PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Tokoh tokoh sesat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh tokoh sesat. Tampilkan semua postingan
Agus Abu Bakar Al Habsy

Agus Abu Bakar Al Habsy

Agus Abu Bakar Al Habsy, tokoh Syi’ah yang lahir pada 9 Agustus 1960 di kota Makassar ini termasuk diantara tokoh-tokoh Syiah yang terjun ke kancah perpolitikan Indonesia. Saat ini dia menjabat sebagai dewan pembina partai Demokrat dan dikenal dekat dengan presiden SBY.

Alumni UI kelahiran Makassar ini dulu aktif di Masjid Arif Rahman Hakim (ARH). Agus al-Habsyi bahkan menjadi juru bicara Syiah dalam debat dengan kelompok Sunni yang diwakili oleh Prof. Rasjidi, Imam Masjid Arif Rahman Hakim saat itu. Setelah kalah debat, Agus al-Habsyi dilarang melakukan kegiatan di Masjid ARH dan dicopot semua jabatannya di organisasi kemahasiswaan.

Namun Agus al-Habsyi tidak berhenti di situ mendakwahkan ajaran Syiah di kampus UI, sejumlah mahasiswa berhasil dipengaruhi dan direkrut menjadi Syiah. Setelah menamatkan studi di UI, Agus Abubakar al-Habsyi menjadi ketua Yayasan Baitul Hikmah di Depok dan terjun ke dunia politik. Agus al-Habsyi membantu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendirikan Partai Demokrat tahun 2001. Dia kemudian diangkat menjadi Ketua DPP. Saat ini, Agus Abubakar al-Habsyi menjabat sebagai anggota Dewan Pembina Partai Demokrat dan ikut menyeleksi Capres 2014 Demokrat.

Pada tahun 1989, sejumlah mahasiswa Syiah yang kuliah di UI mendirikan kelompok studi Abu Dzar yang dipimpin oleh Haryanto dan Yussa Agustian. Kedua orang ini adalah binaan Agus Abubakar al-Habsyi, yang diperintahkan untuk mendirikan HMI yang berwarna Syiah sebagai tempat menyemai bibit-bibit Syiah. Setelah berhasil merekrut sejumlah pengikut lewat kelompok studi ini, mereka melanjutkan langkahnya dengan mendirikan HMI berhaluan Syiah di UI. Rudy Suharto dan Kukuh Sulastyoko (Fak. Matematika & Sains) bersama Didi Hardian (Fak. Teknik), dibantu Syaiful Bahri dari Guna Dharma dengan dipandu oleh senior mereka; Zulvan Lindan dan Furqon Bukhori, akhirnya berhasil mendirikan HMI cabang UI, Depok, yang menganut pemikiran Syiah.

Ketika konflik Sunni-Syiah meletus di Sampang, Madura dia termasuk yang paling vokal menyuarakan bahwa Syiah "ditindas" oleh orang-orang Islam yang tidak memahami ajaran Islam.

Agus Abu Bakar sendiri baru-baru ini menunjukkan jatidiri sebenarnya di seminar Hari Asyuro Syiah yang digelar oleh Ahlul Bait Indonesia (ABI) dengan tema  “Kepahlawanan dan Nasionalisme Untuk Manusia Indonesia Seutuhnya; Peringatan Hari Pahlawan Nasional dan Asyuro Imam Husein” di Gedung Sucofindo Jakarta (08/11/2013) mendapat protes keras dari karyawan Sucofindo.Dan berakhir dengan pengusirannya olah karyawan Sucofindo karena bersikap arogan. Kejadian pengusiran ini bermula saat  anggota dewan Pembina Partai Demokrat  muncul secara tiba-tiba dari pintu utama Gedung Sucofindo ke arah kumpulan karyawan Sucofindo yang melakukan aksi protes.(dbs)

Film Sesat Karya Hanung Bramantyo

Film Sesat Karya Hanung Bramantyo

STOP FILM Perusak Aqidah!

Salah satu film perusak aqidah adalah Film “?” yang disutradarai oleh HANUNG BRAMANTYO dan diproduseri oleh ERICK TOHIR pimpinan MAHAKA PICTURE dan MAHAKA MEDIA yang menerbitkan HARIAN REPUBLIKA. Film “?” diiklankan seperempat halaman berwarna di Republika hari Kamis 7 April 2011 dengan tulisan besar di tengah iklan : “Masih pentingkah kita berbeda ?” Dan dalam deretan sponsor tertera logo tulisan “Republika”. Sehari sebelumnya, dalam Wawancara Eksklusif Republika yang menghabiskan satu halaman penuh, Hanung Bramantyo mempropagandakan film ... Lihat Selengkapnya“?” dan menolak stempel pluralis mau pun liberalis untuk filmnya tersebut, dengan dalih “maksud” yang ada dalam hati dan benaknya tidak seperti yang “dipahami” orang lain. Dalam kesempatan lain, sang sutradara menyebutkan hal- hal positif dalam filmnya untuk “menjustifikasi” hal-hal negatif dalam film tersebut yang disorot dan diprotes keras oleh masyarakat. Sang sutradara lupa atau pura-pura lupa bahwa pokok persoalannya bukan terletak pada hal-hal yang sudah positif, tapi justru terletak pada hal-hal negatif yang diprotes umat Islam. Lagi pula, walau dalam film tersebut ada berjuta kebaikan, namun jika dengan sengaja diselipkan suatu propaganda kesesatan, maka tetap sesat dan tetap akan jadi persoalan. Bahkan berjuta kebaikannya akan dipahami sebagai kamuflase untuk menutupi kesesatannya, sekaligus untuk dijadikan alasan justifikasi atas kesesatan tersebut. Masyarakat awam adalah tingkatan kelompok orang yang lugu dan polos dengan pola pikir yang sangat sederhana. Mereka hanya “memahami” dari apa yang mereka dengar, lihat, tonton dan saksikan dari film tersebut, bukan “menafsirkan” apa yang dimaksud sang sutradara atau produsernya. Film “?” telah menyajikan sejumlah statement dan agenda yang memberi kesan kepada masyarakat awam sebagai berikut :

1. Dalam film “?” ada adegan pendeta ditusuk, gereja dibom, restoran Cina diserang secara anarkis oleh sekelompok masyarakat muslim di Hari Lebaran, dan sekelompok pemuda muslim bersarung dan berpeci mencerca seorang Cina yang dibalas dengan bahasa Jawa yang artinya “Dasar Teroris Anjing”. Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya orang Islam itu bengis, biadab dan jahat. Walau pun dalam adegan penusukan pendeta dan pengeboman gereja tidak jelas pelaku dan motifnya, namun dengan rentetan adegan lainnya tersebut mengarahkan kesan kepada umat Islam.

