PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik?. Tampilkan semua postingan
Victim Playing Ala Jokowi Cs

Victim Playing Ala Jokowi Cs

Entah sampai kapan teknik pengalihan simpati ini akan terus digunakan. Mungkin sampai masyarakat cukup jeli dan pintar dalam membaca situasi (social and political quetion).

Pada awalnya dilakukan sederhana. Dalam skala kecil. Misalnya, dulu sempat ada kasus pembakaran posko relawan "you know who". Kemudian dihebohkanlah oleh media. Agar terkesan mereka menjadi korban dan menarik simpati dan dukungan bahwa mereka dizhalimi. Tentunya, berharap bahwa masyarakat kemudian menyalahkan kubu satunya sebagai tersangka.

Dan itu berhasil. Opini terbangun. Namun siapa sebenarnya pelaku pembakarannya? Mereka sendirilah yg melakukannya.

Pernah mendengar jargon "Hanya Kecurangan yg Dapat Mengalahkan Kita"? Ini juga adalah teknik victim playing dalam skala yg lebih besar dan 'rumit'. Dan lain sebagainya dan lain sebagainya.

Dan rupanya, victim playing juga masih digunakan untuk mendongkrak popularitas penguasa sekarang yg cenderung jatuh hingga 40% saja. Di tengah serapan APBN yg juga masih rendah. Di tengah ketidakmampuan (baca: ketidakpedulian) menangani bencana asap dan lainnya. Sekarang mereka bermain opini sebagai korban dengan pernyataan : "Jangan bakar hutan untuk menggulingkan pemerintahan".

Hey... Ayo buktikan saja perusahaan pembakar hutan itu. Jangan disembunyikan. Ada di pihak mana para pembakar durjana itu? Semua sangat bisa terjawab secara terbuka.

Mereka lupa, dalam psikologi introgasi, yg membuat statement atau opini atau alibi, justru yg pertama kali dicurigai.

Sudahlah, tidak perlu bersembunyi di balik victim playing. Tidak perlu juga bersembunyi di balik aksi para relawan kemanusiaan dalam menangani bencana ini. Tidak perlu menunjuk hidung si itu dan si ini. Buktikan saja kalian bekerja. Jika kalian bersih, kenapa harus risih? Jika benar, kenapa harus gentar? Jika memang tidak takut, jangan jadi pengecut.

Camkan, kalian, dengan kekuasaan kalian, sangat mungkin dapat membuat tipu daya. Tapi ingat, Allah Maha Melihat. Allah Maha berkuasa membongkar segala tipu daya.

Saran saya, bertaubat sebelum segala sesuatunya terlambat.

#MelawanMafiaPembakarHutan
#SelamatkanIndonesia
#LintasanPikiran

-AMI-

Jawa Pos Memfitnah Erdogan

Selasa 15 September kemarin Jawa Pos National Network [ JPPN ] memuat berita yang memuat foto selfie Erdogan dengan background tentara yang sedang mengusung peti jenazah.
Erdogan menyedihkan? Tidak
Yang menyedihkan adalah redaksi Jawa Pos.

Foto ini sejatinya di ambil dari majalah Nokta di Turki. Majalah humor satire yang seringkali menerbitkan foto editan untuk bahan tertawaan tanpa memperhatikan etika. Dan kabar terakhir, editor majalah Nokta sudah ditangkap.

Media sekelas Jawa Pos dengan mudahnya mengunggah berita seperti ini, padahal mereka akan dg mudah menemukan asal muasal foto ini jika mau.

Bisa jadi setelah di kalrifikasi mereka hanya menjawab "maaf, wartawan kami teledor", padahal berita ini di baca ratusan ribu pelanggan setianya. Dan yang pasti, oplah nya meningkat drastis.

Apakah ini ekspresi mereka tentang erdogan?
Atau memang JPPN tak ada beda dengan Nokta?

*foto diambil dari page Sahabat Erdogan*

Ternyata MetroTV dan Kompas yang Memfitnah Sutiyoso Dukung Lokalisasi Pelacuran

Publik sempat dikagetkan dengan pemberitaan yang beredar bahwa mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mendukung ide Ahok yang akan membangun lokalisasi pelacuran. Sejumlah media-media besar secara kompak memberitakanya.

Kompas.com memberitakan dengan judul : "Sutiyoso Dukung Ahok Bangun Area Lokalisasi Prostitusi", pada rabu (29/4/2015).

Dihari yang sama, metrotvnews.com juga memberitakan dengan judul "Sutiyoso Dukung Ahok Bangun Lokalisasi".

Kedua media ini mempelintir pernyataan Sutiyoso yang berbunyi : "Kalau memang baik, jalani saja. Prostitusi merupakan salah satu anak kandung dari kemiskinan, selain kejahatan. Cara meminimalisir keberadaannya dengan memperbanyak lapangan pekerjaan," kata Sutiyoso saat dihubungi, Rabu (29/4/2015).

Terungkapnya ada pemberitaan dusta yang dilakukan oleh media tersebut ketika Sutiyoso mengungkapkan sikapnya dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) TVONE edisi Selasa 19 Mei 2015. Sutiyoso menegaskan bahwa dirinya menolak lokalisasi pelacuran di Jakarta. (baca : Sutiyoso : Saya Tidak Pernah Mendukung Ide Ahok tentang Lokalisasi Pelacuran) [islamedia/mh]

SEJARAH HITAM KOMPAS MENGHINA UMAT ISLAM

Media yang digawangi kalangan Katholik ini memang gemar melakukan penipuan kepada masyarakat lewat berita-beritanya. Pemelintiran dan manipulasi berita kerap dilakukan untuk menggiring opini.

