PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Mengenang Gus Dur: Apakah Kita Jadi Manusia 'Berhidung Lalat?'

Mengenang Gus Dur: Apakah Kita Jadi Manusia 'Berhidung Lalat?'

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Belakangan ini, suara-suara yang menyanjung Gus Dur itu sebagai pahlawan pembela kaum minoritas berkumandang di mana-mana. Menurut kami, julukan ini perlu ditinjau ulang.

Karena dalam praktiknya, Gus Dur hanya mau membela kelompok minoritas, kalau kelompok itu merusak Islam. Misalnya Ahmadiyah yang nabinya palsu tetapi mengaku Islam, bahkan menganggap kafir bagi yang tidak ikut mereka. Kelompok seperti itulah yang dibelanya.

Bukti konkret bahwa Gus Dur membela kesesatan, diberitakan okezone.com hari Sabtu, 19 April 2008 – 11:33 WIB oleh Yuni Herlina Sinambela, sbb:

GUS DUR SIAP JADI PEMBELA AHMADIYAH

JAKARTA - Mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menyatakan siap menjadi pembela kelompok Ahmadiyah jika nantinya ada proses pengadilan.
"Kalau dibawa ke pengadilan, saya akan jadi saksi ahli. Kalau diperlukan, saya akan jadi anggota tim pembela," kata Gus Dur usai diskusi di Utan Kayu, Jalan Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (19/4/2008).
Mengenai pernyataan Bakor Pakem yang menyatakan Ahmadiyah sebagai aliran sesat dan terlarang, Gus Dur menyatakan telah terjadi pelanggaran Undang Undang Dasar. Karenanya, menurut Gus Dur, aliran itu tidak perlu dibubarkan.
"Kalau berdasar UUD, harus dipertahankan kemerdekaan berpikir dan berbicara. Jadi karena itu ahmadiyah tidak usah dibubarkan. Bakor Pakem itu salah, melanggar UUD," nilai mantan presiden ini. (jri)

Ya, memang Gus Dur siap jadi pembela kaum minoritas kalau itu merusak Islam, seperti Ahmadiyah dengan nabi palsunya.

Sebaliknya, dia tak mau tahu kalau yang menderita adalah orang Islam. Terhadap kaum Muslimin Denpasar yang dilarang punya kuburan Muslim, dilarang bangun masjid lagi, tak ada pembelaan dari seorang Gus Dur.

Berkali-kali ada berita, orang Islam di Bali khususnya di Denpasar yang berjumlah 30 persen itu tidak dibolehkan punya pekuburan Muslim. Mereka sudah sering mengeluh, tetapi adakah pembelaan Gus Dur? Muslimin Denpasar tidak boleh mendirikan lagi mushalla, apalagi masjid, padahal yang ada sudah tak memadahi. pernahkah Gus Dur kerangkang-rangkang untuk membela Muslimin yang dizalimi itu seperti yang ia lakukan di antaranya membela gereja di Karang Tengah Tangerang, dan membelanya pun dengan melabrak ke masjid, akhirnya diusir oleh masyarakat karena asal bela gereja begitu saja?

Singkat kata, Gus Dur adalah pembela siapa dan apa saja yang merusak dan membenci Islam. sebaliknya, tidak mau tahu kalau itu Islam yang dizalimi.

Dalam ilmu aqidah, dapat dipahami bahwa wala' (kecintaannya) terbalik. Seharusnya cinta kepada Allah, Rasul, Islam, dan Muslimin; tapi justru sebaliknya. Jadi wala' dan bara'nya terbalik.

Maka wajar sekali bila Kiai NU di Madura, misalnya KH Kholil Muhammad, berkata: "Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur."

..Banyaknya orang yang menyanjung Gus Dur, boleh jadi karena filter hidung-hidung manusia sudah banyak yang tidak mampu menyaring secara objektif. Sehingga mereka sudah berubah jadi berhidung lalat, justru merasa sedap ketika bertemu dengan barang busuk apalagi sangat busuk...

Banyaknya orang yang menyanjung Gus Dur, boleh jadi karena filter hidung-hidung manusia sudah banyak yang tidak mampu menyaring secara objektif. Sehingga mereka sudah berubah jadi berhidung lalat, justru merasa sedap ketika bertemu dengan barang busuk apalagi sangat busuk. Makanya bau busuk yang sangat menyengat itu justru terasa sangat wangi bagi mereka, hingga menyanjungnya dan mengelu-elukannya.

Meskipun demikian, masih banyak pula kiyai yang tak “berhidung lalat” terhadap Gus Dur, di antaranya KH Ali Yafie, sampai dua kali mundur ketika Gus Dur memimpin.

Pertama, KH Ali Yafie mundur dari petinggi kiyai NU (struktural) ketika Gus Dur jadi ketua umum PBNU karena Gus Dur minta dana dari YDBKS yayasan yang mengelola judi lotere nasional, SDSB yang dulunya bernama Porkas.

Kedua, KH Ali Yafie mundur dari ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) ketika ternyata Gus Dur naik jadi presiden.

Ada lagi KH Kholil Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Gunung Jati Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur menilai, pluralisme agama yang diusung Gus Dur sangat berbahaya bagi umat Islam. "Semoga tidak ada lagi kiai nyeleneh secara pemikiran setelah Gus Dur," ujarnya dalam Tempo Interaktif, Rabu, 30 Desember 2009, pukul 23:24 WIB.

Apakah kita akan ikut-ikut jadi manusia “berhidung lalat,” yang lebih senang terhadap yang busuk-busuk?

Wassalam

Hajaiz Ahmad

(hajaiz@yahoo.com)
Label artikel Mengenang Gus Dur: Apakah Kita Jadi Manusia 'Berhidung Lalat?' judul Mengenang Gus Dur: Apakah Kita Jadi Manusia 'Berhidung Lalat?'...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Minggu, 01 Januari 2012

Belum ada komentar untuk "Mengenang Gus Dur: Apakah Kita Jadi Manusia 'Berhidung Lalat?'"

Posting Komentar