PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Bangsa Indonesia dan Teori Kekerasan

Bangsa Indonesia dan “Teori Kekerasan”

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ada suatu kenyataan ironis. Dua TV berita “arus utama” di Indonesia sangat giat menayangkan aksi-aksi demonstrasi anti kenaikan BBM. Tetapi pada saat yang sama, para presenter di TV-TV itu juga intensif mengecam, mencela, atau menyayangkan terjadinya demo-demo anarkhis. Ini merupakan sikap ambigu, kalau tidak disebut oportunis (mau ambil untungnya saja).

Berbicara tentang aksi-aksi demo selama ini, ia tidak lepas dari realitas sosial yang berat, susah, berbagai himpitan ekonomi menerjang dari segala arah. Banyak orang menulis: “rakyat sekarang menjerit”, “kemiskinan ada dimana-mana”, “masyarakat kecil sudah tidak bisa menangis karena air mata mereka sudah kering”, “banyak orang menjadi gila dan bunuh diri”, “rakyat merindukan kondisi seperti di zaman Soeharto dulu”, dan lain-lain.

Disini kita dihadapkan kepada situasi yang KONTRADIKTIF. Pertama, kehidupan sosial masyarakat sangat berat, mereka merindukan perubahan, perbaikan, atau lompatan yang nyata. Mereka tidak bisa sekedar nrimo atau pasrah di bawah keadaan yang penuh penderitaan ini. Kedua, banyak pihak terutama kalangan politisi, media massa, pejabat birokrasi, akademisi, para pengamat, dll. berharap agar terjadi perubahan secara damai, secara mulus, tanpa benturan, tanpa konflik, tanpa kekerasan.

Pertanyaannya: mungkinkah Indonesia akan berubah dari kondisi serba penuh penderitaan menjadi aman, makmur, dan sejahtera; melalui proses damai, tenang, mulus, tanpa konflik, tanpa berdarah-darah, tanpa ada lemparan batu, tanpa ada bakar-bakar ban, tanpa ada dorong-dorongan, tanpa ada aksi-aksi kekerasan? Tanpa ada kekerasan sama sekali? Mungkinkah…

Seperti sering kita kemukakan di blog ini, kondisi riil bangsa Indonesia saat ini, bukanlah kondisi normal, kondisi biasa, atau kondisi wajar. Bangsa kita saat ini andaikan diibaratkan seorang pasien, sudah masuk stadium 4, atau kondisi emergency, atau sudah harus masuk ICU. Bangsa kita tidak lagi bisa diterapi dengan kerokan, minyak angin, pemijitan, atau minum obat herba. Pilihannya hanya amputasi, operasi besar, atau transplantasi organ.

Bangsa kita sudah dikangkangi oleh mafia. Ia adalah Mafia PBB (mafia politik, mafia bisnis, dan mafia birokrasi). Kelompok mafia ini berhasil menguasai seluruh sektor kehidupan, dari hulu sampai hilir. Jangankan mall-mall, perusahaan, proyek-proyek; hingga urusan ustadz yang dakwah di media-media, mereka yang menguasai. Ibaratnya, dari jual-beli pesawat sampai jual-beli terasi dan cabe, didominasi mereka.

Mafia PBB ini lalu berhasil melahirkan mafia-mafia lain seperti mafia media, mafia hukum, mafia pajak, mafia proyek, mafia akademik, mafia pengamat, mafia LSM, mafia preman, mafia penerbitan, mafia migas, mafia narkoba, dan seterusnya. Parahnya lagi, para mafia ini ternyata berkolaborasi dengan Mafia Asing (baik berbentuk korporasi, negara, atau lembaga internasional). Mafia asing hidup bahu-membahu dengan Mafia PBB itu.

Kalau kemudian muncul gerakan-gerakan, pemikiran, sabotase, atau apapun yang mengganggu jaringan mafia ini; jelas akan mereka babat, berapapun besarnya resiko. Para mafia itu berdalih: “Lo boleh ngomong macem-macem. Boleh kritik pemerintah, DPR, atau siapa saja. Tapi jangan coba-coba Lo ganggu urusan Gue ya! Sekali Lo merusuhi urusan makan-minum Gue, tidak ada ampun lagi. Mati Lo bakalan!” Begitu logika kaum mafia itu.