Salah satu korban yang kerap menjadi obyek "bullying" Kompas adalah FPI, bahkan pada 25 Desember 2014 tahun lalu, kompas menurunkan berita kalau FPI ikut menjaga gereja di wilayah Jawa Barat.

Pada tahun 2012 kompas juga memposting berita fitnah kalau Laskar FPI Makkasar turut mengamankan menjaga sejumlah gereja pada perayaan hari natal 25 Desember.

FPI Sering menjadi sasaran target pemberitaan miring kompas, pada tahun 2002 saat di sejumlah darah umat berbondong-bondong membakar sejumlah tempat pelacuran dan perdagangan miras, karena di anggap meresahkan masyarakat setempat. kompas langsung menuding kalau gerakan itu dilakukan oleh FPI.

Kali ini kompas kembali melecehkan Islam, pada Senin 27 April 2015 lalu, situs berita Kompas.com telah memuat tulisan berjudul “Kehidupan Rahasia Sultan Brunei dari Seks, Dusta, dan Hukum Syariah”.

Isi berita nya itu terang-terangan memojokkan Sultan Brunei Darussalam dan melcehkan syariat Islam yang diterapkan di negeri itu. Artikel itu menggambarkan kehidupan pribadi Sultan Brunei yang ditulis justru jauh dari syariat.

Bukan kali ini aja sejarah kompas menhina Islam, tepat di tahun 1990, wartawan senior Kompas Arswendo Atmowiloto, secara sengaja melakukan penistaan terhadap Islam. Melalui Tabloid Monitor binaan Kompas Gramedia Group, melancarkan hinaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Kasus pelecehan tersebut kemudian dikenal sebagai "SKANDAL KEJAHATAN KOMANDO PASTOR (KOMPAS)". Kemudian menyeret Arswendo Atmowiloto yang merupakan kader jurnalis binaan bos Kompas Jakob Oetama mendekam di penjara. Arswendo Atmowiloto pada saat itu menjabat selaku Pemred Tabloid Monitor. Kasus ini tidak pernah dilupakan oleh ummat Islam.

Kompas merupakan jaringan pers dari perpanjangan kepentingan kelompok konglomerat aseng -asing dan menjadi representasi aspirasi ummat Katolik di Indonesia. Kehadirannya sering kali berupaya menyudutkan ummat Islam.

Serangkaian isu dan opini acap kali dihembuskan oleh Kompas untuk menggiring ummat Islam pada alur kepentingan mereka. Pembelaan Kompas kepada Jokowi menjelang Pilpres 2014 terlihat begitu gencar dan kasatmata.

Dan lagi-lagi, Arswendo Atmowiloto sang penghina Nabi tersebut tampil melontarkan pernyataan bahwa: "Jokowi adalah anugerah Tuhan...". Sebuah isyarat untuk membangkitkan konsolidasi politik ummat minoritas bersatu memenangkan Jokowi.

Tak hanya Arswendo Atmowiloto, tapi salah satu misionaris yang dibesarkan oleh Kompas, Franz Magnis Suseno bahkan melancarkan ancaman:

"Bila Jokowi tidak jadi presiden maka Indonesia akan rusuh...".

Luar biasa, para dedengkot Katolik tersebut saling bahu-membahu berserikat membela Jokowi secara sporadis.

Kini Jokowi sudah menjadi Presiden dan semua itu tidak lepas dari peran besar jaringan Kompas dan misionaris Katolik. Selanjutnya Kompas mulai gencar mendongkrak Ahok untuk tampil memimpin Jakarta.

Pembelaaan Kompas terhadap Ahok adalah bagian dari skenario untuk melanggengkan misi politik misionaris Katolik dan konglomerat Aseng menguasai negeri ini. Agenda busuk itu makin bergulir dan mulai dipahami oleh kaum muslim. Maka waspadalah !

Ayo Boikot Kompas..!!!

Bocor : Ternyata Media Tempo Hanyalah Kacungnya Rezim Jokowi

JAKARTA (voa-islam.com) - Selama ini bisnis media massa menjadi alat bagi sebagian orang yang memiliki modal untuk membangun image dan pencitraan dirinya kepada masyarakat.

Tidak peduli baik atau buruk kinerja dan kualitas kepemimpinan seseorang asal mampu membeli berita yang dijual media maka polesan beritanya akan semakin kinclong.

Bisnis media ini semakin menjamur pesat dikarenakan masyarakat Indonesia masih memiliki persepsi baik terhadap media. Apa yang diberitakan oleh media masih menjadi tolok ukur penilaian masyarakat pada tokoh tertentu.

Beredarnya surat pemerintah tentang penunjukan Tempo sebagai media mitra promosi dan pengumuman iklan tender seluruh Kementrian dan Lembaga non Kementerian, pemerintah pusat sampai daerah agar menggunakan media Koran Tempo menghebohkan jagad dunia maya.

Jadi pembelaan Tempo terhadap rezim Jokowi itu, dapat diduga ikut menikmati rente dari walikota 'ajaib' yang sekarang menjadi penghuni Istana. Benar-benar sangat aneh, media yang dielu-elukan kalangan liberal, ternyata hanyalah 'kacungnya' Jokowi.

