PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Trend Bunuh Diri; Benarkah Karena Tekanan Ekonomi?

Di Eropa dan Amerika Serikat, ribuan orang bunuh diri karena terkena dampak krisis ekonomi. Jumlah mereka yang melakukan bunuh diri kian meningkat di negara-negara yng warganya kehilangan pekerjaan atau menjadi penganggur karena guncangan krisis ekonomi tersebut. (KOMPAS, 20 September 2013)

Sementara itu, tingginya aksi bunih diri tidak hanya marak terjadi di barat, tapi juga di negeri timur seperti Jepang.

saat ini mayorits masyarakat Jepang bunuh diri karena alasan tekanan hidup dan ekonomi. Tekanan hidup dan ekonomi di Jepang tersebut berupa kompetisi dalam gaya hidup serta ekonomi dan prestasi akademik. (MERDEKA.COM, 24 April 2013)

Fenomena tingginya angka bunuh di banyak negara maju memunculkan keprihatinan dan pertanyaan dari banyak pihak. Jika benar tekanan ekonomi menjadi motif utama trend bunuh diri ini, mengapa hal yang sama tidak terjadi dinegara-negara berkembang yang mayoritas masyarakatnya jauh lebih miskin.

My Body, My Rights 
 Jamak dipahami bahwa negara-negara maju dunia saat ini, baik di Barat maupun di Timur menjadikan sekularisme dan liberalisme sebagai pokok utama dalam konsep kepemerintahan dan penentuan kebijakan publik. Adapun masyarakatnya menambahkan ideology humanisme sebagai dasar dalam menentukan relasi sosial antar sesama.

Ketiga ideology ini menjadikan manusia sebagai bulan-bulanan yang dipermainkan oleh ketidakpastian konsensus, kalau dahulu budaya pamer itu diangap tabu karena rasa simpati kita terhadap yang kurang mampu, sekarang yang kurang mampu bahkan berlomba dengan yang berkecukupan untuk adu “pamer” kepemilikan suatu barang. Bulan lalu ramah tamah itu adalah sambutan dengan kata-kata baik dan senyum ramah ditambah jabat tangan yang erat, bulan depan rasanya kurang ramah kalau tidak menyebut kawan sejawat dengan hinaan dan ejekan yang dianggap ringan.Jika kemarin pergaulan bebas dikecam sedemikian rupa, ketika besoknya kasus aborsi marak terjadi, akan ada orang-orang yang berteriak bahwa itu adalah hak pribadi yang tak boleh diatur siapa-siapa.

Nilai-nilai etika seperti malu, simpati, ramah, toleransi, pengecut, khianat, jahat, baik dan lain sebagainya bisa bertukar makna atau bahkan maknanya hilang sama sekali. Maka sangat wajar ketika nilai-nilai etika sudah kehilangan makna dalam masyarakatnya, masyarakat tersebut terjebak dalam budaya yang chaos, berantakan.

Peran Negara
Negara  dengan basis ideologi liberal dan sekuler tidak memiliki hak secara langsung untuk mengatur perkara moralitas warganya selama itu tidak merugikan dan mengganggu kepentingan negara tersebut. Jadi kalaupun ada control sosial dalam bentuk undang-undang atau kebijakan khusus, sifatnya tidak memanusiakan manusia didalam negara tersebut. Persis seperti penggembala yang khawatir terhadap ternaknya yang sakit karena takut kehilangan keuntungan.

Itulah sebabnya mengapa manusia yang baik menurut negara bukanlah manusia yang betul-betul baik, manusia dianggap sebagai manusia dan baik jika ia menjadi “warga negara yang baik”. Dan lagi-lagi, karena dasarnya adalah kepentingan negara yang tidak tetap dan sering berubah-ubah, standart “warga negara yang baik” hari ini bisa jadi bertolak belakang dengan standart “warga negara yang baik” esok hari.

Konsep Manusia Dalam Islam Sebagai Jawaban
Dengan kondisi sosial yang dilahirkan oleh idelogi sekularisme, liberalisme dan humanisme inilah sebenarnya penyebab utama dari maraknya kasus bunuh diri di negara-negara maju dapat ditelaah dengan baik. Sebab motif-motif diluar diri manusia seperti tekanan ekonomi, persaingan antar sesama dan kesulitan-kesulitan lainnya cenderung mudah untuk dihadapi jika manusia tersebut punya jiwa yang tangguh.

Jiwa yang tangguh ini tidak didapatkan lewat training-training mental spiritual atau seminar-seminar motivasi yang tidak menyentuh akar persoalan dari kebutuhan hakiki jiwa manusia itu sendiri. Jiwa yang tangguh ini lahir dari kesadaran bahwa dirinya hanyalah seorang hamba.

Islam secara jelas menjabarkan konsep manusia mulai dari awal penciptaannya hingga akhir dari hidupnya. Penciptaan dan akhir hidup ini bukan hanya dari wujud zahir saja tapi juga wujud batin, yaitu dari alam ruh hingga hari kebangkitan kelak.

Islam menempatkan manusia sebagai hamba yang bergantung kepada Allah SWT sebagai pencipta, pengatur serta perawat semesta alam. Sebagai hamba, manusia diberikan ujian berupa potensi-potensi akal dan fisik yang dapat ia gunakan untuk taat atau maksiat kepadaNya. Tapi karena kasih sayangNya yang Maha, Allah SWT tidak melepas manusia dengan ujian tersebut begitu saja tanpa memberi petunjuk dan pelajaran. Lewat Nabi dan RasulNya, Allah SWT memberi tuntunan bagi manusia agar mampu menjalani kehidupan yang hakikatnya adalah cobaan dariNya dengan baik dan sesuai ridlhoNya. 

Label artikel ANTI LIBERALISME judul Trend Bunuh Diri; Benarkah Karena Tekanan Ekonomi?...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Jumat, 14 Maret 2014

Belum ada komentar untuk "Trend Bunuh Diri; Benarkah Karena Tekanan Ekonomi?"

Posting Komentar