2. Dalam film “?” ada cerita tentang Rika yang semula muslimah, kemudian murtad masuk nashrani karena kecewa suami berpolygami. Rika pun berdalih bahwa kemurtadannya bukan berarti membenci atau pun mengkhianati Tuhan. Sepanjang cerita Rika ditampilkan sebagai sosok yang ideal, toleran, arif dan bijak. Ibu dan anak Rika yang semula menentang kemurtadan Rika, akhirnya bisa menerima. Dalam cerita ini ada narasi : “…semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama; mencari satu hal yang sama, dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.” Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya : 
a. Syariat polygami itu buruk karena merusak rumah-tangga dan menyebabkan orang murtad. b. Murtad itu bukan mengkhianati Tuhan, sehingga tidak mengapa orang murtad. c. Rika murtad tapi ideal, toleran, arif dan bijak, sehingga orang murtad pantas untuk diterima secara baik. d. Sikap Ibu dan anak Rika yang menentang kemurtadan Rika adalah sikap “tidak toleran”, sehingga akhirnya dikalahkan oleh sikap “toleran” dengan menerima kemurtadan Rika.e. Semua agama benar dan sama menuju Tuhan yang satu. (-Pluralisme-).

3. Dalam film “?” ada cerita tentang Surya yang bermain drama pada Hari Raya Paskah di gereja dengan peran menjadi Yesus. Sebelum pentas, Surya latihan Yesus disalib di dalam masjid, lalu direstui oleh Ustadz yang mengajar di masjid tersebut. Saat pentas di gereja pun banyak orang berpenampilan muslimin dan muslimat yang ikut berpatisipasi menonton dan membagikan bingkisan Paskah kepada jemaat gereja. Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya : a. Orang Islam main drama di gereja dan berperan sebagai Yesus tidak mengapa. b. Latihan drama Yesus disalib dalam masjid juga tidak mengapa. c. Orang Islam ke gereja untuk ikut merayakan Paskah pun tidak mengapa. d. Islam ke gereja , Yesus dan Salib ke Masjid sama saja. (-Pluralisme).

4. Dalam film “?” ada cerita tentang Menuk, seorang wanita muslimah berjilbab, yang kerja di restoran Cina yang menjual dan menyajikan Babi. Saat shalat Menuk melaksanakan shalat di tempat kerjanya, dan saat tugas Menuk menghidangkan Babi dengan nyaman tanpa ada sikap galau atau pun riskan. Kesan untuk masyarakat awam bahwasanya menjadi seorang muslim tidak harus menjadi halangan untuk menjual / memotong / menghidangkan Babi. Bahkan ada kesan untuk mengajak masyarakat untuk menghalalkan Babi. Walau pun pemilik restoran menyatakan dalam film tersebut bahwa alat masak untuk Babi harus dipisah dengan alat masak untuk Udang, Cumi dan Ayam, tapi ia juga menyatakan bahwa Daging Babi itu “lebih gurih”, tidak perlu bumbu apa pun seperti memasak Udang, Cumi dan Ayam.

5. Dalam film “?” ada cerita tentang Tan Kat Sun pemilik restoran Cina penjual Babi, yang toleran terhadap karyawan muslimnya dengan mempersilahkan shalat, namun akhirnya mati pasca penyerangan restoran Cinanya oleh sekelompok orang Islam. Diceritakan juga bahwa restoran Cina penjual Babi tersebut di bulan puasa ramadhan merugi karena sepi pengunjung. Kesan untuk masyarakat awam bahwa orang non muslim sangat toleran terhadap umat Islam, tapi tidak sebaliknya. Dan juga mengesankan bahwa pelanggan restoran Cina penjual Babi tersebut adalah umat Islam, sehingga ketika umat Islam sedang puasa Ramadhan maka restoran menjadi sepi pengunjung. Selain itu semua, masih ada lagi adegan Asmaul Husna dibaca dengan nada sinis dan melecehkan oleh pendeta di dalam gereja. Lalu ibu kost berjilbab yang judes dan bakhil.

========

Berdasarkan itu semua maka mengingatkan segenap umat Islam :
  1. Bahwa agama yang benar adalah Islam, selain Islam tidak benar.
  2. Bahwa Islam sangat menghargai perbedaan agama (Pluralitas), tapi menolak pencampur-adukan agama (Pluralisme).
  3. Bahwa Islam menolak segala bentuk penodaan terhadap agama apa pun.
  4. Bahwa “Murtad” bukan bagian kebebasan beragama, tapi merupakan penodaan agama.
  5. Bahwa “Murtad” adalah perbuatan terkutuk dan merupakan dosa besar yang haram dilakukan oleh umat Islam. Pelakunya wajib bertaubat atau dihukum mati.
  6. Bahwa Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme) adalah paham sesat dan menyesatkan bukan dari ajaran Islam.
  7. Bahwa umat Islam haram mencampur-adukan aqidah dan ibadah dengan agama apa pun, termasuk merayakan hari besar umat beragama di luar Islam.
  8. Bahwa Liberal adalah musuh besar Islam dan pembangkangan Liberal terhadap Allah SWT
  9. Bahwa umat Islam wajib tunduk dan patuh kepada Hukum Allah SWT.
  10. Bahwa umat Islam wajib membela agamanya dari segala bentuk penodaan.                               

Selanjutnya
 
  1. Bahwa Film “?” adalah FILM LIBERAL yang sesat dan menyesatkan, sehingga haram ditonton oleh umat Islam dan harus dilarang pemutarannya oleh pemerintah RI.
  2. Bahwa Erick Tohir dengan Mahaka Picture dan Mahaka Media serta Republikanya harus menarik film “?” dari peredaran, dan meminta maaf kepada umat Islam, serta berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahannya. Jika tidak, maka umat Islam diserukan untuk memboikot Erick Tohir dan semua medianya.
  3. Bahwa Hanung Barmantyo harus menghentikan peredaran film “?”, dan bertaubat kepada Allah SWT, serta menyudahi sikap Liberalnya selama ini yang selalu menyerang Islam. Jika tidak, maka umat Islam diserukan untuk menjadikannya sebagai musuh Islam.
  4. Bahwa Lembaga Sensor Film (LSF) tidak boleh meloloskan film apa pun yang merusak aqidah dan akhlaq umat Islam, termasuk film “?”, serta wajib melakukan reformasi kepengurusan agar tidak disusupi atau ditunggangi oleh unsur-unsur Liberal dari kelompok mana pun. Jika tidak, maka bubarkan LSF dan kembalikan wewenang perfilman kepada Kementerian Komunikasi dan Informasi atau kementerian lain yang berkompeten.
  5. Bahwa semua anggota masyarakat diserukan untuk tidak membeli / menyewa / memutar / menonton / mensponsori film apa pun yang merusak aqidah dan akhlaq umat Islam, termasuk film “?”, dan diserukan pula kepada segenap anggota masyarakat untuk memboikot semua pihak yang terlibat dalam pembuatan dan peredaran film yang merusak aqidah dan akhlaq umat Islam, termasuk film “?”
MELAWAN “Setan JIL” DI SARANGNYA

MELAWAN “Setan JIL” DI SARANGNYA

Pengantar Redaksi:

Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara   bedah buku di UIN (alias IAIN) Jakarta. Buku yang   dibedah berjudul “Ada Pemurtadan di IAIN” karya Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah   anak-anak JIL.

 Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya  audiens yang menghadiri acara ini. Jumlahnya seribu   lebih. Dan yang lebih mengagetkan lagi, massa yang   banyak itu justru berasal dari luar UIN, yaitu mereka   yang kontra JIL. Tentu saja kehadiran mereka itu   membuat komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro JIL)   menjadi ciut. 

Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak   memberi kesempatan kepada audiens untuk terlibat dalam   tanya jawab. Meski demikian, kedua ‘pakar’ JIL   kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad   At-Tamimi.

Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang tak terduga itu, nampaknya menunjukkan bahwa generasi  muda Islam kita memang masih banyak yang waras. Kedua,   menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis Islam di internet yang turut   mensosialisasikan adanya acara tersebut, ternyata   cukup efektif. Ketiga, ini merupakan pertolongan Allah   SWT. 

Sayangnya, ketika ‘cendekiawan dan misionaris JIL’ ini   keok -bahkan di sarangnya sendiri- tidak ada satu pun media massa yang mempublikasikannya. Oleh karena itu,  merupakan kewajiban kita untuk mempublikasikan laporanpandangan mata di bawah ini yang disusun oleh akh Abu   Qori.

  Mau Menyanggah Malah Kejeblos

Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada  Pemurtadan di IAIN, tetapi yang terjadi justru   sebaliknya. Para misionaris JIL itu malah terperosok   ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum bedah buku yang semula diharapkan dapat ‘membantai’ Hartono Ahmad Jaiz malah menjadi ajang pembuktian  bahwa di IAIN memang ada pemurtadan. Hujjah-hujjah yang diajukan para misionaris JIL itu justru secara tidak langsung malah meneguhkan adanya proses  pemurtadan di IAIN.

Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu berlangsung di Masjid Kampus UIN (Universitas Islam  Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16 April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi’ul Awwal   1426 Hijriah. 

Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata dihadiri 1000-an peserta, sebagian besar justru   berasal dari luar kampus UIN. Sehingga, perhelatanyang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan Filsafat, karena tidak mampu menampung audiens, dipindahkan ke Masjid, khususnya di lantai 2 dan 3.

Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan  adanya pemurtadan di IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz  (penulis buku yang dibedah) dan Muhammad At-Tamimi dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan dua pembicara  lainnya -yang tampaknya membawa misi untuk menepis danya pemurtadan di IAIN namun justru hujjah-hujjahnya menggunakan pemahaman, materi, dan  metode orang murtad- adalah Ulil Abshar Abdalla kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga termasuk penyusun CDL KHI (Counter Draft Legal   Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia yang   telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan dan bertentangan dengan Islam. 

  Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan tepuk tangan bertalu-talu, meski moderator sudah  mengingatkan agar tidak bertepuk tangan di dalam   masjid.  Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith   dan Ulil justru menambah bukti bahwa apa-apa yang   ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN terbitan   Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu,  memang benar adanya.Karena, hujjah-hujjah dan metode dua pembicara yang pro IAIN dalam membantah buku itu  memang diambil dari materi dan pemahaman kelompok   ataupun tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya oleh  para ulama. Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang   tanpa dasar, lalu sampai berani menolak hadits yang  shahih, dan hukum Allah swt dalam Al-Qur’an. Di   samping itu masih disertai dengan  kebohongan-kebohongan untuk memberikan cap-cap sangat   buruk kepada penulis buku. Akibatnya, ketika kebohongan-kebohongan itu dibalikkan oleh penulis buku, maka terkuaklah kesempurnaan bahwa produk dan  bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela IAIN   justru lebih buruk dari yang telah ditulis di buku   itu. 

  Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih  seram dibanding dengan kenyataan yang ditemukan di  lapangan, melalui forum bedah buku tersebut.   Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela   IAIN ketika bedah buku itu adalah:

  1. Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat  buruk kepada penulis buku.
  2. Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham kekufuran, dan justru ditawarkan kepada penulis buku agar mempelajarinya. Bahkan mereka meng-klaim bahwa di  IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi sesungguhnya adalah proses adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang  dijadikan hujjah adalah penafsiran orang-orang yang  sudah divonis oleh para ulama sebagai kafir ataupun   zindiq yaitu Ikhwanus Shofa’ dan Ibnu ‘Arabi tokoh tasawuf sesat berfaham wihdatul adyan (menyamakan  semua agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan Tuhan). 

  3. Melecehkan penulis -yang banyak mengutip  ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi- dengan tuduhan  terlalu ‘memberhalakan’ huruf-huruf Al-Qur’an. Tuduhanitu didibalikkan oleh penulis: karena penulis   mengikuti Al-Qur’an, maka pada hari Jum’at ia pun   melaksanakan shalat Jum’at; sedangkan Ulil, justru   leha-leha berseminar dengan orang Kristen membahas tentang Tuhan di hari Jum’at dari jam 10 hingga 13 dan  tidak shalat Jum’at, tandas Hartono Ahmad Jaiz sambil   mengangkat Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang memberitakan bahwa Ulil tidak Shalat Jum’at.

   4. Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang yang melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an, karena penulis tak membolehkan nikah beda agama. Penulis  menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun Kamal dan Dr Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita  muslimah dengan lelaki Nasrani, dan lelaki muslim   dengan wanita Konghucu. Pernikahan itu bertentangan   dengan Al-Qur’an surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10 dan  Al-Baqarah (2) ayat 221. Muqsith yang alumni dan dosen UIN Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN yang   melanggar ayat-ayat itu dan malahan memberi cap buruk  kepada penulis buku. Maka, Muhammad At-Tamimi dengan tegas menyatakan penolakan terhadap ayat itu sebagai  sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan   dalih “menurut saya". 

  5. Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq penulis dan isi buku, karena tuduhan-tuduhan Muqsith  dan Ulil itu tak sesuai fakta, maka lebih drastis lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal anjing hu akbar, dengan mengemukakan bahwa dzikir  dengan lafal anjing hu akbar pun kalau niatnya… (tidak  jelas suara Muqsith karena suara hadirin gemuruh) maka bisa meninggikan maqamnya ( maqam di sisi Iblis…). Ungkapan itu menjadikan para hadirin berteriak gemuruh, menyiratkan  kejengkelan karena justru keluar betul keaslian produk  IAIN yang diangkat jadi dosen ternyata seburuk itu pemikirannya dan keyakinannya. Bagaimana lagi para  mahasiswa asuhannya nanti.?? 