Berikut adalah surat edaran yang dimaksud:

Waspada Rekayasa Pikiran

Waspada Rekayasa Pikiran

Jika engkau menyaksikan film FOCUS, film yg dibintangi oleh Will Smith yg berperan sebagai Nicky, seorang pencuri dan penipu profesional, engkau akan menyaksikan salah satu scene dimana Nicky bertaruh dengan Liyuan senilai 2 juta USD. Jenis taruhannya menarik, yakni Liyuan memilih salah satu nomor punggung pemain American Football. Dan Jess, rekan sejawat Nicky yg akan menebaknya.

Sebuah taruhan yg sulit tentunya. Karena setidaknya pemain football yg berada di lapangan dari kedua kubu berjumlah total 100 orang sudah termasuk pemain cadangan. Artinya, peluang Jess menebak angka yg dipilih Liyuan adalah 1:100. Namun, tak dinyana, ternyata Jess berhasil menebak nomor punggug pemain yg dipilih oleh Liyuan. Nomornya adalah 55. Nicky pun berhasil memenangkan taruhan senilai 2 juta USD tersebut.

Ketika ditanya oleh Jess, apakah ini sebuah kebetulan? Nicky pun menjawab ini bukan kebetulan. Namun, ternyata Nicky telah melakukan REKAYASA PIKIRAN, agar Liyuan selalu mengingat angka 55 dalam pikiran bawah sadarnya.

Semenjak Liyuan tiba dari Hongkong di Amerika, Liyuan secara tidak sadar dibuat selalu mengingat angka 55 secara tidak sadar. Mulai dari taksi yg ada angka 55-nya. Kamar hotel, ornamen pada lampu hias, pin yg digunakan oleh consierge saat membukakan pintu, sampai pada banner iklan yg menempel di taksi dan bus, semuanya ada angka 55. Dan memang demikian, secara bawah sadar (unconscious) pikiran kita akan mengingat sesuatu yg diulang-ulang. Dan saat diminta oleh Nicky memilih saah satu nomor untuk jadi bahan taruhannya, maka pikiran bawah sadar (uconscious mind) Liyuan akan tertarik kepada pemain yg menggunakan nomor punggung 55 di kaosnya.

Nah, kenapa saya menulis tentang fenomena pikiran bawah sadar dalam film Focus ini? Beberapa saat yg lalu di Metro TV (televisi milik SP, petinggi Partai Nasional Demokrat) menayangkan tayangan ulang Mata Najwa edisi "Pencuri Perhatian". Dimana tamu di Mata Najwa tersebut adalah Syahrini, Raditya Dika dan Basuki Tjahya Purnama (Ahok). Ya, Ahok.

Tayangan tersebut saya yakin BUKAN TIDAK SENGAJA ditayangkan. Melainkan ada tujuan untuk MEREKAYASA PIKIRAN. Kita tahu, bahwa saat ini Ahok sedang dalam posisi yg genting. Hak Interpelasi yg digulirkan oleh anggota DPRD terkait dengan APBD PALSU yg diserahkan ke Kementerian Dalam Negeri menjadi pasalnya. Belum lagi, sikap kalap Ahok yg kemudian mematikan nalarnya, malah membuka borok dirinya dan jajaran pemerintahannya (juga Gubernur sebelum dia yakni Joko Widodo) dengan adanya dana siluman dalam APBD tersebut. Padahal dana siluman tersebut sudah ada sejak 2013 dan 2014, saat Joko Widodo menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Tentunya, cara yg praktis dan efektif digunakan adalah merekayasa pikiran kebanyakan rakyat Indonesia agar citra dirinya tetap baik. Caranya adalah menayangkan hal-hal yg dikesankan baik mengenai Ahok. Mari kita lihat media-media pembelanya, tak henti-hentinya mencitrakan dan memanipulasi berita sehingga Ahok dikesankan orang yg baik dan terzhalimi. Berita, tayangan, testimoni (buatan), dan lain sebagainya ditayangkan berulang-ulang. Targetnya adalah berita dan tayangan tersebut terprogram pada pikiran bawah sadar (unconscious mind) sebagian rakyat Indonesia.

Sehinga, walau terbukti bersalah, dapat dipastikan ada banyak orang yg terhipnosis sehingga membela membabi buta.

Lalu pertanyaannya, apa yg harus kita lakukan agar tidak terhipnosis oleh pemrograman pikiran bawah sadar yg dilakukan oleh media-media pelindung para pencuri dan penipu? Seperti halnya judul film yg saya ceritakan di atas, FOKUS. Jangan mudah percaya. Jangan terlena. Perhatikan dengan seksama dan lakukan analisa. Curigalah dengan segala sesuatu yg tiba-tiba, tanpa cela, diberitakan/ditayangkan berulang-ulang dan terus menerus. Curigalah bahwa jika demikian, pasti ada yg tidak beres di sebaliknya.

Namun, yakinilah bahwa secanggih apapun REKAYASA PIKIRAN yg dilakukan dengan hal-hal yg 'baik', tidak akan pernah mengalahkan kebenaran yg sifatnya mutlak. Kebenaran akan tetap menjadi kebenaran. Ia tidak akan pudar walau diselubungi oleh ratusan kebaikan yg hanya rekaan.

Kebusukan Media l by Hafiz Ary

Kebusukan Media l by Hafiz Ary

Media menentukan siapa yg baik dan siapa yg jahat , yg baik bs dihukum jahat oleh media , yg jahat bs dicitrakan baik.

