PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Kenapa yang Enak-enak Diharamkan?

 
Kenapa yang Enak-enak Diharamkan?
Oleh: Dian Kaizen Jatikusuma | 27 May 2012 | 16:36 WIB

“Kenapa semua yang enak-enak, itu diharamkaaaan..” (Rhoma Irama)

Pernah baca koran? Jika ada judul headline besar: “Peresmian tempat ibadah di Kepulauan Seribu”, dan ada judul artikel kecil di halaman yang sama: “seorang nenek-nenek diperkosa 5 satpam”, yang mana yang duluan anda baca?

Jika anda ingin mengajak segerombolan orang untuk mengisi malam, mana yang lebih mudah: mengajak mereka ke pertemuan agama, atau mengajak mereka ke diskotik dan mencekik botol sampai pagi?

Berapa banyak para perokok yang tahu bahaya besar dari merokok? Nah pertanyaan saya selanjutnya: berapa yang berhasil berhenti? Berapa banyak pengguna narkoba yang sebenarnya tahu, bahwa hidup mereka kemungkinan besar berakhir dengan jarum suntik masih menancap di leher? Lantas, berapa banyak yang berhasil berhenti sebelum menginjak penjara atau terbaring di liang kubur?

Saya rasa, semua wanita juga tahu bahwa menjadi pelacur itu buruk. Menjadi pelacur sama saja seperti memilih menjadi media penyebar penyakit, memakan rezeki anak dan istri orang lain, dan sekaligus menghancurkan masa depannya sendiri. Tapi, kenapa banyak wanita yang memilih melakukannya?

Manusia, pada dasarnya, memang lebih mudah diajak melakukan sesuatu yang menyenangkan, daripada sesuatu yang membosankan.. Lebih memilih melakukan sesuatu yang mudah, daripada yang sulit. Lebih mudah diajak berbuat maksiat, daripada diajak lari pagi.. Tentu saja, jauh lebih menyenangkan mengejar-ngejar cewek mabuk di diskotik berjam-jam daripada mendengar ceramah seorang pemuka agama selama 2 jam. Tentu saja, bagi para wanita, jauh lebih mudah mencari nafkah dengan cara berbaring terlentang sambil memikirkan daftar barang yang ingin dibeli, daripada harus bersusah payah mengayuh sepeda untuk jualan jamu.. Tapi, dalam jangka panjang, manakah yang lebih baik?

Lucunya, walaupun manusia tahu perbuatannya itu buruk, tapi dia tetap ingin terlihat mulia. Contoh gampangnya: para perokok akan senang luar biasa jika ada yang memberi alasan “merokok kan menyumbangkan devisa buat negara”, atau “memberikan lapangan pekerjaan kepada ratusan ribu buruh pabrik rokok” sampai alasan yang ngarang-ngarang “agar penduduk dunia tidak terlalu padat bro..” Para pelacur juga sangat senang memberikan alasan: “semua ini karena pemerintah tidak sanggup menyediakan lapangan pekerjaan”, “saya berjuang demi anak-anak saya mas” dan apologi yang menjengkelkan “saya juga nyumbang mesjid lhoo”. Faktanya, ada jutaan wanita di luar sana, dengan keterbatasan pilihan pekerjaan yang sama, dengan jumlah anak yang jauh lebih banyak, tapi memilih banting kerja siang malam untuk mencari rezeki yang halal…

Dan parahnya lagi, jika kita memang hobi melakukan perbuatan buruk, kita sering tidak rela kalau kita melakukannya sendirian (‘kalau gue emang brengsek, gue harus brengsek berjamaah!’). Coba aja anda memproklamasikan niat anda berhenti merokok kepada semua orang, maka para perokok di sekitar anda akan gelisah.. Akan banyak muncul ucapan-ucapan “loe ga asyik lagi deh..”, “sebatang aja kan ga papa bro.. buat pergaulan..” Bahkan orang-orang yang biasanya menyembunyikan rokoknya di celana dalam (biar tidak diminta), tiba-tiba dengan sukarela akan melemparkan sebungkus rokok ke depan anda..