Misalnya ada ormas Islam, sangat rajin demo, rajin menolak kebijakan ini itu, karena dianggap bagian dari kapitalisme dan pro asing. Selama semua itu cuma berhenti di urusan “teriak-teriak doang”, para mafia itu tak akan ambil peduli. Paling-paling mereka akan membuat aksi tandingan, dengan membuat panggung yang diisi oleh Jupe, Dewi Persik, atau Trio Macan. Teriakan idealisme mereka balas dengan panggung hedonisme. Ini sering terjadi.

Tetapi kalau gerakan para aktivis itu sudah mengganggu jalur bisnis mereka, sudah mengganggu pendapatan mereka, sudah menimbulkan kerugian-kerugian significant; maka orang-orang itu akan menurunkan bala tentaranya untuk menghabisi para pengganggu. Kasus Mbak Marsinah di Surabaya, wartawan Udin di Yogya, Antasari Azhar, pengepungan tokoh FPI di Palangkaraya, Mesuji di Lampung, penembakan di Bima, dll. semua itu terjadi ketika orang-orang tersebut sudah mengganggu kepentingan mafia.

Dalam konteks seperti ini, ya kita jangan terlalu menyalahkan para aktivis Islam, para ustadz, para kyai, yayasan Islam, ormas Islam, dan sebagainya. Meskipun tentu, mereka (termasuk diri kita di dalamnya) tidak luput dari salah dan kekurangan. Kita ini adalah kekuatan swasta yang ya segitu-gitunya. Modal cekak, akses fasilitas minim, jaringan kurang, pengaruh politik ora ono, dukungan negara apalagi. Dengan kekuasan pas-pasan seperti ini kita diharuskan menghadapi jaringan Mafia PBB dan Mafia Asing, yang tentu saja otot dan kekuatan mereka raksasa.

Bukan berarti kita harus membela diri, lari dari kenyataan, atau tidak berani menghadapi benturan. Tapi ya mohon dimaklumi jika dalam nilai-nilai perjuangan yang dibela ini masih banyak kekurangan. Sejujurnya, tugas-tugas perjuangan, pemberdayaan, dakwah, dan pembelaan ini, MESTINYA menjadi tugas negara. Dalam sistem Islam berlaku prinsip seperti itu. Kita ini mestinya dilayani, bukan melayani. Kalaupun akhirnya kini kita bekerja “secara swasta”, ya ini adalah jalan darurat yang bisa kita lakukan. Kalau tidak ditempuh jalan seperti ini, khawatir api Islam akan padam.

Kembali kepada isu semula tentang perjuangan mengubah kondisi bangsa dan teori kekerasan. Bisakah bangsa kita berubah menjadi lebih baik dengan cara damai, aman, penuh toleransi, dengan suatu proses cantik, eksotik, diiringi melodi instrumental klasik, dengan semerbak wangi parfum, melalui summit-summit elitik dari hotel ke hotel, melalui lobi-lobi penuh tawa-canda, serta ditingkai seliweran wanita-wanita cantik plus rok mininya?

Bisakah bangsa Indonesia berubah dengan gaya Olga Saputra, atau lawakan Sule, atau air mata Ramon Papana, atau mengikuti retorika gemulai Jeremy Tetti yang bernada kebanci-bancian itu? Bisakah Indonesia berubah dengan lenggak-lenggok gadis-gadis (kalau masih gadis) model di catwalk, atau melalui ajang miss universe, atau melalui sinetron-sinetron ala RCTI dan Indosiar, atau melalui gaya “haha hehe” Andy F. Noya di MetroTV?

Semua cara-cara semacam itu jelas tidak akan mengubah apa-apa terhadap konstruksi Mafia PBB dan aliansi Mafia Asing. Sama sekali tak mengubah keadaan. Bahkan sejatinya cara semacam itu merupakan produk mafia untuk membuat masyarakat lupa diri, tidak sadar-sadar, dan terus terlena. Aneka instrumen industri entertainment adalah bagian dari kerja mafia itu sendiri. Bahkan ia merupakan sisi front office-nya.