Operasi media membuat sesuatu yg bukan realita dianggap realita.

Media yg menentukan seseorang terbaik atau tidak, bersalah atau tdk, kosong atau isi, tdk peduli apapun realitanya.

Bersalah atau tdk ditentukan di ruang rapat dewan redaksi ... bukan dipengadilan.

Pencitraan koruptor adalah partai Islam pun bagian dr operasi media , padahal kita tau sendiri realitanya , siapa partai terkorup.

Skrg Islam dilabelkan ISIS, zaman SBY dilabelkan teroris , zaman suharto dilabelkan teroris , zaman belanda dilabelkan pemberontak , radikal.

Media menebar persepsi "masyarakat skrg sudah cerdas" , seolah2 mereka sudah mencerdaskan masyarakat. Pdhl yg trjadi sebaliknya.

Kenyataannya sdbaliknya media membuat masyarakat jd memusuhi yg benar dan mendukung yg salah .

Penyesatan opini semacam ini juga sudah terjadi di zaman para nabi .. Shingga nabi dipersepsikan salah.

Para nabi diopinikan sbg org gila, pemecah belah , penebar kebencian, tukang sihir dll.

Hari ini opininya muslim adalah ISIS, zaman SBY, muslim itu  teroris. Zaman suharto , muslim itu subversif.

KPK , densus , BNPT dalam rangkaian demonisasi Islam .. Jk tdk salah, dibuatlah spy seolah2 salah, jk pun salah dibesar2 bhw ini salah Islam.

Penegakan syariah Islam sbg kesepakatan pembentukan konsepsi negara pun dikhianati oleh sukarno.

Di zaman suharto diberlakukanlah asas tunggal , subversif menjadi label yg menjustifikasi pemberangusan Islam dan aktivis Islam.

Zaman suharto , media milik negara , informasi dikuasai oleh negara . Hari ini negara dimiliki penguasa media .

Demonisasi Islam ini terjadi di masyarakat barat juga terjadi di dunia Islam.

Ketidakfahaman dunia akan Islam , krn penyesatan opini, menjadi kerugian sendiri bagi dunia.

Bagian dr strategi demonisasi ini adalah standar ganda . Jk muslim bersalah maka Islam disalahkan, jk non muslim bersalah mk bkn salah agama.

Jk utk kepentingan barat , maka demokrasi didukung , jk mengancam kepentingan barat maka demokrasi dihancurkan. Kasus kudeta mursi mesir.

Dibuatlah daftar teroris , dimana makna teroris adalah semua yg mengancam kepentingan barat, dimana zionis dan salibis di belakangnya.

Sehingga Hamas adalah teroris , IM adalah teroris , sehingga refah turki dan FIS aljazair dihabisi.

Kenapa hamas disebut teroris? Krn lawan Israel. Kenapa IM disebut teroris? Krn langkahnya di mesir mengganggu kepentingan israel.

Taliban juga disebut teroris krn melawan invasi barat ke afganistan, dibesar2kanlah citra bahwa taliban teroris radikal kejam.

Amerika dulu bikin rambo 3 utk opini bahwa mrk pahlawan afghanistan, tp juga bikin "true lies" utk propaganda islam teroris.

Sebagian Umat Islam yg menjadi korban penyesatan opini pun tdk sadar , mrk justru bergabung melawan Islam.

Inilah pentingnya berpikir , tabayyun ... islam memerintahkan ini .

Krn bodoh, sebagian umat Islam berpikir hamas teroris , IM teroris , taliban teroris , dst.

Sebagian umat Islam pun percaya bahwa partai islam korup , menolak fakta sesungguhnya yg disembunyikan media , partai terkorup adalah partai sekuler.

Heboh Pengakuan Wartawati Ex Tempo: Kebobrokan Media di Indonesia

Ketika TEMPO Dihajar “Jilbab Hitam”


Bismillahirrahmaanirrahiim. Luar biasa, sebuah kejutan besar sekaligus ide hebat dari seseorang yang menamakan diri “Jilbab Hitam.” Dalam tulisannya di Kompasiana.com, pada 11 November 2013, telah menghebohkan banyak pihak. Tak kurang, Tempo sendiri menurunkan5 tulisan bantahan atas informasi yang dia paparkan. Bagaimanapun, tulisan “Jilbab Hitam” lebih kuat dari semua bantahan Tempo; dan sangat disayangkan, Kompasiana.com men-delete begitu saja tulisan itu. Bahkan dalam ulasan di Kompasiana.com disebutkan, bahwa “Jilbab Hitam” hanyalah pemain amatir, tulisannya dangkal. Bodoh, justru tulisan dia sangat kuat. Lebih kuat dari umumnya tulisan-tulisan di Kompasiana.com yang ngalor-ngidul gak jelas.
Karena mengapresiasi keberanian “Jilbab Hitam” dalam men-torpedo mesin bisnis media Tempo, kami ikut menayangkan tulisan tersebut, sebagai bentuk kebebasan menyampaikan pendapat dan ekspresi. Sumber tulisan dari Voa-islam.com. Berikut isi tulisan Sang “Jilbab Hitam” yang nyaris menggoyangkan kemapanan struktural media Tempo.