  6. Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun dirinya mengakui bahwa hadits itu shohih, hanya karena  keberanian menurut dirinya. Ulil juga mengakui bahwa dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan. Maka Muhamad At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila  pertama dan Muqsith orang gila kedua. Karena Allah swt  telah menurunkan wahyu tetapi ditolak dan disebut tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur.  Berbohong atau memutar balikkan   Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith mengemukakan bahwa penulis buku ini sampai menulis: Si  jompo Sinta Nuriyah. “Penulis ini akhlaqnya masih   akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman  tentunya tidak menulis seperti itu,” kata Muqsith. 

Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz (penulis), bahwa di buku Ada Pemurtadan di IAIN ini  tidak ada tulisan yang bunyinya si jompo. Yang ada   hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah jompo. Lantas, lanjut Hartono, “yang tidak berakhlaq itu yang mengubah perkataan ini atau siapa?” Dan juga,   “orang yang mengajak berdzikir dengan lafal anjing hu akbar (di IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian orang   yang tidak menulis si jompo dikatakan menulis si jompo  dan dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak berakhlaq dan imannya perlu dipertanyakan itu siapa.”  Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah  karena sempitnya waktu, adalah perkataan Muqsith bahwa   Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro (karangan  As-Sya’roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad, aurat wanita itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan   depan dan belakang). 

  Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang dosen dan alumni UIN Jakarta itu apakah ingin  mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi ini bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam membela IAIN itu telah menyembunyikan sesuatu. 

  Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka (al-hurroh) dan wanita budak (al-ammah). Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuhnya, kecuali mukanya dan  kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik, Syafi’i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua riwayatnya. Menurut Abu Hanifah, seluruh tubuh wanita   adalah aurat kecuali mukanya, dua telapak tangannya, dan dua telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad, (seluruh tubuh wanita adalah aurat) kecuali mukanya   saja. (Al-Mizanul Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan I,  Darul Fikr Beirut, dalam hal syarat sahnya sholat  tentang menutup aurat).  Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah antara pusarnya dan lututnya seperti aurat laki-laki.  Ini menurut pendapat Malik, Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa  auratnya (wanita budak/al-ammah) adalah qubul dan   dubur saja. (ibid). Dalam Kitab Mizanul Kubro itu  dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus sholih adalah  yang pertama (aurat budak wanita, antara pusar dan   lutut) karena tidak adanya syahwat untuk melihat budak  wanita di luar sholat, lebih-lebih ketika sholat.   (ibid). 

Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu  dikutip pendapatnya bahwa aurat wanita merdeka  (al-hurrah) adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan  dua telapak tangannya atau bahkan seluruh tubuh  kecuali muka saja  

  Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan,bahwa wanita sekarang, pengertiannya ya wanita yang disebut al-hurroh itu. Lalu kok bisa-bisanya Muqsith  Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini mengatakan  bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kibro, berpendapat bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul dan   dubur. Itulah cara berbohong untuk mengkampanyekan agar wanita sekarang yang sebagian mereka sudah  memperlihatkan pusarnya itu agar lebih bertelanjang   lagi.

   Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Ahmad   Jaiz melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur’an, karena Hartono mengharamkan nikah beda agama.  Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu.  Dalam buku itu sudah ditulis, yang dipersoalkan adalah wanita muslimah dinikahi lelaki kafir, Non  Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim menikahi wanita Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan   bahwa tidak ada ayat yang mengharamkan nikah beda  agama. Itu juga menyembunyikan ayat, hingga dibantah   dengan seru oleh seorang pemuda/mahasiswa secara spontan dengan mengacungkan Al-Qur’an.  Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur’an, tentunya mau   mengakui, Ayatnya sudah jelas, QS 60: 10, QS 2: 221, dan tentang kafirnya Ahli Kitab dalam Surat  Al-Bayyinah ayat 6. 

 Dengan cara menyembunyikan ayat, hingga justru menghalalkan nikah beda agama (seperti  yang telah disebutkan itu) adalah satu bukti justru  adanya faham yang dihembuskan dari UIN Jakarta adalah  yang menentang ayat Al-Qur’an itu. Membela kekufuran dengan kekufuran Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan  faham kekufuran. Yaitu kilah bahwa IAIN tidak mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi penafsiran.

   Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham Ikhwanus Shofa’ yang tidak perlu melaksanakan yang  fardhu-fardhu/wajib-wajib dan cukup dengan bertasbih.

Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru faham yang tidak perlu mengerjakan yang  fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang sebenar-benarnya kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya dalam Kitab Tafsir Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah  dalam Majmu’ Al-Fatawa. 

  Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam  Al-Qurthubi yang dimulai dengan menukil ulasan gurunya, al-Imam Abu al-’Abbas, mengenai golongan ahli kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu: “Mereka itu berkata: Hukum-hukum syara’ yang umum adalah untuk para nabi dan orang awam. Adapun para wali dan  golongan khusus tidak memerlukan nas-nas (agama),   sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang terdapat dalam hati mereka. Mereka berhukum  berdasarkan apa yang terlintas dalam fikiran mereka.” 

  Golongan ini juga berkata: “Ini disebabkan kesucian  hati mereka dari kekotoran dan keteguhannya maka   terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi, hakikat-hakikat ketuhanan, mereka mengikuti rahasia-rahasia alam, mereka mengetahui hukum-hukum yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum yang bersifat umum, seperti yang berlaku kepada  Khidir. Mencukupi baginya (Khidir) ilmu-ilmu yang  terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa yang ada pada kefahaman Musa.” Golongan ini juga menyebut: “Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau  telah diberikan fatwa oleh para penfatwa.” 

  Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini dengan berkata: “Kata guru kami r.a.: Ini adalah  perkataan zindiq dan kufur, dibunuhlah siapa pun yang  mengucapkannya dan dia tidak diminta taubatnya, karena dia telah ingkar terhadap apa yang diketahui dari  syariat. Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan-Nya  dan melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya tidak diketahui melainkan melalui perantaraan rasul-rasul yang menjadi para utusan antara Allah dan  makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan  perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum.  Allah memilih mereka untuk itu dan mengkhususkan   urusan ini hanya untuk mereka.”