Pada hakikatnya cara kekerasan adalah salah, atau tidak disukai jiwa manusia. Tetapi lihatlah betapa banyak para dokter menerapkan tindakan “amputasi” pada pasien tertentu, karena penyakitnya sudah tidak bisa diatasi dengan terapi-terapi ringan. Mana ada manusia suka melihat tindakan amputasi? Mana ada manusia suka melihat seseorang kakinya buntung? Tapi semua itu dianggap lebih ringan ketimbang resiko terberat, yaitu kematian.

Dulu di zaman Orde Lama, bangsa kita dikuasai oleh kaum politisi yang sangat berambisi ngangkangi negara dengan ilusi-ilusi politiknya. Waktu itu eksistensi mafia belum tumbuh, sebab semangat idealisme masih kuat. Di zaman Orde Baru, mafia sudah mulai muncul, bertunas, dan memiliki eksistensi. Tetapi ketika itu mafia masih sopan, masih penuh “tatakrama”. Mereka masih sangat segan dengan pemimpin Orde Baru, Soeharto. Di zaman Orde Reformasi, kekuatan mafia meledak, mereka lepas kendali, atau lepas dari kekangan penjara. Reformasi 1998 adalah PINTU KEMERDEKAAN bagi kaum mafia ini. Ketika itu mereka deklarasikan perlawanan terhadap Orde Baru, sekaligus deklarasi perebutan kekuasaan di Indonesia.

Apa yang terjadi selama ini di tengah kita adalah wajah hari-hari di bawah “naungan” sistem mafia ini. Mereka telah menguasai sektor politik, bisnis, dan birokrasi; mereka sinergi dan kongkalikong dengan mafia asing. Inilah wajah Indonesia saat ini, wajah negeri kita, yang semula dicita-citakan ingin: “Membentuk masyarakat yang adil dan makmur.”

Lalu…selanjutnya kita hendak kemana kawan? Apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi sistem mafia ini?

Intinya, kalau Anda sakit flu, batuk-batuk, atau tubuh meriang; bolehlah diobati dengan obat warung, dengan kerokan, minyak angin, atau meminum air jahe hangat. Tetapi kalau kaki sudah membusuk karena derita diabetes, tidak bisa lagi diatasi dengan obat warung. Para dokter selalu menyarankan: A-M-P-U-T-A-S-I. Ya bagaimana lagi, wong penyakitnya sudah akut.

Secara fitrah, tidak ada manusia yang menyukai kekerasan. Tetapi jika tidak ada pilihan lain untuk mengatasi kebobrokan, menghentikan kehancuran moral, atau melenyapkan penindasan; ya bagaimana lagi? Dalam sejarah Nabi Saw berkali-kali beliau terjun dalam kancah peperangan dan konflik? Begitu juga dalam sejarah Khulafaur Rasyidin Ra. Bahkan Amerika berdiri setelah melewati masa-masa panjang dalam perang Sipil dan perang Kemerdekaan selama ratusan tahun. Bangkitnya Revolusi Perancis dan Revolusi Industri di Inggris, juga tak lepas dari konflik. Termasuk, proklamasi Indonesia dihasilkan melalui proses revolusi yang memakan korban sangat besar.

Sejarah sudah banyak memberikan fakta, bahwa perubahan kehidupan bangsa menjadi lebih baik, tidak sepi dari resiko-resiko konflik. Tidak pernah terjadi, muncul perubahan significant dengan modal: lawakan, grup boy bands, tetabuhan rebana, dai selebritis, seminar-seminar, obrolan lawyers club, lobi-lobi, rapat paripurna, pidato-pidato melankolik sambil meminta belas kasihan, dan sejenisnya.

Ingat dulu semboyan para pahlawan nasional: “Merdeka atau mati! Sekali merdeka, tetap merdeka! Daripada hidup berputih mata, lebih baik mati berkalang tanah.” Atau seperti syair Chairil Anwar: “Sekali berarti, sesudah itu mati…” Selalu nuansanya heroik. Bukan “heha hehe”, grup Smash, Olga Saputra, komedi Sule, Parto, dan aneka gaya sejenis.

Demikian, semoga bermanfaat. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

[Ayah Syakir].
Label artikel Bangsa Indonesia dan Teori Kekerasan | Kebusukan Media judul Bangsa Indonesia dan Teori Kekerasan...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Minggu, 01 April 2012

Belum ada komentar untuk "Bangsa Indonesia dan Teori Kekerasan"

Posting Komentar