PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Masalah ROK MINI

Aktivis Perempuan dan Rok Mini
September 21, 2011

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Alhamdulillah, dengan ijin Allah di blog “abisyakir” ini mulai dibuka kanal khusus untuk kaum Muslimah. Kategorinya “Area MUSLIMAH”. Sekian lamanya dunia Muslimah tak disinggung disini, alhamdulillah kini mulai direalisasikan. Bagaimanapun di antara pembaca blog ini adalah kaum Muslimah. Mohon dimaafkan atas segala keterlambatan publikasi ini.

***

Baru-baru ini komunitas perempuan liberal membuat demo kecil-kecilan di Jakarta. Mereka mengecam nasehat/himbauan Gubernur DKI Fauzi Bowo, agar kaum perempuan muda tidak menyulut kekerasan dengan memakai rok mini di depan umum. Seperti filosofi Bang Napi: “Kejahatan terjadi bukan hanya karena ada kemauan, tetapi juga karena ada kesempatan.”

Himbauan/kritik Gubernur Fauzi Bowo itu sebenarnya biasa-biasa saja; kalau tidak dikatakan “terlalu standar”. Tapi aneh, kritik/himbauan itu ditanggapi secara EKSTREM, RADIKAL, dan PROVOKATIF oleh perempuan-perempuan aneh yang tidak punya peduli dengan moral.

Betapa tidak, mereka langsung menggelar demo dengan memakai rok mini, hot spans, lalu meneriakkan slogan EKSTREM. Bunyinya: “Bukan Bajuku yang Porno, Tapi Otakmu…” (Berita seputar aksi perempuan-perempuan SAMPAH MORAL ini bisa dibaca disini: Demo cewek-cewek kurang kerjaan).

Ya kita tahulah, bahwa orang-orang seperti Nia Dinata, Rieke Dyah, Ayu Utami, Hanung Bramantyo, Thamrin Tamagola, Muamar Emka, Luthfi Syaukani, mendiang Gusdur, Goenawan Mohamad, dll. bukan orang-orang biasa. Mereka ini seperti missionaris yang mendukung kehidupan hedonis-liberal di tengah masyarakat. Bangsa Indonesia tak pernah sehat dan ‘afiat selama masih bercokol para “buldozer moral” seperti itu.


Mengapa Mereka Memakai Pakaian Seksi? Karena Mereka Tahu "Otak Laki-laki" Suka Itu. Lalu Mengapa Mereka Salahkan Otak Laki-laki? Munafik Kan...

Kalau Gusdur masih hidup, kayaknya dia akan paling “nafsu” membela aksi dan ide-ide seperti itu. Kita masih ingat bagaimana “nafsunya” Gusdur saat menolak RUU APP pada waktu itu. Bisa jadi, kalau Gusdur masih hidup, lalu dia mendengar Fauzi Bowo mengkritik soal rok mini; mungkin dia akan berdiri paling depan dalam demo membela rok mini. Jangan-jangan saat demo itu, Gusdur akan ikut-ikutan memakai rok mini… Entahlah.

Saat membaca salah satu buku Ustadz Hartono Ahmad Jaiz, saya baca bahwa Gusdur ternyata sering bermain-main dengan cewek. Di antaranya Ariyanti, Siti Farikha, dll. Konon, untuk urusan “permainan” ini sudah ada asisten-asisten Gusdur yang membantu “melancarkan urusan”. Jadi kalau kemudian Gusdur terkenal sangat anti dengan moral; ya bisa dimaklumi.

Disini kita ingin mengkritisi sedikit tentang slogan “Bukan Bajuku yang Porno, Tapi Otakmu…!“

Menurut saya, ucapan seperti ini sangat GILA. Ia hanya pantas diucapkan oleh SAMPAH MASYARAKAT yang kerjanya hanya “nyampah” atau merusuhi moralitas masyarakat luas.

EKSTREM… Jelas itu pernyataan ekstrem. Tidak mau mengakui kesalahan diri yang memang salah, karena hobi merusuhi mata kaum laki-laki dengan lekuk-lekuk tubuhnya dan pahanya. Di sisi lain, malah menyalahkan orang lain yang terpengaruh oleh dandanan seksi itu.

AMORAL… Pernyataan seperti itu jelas amoral. Betapa tidak, dengan retorika yang sama para penjahat, para pemerkosa, para koruptor, para pembunuh, dan bandit-bandit; mereka bisa membentengi dirinya dengan retorika sejenis. Misalnya para koruptor bisa berkata: “Bukan kami yang jahat. Tapi kalian yang tidak pintar menjaga uang negara.” Atau pencuri akan berdalih: “Bukan kami yang maling, tapi kalian meletakkan barang sembarangan, sehingga merangsang nafsu kami untuk mencuri.”

MUNAFIK… Pernyataan seperti itu jelas munafik. Untuk apa perempuan-perempuan gatel itu memakai rok mini, hot spans, busana ketat, dll. kalau bukan untuk merusuhi otak laki-laki? Cewek-cewek gatel itu memakai pakaian seksi karena mereka tahu bahwa otak laki-laki suka dengan penampilan begituan. Mereka begitu sadar, bahwa syahwat laki-laki akan “tegang” kalau melihat dandanan yang seksi-seksi itu. Maka itu mereka pun memasang “jebakan” untuk merusuhi otak laki-laki. Jadi, ini sangat munafik. Mereka memakai yang seksi-seksi karena sudah tahu “otak laki-laki” mudah terpengaruh oleh hal itu; lalu mereka balik menyalahkan “otak laki-laki”.

