PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Zuhairi Misrawi "Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU"

Zuhairi Misrawi, Lc, lahir pada tanggal 5 Februari 1977 di ujung timur pulau Garam Sumenep Madura. Setelah menyelesaikan SD di kampungnya ia meneruskan studi di pesantren TMI al-Amien, Preduan, Sumenep, Madura di bawah asuhan KH. M. Idris Jauhari. Di pondok inilah ia mengenal dunia tulis menulis sebagai redaktur majalah dinding SUASA, dan redaktur majalah QOLAM. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di jurusan Aqidah Filsafat di Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo Mesir, 1995.
Selama menjadi mahasiswa ia aktif di dunia tulis menulis sebaai redaktur mahasiswa TEROBOSAN, Pimred jurnal OASE, pimred bulletin INFORMATIKA. Ia juga aktif di lembaga filsafat Mesir yang dipimpin Hasan Hanafi dan mengikuti forum pemuda muslim sedunia (al Muasykar al Alamy Lissyabab la Islami) di Alexandria Mesir. Akhir tahun 2000 ia kembali ke tanah air dan aktif di lembaga kajian dan pengembangan SDM (Lakpesdam NU) sebagai koordinator kajian dan penelitian serta bersama anak-anak muda NU lainnya menggarap Jurnal Pemikiran Tashwirul Afkar. Kini aktif di Himpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat P3M sebagai Koordinator Program Islam Emansipatoris. Bersama anak muda NU di Jakarta ia mendirikan  Lembaga Studi Islam Progresif (LSPI) sebagai wadah dialog pemikiran keislaman. Ia menulis sangat produktif di media masa nasional yaitu Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaharuan, Gatra, dan Jawa Pos. Karya-karya yang sudah diterbitkan antara lain Dari Syariat menuju Maqoshid Syariat (2003), Fiqih Lintas Agama (2004), Doktrin Islam Progresif (2005), Islam Melawan Terorisme (2004), Menggugat Tradisi (2004).
Zuhairi termasuk anak muda yang aktif menyuarakan liberalisme dan pluralisme agama. Atas pendapatnya yang cukup 'keras' tersebut ia sempat diancam mati ketika akan menyampaikan seminar di almamaternya di Mesir. Seperti yang di muat di majalah Gatra edisi 14, tanggal 20 Desember 2004. Waktu itu Zuhairi Misrawi dan Masdar F. Mas'udi dari Pengurus Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) bekerja sama dengan kekatiban Syuriah PB NU, Organisasi siswa setempat, Sanggar Strategi TEROBOSAN akan menghadiri seminar bertajuk "Pendidikan dan Bahtsul Masail Islam Emansipatoris" di hotel Sonesta, Kairo. Namun di lobi hotel mereka diancam mati oleh Limra Zainuddin, Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir. Mereka menolak kegiatan tersebut karena lontaran Zuhairi yang dianggap meresahkan masyarakat.
Menurut Limra, "Pernyataan Zuhairi tentang Shalat tidak wajib. Dan permasalahan mudlim menikahi wanita musyrik. Juga pendapat Masdar tentang haji." PPMI meminta Duta Besar RI untuk Mesir meniadakan acara yang digelar Zuhairi Misrawi selaku Koordinator Program Islam Emansipatoris P3M. Sebelumnya juga terdapat surat penolakan dari ICMI dan NU Mesir. Dalam surat ICMI yang dilayangkan ke Dubes tersebut disebutkan bahwa Zuhairi sebagai sosok yang menimbulkan kontroversi karena pernah menyatakan Shalat tidak wajib. Sedangkan surat NU Mesir menyatakan bersedia bekerja sama menyelenggarakan acara tersebut dengan catatan tidak menampilkan Zuhairi sebagai pembicara. Zuhairi dinilai memiliki resistensi kuat di kalangan mahasiswa Indonesia di Kairo.
PPMI malah secara khusus menulis surat kepada Zuhairi yang dinilai sering mengusik ketenangan umat dalam menjalankan Syari’at. Zuhairi sendiri menyangkal pernah mengatakan Shalat tidak wajib. "Saya hanya mengkritik Shalat yang tidak memiliki efek sosial bagi perbaikan masyarakat. Shalat jalan tapi korupsi juga jalan."