Heboh Pengakuan Wartawati Ex Tempo: Kebobrokan Media di Indonesia

Rabu, 13 Nov 2013.
Kebobrokan Media di Indonesia
Saya adalah seorang perempuan biasa yang sempat bercita-cita menjadi seorang wartawan. Menjadi wartawan TEMPO tepatnya. Kekaguman saya terhadap sosok Goenawan Mohamad yang menjadi alasan utamanya. Dimulai dari mengoleksi coretan-coretan beliau yang tertuang dalam ‘Catatan Pinggir’ hingga rutin membaca Majalah TEMPO sejak masih duduk di bangku pelajar, membulatkan tekad saya untuk menjadi bagian dalam grup media TEMPO. 
Dengan polos, saya selalu berpikir, salah satu cara memberikan kontribusi yang mulia kepada masyarakat, mungkin juga negara adalah dengan menjadi bagian dalam jejaring wartawan TEMPO. Apalagi, sebagai awam saya selalu melihat TEMPO sebagai media yang bersih dari praktik-praktik kotor permainan uang. Permainan uang ini, dikenal dalam dunia wartawan dengan istilah ‘Jale’ yang merupakan perubahan kata dari kosakata ‘Jelas’.
“Jelas nggak nih acaranya?”
“Ada kejelasan nggak nih?”
“Gimana nih broh, ada jale-annya nggak?”
Kira-kira begitu pembicaraan yang sering saya dengar di area liputan. Istilah ‘Jelas’ berarti acara liputannya memberikan ongkos transportasi alias gratifikasi kepada wartawan, dengan imbal balik tentunya penulisan berita yang positif. Dari kata ‘Jelas’, kemudian bergeser istilah menjadi ‘Jale’ yang menjadi kosakata slank untuk ‘Uang Transportasi Wartawan’. 
Perilaku menerima uang sudah menjadi sangat umum dalam dunia wartawan. Saya pribadi jujur sangat jijik dengan perilaku tersebut.
Ketika (akhirnya) saya bergabung dengan grup TEMPO di tahun 2006, sebagaimana cita-cita saya dulu sekali, saya merasa lega.
“Setidaknya, saya tidak menjadi bagian dari media-media ecek-ecek yang kotor dan sarat permainan uang” pikir saya.
Dulu, saya berpikir, media besar seperti TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos dan sebagainya, tidak mungkin bermain uang dalam peliputannya. Dulu, saya pikir, hanya media-media tidak jelas saja yang bermain seperti itu. 
Namun fakta berkata lain. Sempat tidak percaya karena begitu dibutakan kekaguman saya pada kewartawanan, Goenawan Mohamad, TEMPO dan lainnya, saya sempat menolak percaya bahwa wartawan-wartawan TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Antara dan lain-lainnya, rupanya terlibat juga dalam jejaring permainan uang.
Media-media tidak jelas atau yang lebih dikenal dengan media Bodrek bermain uang dalam peliputannya. Hanya saja, dari segi uang yang diterima, saya bisa katakan kalau itu hanya Uang Receh. 
Mafia-nya bukan disitu. Media-media Bodrek bukan menjadi mafia permainan uang dalam jual beli pencitraan para raksasa politik, korporasi, pemerintahan. Adalah media-media besar seperti TEMPO, Kompas, Detik, Antara, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan sebagainya, yang menjadi pelaku jual beli pencitraan alias menjadi mafia permainan uang wartawan. 
Siapa tak kenal Fajar (Kompas) yang menjadi kepala mafia uang dari Bank Indonesia dalam permainan uang di kalangan wartawan perbankan?
Siapa tak kenal Kang Budi (Antara News) yang mengatur seluruh permainan uang di kalangan wartawan Bursa Efek Indonesia?
Siapa tak kenal duet Anto (Investor Daily) dan Yusuf (Bisnis Indonesia) yang mengatur peredaran uang wartawan di sektor Industri? 
Banyak lagi lainnya, yang tak perlu saya ungkap disini. Tapi beberapa nama berikut ini, sungguh menyakitkan hati dan pikiran saya, sempat menggoyahkan iman saya, lantas betul-betul membuat saya kehilangan iman. 
Adalah Bambang Harimurti (eks Pimred TEMPO yang kemudian menjadi pejabat Dewan Pers, juga salah satu orang kepercayaan Goenawan Mohamad di grup TEMPO) yang menjadi kepala permainan uang didalam grup TEMPO.
Siapa bilang TEMPO bersih? 
Saya melihat sendiri bagaimana para wartawan TEMPO memborong saham-saham grup Bakrie setelah TEMPO mati-matian menghajar grup Bakrie di tahun 2008 yang membuat saham Bakrie terpuruk jatuh ke titik terendah. Ketika itu, tak sedikit para petinggi TEMPO yang melihat peluang itu dan memborong saham Bakrie.
Dan rupanya, perilaku yang sama juga terjadi pada media-media besar lainnya, seperti yang sebut di atas. 
Memang, secara gaya, permainan uang dalam grup TEMPO berbeda gaya dengan grup Jawapos. Teman saya di Jawapos mengatakan, falsafah dari Dahlan Iskan (pemilik grup Jawapos) adalah, gaji para wartawan Jawapos tidak besar, namun manajemen Jawapos menganjurkan para wartawannya mencari ‘pendapatan sampingan’ di luar. Syukur-syukur bisa mendatangkan iklan bagi perusahaan.
TEMPO berbeda. Kami, wartawannya, digaji cukup besar. Start awal, di angka 3 jutaan. Terakhir malah mencapai 4 jutaan. Bukan untuk mencegah wartawan TEMPO bermain uang seperti yang dipikir banyak orang. Rupanya, agar para junior berpikir demikian, sementara para senior bermain proyek pemberitaan. 
Media sekelas TEMPO, Kompas, Bisnis Indonesia dan sebagainya yang sebut tadi di atas, tidak bermain Receh. Mereka bermain dalam kelas yang lebih tinggi. Mereka tidak dibayar per berita tayang seperti media ecek-ecek. Mereka di bayar untuk suatu jasa pengawalan pencitraan jangka panjang. 
Memangnya, ketika TEMPO begitu membela Sri Mulyani, tidak ada kucuran dana dari Arifin Panigoro sebagai pendana Partai SRI?
