupakan tempat tinggal Pak Ujang dan istri.

Tepat saat saya berkunjung, muncullah seorang pembeli yang menggunakan mobil mewah brand Jerman.
Awalnya Si Pembeli membeli makanan ikan seharga Rp 5.000,-
Ia pun berusaha keras menawar. Akhirnya Pak Ujang sepakat menjual Rp 9.000,- per dua bungkus.
Si Pembeli kemudian melihat ikan koi tiga warna berukuran sekitar 30 cm. Pak Ujang menjual dengan harga Rp. 40.000,- per ekor. Terjadilah tawar-menawar.

Si pembeli terus memaksa ingin memiliki ikan tersebut dengan harga Rp 25.000,-. Katanya, ikan begitu tidak layak dihargai Rp 40.000,-
Pak Ujang terlihat sangat keberatan menjual ikan tersebut di bawah Rp 35.000,-. Namun, saya sendiri menyaksikan betapa kerasnya si pembeli menawar dan memaksa.

Akhirnya Pak Ujang pun luluh dan menjual empat ekor dengan harga yang diinginkan pembeli. ”Ikan ini sudah hampir 1 bulan tidak laku,” Jawabnya setelah saya menanyakan alasannya
menjual.

Si Pembeli kembali membeli tanaman air yang harusnya berharga Rp 5.000,- per buah. Begitu gigihnya mendapat 4 buah dengan uang Rp 10.000,-, sampai-sampai Si Pembeli memasukkan sendiri dua tanaman air tambahan ke plastik.
Tidak berhenti sampai di sana, saat hendak membayar, dia pembeli kembali meminta dua ekor ikan kecil seharga Rp 5.000,- per ekor untuk mainan anaknya. Dan Pak Ujang akhirnya memberikan.

Saya merenung. Banyak orang sering sekali berhemat setiap keping rupiah dari si miskin. Mereka sering mengganggap harga barang dari seorang pedagang kecil atau pasar tradisional tidak pantas dan menawar serta puas karena bisa berhemat setidaknya Rp 500,-

Kemudian mereka berjalan ke mall dan tidak bertanya kepantasan dari harga secangkir kopi Rp 60.000,- atau semangkok bakso Rp. 40.000,-
Mereka bahkan membeli dengan bangga dan malu bila menawar.

Mereka menawar dari tukang becak yang harus mengayuh sepeda dengan berat, tetapi tidak pernah memprotes argo taksi yang bergerak tak terkendali.
Setelah itu, mereka akan bicara tentang pengentasan kemiskinan.
Mereka salahkan pemerintah atas data-data kemiskinan yang tidak pernah turun.

Padahal di balik itu, mereka mengeksploitasi Si Miskin.
Mereka berusaha berhemat setiap keping rupiah dari Si Miskin yang bekerja lebih keras, lebih berat, dan panas untuk memberi makan keluarganya.

Namun, mereka menghabiskan uang yang jauh lebih banyak di mall tanpa menanyakan kepantasannya.

Dan sadar ataupun tidak.. mereka mungkin adalah kita..

Dr. AH