   “Telah menjadi ijma’ salaf dan khalaf bahwa tidak ada  jalan mengetahui hukum-hukum Allah yang berhubungan dengan suruhan dan larangan-Nya walaupun sedikit,  melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang berkata  “Disana ada cara lain untuk mengetahui suruhan dan larangan Allah tanpa melalui para rasul atau tidak   memerlukan para rasul” maka dia adalah kafir, dihukum   bunuh tidak diminta bertaubat, dan tidak diperlukan untuk tanya jawab dengannya (al-Jami’ li Ahkam  al-Quran jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr,   Beirut). 

  Gejala Pemurtadan di IAIN

  Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala pemurtadan di AIN, di antaranya buku Harun Nasution  untuk IAIN berjudul Islam Dipandang dari Berbagai   Aspeknya menyatakan bahwa agama monotheisme itu Islam,  Kristen (Protestan dan Katolik), dan Hindu. Juga buku Sejarah Pembaharuan Pemikiran Islam tulisan Harun  Nasution untuk IAIN diantara isinya menyebut Rifaat  At-Tahtawi (Mesir) sebagai pembaharu, dan bahkan dalam  makalah dosen IAIN di bawah bimbingan Harun Nasution   di SPS (Studi Purna Sarjana) di IAIN Jogja 1977, Rifaat At-Tahtawi yang menghalalkan dansa-dansa laki perempuan disebut sebagai pembuka pintu ijtihad. Ini  adalah penyesatan. Mana ada pembaru dalam Islam   menghalalkan yang haram. Padahal dalam hadits, ada potensi zina bagi mata, tangan, mulut, hati dan dibenarkan atau dibohongkan oleh farji/ kemaluan kata   Hartono. 

  Hal itu dibantah Abdul Muqsith Ghozali dengan kitab  I’anatut Tholibin terbitan Toha Putra Semarang, dengan  dibacakan tentang definisi zina, lalu Muqsith   mengatakan, kalau hasyafah (kemaluan lali-laki) ditekuk maka bukan zina. Begitu juga dengan tangan. Hartono menjawab, “bagaimana ini, tentang zina, tangan   punya potensi zina itu saya mengutip hadits Nabi saw. Kenapa hadits Nabi dibantah pakai kitab I’anatut  Tholibin? Ya seperti inilah keluaran dari IAIN,” tegas   Hartono dengan menuding Muqsith yang di sebelah   kanannya. 

  Attamimi dengan suara lantang menantang Ulil Abshar Abdalla yang menolak hadits, yang walaupun shohih di  kitab Bukhori, namun menurut Ulil tidak sesuai, maka  ulil menolaknya. Contohnya hadis tentang orang sholat jadi batal karena adanya yang lewat yaitu anjing,  orang perempuan, dan khimar/keledai. Kata Ulil, “di  sini perempuan disamakan dengan anjing dan keledai. Jadi saya tolak, walaupun itu ada di Kitab Shohih  Bukhori,” kata Ulil. 

  Kata At-Tamimi, “apakah anda ini ahli hadits? Apa keahlian anda. Dalam hal ilmu agama ini tidak bisa hanya dengan perkataan ‘pendapat saya’. Di ilmu teknik dunia saja tidak bisa dengan ‘pendapat saya’ . Memang anda ahli apa? Apakah ahli hadits? Saya tantang anda bicara tentang hadits. Bahkan kumpulkan seluruh orang  JIL, cukup saya hadapi sendirian. Tidak bisa bicara  agama kok ‘menurut saya’, ‘menurut saya’. Bukan hanya perempuan yang disamakan dengan binatang, semua  laki-laki yang tidak percaya kepada Al-Qur’an dan  As-sunnah seperti anda ini dinyatakan dalam Al-Qur’an  seperti binatang,” seru At-Tamimi dengan lantang,   disambut dengan suara gemuruh hadirin. 

  Dua orang yang membela IAIN dan ingin merobohkan fakta pada buku Ada Pemurtadan di IAIN itu setelah gagal memberikan cap-cap buruk karena dibalikkan dengan  telak, maka justru menolak hukum Allah (sebagian  ditentang, dan bahkan dinyatakan tidak ada hukum Tuhan), dan menolak hadits walaupun diakui shahih.

  Di situ justru pada dasarnya mereka menampakkan tambahan bukti yang ada pada ungkapan-ungkapan mereka sebagai alumni, dosen dan pembela IAIN bahwa  sebenarnya IAIN memang jelas ada pemurtadan. Jadi, mereka mau menepis Adanya pemurtadan di IAIN tetapi justru terperosok pada penguatan bahwa memang benar  ada pemurtadan di IAIN secara sistematis. Itu tentu  saja sangat berbahaya. 

  Buku Ada Pemurtadan di IAIN dibedah pertama kali di Islamic Book Fair di Istora Senayan Jakarta, Ahad 27 Maret 2005. Pembicara Dr Roem Rowi dosen pasca sarjana  IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tafsir; dan penulis buku Hartono Ahmad Jaiz. Hadirin sekitar 500 orang. Dr Roem Rowi mengakui, di IAIN dia mengajar tafsir, namun mahasiswanya dirusak oleh pemikiran-pemikiran yang  diajarkan dalam materi pemikiran Islam (dan sejarah kebudayaan Islam), yang itu justru materi kuliah  dasar, semua mahasiswa harus ikut.

   Sehingga, ketika ditanya peserta bedah buku, ke mana untuk mendidikkan anak di perguruan tinggi yang  islami, Dr Roem Rowi tidak memberikan rekomendasi, hanya menunjuk di antaranya Universitas Islam Internasional di Malaysia. Sedangkan ketika ditanya tentang kurikulum, seberapa peran menteri agama dalam membuat kurikulum di IAIN, Roem Rowi menjawab, menteri agama masa lalu ya hanya mengikuti Dr Harun Nasution. “Seakan perkataan Harun Nasution itu qoululloh (firman  Alloh) bagi menteri agama yang lalu,” ujar Roem Rowi   yang meraih gelar doktornya dari Universitas al-Azhar  Mesir ini. 

  Disebut Ada Pemurtadan di IAIN, menurut buku itu, karena kurikulumnya, materi kuliahnya, sistem  pengajarannya, cara mengajarnya, dan dosen-dosennya banyak yang tidak sesuai dengan sistem pemahaman Islam yang benar. Tidak merujuk kepada Al-Qur’an, As-Sunnah, dengan manhaj salafus shalih. Tetapi yang dijadikan  mata kuliah dasar justru sejarah pemikiran Islam dan sejarah kebudayaan Islam, yang semuanya bukan dasar Islam, dan disampaikan tidak secara ilmu islami, tidak merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan sistem  pemahaman yang benar. Diajarkan secara liar, yaitu tanpa sanad (pertalian riwayat) hingga boleh  berkomentar apa saja sampai menghina para sahabat   sekalipun.  Akibatnya, alumni IAIN tidak bisa membedakan antara madzhab-madzhab (yang perbedaannya itu dalam wilayah furu’/ cabang, jadi boleh saja) dengan sekte-sekte  sesat (firoq dhollah) yang sudah berbeda dengan hal pokok yang benar. Bahkan sampai tak bisa membedakan  antara mukmin dengan kafir, ketika diajari tasawuf  falsafi dan apa yang disebut filsafat Islam (semuanya   dalam materi kuliah sejarah pemikiran Islam dalam mata kuliah dasar). Akibatnya, mereka menyamakan semua agama. Itulah sebenar-benarnya pemurtadan secara  sistematis lewat jalur perguruan tinggi Islam se-Indonesia baik negeri maupun swasta. Maka kurikulum, sistem pengajaran, materi, metode, dan  dosen pengajarnya perlu ditinjau ulang.