Memangnya, ketika TEMPO menggembosi Sukanto Tanoto, tidak ada kucuran dana dari Edwin Surjadjaja (kompetitor bisnis Sukanto Tanoto)? 
Memangnya, ketika TEMPO usai menghajar Sinarmas, lalu balik arah membela Sinarmas, tidak ada kucuran dana dari Sinarmas? Memang dari mana Goenawan Mohamad mampu membangun Salihara dan Green Gallery? 
Memangnya, ketika grup TEMPO membela Menteri BUMN Mustafa Abubakar dalam Skandal IPO Krakatau Steel dan Garuda, tidak ada deal khusus antara Bambang Harimurti dengan Mustafa Abubakar? Saat itu, Bambang Harimurti juga Freelance menjadi staff khusus Mustafa Abubakar. 
Memangnya, ketika TEMPO mengangkat kembali kasus utang grup Bakrie, tidak ada kucuran dana dari Menteri Keuangan Agus Martowardojo yang saat itu sedang bermusuhan dengan Bakrie? Lin Che Wei sebagai penyedia data keuangan grup Bakrie yang buruk, semula menawarkan Nirwan Bakrie jasa ‘Tutup Mulut’ senilai Rp 2 miliar. Ditolak oleh bos Bakrie, Lin Che Wei kemudian menjual data ini ke Agus Marto yang sedang berseberangan dengan grup Bakrie terkait sengketa Newmont. Agus Marto sepakat bayar Rp 2 miliar untuk mempublikasi data buruk grup Bakrie tersebut. Grup TEMPO sebagai gerbang pembuka data tersebut kepada masyarakat dan media-media lain, dapat berapa ya? Lin Che Wei dapat berapa? 
Fakta-fakta itu, yang semula begitu enggan saya percayai karena fundamentalisme saya yang begitu buta terhadap TEMPO, sempat membuat saya frustrasi. Kalau boleh saya samakan, mungkin kebimbangan saya seperti seorang yang hendak berpindah agama. Spiritualitas dan mentalitas saya goncang akibat adanya fakta-fakta tersebut. Bukan hanya fakta soal permainan mafia grup TEMPO, tetapi juga fakta bahwa media-media besar bersama wartawan-wartawannya, lebih jauh terlibat dalam permainan uang dan jual beli pencitraan, layaknya jasa konsultan. 
Mereka, media-media besar ini, tidak bermain Receh, mereka bermain dalam cakupan yang lebih luas lagi, baik deal politik tingkat tinggi, juga transaksi korporasi kelas berat. 
Namun semua itu sebetulnya tidak terlalu saya masalahkan, hingga suatu hari saya lihat sendiri bahwa permainan uang dan jual beli pencitraan juga terjadi pada media tempat saya bekerja, TEMPO. Dikepalai oleh Bambang Harimurti sebagai salah satu Godfather mafia permainan uang dan transaksi jual beli pencitraan dalam grup TEMPO, kini tidak hanya bergerak dari dalam TEMPO, tetapi sudah menjadi jejaring antara grup TEMPO dengan para eks-wartawan TEMPO yang membangun kapal-kapal semi-konsultan untuk memperluas jaringan mereka, masih di bawah Bambang Harimurti. 
Saya pribadi, memutuskan resign dari TEMPO pada awal tahun 2013. Muak dengan segala kekotoran TEMPO, kejorokan media-media di Indonesia, kejijikan melihat jejaring permainan uang dan jual beli pencitraan di kalangan wartawan TEMPO dan media-media besar lainnya.
Praktik mafia TEMPO kini semakin menjadi-jadi. 
Agustus lalu, masih di tahun 2013, saya sempat mampir ke Bank Mandiri pusat di jalan Gatot Subroto. Saat itu, saya sudah resign dari grup TEMPO. Tak perlu saya sebut, kini saya bekerja sebagai buruh biasa di sebuah perusahaan kecil-kecilan, namun jauh dari permainan kotor TEMPO. 
Di gedung pusat Bank Mandiri itu, saya memang janjian dengan eks-wartawan TEMPO bernama Eko Nopiansyah yang kini bekerja sebagai Media Relations Bank Mandiri. Ia keluar dari TEMPO dan pindah ke Bank Mandiri sejak tahun 2009, karena dibajak oleh Humas Bank Mandiri Iskandar Tumbuan. 
Pada pertemuan santai itu, hadir juga Dicky Kristanto, eks-wartawan Antara yang kini juga menjabat sebagai Media Relations Bank Mandiri. Kami bincang bertiga. Pak Iskandar, yang dulu juga saya kenal ketika sempat meliput berita-berita perbankan sempat mampir menemui kami bertiga. Namun karena ada meeting dengan bos-bos Mandiri, pak Iskandar pun pamit. 
Sambil menyeruput kopi pagi, saya berbincang bersama Eko dan Dicky. Mulai dari obrolan ringan seputar kabar masing-masing, hingga bicara konspirasi politik dan berujung pada obrolan soal aksi lanjutan TEMPO dalam ‘memeras’ Bank Mandiri terkait kasus SKK Migas.
Saya lupa siapa yang memulai pembicaraan mengagetkan itu, meski sebetulnya kami sudah tidak kaget lagi karena memang kami, kalangan wartawan (atau eks-wartawan) sudah paham betul perilaku wartawan.
Siapapun itu, Eko maupun Dicky menuturkan keluhannya terhadap grup TEMPO. Begini ceritanya. 
“Ketika kasus suap SKK Migas yang melibatkan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini terkuak, saat itu beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri. Dan memang harus diakui bahwa aktivitas transaksi suap, pencairan dana dan sebagainya, menggunakan rekening Bank Mandiri. Tapi ya itu kami nilai sebagai transaksi individu. Karena berdasarkan UU Kerahasiaan Nasabah, kami Bank Mandiri pun tidak dapat melihat dan memang tidak diizinkan menilai tujuan dari sebuah transaksi pencairan, transfer atau apapun, kecuali ada permintaan dari pihak Bank Indonesia, PPATK, pokoknya yang berwenang. Oleh sebab itu, kami tidak terlalu memusingkan soal apakah Bank Mandiri akan dilibatkan dalam kasus SKK Migas,” tuturnya. 
