PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

MEDIA JANGAN JADI PEMECAH BELAH BANGSA


Pengamat media Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Iswandi Syahputra, khawatir dengan pemberitaan di media massa terkait masalah pemilihan presiden (pilpres). Pemberitaan dinilainya dapat memicu perpecahan di Indonesia.

“Berita media yang bertubi-tubi menerpa masyarakat itu merupakan proses stigmatisasi. Satu kubu bisa membenci kubu lain seperti orang yang bermusuhan. Jika stigma kubu lawan adalah musuh sudah terbentuk, maka tunggulah saatnya terjadi perang saudara,” ujarnya di Jakarta, Rabu (16/7/2014).

Iswandi melanjutkan, sejak awal media telah mengalami polarisasi berdasarkan dukungannya terhadap pasangan capres-cawapres tertentu. Dia pun melihat saat ini hampir tidak ada media yang tidak berpihak.

“Hampir seluruh media sudah berpihak dalam pilpres ini. Mayoritas dari media mainstream terlihat dengan jelas berpihak pada pasangan nomor dua. Berkolaborasi dengan lembaga survei, tiap hari isi beritanya quick count melulu. Ini pasti ada tujuannya,” jelasnya.

Dia menilai keberpihakan media tersebut justru akan menjadi ancaman bagi demokrasi. Salah satunya dalam masalah quick count.

“Media itu diyakini sebagai salah satu pilar demokrasi. Bagaimana media dapat ciptakan iklim demokratis jika dalam pilpres sudah tidak netral dan berpihak. Demikian juga dengan quick count, bagaimana mau quick count mau benar kalau dibayar pasangan tertentu. Ini anomali demokrasi”, jelasnya.

Bahkan saat ini, media massa seperti pihak yang ikut bersaing dalam pilpres. Sesama media saling menjatuhkan. Padahal media memiliki kekuatan membentuk opini publik. Di tingkat bawah, berita media bisa dipegang sebagai nilai baik dan buruk oleh masyarakat.

“Masyarakat jadi bisa terpicu konflik jika media ikut-ikutan mendukung pasangan tertentu. Media membuka jalan bagi terciptanya perang saudara,” ucap mantan komisioner KPI itu.

Untuk itu Iswandi menghimbau, dalam kondisi politik sudah panas saat ini, sebaiknya media menjalankan fungsi jurnalisme damai. “Jangan memanasi situasi, tapi beri solusi. Buatlah berita dengan pertimbangan ‘jika’ ‘maka’. Jika saya beritakan ini maka dampaknya seperti ini,” katanya

Ia mengingatkan, negara Yugoslavia tutup usia pada umur 88 tahun demikian juga Uni Soviet yang besar dan kokoh bubar pada umur 74 tahun karena konflik. “Mengerikan sekali jika Indonesia bubar menjelang usia 69 tahun akibat perang saudara dan itu terjadi karena media ikut memanasi situasi,” tandasnya.
Label artikel Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik? | Gusdur dibesarkan media | Kebusukan Media judul MEDIA JANGAN JADI PEMECAH BELAH BANGSA...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Rabu, 16 Juli 2014

Belum ada komentar untuk "MEDIA JANGAN JADI PEMECAH BELAH BANGSA"

Posting Komentar