PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Presiden SBY

[1] Selama kepemimpinan tokoh ini, bangsa Indonesia panen bencana. Termasuk bencana-bencana mengerikan seperti Tsunami Aceh, gempa bumi Yogya, lumpur Lapindo, dan lain-lain. Hal itu menjadi burhan, bahwa kepemimpinan orang ini sangat penuh masalah. Tidak diridhai oleh Allah sehingga terjadi begitu banyak bencana. Di jaman Soeharto saja, yang katanya penuh korupsi dan sebagainya itu, tidak ada bencana-bencana mengerikan seperti jaman SBY. Termasuk di dalamnya bencana kemanusiaan, seperti kecelakaan transportasi.

Sebagian orang menolak hujjah ini dengan alasan, “Jangan kaitkan soal bencana alam dengan politik. Itu tidak ada kaitannya.” Atas pernyataan itu, saya jawab, “Apakah Anda percaya bahwa bencana itu datang tanpa sebab apapun? Apakah Anda percaya bahwa bencana tidak ada hubungannya dengan dosa-dosa manusia? Apakah Anda percaya bahwa keshalihan dan ketakwaan, tidak memberi manfaat apapun bagi hidup manusia?” Jika Anda percaya hal itu,  berarti Anda bukan orang beragama, tetapi sekuler, atau bahkan atheis.
Dalam Al Qur’an disebutkan, “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), sehingga Kami siksa mereka karena perbuatannya.” (Al A’raaf: 96).


Hanya orang sekuler, freemasonries, atau atheis yang tidak percaya hubungan antara dosa-dosa manusia dengan bencana yang terjadi di sekitarnya. Bisa jadi, selama ini kita telah memilih pemimpin yang sangat salah, orang-orang yang zhahirnya tampak “Islami”, tetapi hatinya menyembunyikan permusuhan keras.

[2] Memilih Sri Mulyani dan kawan-kawan sebagai pengatur urusan ekonomi. Adalah suatu bencana mengerikan ketika urusan keuangan negara dan perekonomian diserahkan kepada mantan pejabat IMF, yaitu orang-orang yang cara berpikirnya menganut paham ekonomi IMF. Perlu diketahui, bahwa IMF adalah sumber kehancuran ekonomi Indonesia. IMF telah melakukan kejahatan-kejahatan sistematik yang sulit dimaafkan oleh orang-orang waras di negeri ini.

Di antara kejahatan IMF:

(a) Mereka mendesak Pemerintah melikuidasi 16 bank nasional tahun 1997. Akibatnya industri perbankan nasional hancur, kurs rupiah terjun bebas sampai turun 300 %, bahkan pernah melebihi 400 % (dari patokan Rp. 2.500,- per dollar sampai di atas Rp. 15.000 per dollar).

(b) IMF juga yang memicu munculnya mega skandal BLBI, sehingga negara kehilangan dana lebih dari Rp. 500 triliun. BLBI sebagaimana namanya, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia tadinya ditujukan untuk menyelamatkan bank-bank nasional dari rush (kehabisan modal akibat uang masyarakat ditarik secara serentak). Dan semua orang tahu, IMF tidak berbuat apa-apa tentang skandal BLBI yang sukses memiskinkan bangsa Indonesia itu.

(c) IMF sukses menghancurkan kurs rupiah, sehingga yang semula di patokan Rp. 2.500,- per dollar saat ini selama 10 tahun terakhir ada di level Rp. 10.000,- per dollar. Betapa susahnya kurs rupiah itu naik ke atas, menguat terhadap dollar. Bahkan hampir-hampir tidak pernah bisa, sebab kurs kita mengikuti situasi pasar. Padahal sebagai negara merdeka, kita bebas menentukan kebijakan kurs. Andai bangsa ini mau, kurs rupiah bisa dipatok pada kisaran Rp. 5.000,- per dollar. Memang pada mulanya kita akan hidup susah dengan kebijakan ini, tetapi kalau bertahan dalam waktu 3 tahunan, kita akan bisa adaptasi dan siap mencapai kemapanan ekonomi.(Aneh, katanya negara merdeka, tetapi untuk soal kebijakan kurs saja tidak independen. Merdeka apane, Cak?).

(d) IMF menjerumuskan bangsa Indonesia dalam pusaran ekonomi terbuka, kapitalisme yang semakin kuat, dan dominasi bisnis asing yang luar biasa. Dan memang gol dari gerakan IMF memang ke arah ini.
(e) IMF bersama Bank Dunia, ADB, IGGI, CGI, dan lain-lain telah menjerumuskan bangsa Indonesia dalam debt trap (jebakan hutang). Inilah hutang yang menyandera kemerdekaan kita. Hal itu sudah terjadi sejak era Orde Baru, dan semakin menggila setelah ditanda-tangani Letter Of Intends dengan IMF di tahun 1997.
Memilih orang IMF, mantan IMF, atau berpemikiran ekonomi sehaluan dengan IMF sama saja dengan menyerahkan diri kepada orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan kita sehancur-hancurnya. Dari sisi ini, haram hukumnya memilih SBY dan wajib hukumnya menolak dia.

[3] Kebijakan SBY tidak memiliki komitmen moral yang baik. Lihatlah, budaya masyarakat, pergaulan sosial, perilaku birokrasi, kaum elit, perilaku generasi muda, mahasiswa, para seniman, pelaku bisnis, dunia karier, dan lain-lain. Banjir hedonisme ada dimana-mana. Dan negara di bawah SBY tidak memiliki komitmen untuk memperbaiki kondisi ini. Pornografi, tayangan TV, aliran sesat, paham liberal, sekularisme, dan lain-lain marak. Hampir-hampir SBY tidak memiliki desain apapun untuk membangun moral masyarakat. Dia sangat percaya dengan mekanisme demokrasi dan mekanisme pasar. Biarlah masyarakat menentukan sendiri keadaan moralnya.

