PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Tampilkan postingan dengan label PKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKI. Tampilkan semua postingan
Apa beda sosialisme dan komunisme?

Apa beda sosialisme dan komunisme?

Pada dasarnya sosialisme dan komunisme itu dua hal berbeda, sosialisme ini teori ekonomi tentang subsidi antara yg lebih kepada yg kurang, sedangkan komunisme adalah ideologi yg menekankan penghilangan subsidi (karena tidak ada kaya miskin dalam komunisme) dan tidak mengakomodir ideologi lain.

Salah satu bentuk sosialisme adalah koperasi dimana di miliki oleh org banyak dengan distribusi tanggung jawab dan hak sedangkan komunisme tidak ada distribusi tanggung jawab dan hak yang ada hanya distribusi tanggung jawab (buruh hanya sebagai buruh, tentara hanya sebagai tentara, petani hanya sebagai petani) dan haknya di samakan semua, karena perhitungan pendapatan dalam komunisme adalah teori surplus value S/V yaitu kalori yg di keluarkan harus mendapatkan kelebihan dalam bentuk gaji dan ini tidak boleh berlebih.

Pada sosialisme surplus value ala marx dk katakan sebagai upah besi kenapa demikian?? karena marx yg menitik beratkan pada kalori (energi primer), teori upah besi adalah upah yg di berikan utk buruh hanya untuk bertahan hidup tanpa memanusikan buruh itu dalam hal kebutuhan sekunder dan tertier, gagasan upah besi ini di gagas oleh David Ricardo.

Komunisme tidak bisa di gunakan dengan ideologi lain, sedangkan sosialisme bisa karena sosialisme hanya ilmu distribusi ekonomi sedangkan komunisme adalah ilmu pemusatan ekonomi dan ideologi, socialisme bisa di gabung dengan ideoloi kanan (liberal) dimana menjadi social demokrat yg dipraktekan oleh belanda pada jaman PM coljin dan juga inggris sekarang di bawah partai buruh sedangkan komunisme tidak bisa.

Komunisme dia berbicara tentang ideologi sehingga pada negara komunisme tidak ada boleh ada ideologi pasar lain yg berkembang termaksud agama sedangkan di socialisme ideologi lain bisa berkembang.

Socialisme yg tadinya ilmu distribusi ekonomi mempunyai beberapa variant turunan salah satunya adalah komunisme, karena komunisme adalah (marx+energi bebad), ideologi yg lain adalah Anarchisme (Massa Goverment dan keadaan tanpa ada alat pemaksa), sindikalisme yaitu gabungan antara anarchisme dan socialisme seperti di praktekan di brazil.

Jadi intinya apa?? komunisme itu non sense alias agama baru berdasarkan teori sociologi dan ekonomi yg statis dan kuno, sedangkan socialist adalah ilmu ekonomi yg berkembang terus sesuai keadaan pasar yg menitik beratkan pada distribusi welfare dan pajak. jadi kalo ada buruh ngaku komunis maka dia gk boleh demo, karena komunisme dalam teori surplus value hanya menghitung kalori dan tidak menghitung rice cooker, perfume, kredit motor dsb 😂

SEJARAH & KEBIADABAN PKI DARI MASA KE MASA..!!

SEJARAH & KEBIADABAN PKI DARI MASA KE MASA..!!

BELAJAR DARI SEJARAH
(PKI Thn. 1960 s/d Sekarang).

Untuk kewaspadaan nasional jangan lupa dengan sejarah agar dijadikan pelajaran jangan melakukan kesalahan yang sama.

1. Tahun 1960 : Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang didukung penuh oleh PNI, NU dan PKI. Dengan demikian PKI kembali terlembagakan sebagai bagian dari Pemerintahan RI.

2. Tanggal 17 Agustus 1960 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.200 Th.1960 tertanggal 17 Agustuts 1960 tentang PEMBUBARAN MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) dengan dalih tuduhan keterlibatan Masyumi dalam pemberotakan PRRI, padahal hanya karena ANTI NASAKOM.

3. Pertengahan Tahun 1960 : Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa PKI semakin kuat dengan keanggotaan mencapai 2 (dua) juta orang.

