PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Shalawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Shalawat. Tampilkan semua postingan
Antara Shalawat dan Tawasul Kepada Nabi

Antara Shalawat dan Tawasul Kepada Nabi


Tawashul itu meminta kepada Allah melalui perantara sesuatu. Entah makhluq atau amal shalih.

Misalnya meminta kepada Rasul agar Allah menurunkan hujan. Seperti yang pernah terjadi dizaman Rasul masih hidup. Kalo kepada selain makhluq,tawashul dengan ama shalih kita. Seperti kisah 3 orang yang terkurung dalam sebuah gua. Mereka meminta kepada Allah agar membuka pintu gua yang tertutup batu dengan menyebutkan amal shalih mereka.
Misalkan si A qiyamullailnya tidak pernah absen. Kemudian si A terkena musibah. Lalu si A berdo'a kepada Allah agar musibah itu cepat berlalu dengan menyebutkan qiyamullailnya yang tidak pernah absen. Bahasa kasarnya 'pamer' sama Allah.

Kalo shalawat jelas bukan tawashul. Maknanya saja: Ya Allah,limpahkanlah shalawat,keselamatan dan keberkahan kepadanya (Muhammad).
Di mana kalimat di atas yang merupakan kalimat permintaan kepada Allah dengan perantara Rasul?

"Wahai Rasul,mintakanlah pada Allah agar kami diberi kafahaman ilmu."
Nah ini tawashul.
Tawashul kepada orang yang sudah meninggal jelas haram. Sekalipun orang yang sudah meninggal tersebut adalah Muhammad SAW.
 Shalawat Badar

Shalawat Badar


Anda Tahu Shalawat Badar?

Kemarin dari Cirebon ke Bandung sempat dengar pengamen menyanyikan lagu “Shalawat Badar”. Nah, sekalian saja kita bahas disini secara ringkas. Anda pasti akan takjub kalau menyadari isi dari Shalawat Badar itu. Sungguh, isinya tidak sesederhana alunan nada orang-orang yang menyanyikannya.

Saya tidak ingat secara lengkap bait-bait Shawalat Badar. Hanya tahu dua bait pertama saja. Kalau ada yang tahu lengkapnya, boleh diisampaikan. Berikut sebagian isi Shalawat Badar:

Bait pertama:

Shalatullah salamullah… ‘Ala Thaha Rasulillah. 

Shalatullah salamullah… ‘Ala Yasin Habibillah. 

Bait kedua:

Tawassalna bi bismillah… Wa bil hadi Rasulillah.

Wa kulli mujahidil lilla… Bi Ahli Badri ya Allah.

Disebut Shalawat Badar, karena di ujung bait itu ada kalimat Bi Ahli Badri ya Allah.

Selanjutnya, mari kita pahami maknanya:

Shalatullah salamullah… (semoga sentausa dan selamat dari Allah).

‘Ala Taha Rasulillah… (kepada “Taha” yaitu Rasulullah. Anda tahu darimana kata “Taha”? Taha adalah dari awal Surat Taha. Jadi huruf Taha disana diterjemahkan sebagai Rasulullah).

‘Ala Yasin Habibillah… (kepada “Yasin” yaitu kekasih Allah, yaitu Rasulullah. Yasin juga diambil dari awal Surat Yasin, dan ia diterjemahkan sebagai Rasulullah).

Tawassalna bi bismillah… (kami bertawasul dengan kalimat bismillah)

Wa bil hadi Rasulillah… (dan kami bertawasul dengan “sang hadi” [sang petunjuk] yaitu Rasulullah)

Wa kulli mujahidil lillah… (dan kami bertawasul dengan setiap Mujahidin di jalan Allah)

Bi Ahli Badri ya Allah… (Mujahidin di jalan Allah, dari kalangan peserta perang Badar ya Allah).

Jadi isi “Shalawat Badar” ini tidak sesuai dengan akidah tauhid. Tidak ada yang mengatakan bahwa “Taha” atau “Yasin” itu adalah Rasulullah Saw. Meskipun di kalangan kaum Muslimin, ada yang memberi anaknya nama Taha atau Yasin.

Kemudian tawasul dengan Nabi, tawasul dengan Mujahidin di jalan Allah, dengan peserta perang Badar, semua itu juga tidak boleh. Jangan mengadakan perantara di antara hamba dengan Allah. Hal itu termasuk kemusyrikan yang dilarang.

Tawasul boleh dengan cara meminta doa dari orang shalih, meminta didoakan oleh Ummat Islam, atau tawasul dengan amal-amal shalih yang pernah dilakukan. Untuk hal terakhir itu pernah dilakukan oleh 3 orang musafir yang terjebak dalam gua, lalu bisa keluar setelah tawasul dengan amal-amal mereka.

Saya sarankan, jangan lagi dikembangkan Shalawat Badar itu. Ia keliru dan tidak akan membawa berkah. Malah khawatir, kita akan mengalami banyak kesulitan dengan menyebarkan hal-hal yang keliru itu. Wallahu a’lam bisshawaab.