  Pembelajaran  dosen-dosen IAIN ke Barat untuk studi Islam pun perlu   dihentikan, menurut penulis buku, karena itu menjadi sumber utama pemurtadan tersebut.  Usai bedah buku di UIN Jakarta, hadirin pun berjama’ah  shalat dhuhur, tanpa ada dosen ataupun mahasiswa UIN yang maju jadi imam, hingga Ustadz Mustofa Aini  seorang hadirin alumni Universitas Islam Madinah maju untuk mengimami setelah agak lama ditunggu-tunggu tak ada yang maju. 

 Ulil, Muqsith dan sebagian besar   panitia dari BEM Fak Usuhuluddin dan Filsafat UIN   Jakarta tidak tampak ikut shalat berjama’ah. Mereka berada di mihrab sebelah imaman. Kemudian Ulil diiringi para panitia turun dan pulang setelah hadirin  yang shalat berjama’ah telah bubar pulang. 
  “Kampus Islam tidak mencerminkan Islam,” keluh di   antara yang hadir.

Agen YAhudi Apa Kacung Yahudi ? ( Ujung Ujung nya Duit pada JIL )

 
 
Jakarta - Kata agen rupanya terlalu bagus untuk menyebut orang-orang yang menjadi kepanjangan tangan Yahudi di Indonesia. Kata yang agaknya lebih cocok untuk menyebut mereka adalah kacung. Kacung-kacung Yahudi di Indonesia sekarang ini, dalam bidang ekonomi adalah kelompok yang disebut Neoliberal sedangkan dalam pemikiran, pendidikan, sosial dan budaya adalah mereka yang berada dalam barisan Jaringan Islam Liberal (JIL).

"Benjamin Ketang, Ulil Abshar, Musdah Mulia, itu adalah ghayim. Sebab dalam paradigma Talmud yang disebut sebagai manusia hanyalah bangsa Yahudi, selainnya ghayim (hewan, red)," kata penulis buku-buku tentang Yahudi, Rizki Ridyasmara dalam kegiatan Majelis Taqarrub Ilallah dan Temu Pembaca Suara Islam di Masjid Baiturahman, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu pekan lalu (19/5/2012).

Kegiatan para ghayim ini, menurut Rizki, adalah merusak ajaran Islam dengan tujuan meraup dollar. Dengan nada bercanda, mantan jurnalis majalah Sabili itu menjelaskan bahwa sesungguhnya tidak ada perbedaan pendapat yang mencolok antara aktivis Islam dengan aktivis liberal, yang berbeda adalah pendapatan.

"Mereka nyleneh itu supaya dapat beasiswa penuh ke perguruan tinggi, supaya dapat dollar. Itu Ulil Abshar sendiri yang bilang," kata Rizki.

Rizki lantas menceritakan pengalaman dirinya saat masih menjadi jurnalis Sabili pada awal tahun 2000an. Saat itu ia bersama rekannya, Nurkholis Ridwan mewawancarai Ulil Abshar Abdallah, Koordintor JIL. Nurkholis sendiri adalah kakak kelas Ulil di LIPIA Jakarta. "Di akhir wawancara, kaset sudah ditutup, Ulil bilang begini, 'Akhi ana akan tobat kalau ana udah kaya. Sekarang ana lagi ngumpulin dolar'," kata Rizki menirukan ucapan Ulil ketika itu.

Karena itu Rizki merasa kasihan sekali dengan para mahasiswa sekarang yang ikut-ikutan menjadi liberal. "Mereka yang semangat-semangat itu, tetapi tidak mendapat apa-apa," ungkapnya.

Diskusipun Motivasinya Fulus

Penjelasan Rizki ini memang akhirnya terbukti. Faktor fuluslah yang menjadikan orang-orang liberal itu menjadi hamba Yahudi. Mereka sejatinya tidak meyakini ideologi liberal yang dipelajari dan disebarluaskan itu. Sejatinya yang mereka inginkan hanyalah fulus.

Ini terbukti, pada Selasa malam pekan lalu (15/5/2012). Saat itu Hard Rock FM mengundang dua kubu, Liberal dan Antiliberal, untuk siaran langsung. Pihak antiliberal diwakili tokoh kelompok #IndonesiaTanpaJIL, Sjafril Akmal, sedangkan kubu Liberal rencananya diwakili Abdul Moqsith Ghozali. Tetapi di menit-menit terakhir Moqshit membatalkan dengan alasan istrinya sakit. Tokoh liberal lain seperti Luthfi Syaukhani, Saidiman dan Guntur Romli menolak hadir. Ulil Abshar Abdalla sejak awal memang langsung menolak dan malah merekomendasikan teman-temannya itu.

Berita ketidakhadiran kelompok Liberal dalam talkshow Provocative di Hard Rock FM itupun langsung menyebar. Tentu saja opini negatif mengarah ke kelompok liberal ini. Hingga produser Hard Rock FM, Nugraha Sang Surya, yang awalnya mengaku simpatik ke JIL sekarang beruubah menjadi simpatik ke #IndonesiaTanpaJIL. Ini sekaligus mematahkan mitos kelompok liberal yang seolah-olah siap berdiskusi dengan siapapun. Padahal selama ini merekalah yang sering menyalahkan kelompok Islam dan menudingnya tidak memiliki tradisi diskusi.

Lalu, mengapa kelompok Liberal tidak hadir?. Apakah mereka merasa tidak level berbicara dengan Akmal? ataukah ada faktor lain?. Ternyata, selidik punya selidik, faktor fuluslah yang menjadi penyebab ketidakhadiran mereka.

Aktivis liberal Guntur Romli, yang saat ini aktif di Komunitas Salihara di akun twitternya berkicau, "punya acara, banyak dapat iklan, bisnis murni, ngasih honor narsum cuma bisa beli siomay sama es cendol, ter-la-lu :D," katanya.

Tak berapa lama, dia berkicau lagi. "kalau mau undang debat, jelasin format acaranya, jujur sejak awal, saiapa lawannya, brp honornya, capek2 cuma 2M. 'makasih mas' wkk," kata Guntur.