KEJI… Di balik ucapan provokatif itu, perempuan-perempuan gatel tu seperti ingin melecehkan kaum laki-laki sehina-hinanya. Mereka berpikir, laki-laki itu seperti patung atau batu yang tidak bisa apa-apa. Mereka bayangkan kaum laki-laki sangat tidak berdaya, sehingga meskipun mereka sudah bertingkah seseksi mungkin, dijamin “otak laki-laki” tidak akan terpengaruh. Dengan kata lain, kaum laki-laki dianggap tidak punya mata, telinga, atau syahwat sama sekali; sehingga keadaan akan terus aman, meskipun mereka sudah bertingkah seperti “setengah hewan”. Laki-laki normal sekalipun di Amerika atau Eropa, mereka sangat reaktif terhadap dandanan seksi. Bahkan pakaian-pakaian minim atau ketat itu sudah terkenal duluan di Barat, sebelum masuk ke Indonesia. Pakaian model begitu tak berbahaya, JIKA kaum laki-laki dianggap seperti BATU yang dingin, kaku, dan impoten.

KETERLALUAN… Ya, sungguh keterlaluan. Kata-kata seperti itu mengandung provokasi dan kampanye ide-ide amoralitas. Sekarang begini sajalah… Kita coba ikuti ucapan orang-orang itu. Anggaplah, rok mini bukan porno; yang porno otak-otak kita sebagai laki-laki normal. Oke, sementara kita mengikuti logika berpikir mereka. Lalu pertanyaannya: “Kalau memang yang salah adalah otak-otak kami, bukan pakaian Anda yang seksi-seksi itu, mengapa Anda tidak sekalian saja telanjang di depan umum? Mengapa kemana-mana Anda masih berpakaian? Bukankah yang porno otak kami, bukan kelakuan Anda? Siapa tahu di tengah masyarakat masih ada “otak laki-laki” yang tidak porno?”

Cewek-cewek gatel itu pasti tak akan mau telanjang di depan umum dan hal ini sudah semestinya demikian. Artinya, mereka sebenarnya sangat tahu bahwa pakaian seksi, rok mini, busana ketat, dll. itu memang sangat menggoda syahwat laki-laki, terutama anak-anak muda yang belum menikah. Maka itu mereka tak berani tampil minim di segala keadaan. Ini sudah fitrah.

Dulu saat komunitas sejenis membuat demo menolak RUU APP, di antara peserta demo itu ada yang sampai membuka buah dadanya, dipamerkan di depan umum sebagai bentuk “perlawanan”. Wanita-wanita seperti ini kan memang sudah tak punya martabat lagi. Mereka sudah sering (biasa) melakukan hubungan seks ilegal dengan siapapun yang mereka ingini. Ibarat sebutir telur, mereka seperti telur yang jatuh berantakan di atas aspal, terinjak-injak kaki manusia dan roda kendaraan. Cangkang telurnya tercerai-berai kesana-kemari. Mereka berlaku amoral, karena memang sudah tak punya moral sedikit pun. Hidup mereka seperti “mayat hidup”; seolah hidup padahal hakikatnya tak memiliki kehidupan lagi. Sangat memilukan.

Wanita memiliki senjata utama, yaitu KEHORMATAN. Mereka mulia dan dihormati laki-laki selama menjaga kehormatan. Mereka hina dan diabaikan, ketika kehormatannya tidak dijaga. Maka jagalah kehormatan Anda wahai Muslimah, sampai saat ajal menjemput. Wanita mulia, meskipun belum menikah, akan dikenang kemuliaannya. Wanita hina, meskipun sudah berkali-kali melakukan hubungan seks liar, mereka akan dikenang sebagai SAMPAH yang menjijikkan siapapun yang melihatnya.

Adapun kelakuan cewek-cewek gatel itu, di antara mereka banyak yang sengaja “cari nafkah” dengan menyerang simbol-simbol moral. Demi melayani missi-missi demoralisasi Zionisme, cara segila apapun akan mereka tempuh demi “mendapat nafkah”. Kampanye-kampanye kebobrokan moral angat laku di mata pemodal-pemodal Yahudi dan para sekutu mereka. Filosofinya begini: “Biarlah semua etnis manusia rusak, selain komunitas berdarah Yahudi.” Dan untuk membiayai missi itu bayarannya besar, Mas! Tapi laknatnya juga sangat perih. Siapa yang sudah terlaknat disini, sulit akan keluar darinya.

Mereka dipermainkan oleh Yahudi seperti bola yang ditendang kesana-kemari. Nas’alullah al ‘afiyah lana wa lil Muslimina ajma’in. Amiin.

AM. Waskito.
Label artikel Masalah ROK MINI judul Masalah ROK MINI...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Minggu, 11 Maret 2012

Belum ada komentar untuk "Masalah ROK MINI"

Posting Komentar