Zuhairi aktif menulis artikel tentang pluralisme di berbagai media. Salah satunya ia menulis di harian Republika pada hari Jumat, 08 Desember 2006 berjudul Pluralisme Berbasis al-Qur'an. Ditulis dalam artikel tersebut, "Dalam surat al-Baqoroh: 62 secara eksplisit disampaikan, bahwa umat agama-agama lain akan masuk surga. Orang-orang yang beriman, Yahudi, Kristen dan kaum Shabi'ah adalah mereka yang dijanjikan surga. Di hari kemudian nanti mereka tidak akan takut dan tidak akan bersedih.
Ada yang berpendapat, bahwa ayat tersebut diabrogasi (mansukh) oleh ayat lain, diantaranya oleh QS. Ali Imran: 85, yang berbunyi bahwa agama yang hanya diterima adalah Islam. Artinya, bahwa hanya Islam sebagai agama yang paling benar di sisi-Nya.
Namun pandangan tersebut dapat dijawab dengan dua hal: pertama, bahwa ayat yang mempunyai redaksi yang sama disebutkan sebanyak tiga kali. Dua ayat menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman, Yahudi, Kristen, dan Shabi'an akan diganjar oleh Tuhan atas iman dan amal salehnya. (QS. Al-Baqoroh: 62 dan QS. Al-Maa'idah: 69). Sedangkan satu ayat lainnya menambahkan selain orang-orang muslim, Kristen, Yahudi, dan Shabi'an, orang-orang majusi juga dijanjikan surga. (QS. Al-Hajj: 17)
Kedua, alasan tentang abrogasi terhadap ayat tersebut dengan sendirinya terbantahkan. Karena penyebutan ayat selama tiga kali di surat yang berbeda menunjukkan kekuatan sebuah pesan. Imam al-Qurtubi dalam al-Jami' li Ahkam al-Qur'an, membenarkan bahwa pendapat ada pendapat yang menyebutkan ayat tersebut diabrogasi, tetapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ayat tersebut tidak diabrogasi oleh Ali Imran: 85. Dari sini dapat dipahami, ada hikmah yang tersembunyi di balik ayat tersebut, yaitu membangun toleransi di antara umat beragama.
Kedua pandangan tersebut dapat menguatkan pendapat, Tuhan mempunyai kehendak dan mekanisme sendiri untuk memberikan pahala yang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh hamba-Nya. Dalam ayat lain disebutkan, bahwa Tuhan lebih tahu tentang hamba-Nya yang sesat dan yang mendapatkan petunjuknya (QS. An. Nahl: 125). Dengan demikian, tidak ada satupun yang mampu menentukan orang lain sesat dan benar, kecuali Allah SWT."
Artikel Zuhairi tersebut mendapat tanggapan dari DR. Syamsuddin Arif, Doktor Pemikiran Islam, ISTAC, Kuala Lumpur Malaysia yang menulis artikel di harian yang sama pada hari Jumat, 15 Desember 2006 berjudul (Mis)interpretasi 'Ayat Pluralisme'. Syamsuddin menulis, "Untuk memperoleh pemahaman yang jujur dan perihal 'ayat pluralisme' itu semestinya kita tidak mengabaikan konteks siyaq, sibaq, sertalihaq ayat tersebut.
Pertama, Mari kita perhatikan ayat-ayat yang mendahuluinya, setidaknya mulai ayat 41 hingga 68. Secara eksplisit Tuhan mengecam sikap dan perilaku kalangan Ahlul Kitab yang ingkar dan ‘lain di mulut lain di hati’, gemar memelintir kebenaran, menuruti hawa nafsu, mempermainkan agama dan menimbulkan permusuhan. Selanjutnya mari kita lihat ayat-ayat yang mengikutinya, terutama ayat 78 hingga 86 surat al-Maaidah yang menjadi konteks Lihaq 'ayat pluralisme' tersebut.
Dinyatakan di sana bahwa mereka yang kufur dari kalangan Bani Israil telah dikutuk karena selalu durhaka dan melampaui batas, membiarkan kemungkaran terjadi, menjadikan orang tak beriman sebagai pelindung mereka. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa) dan kepada apa yang diturunkan kepadanya niscaya mereka tidak meminta perlindungan kepada orang-orang tersebut, namun mayoritas mereka memang fasik.