“Tiba-tiba, masuklah proposal kepada divisi Corporate Secretary dan Humas Bank Mandiri dari KataData. Itu lho lembaga barunya Metta Dharmasaputra (eks-wartawan TEMPO) yang didanai oleh Lin Che Wei (eks-broker Danareksa). Gua kira KataData murni bergerak di bidang pemberitaan. Eh, nggak taunya KataData juga bergerak sebagai lembaga konsultan. Jadi KataData menawarkan jasa solusi komunikasi kepada Bank Mandiri untuk berjaga-jaga apabila isu SKK Migas meluas dan mengaitkan Bank Mandiri sebagai fasilitator aksi suap,” ungkapnya. 
“Rekomendasinya sih menarik, KataData menawarkan agar aksi suap SKK Migas dipersonalisasi menjadi hanya kejahatan Individu, bukan kejahatan kelembagaan, baik itu lembaga SKK Migas maupun Bank Mandiri. Apalagi, Metta mengatakan bahwa tim KataData juga sudah bergerak di social media untuk mendiskreditkan Rudi Rubiandini dalam isu perselingkuhan, sehingga akan mempermudah proses mempersonalisasi kasus suap SKK Migas menjadi kejahatan individu semata,” jelasnya. 
“Data-data yang ditampilkan KataData memang menarik, karena riset data dilakukan oleh IRAI, lembaga riset milik Lin Che Wei yang menjadi penyedia data utama KataData. Kalau tidak salah waktu itu data utang-utang grup Bakrie yang dibongkar TEMPO juga dari IRAI ya? Itu lho, yang tadinya ditawarin ke pak Nirwan dan karena ditolak kemudian dibayarin Agus Marto Rp 2 miliar untuk menghajar grup Bakrie,” papar dia. 
“Kita sih waktu itu melaporkan proposal tersebut kepada para direksi Bank Mandiri. Dan selama sekitar 2 pekan, memang belum ada arahan dari direksi mau diapakan proposal tersebut. Penjelasan pak Iskandar (humas Bank Mandiri) sih, direksi masih melakukan koordinasi dengan Kementerian BUMN dan pemerintahan. Biar bagaimanapun ini isu besar, salah langkah bisa berabe akibatnya. Gua sih yakin, saat itu bos-bos lagi memetakan dulu kemana arah isu ini sebelum memberikan jawaban terhadap proposal yang masuk. Karena selain KataData juga ada dari pihak-pihak konsultan lainnya,” kata dia.
“Eeh, tau-tau Pak Iskandar bilang, gila, TEMPO makin jadi aja kelakuannya. Masak BHM (Bambang Harimurti) sampai menelpon langsung ke pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri Budi Gunadi Sadikin) terkait proposal KataData yang memang belum kita respon karena masih memetakan arah isunya. Secara tersirat kita tau lah telepon itu semacam ancaman halus dari BHM dan KataData bahwa jika tidak segera direspon, maka data-data akan dipublikasi, tentunya dalam cara TEMPO mempublikasi data dong yang selalu penuh asumsi dan bertendensi negatif,” ungkap dia.
“Menurut Pak Iskandar, meski sudah diperingati soal bahaya menolak tawaran (alias ancaman) TEMPO grup adalah terjadinya serangan isu negatif kepada Bank Mandiri, rupanya Pak Budi (Direktur Utama Bank Mandiri) bersikeras tidak takut terhadap grup TEMPO. Penolakan memberikan respon cepat terhadap proposal KataData pun disampaikan kepada BHM (Bambang Harimurti),” singkap dia.
“Alhasil, terbitlah Majalah TEMPO edisi 18 Agustus 2013 dengan judul Setelah Rudi, Siapa Terciprat? yang isinya begitu mendiskreditkan Bank Mandiri dalam kasus SKK Migas. TEMPO membentuk opini bahwa aksi suap Rudi Rubiandini tidak akan terjadi apabila Bank Mandiri tidak memfasilitasinya,” keluh dia. 
“Ini kan semacam pemerasan halus atau pemerasan Kerah Putih dari jejaring TEMPO (Bambang Harimurti), KataData (Metta Dharmasaputra, Eks-Wartawan TEMPO) dan IRAI (Lin Che Wei, Eks-Broker Danareksa dan pendana utama KataData). Begitu edisi tersebut tayang, kita sih tepuk dada saja menghadapi mafia TEMPO dalam memeras korban-korbannya. Biasanya memang begitu polanya. Begitu ada kasus skala nasional, calon-calon korban seperti kita (Bank Mandiri) akan didekati oleh mereka, ditawari jasa konsultan dengan ancaman kalau tidak deal, ya di blow up. Padahal data yang mereka publish tidak sepenuhnya benar. Tapi semua orang juga tau kalau TEMPO sangat pintar memainkan asumsi dan tendensi negatif,” keluh dia. 
Mendengar cerita tersebut, dalam hati saya bersyukur kalau saya sudah tidak lagi menjadi bagian dari TEMPO yang sudah tidak bersih lagi. Mereka sudah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. Sama saja dengan media-media lainnya kayak Kompas, Antara, Detik, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Jawa Pos dan lain-lain. 
Saya lega sudah dibukakan mata dan tidak lagi buta terhadap TEMPO maupun mimpi saya menjadi seorang wartawan yang bersih. Sulit menjadi bersih di kalangan wartawan. Godaan begitu banyak. Tidak hanya di luar organisasi tempat kamu bekerja, tetapi juga di dalam organisasi tempatmu bekerja. 
Hampir mirip seperti PNS, mengikuti arus korupsi adalah sebuah keharusan, karena jika tidak, karirmu akan mandek. Korupsi yang melembaga tidak hanya terjadi di lembaga pemerintah. Jejaring wartawan, media seperti yang terjadi pada grup TEMPO, meski mereka seringkali memeras dengan ‘kedok’ melawan korupsi, toh kenyataannya grup TEMPO telah menjadi bagian dari praktik mafia permainan uang wartawan dan transaksi jual beli pencitraan. 
TEMPO dan media-media besar lainnya tidak lagi bersih. Korupsi dalam grup TEMPO telah melembaga alias terorganisir, sebagaimana korupsi di organisasi pemerintahan, departemen dan sebagainya.
Saya bersyukur dibukakan mata dan dijauhkan dari dunia itu. Lebih senang dan tenang batin bekerja sebagai buruh biasa seperti yang saya lakukan kini. Insya Allah jauh dari dunia hitam. [selesai]