Itulah kenapa hukum agama kadang-kadang terlihat terlalu keras.. Itu memang untuk menekan naluri manusia, untuk memaksa diri kita sendiri menghindari perbuatan-perbuatan maksiat yang menyenangkan, yang sebenarnya demi kebaikan kita juga. Selama ini kita rasanya terlalu lunak menoleransi para kriminal, para pelaku maksiat, dengan alasan HAM, atau belas kasihan. Apa yang kita lakukan selama ini untuk membuat mereka bertobat? Kita berikan mereka tempat berteduh, makan gratis, dan kesempatan reuni dengan kriminal yang lain untuk saling menularkan ilmu kriminal mereka. Kenapa ga sekalian diberi beasiswa untuk belajar ke mafia Hong kong?

Jika saja korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, pengedar dan pemakai narkoba diancam hukuman yang berat tanpa pandang bulu (misalnya: hukuman mati), mudah-mudahan, angka kejahatan akan berkurang drastis. Jika seorang pengedar narkoba mendapat hukuman mati, mungkin benar, itu tidak akan menyelamatkan para korban narkoba yang sudah jatuh.. Tapi, itu akan bisa menyelamatkan para calon-calon pengedar yang lain, dan para calon-calon korban narkoba yang lain, karena, mereka akan berfikir 100x lagi, sebelum tergoda mengikuti naluri manusia, untuk mencari kemudahan dan kesenangan..

Apa yang terlihat mudah dan menyenangkan, belum tentu baik untuk jangka panjang..

Orang yg mau, seribu daya
Orang yang tidak mau, seribu dalih..

Sebut saja dia si Jelita. Sepanjang hidupnya, dia bernasib sangat malang. Dia lahir di keluarga yang sangat miskin. Ayah dan ibunya meninggal saat dia masih kecil. Jelita kemudian dirawat oleh pamannya, dan pamannya kemudian memperkosa dia saat dia mulai menginjak bangku SD. Tidak tahan dengan perlakuan pamannya, ia melarikan diri dari rumah, dan ditampung oleh keluarga jauh ayahnya. Nasib malangnya belum berhenti di situ. Saat ia menyelesaikan SMUnya, ia menikah dengan pacarnya, yang ia sayangi dengan sepenuh hati. Sayangnya, sang suami sukses membuktikan apa yang sudah dikatakan keluarga dan teman-teman si Jelita jauh sebelum mereka menikah: bahwa sang suami memang pecundang. Sang suami pemabuk, tukang judi, main perempuan, dan seakan-akan itu belum cukup: ia juga gemar menjadikan Jelita sasaran tinjunya saat ia sedang terlalu mabuk untuk memukuli orang lain. Dan cerita itu ditutup dengan ending menyedihkan: sang suami menjual Jelita menjadi pelacur, untuk membayar hutangnya..

Ok, time out. Cerita sedihnya, cukup sampai di situ dulu. Sering mendengar cerita semacam itu? Di koran mingguan, majalah bulanan, atau acara di televisi? Kita terbawa oleh cerita itu, kita ikut berkaca-kaca, dan hati kita sebagai manusia, tersentuh. Itu normal. Kita jadi menaruh simpati kepada si Jelita, sebagai korban dari dunia yang kejam ini. Kita jadi memaklumi perbuatannya, dan naluri kita sebagai seorang penolong (dengan menunggang kuda putih dan menyanyikan lagu opera) bangkit. Mereka harus kita selamatkan!

Izinkan saya menceritakan pelatihan yang pernah saya ikuti. Dalam salah satu sesi, sang trainer membahas tentang berenang. Beliau bertanya: “siapa yang tidak bisa berenang?” Separuh dari peserta (dari sekitar 800 peserta) angkat tangan. Beliau kemudian menanyai satu per satu para non-perenang tadi: “kenapa anda tidak bisa berenang?”.

Muncullah berbagai jawaban: “rumah saya jauh dari kolam renang”, “saya pernah tenggelam saat belajar renang, jadi trauma..”, “saya sibuk, ga sempat belajar renang”. Semua memberikan alasan, yang bagi kami saat itu, terdengar sangat masuk akal dan luar biasa bagus. Sayangnya, sang trainer, menghancurkan kesan tersebut dalam sekejap..