Kicauan Guntur itu ditanggapi Nugraha Sang Surya. Dia membalas kicauan Guntur, "Banyak tokoh yg lebih berpengaruh dan penting yg sudah datang ke acara kami dan mereka toh tdk pernah mempermasalahkan honor."

Ternyata Guntur belum berhenti juga biocara soal honor. Dia kemudian mengajari Hard Rock FM cara mengundang orang. "saya tukang undang diskusi, jauh2 hari saya kontak, semua jelas & terbuka, termasuk honor, klau pake makalah brp, gak pake dipotong brp", kata suami Nong Darol Mahmada itu.

Jadi benar, mereka menjadi kaum yang khalif tu'raf (nyleneh agar terkenal) itu ternyata hanya termotivasi oleh uang. Bisa jadi mereka akan berhenti jadi liberal kalau sudah kaya raya. Cuma masalahnya, batasan kaya raya itu berapa?. Atau malah, sebelum kaya mereka keburu dijemput Malaikat Maut?. Naudzubillah min dzalik
Siapakah yg menjadi Budak Orang Kafir Di Indonesia?

Siapakah yg menjadi Budak Orang Kafir Di Indonesia?


Para pengasong paham Sepilis tak lebih dari budak-budak kuffar yang ikut dalam gerbong imprealisme Barat untuk menaklukkan negeri-negeri Muslim. Keberadaannya tak hanya mengancam umat Islam, tapi juga bangsa ini secara keseluruhan.

Oleh: Artawijaya (Editor Pustaka Al-Kautsar Jakarta)

Istilah "Kelompok moderat" versi AS dan sekutu-sekutunya, yang harus dirangkul dan dijadikan partner dalam memerangi apa yang mereka sebut "ekstremisme Islam" dan "Radikalisme Islam" adalah mereka yang mempunyai komitmen kuat untuk memasarkan ide-ide tentang sekularisme, pluralisme, dan liberalisme (Sepilis). Inilah tiga ide besar yang sedang dipasarkan oleh AS dan sekutunya, dengan bantuan para pengasong di negeri-negeri Muslim yang menjadi kaki tangannya, diantaranya Jaringan Islam Liberal (JIL) yang dimotori oleh Ulil Abshar Abdalla, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yang dimotori oleh Siti Musdah Mulia, Freedom Institute yang dimotori oleh Luthfi Asy-Syaukanie, the Wahid Institute yang dimotori oleh Yeni Abdurrahman Wahid, Setara Institute yang dimotori oleh Hendardi, International Center for Islam and Pluralism yang dimotori oleh M. Syafi'i Anwar, Komunitas Salihara yang dimotori oleh Goenawan Mohammad dan Guntur Romli, LibforAll Foundation yang dimotori oleh C. Holland Taylor (orang yang seringkali mengajak tokoh-tokoh sekular Indonesia ke Israel), dan masih banyak lagi LSM-LSM komprador yang bekerja sebagai "babu asing" dan menjalankan aksinya untuk merusak akidah dan keyakinan umat Islam. Inilah organisasi "tadah hujan" yang bekerja demi kucuran dollar, merusak dan melakukan subversi terhadap Islam.

Secara representatif, keberadaan mereka dapat terlihat jelas dalam organisasi payung bernama Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Aliansi yang terdiri dari beragam keyakinan dan agama ini, hanyalah kedok untuk mem-back-up kelompok sesat Ahmadiyah agar tidak dibubarkan oleh pemerintah. Mereka juga menjadikan Pancasila sebagai tameng untuk melindungi penodaan yang dilakukan oleh Ahmadiyah terhadap ajaran-ajaran Islam. Pada 1 Juni 2008, kelompok ini menggelar acara "Apel Siaga Pancasila" di Monumen Nasional yang berujung pada bentrokan dengan Komando Laskar Islam.

Sebelum apel siaga itu dilakukan kelompok AKKBB telah membuat pra-kondisi dengan menebar iklan provokatif di berbagai media massa nasional dengan tagline besar, "Mari Selamatkan Indonesia Kita". Dalam iklan tersebut tertera 289 nama tokoh yang mendukung gerakan mereka, diantaranya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, Azyumardi Azra, Syafi'i Ma'arif, Siti Musdah Mulia, Rizal Mallarangeng, Adnan Buyung Nasution, Dawam Rahardjo, dan lain sebagainya. Sebagian tokoh ini juga kemudian terlibat dalam permohonan uji materi UU No.1 PNPS/1965 Tentang Pencegahan Penodaan Agama. Dalam uji materi yang dilakukan di Mahkamah Konstitusi ini kelompok liberal keok, karena MK menolak gugatan mereka.

Aroma keterlibatan asing dalam gugatan yang diajukan kelompok liberal terkait UU Pencehan Penodaan Agama itu tercium, tatkala mereka meminta Mahkamah Konstitusi untuk mendengarkan keterangan saksi dari Amerika, W Cole Durham. Durham adalah pakar hak asasi manusia dari Harvard University. Upaya mendatangkan saksi ahli dari Amerika mendapat tentangan keras Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU). Ketua PBNU saat itu, KH. Hasyim Muzadi menyatakan bahwa kehadiran saksi dari AS itu makin membuktikan adanya skenario internasional untuk mengacaukan kehidupan beragama di tanah air.

KH. Hasyim Muzadi yang juga menjadi saksi ahli yang diajukan oleh umat Islam dengan tegas menolak pakar HAM yang diajukan oleh kelompok liberal."Mahkamah kita adalah Mahkamah Konstitusi nasional bukan mahkamah internasional. Ukurannya tidak sama dengan asing,"tegas Kiai Hasyim yang juga menjabat sebagai Sekjend Internasional Conference of Islamic Scholars (ICIS) dan Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP).

Hasyim Muzadi menegaskan, UU No.1 PNPS/1965 adalah upaya mengantisipasi penodaan agama, agar kehidupan beragama bisa berlangsung tertib dan harmonis, tanpa adanya pelecehan dan penodaan terhadap keyakinan tertentu. Hasyim juga menduga gugatan terhadap UU ini ditunggangi oleh kelompok atheis yang memang sudah lama ingin bangkit kembali di negeri ini. Dengan tegas Hasyim menyatakan bahwa gugatan tersebut bukan menguntungkan kepentingan umat beragama di Indonesia, tapi justru akan membuat pertentangan di kalangan masyarakat. "Ini hanya menguntungkan atheisme melalui neolib dalam memanfaatkan demokrasi yang over dosis," tegasnya. HAM kata Hasyim, diukur menurut ukuran konstitusi, bukan menurut pendapat orang asing.