Atas tulisan di atas Tempo memberikan tanggapan sebagai berikut:
Majalah Tempo bersama lembaga riset KataData dituding melakukan pemerasan terhadap Bank Mandiri berkaitan dengan kasus Rudi Rubiandini. Tudingan itu ditulis oleh penulis anonim dengan nama Jilbab Hitam, yang mengaku bekas wartawan Tempo angkatan 2006, di media sosial Kompasiana, Senin, 11 November 2013. Di tulisan berjudul “TEMPO dan KataData ‘Memeras’ Bank Mandiri dalam Kasus SKK Migas?” disebutkan Direktur Utama PT Tempo Inti Media Tbk Bambang Harimurti menelepon Dirut Mandiri Budi Gunadi Sadikin menanyakan soal proposal KataData, yang menawarkan diri sebagai konsultan komunikasi terkait penangkapan Direktur SKK Migas Rudi Rubiandini. Rudi adalah komisaris bank pemerintah itu.Menurut penulis itu, karena Mandiri tak meloloskan proposal KataData, majalah Tempo lalu menerbitkan laporan bertajuk “Setelah Rudi, Siapa Terciprat?” pada edisi 18 Agustus 2013 dengan gambar sampul Rudi Rubiandini. “Saya malah baru tahu ada proposal Metta (KataData) ke Mandiri dari tulisan ini. Kalau Tempo jauhlah dari memeras. Iklan yang diduga ‘bermasalah’ saja kami tolak kok,” kata Bambang. KataData adalah lembaga riset yang dipimpin Metta Darmasaputra, mantan wartawan Tempo. Menurut dia, staf humas Mandiri, Eko Nopiansyah, yang disebut dalam tulisan itu sudah ditanya, dan membantahnya. “Kata Eko, hoax, dia tak pernah bertemu dengan eks wartawanTempo angkatan 2006, atau angkatan berapa pun, atau yang bukan eks wartawan Tempo, dan membicarakan yang dituduhkan penulis artikel itu,” kata Bambang.

Dari sisi ruh tulisan, jelas tulisan “Jilbab Hitam” lebih kuat, lebih jujur, lebih asli, tidak dibumbui bahasa-bahasa hipokrit dan formalisme. Tidak salah jika orang seperti “Jilbab Hitam” layak diberi anugerah: Media Whistleblower Award.

Oh ya, karena tulisan di atas penting, silakan di-copy dan disimpan. Jangan sampai nanti seperti Kompasiana.com, baru juga tulisan nongol, langsung delete saja. Sayang sekali. Itulah cara “media” membela “sesama media” sekuler.

Oke, terimakasih. Terimakasih juga buat “Jilbab Hitam”. Meskipun banyak orang mencoba meremehkanmu; tapi tulisanmu menceritakan realitas sebenarnya tentang kebobrokan dunia media. Terimakasih sobat.