Akan kamu dapati orang yang paling memusuhi kaum beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Sedang yang paling dekat dan bershahabat ialah orang-orang Nasrani, karena diantara mereka ada pendeta-pendeta dan  rahib-rahib, juga mereka tidak angkuh. Bila mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasulullah, mata mereka berkaca-kaca terharu oleh kebenaran yang telah mereka, seraya berkata, "Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka masukkanlah kami dalam daftar orang-orang yang menjadi saksi. Bagaimana kami tidak akan beriman kepada Allah dan kebenaran yang datang kepada kami, wong kami ingin agar Tuhan memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?" Maka Allah memberi mereka pahala untuk perkataan yang mereka ucapkan, yaitu surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, kekal abadi di sana. Demikianlah balasan bagi orang baik. Adapun mereka yang kafir dan mendustakan mendustakan ayat-ayat Allah jelas bakal menjadi penghuni neraka.
Dari sini jelas sekali bahwa umat Yahudi dan Nasrani disanjung apabila mereka mau beriman kepada Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya, tetapi dikecam jika tidak beriman, durhaka, dan bertindak melampaui batas. Ahlul Kitab yang beriman masuk Islam dijanjikan pahala dua kali lipat, ujar Rasulullah dalam sebuah Hadits shahih. Sebaliknya, Ahlul Kitab yang kepadanya telah sampai panggilan untuk beriman dan memeluk Islam tetapi enggan menyambutnya maka sulit baginya untuk terhindar dari api neraka (HR. Muslim No. 153). Sekarang marilah kita menggunakan pendekatan sola scriptura (ajaran) untuk menjawab sejumlah persoalan terkait.
Pertanyaan pertamayang mengemuka terkait 'ayat pluralisme' itu ialah apa maksud ungkapan "siapa yang beriman diantara mereka?" jawaban dan perincian rukun iman beserta indikatornya kita temukan dalam surat al-Baqarah: 285, Ali Imran: 171-173, an-Nisa': 162, al-A'raf: 175, al-Anfal: 2-4, dan 74, at-Taubah: 13, al-Mu'minun: 2-9, an-Nur: 62, al-Hujura: 15, dan al-Hadid: 19.
Kedua, apakah Ahlul Kitab Yahudi maupun Nasrani juga beriman? Menurut al-Qur'an mayoritas mereka tidak beriman. Ini karena mereka mendustakan Nabi Muhammad dan wahyu yang diturunkan kepadanya, menolak Syari’atnya, enggan masuk Islam. Itulah sebabnya mengapa Allah menegur dan mengecam mereka (al-Baqarah: 89-93, an-Nisa': 47, dan an-Nisa': 171). Namun demikian tidak semua Ahlul Kitab itu kafir. Ada sebagian kecil dari mereka yang beriman kepada Rasulullah SAW dan memeluk Islam (Ali Imran 110-115 dan 199, juga al-Ankabut 47)
Selanjutnya, meski telah menyatakan diri beriman dan masuk Islam, mereka tentu akan diuji Tuhan (al-Ankabut 1-2). Dalam hal ini posisi mereka sama dengan orang muslim lainnya yang juga mengaku beriman dan perlu ujian. Mengapa demikian? Karena banyak orang mengaku Islam dan beriman di mulut saja sehingga menipu dirinya sendiri (al-Baqarah 8-9, dan al-munafiqun 1). Ada juga yang menyatakan diri berislam dan beriman, tetapi baru sampai tahap minimal, di mulut dan di hati, tapi praktiknya belum (al-Hujurat:14). Bahkan perbuatan maksiatnya jalan terus, sehingga disebut fasiq (al-Maaidah 49).
Ketiga, apa yang dimaksud dengan amal saleh dalam ungkapan "Siapa yang berbuat baik"? Dijelaskan antara lain bahwa amal saleh adalah hidup berpadukan ajaran kitab suci dan mendirikan Shalat (al-A'raf: 168). Amal baik di sini berkaitan dengan dan berlandaskan ajaran serta perintah agama.
Terakhir, bagaimana memahami ungkapan 'mereka tidak perlu takut dan tidak perlu cemas'? Dalam al-Qur'an, ungkapan seperti ini terdapat lebih dari sekali, dengan berbagai konteks. Yang jelas, untuk bisa memperoleh jaminan keselamatan di dunia dan akhirat seseorang harus berislam, beriman, beramal saleh, berihsan, bertaqwa, dan beristiqomah.

Sumber :

Buku  "Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU"karya KH. Muh. Najih Maimoen.
Label artikel TOKOH | Zuhairi Misrawi judul Zuhairi Misrawi "Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU"...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Senin, 24 Maret 2014

Belum ada komentar untuk "Zuhairi Misrawi "Membuka Kedok Tokoh-Tokoh Liberal dalam Tubuh NU""

Posting Komentar