Selain mengajukan permohonan uji materi UU Tentang Pencegahan Penodaan Agama, kelompok liberal dengan dukungan aktivis perempuan dan transgender (homo, lesbi, biseksual) bergerilya menolak Qanun Jinayat yang disahkan oleh Pemerintah Daerah Nanggroe Aceh Daarussalam (NAD) pada 14 September 2009. UU Qanun Jinayat mengatur hukuman badan terkait perjudian, khamar, khalwat (berduaan bukan mahram), zina, liwath (homoseksual), dan musahaqah (lesbian), dan lain-lain. Mereka bergerilya ke Departemen Dalam Negeri untuk membatalkan qanun tersebut, dan melakukan berbagai aksi demo dan kampanye penolakan. Mereka menggalang dukungan organisasi HAM internasional (Human Right Watch).

Anehnya, penolakan terhadap Qanun Jinayat justru tidak datang dari rakyat Aceh sendiri, melainkan datang dari kelompok liberal dan transgender yang berada di luar Aceh. Istilahnya, Qanunnya berlaku di Aceh, eh yang menolak para gay, homo, lesbi, biseksual, dan gerombolan liberal di Surabaya. Dengan dukungan internasional, mereka melakukan kampanye, "An International Campaign for Sexual and Reproductive Right" (Kampanye Internasional untuk Hak Seksual dan Reproduksi) di kampus IAIN Sunan Ampel Surabaya. Acara ini diselenggarakan oleh NGO internasional the Coalition for Sexual and Bodily Right in Muslim Societies (CSBR), yang didukung oleh gabungan dari 20 LSM pengusung virus Sepilis, diantaranya LSM Gaya Nusantara yang merupakan tempat bernaungnya para gay, homo, dan lesbi.

Seminar dan kampanye tersebut dihadiri oleh Guntur Romli, aktivis AKKBB yang juga aktif di Jurnal Perempuan dan Komunitas Salihara. Guntur adalah orang yang memiliki syahwat tinggi untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI). Syahwat tersebut ia lampiaskan dengan menggalang segelintir begundal, homo, gay, dan lesbi untuk berteriak-teriak di Bunderan HI dalam kampanye "Indonesia Tanpa FPI". Selain Guntur Romli, tokoh Jaringan Islam Liberal yang sekarang mencari nafkah di Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla, juga nampak dalam kerumunan kecil tersebut.

Kampanye kaum liberal dan mereka yang mengalami disorienteasi seksual tersebut tak lebih dari rasa frustasi mereka karena tak juga laku memasarkan paham Sepilis di Indonesia. Bahkan, karena tak juga mampu menjadi pengasong yang sukses memasarkan paham sesat tersebut, beberapa funding asing mulai mengurangi bahkan menghentikan transfer dollar kepada kelompok tersebut. Karena itu, tak heran jika Ulil Abshar Abdalla berpindah ke ketiak Partai Demokrat, partai yang beberapa kadernya diduga menjadi mesin ATM pengeruk uang rakyat. Di partai yang sudah "babak belur" karena kasus korupsi dan kebohongan publik ini, Ulil yang dulu menjadi pengasong di JIL, kini menjabat sebagai Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan. Entah atas dasar apa, Demokrat menempatkan dirinya di posisi tersebut. Apakah partai yang dibidani oleh SBY ini ingin Ulil membuat strategi dan kebijakan untuk memasarkan liberalisasi di Indonesia? Wallahu a'lam.
50 Tokoh Jaringan Iblis Liberal

50 Tokoh Jaringan Iblis Liberal

Daftar 50 TOKOH JIL INDONESIA 

A. Para Pelopor 

1. Abdul Mukti Ali (IAIN Jogjakarta dan pernah jadi Menteri Agama) mendiang 
2. Abdurrahman Wahid (mantan Ketua Umum NU dan pernah jadi Presiden) mendiang 

3. Ahmad Wahib –mendiang 

4. Djohan Effendi (APU –Ahli Peneliti Utama di Departemen Agama zaman Munawir Sjadzali) 

5. Harun Nasution (IAIN Jakarta, sebelum jadi UIN, pengubah kurikulum untuk seluruh IAIN se-Indonesia dari Ahlus Sunnah ke Mu’tazilah) mendiang 

6. M. Dawam Raharjo (Tokoh liberal, pengundang khalifah Amadiyah Tahir Ahmad di London untuk ke Indonesia zaman Presiden Gus Dur) 

7. Munawir Sjadzali (mantan Menteri Agama) mendiang 

8. Nurcholish Madjid (Cak Nur, pendiri Yayasan Paramadina) mendiang 

B. Para Senior 

9. Abdul Munir Mulkhan 

10. Ahmad Syafi’i Ma’arif 

11. Alwi Abdurrahman Shihab 

12. Azyumardi Azra (Mantan Rektor UIN Jakarta) 

13. Goenawan Mohammad (Tempo) 

14. Jalaluddin Rahmat (Tokoh Syiah dan Lintas Agama) 

15. Kautsar Azhari Noer (UIN Jakarta) 

16. Komaruddin Hidayat (Rektor UIN Jakarta, saat ini, 2011) 

17. M. Amin Abdullah (UIN Jogjakarta) 

18. M. Syafi’i Anwar 

19. Masdar F. Mas’udi (Rais Syuriah NU) 

20. Moeslim Abdurrahman 

21. Nasaruddin Umar (Dirjen Bimas Islam Departemen Agama RI) 

22. Said Aqiel Siradj (Ketua Umum NU) 

23. Zainun Kamal (UIN Jakarta) 

C. Para Penerus “Perjuangan” 

24. Abd A’la 

25. Abdul Moqsith Ghazali 

26. Ahmad Fuad Fanani 

27. Ahmad Gaus AF 

28. Ahmad Sahal 

29. Bahtiar Effendy (UIN Jakarta) 

30. Budhy Munawar-Rahman 

31. Denny JA 

32. Fathimah Usman 

33. Hamid Basyaib 

34. Husein Muhammad 

35. Ihsan Ali Fauzi 

36. M. Jadul Maula 

37. M. Luthfie Assyaukanie 

38. Muhammad Ali 

39. Mun’im A. Sirry 

40. Nong Darol Mahmada 

41. Rizal Malarangeng 

42. Saiful Mujani 

43. Siti Musdah Mulia 

44. Sukidi 

45. Sumanto al-Qurthuby 

46. Syamsu Rizal Panggabean 

47. Taufik Adnan Amal (UIN Makassar) 

48. Ulil Abshar-Abdalla (Dihadiahi bom 15/3 2011) 

49. Zuhairi Misrawi 

50. Zuly Qodir 

Sumber (dbs/Buku : 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia : Pengusung Ide Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme/voa-islam.com/d5vn2) 

Sumber: voaislam.com, Selasa, 15 Mar 2011, dengan sedikit tambahan dari nahimunkar.com. 

(nahimunkar.com)