“Baik, mari kita bahas satu per satu alasan yang diberikan. Alasan pertama: rumah saya jauh dari kolam renang. Wah, jadi semua yang bisa berenang ini, punya kolam renang di rumahnya? Ada tidak, yang rumahnya jauh dari kolam renang, tapi bisa berenang?” Banyak peserta yang angkat tangan.

“Ok, alasan kedua: saya pernah tenggelam saat belajar, jadi trauma. Jadi semua yang bisa berenang ini, langsung menggunakan gaya kupu-kupu saat belajar? Ada tidak, di antara mereka yang bisa berenang ini, tenggelam saat belajar?” Kali ini semua orang yang bisa berenang angkat tangan.

“Nah, alasan ketiga: saya sibuk. Jadi mereka yang bisa berenang ini, semuanya pengangguran ya? Ada tidak, di antara yang bisa berenang, sehari-harinya adalah orang yang luar biasa sibuk?” Banyak juga peserta yang angkat tangan.

Kita, manusia, adalah makhluk yang unik. Kita butuh alasan yang mulia, untuk membenarkan tindakan-tindakan buruk kita. Nyaris semua pelaku kriminal bisa menceritakan latar belakang perbuatannya dengan sangat bagus, bahkan luar biasa masuk akal, sehingga akhirnya para pelaku itu menyimpulkan: mereka terpaksa melakukan itu, dan yang salah adalah mereka yang “di luar sana”. Bahkan pelaku pembunuhan sadis seperti Crowley si Dua Pistol pun benar-benar menganggap dia terpaksa melakukan pembunuhan sadis, bahwa “sang korban lah yang memaksanya”, dan ia juga bercerita bahwa ia banyak melakukan perbuatan-perbuatan baik selama hidupnya.

Kembali ke masalah pelacuran tadi: nyaris semua pelaku pelacuran juga sanggup menceritakan kisah latar belakang yang membuat kita kadang-kadang manggut-manggut memaklumi sambil menyeka mata kita. Tapi terkadang, kita jadi melupakan fakta: ia bukan satu-satunya manusia di dunia ini yang pertama kali mengalami hal itu. Kisah Jelita pernah di alami ratusan, bahkan ribuan wanita lain sebelumnya. Tapi apakah semuanya tetap bertahan di dunia pelacuran? Saya yakin ada banyak wanita di dunia ini yang mengalami kisah yang persis sama, yang memilih menceraikan suaminya saat ia dijual menjadi pelacur, atau, jika sudah tercebur, ia akan berusaha segera keluar dan mencari jalan lain yang halal.

Jalan hidup kita, adalah hasil pilihan-pilihan kita. Apapun nasib malang yang pernah menimpa kita (ayolah, nasib malang juga pernah menimpa semua orang), tidak bisa menjadi pemakluman terhadap hal-hal buruk yang kita lakukan. Jika kita memilih tetap melakukan perbuatan buruk itu, itu lah pilihan kita, bukan keterpaksaan kita. Jika kita memilih menjadi salah satu media penyebar penyakit menular seksual, memakan rezeki anak dan istri dari laki-laki yang meniduri kita, dan merusak masa depan kita sendiri, maka, tidak ada latar belakang hidup, atau siapapun, yang berhak kita salahkan, selain diri kita sendiri.

Sangat banyak pelacur yang berkali-kali dibina, diberi keterampilan dan modal, yang kembali ke pekerjaan yang sama. Alasannya tentu saja sederhana: pekerjaannya mudah dengan penghasilannya sangat lumayan, apalagi untuk para pelacur kelas tinggi.

Terpaksa? Ada jutaan wanita di luar sana yang hidup di bawah garis kemiskinan, dengan latar belakang kisah yang jauh lebih menyedihkan, tetapi mereka tetap mengerahkan segala upaya mereka, banting tulang siang dan malam, untuk mencari rezeki yang halal. Terpaksa kah? Atau pilihan kah?

“Kita adalah makhluk yang unik, yang memerlukan alasan yang mulia untuk semua perbuatan buruk kita, kemalasan-kemalasan kita..”
Label artikel ANTI LIBERALISME | Dian Jatikusuma | Kenapa yang Enak-enak Diharamkan? | Peduli Fakta judul Kenapa yang Enak-enak Diharamkan?...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Senin, 28 Mei 2012

Belum ada komentar untuk "Kenapa yang Enak-enak Diharamkan?"

Posting Komentar