Sebagai contoh, SBY sangat membanggakan tentang “sekolah gratis”. Seakan-akan ia dianggap sebagai “syurga nyata” dalam kehidupan masyarakat. Tetepi pernahkah dia berpikir, bahwa anggaran puluhan triliun untuk sekolah gratis itu tidak menyelematkan para pelajar kita dari kehancuran moral. Pornografi, seks bebas, pelacuran, aborsi, dan lain-lain menjadi bagian dari kehidupan para pelajar kita saat ini.

Termasuk yang dikeluhkan banyak aktivis Islam, yaitu sikap SBY yang lemah dalam soal Ahmadiyyah. Ketika terjadi Insiden Monas 1 Juni 2008, SBY sangat keras mengecam FPI atau aktivis Islam. Dia sangat marah dan hal itu tersiar ke seluruh penjuru negeri. Tetapi pernahkah dia semarah itu kepada Ahmadiyyah? Mungkin SBY akan berdalil dengan “mekanisme hukum”. Nah, sekarang sudah satu tahun sejak Insiden Monas, mengapa masalah Ahmadiyyah belum juga dibereskan dengan “mekanisme hukum”?

[4] SBY sangat tampak sebagai sosok pemimpin yang American Oriented. Banyak alasan-alasan yang bisa disebutkan, seperti dalam tulisan “Icon Amerika di SBY”. Lihatlah bagaimana ekspressi SBY saat memuji-muji Barack Obama. Padahal presiden yang bersangkutan tetap mempertahankan pasukannya di Irak; menambah kekuatan invasinya di Afghanistan; hanya memberi solusi “bibir” saja untuk kemerdekaan Palestina; serta mendukung Pakistan memerangi Thaliban di Lembah Swat dan lainnya.
Dibandingkan sosok presiden manapun di Indonesia, SBY paling “berbau” Amerika. Dia tidak bisa menunjukkan keberpihakannya kepada kepentingan nasional, melebihi kepentingan asing.

[5] Kedustaan regim SBY dalam soal kebijakan kenaikan harga BBM tahun 2005, 2007. Sebagai contoh, SBY mengklaim pemerintahannya adalah satu-satunya pemerintahan yang pernah menurunkan harga BBM. Hal itu diklaim sebagai “bukti sukses” pemerintahannya. Padahal penurunan harga BBM nasional adalah karena penurunan harga minyak dunia ke level US 40 per barrel. Jadi sama sekali bukan karena Pemerintahan SBY. Bahkan kalau mau fair, seharusnya SBY menurunkan harga BBM ke masa sebelum November 2005 ketika harga bensin masih Rp. 2000,- per liter. Sebab mengikuti harga minyak dunia tahun 2005, ia ada di level US$ 60 per barrel seperti saat ini.

Dampak mengerikan dari kenaikan harga BBM secara ekstrim itu, membuat ekonomi Indonesi kembali terhempas, setelah masyarakat susah-payah bangkit. Seakan negara tidak ada political will untuk memprotek kemampuan ekonomi rakyatnya sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[6] SBY adalah sosok pemimpin melankolik, tebar pesona, mendayu-dayu, suka “curhat” di depan umum. Pemimpin seperti ini sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia yang sedang bekerja sangat keras untuk membebaskan diri dari segala keterpurukan. SBY hampir-hampir tidak memiliki suatu determinasi untuk melawan tekanan asing, tekanan konglomerat, tekanan korporasi, dan sebagainya.

Contoh, tentang Indonesia keluar dari IMF. Keputusan ini diambil setelah IMF selesai tertawa terbahak-bahak selama 10 tahun penuh, setelah lembaga itu sukses besar menghancurkan ekonomi Indonesia. Ya, kita keluar dari IMF setelah lembaga itu puas menghina-rendahkan martabat bangsa kita. Bahkan keluarnya Indonesia, hanya sekedar keluar “kulit” saja. Secara pemikiran, madzhab ekonomi, sistem moneter, kebijakan fiskal, dll. masih “ngeplek” ajaran IMF. Lha, wong orang IMF-nya sendiri, Boediono malah didaulat menjadi Gubernur BI.

Langkah menolak SBY bukan karena soal Boediono seperti yang diajarkan oleh politik Amien Rais. Memang SBY sendiri harus ditolak karena kebijakan-kebijakan politiknya. Tidak peduli dia berpasangan dengan siapapun, sekalipun dengan Hidayat Nur Wahid atau Hatta Radjasa, dia harus tetap ditolak. Menolak SBY adalah bagian dari upaya kita untuk membela Islam dan menyelamatkan kehidupan kaum Muslimin, serta generasi muda Islam di masa nanti.

Hanya Allah tempat kita bergantung, dan hanya kepada-Nya kita mengadu. “La yanshurannallaha man yanshuruh” (Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong agama-Nya. Surat Al Hajj). Jangan takut saudaraku untuk menetapi jalan kebenaran, sebab Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya yang komitmen membela agama-Nya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 19 Juni 2009.

Joko Waskito bin Boeang Al Jawiy.
Label artikel Presiden SBY | TOKOH judul Presiden SBY...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Minggu, 29 Desember 2013

Belum ada komentar untuk "Presiden SBY"

Posting Komentar