4. Bulan Maret 1962 : PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno, DN Aidit dan Nyoto diangkat oleh Soekarno sebagai Menteri Penasehat.

5. Bulan April 1962 : Kongres PKI.

6. Tahun 1963 : PKI memprovokasi Presiden Soekarno untuk Konfrontasi dengan Malaysia, dan mengusulkan dibentuknya Angkatan Kelima yang terdiri dari BURUH dan TANI untuk dipersenjatai dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara” melawan Malaysia.

7. Tanggal 10 Juli 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.139 th.1963 tertanggal 10 Juli 1963 tentang PEMBUBARAN GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), lagi-lagi hanya karena ANTI NASAKOM.

8. Tahun 1963 : Atas desakan dan tekanan PKI terjadi Penangkapan Tokoh-Tokoh Masyumi dan GPII serta Ulama Anti PKI, antara lain : KH. Buya Hamka, KH.Yunan Helmi Nasution, KH. Isa Anshari, KH. Mukhtar Ghazali, KH. EZ. Muttaqien, KH. Soleh Iskandar, KH. Ghazali Sahlan dan KH. Dalari Umar.

9. Bulan Desember 1964 : Chaerul Saleh Pimpinan Partai MURBA (Musyawarah Rakyat Banyak) yang didirikan oleh mantan Pimpinan PKI, Tan Malaka, menyatakan bahwa PKI sedang menyiapkan KUDETA.

10. Tanggal 6 Januari 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Surat Keputusan Presiden RI No.1 / KOTI / 1965 tertanggal 6 Januari 1965 tentang PEMBEKUAN PARTAI MURBA, dengan dalih telah memfitnah PKI

11. Tanggal 13 Januari 1965 : Dua sayap PKI yaitu PR (Pemuda Rakyat) dan BTI (Barisan Tani Indonesia) menyerang dan menyiksa peserta Training PII (Pelajar Islam Indonesia) di Desa Kanigoro Kecamatan Kras Kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan pelajar wanitanya, dan juga merampas sejumlah Mush-haf Al-Qur’an dan merobek serta menginjak-injaknya.

12. Awal Tahun 1965 : PKI dengan 3 juta anggota menjadi Partai Komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. PKI memiliki banyak Ormas, antara lain : SOBSI (Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakjat, Gerwani, BTI (Barisan Tani Indonesia), LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan HSI (Himpunan Sardjana Indonesia).

13. Tanggal 14 Mei 1965 : Tiga sayap organisasi PKI yaitu PR, BTI dan GERWANI merebut perkebunan negara di Bandar Betsi, Pematang Siantar, Sumatera Utara, dengan menangkap dan menyiksa serta membunuh Pelda Sodjono penjaga PPN (Perusahaan Perkebunan Negara) Karet IX Bandar Betsi.

14. Bulan Juli 1965 : PKI menggelar pelatihan militer untuk 2000 anggotanya di Pangkalan Udara Halim dengan dalih ”mempersenjatai rakyat untuk bela negara”, dan dibantu oleh unsur TNI Angkatan Udara.

15. Tanggal 21 September 1965 : Atas desakan dan tekanan PKI terbit Keputusan Presiden RI No.291 th.1965 tertanggal 21 September 1965 tentang PEMBUBARAN PARTAI MURBA, karena sangat memusuhi PKI.

16. Tanggal 30 September 1965 Pagi : Ormas PKI Pemuda Rakjat dan Gerwani menggelar Demo Besar di Jakarta.

17. Tanggal 30 September 1965 Malam : Terjadi Gerakan G30S / PKI atau disebut juga GESTAPU (Gerakan September Tiga Puluh) :

a. PKI menculik dan membunuh 6 (enam) Jenderal Senior TNI AD di Jakarta dan membuang mayatnya ke dalam sumur di LUBANG BUAYA – Halim, mereka adalah : Jenderal Ahmad Yani, Letjen R.Suprapto, Letjen MT Haryono, Letjen S. Parman, Mayjen Panjaitan dan Mayjen Sutoyo Siswomiharjo.

b. PKI juga menculik dan membunuh Kapten Pierre Tendean karena dikira Jenderal Abdul Haris Nasution.

c. PKI pun membunuh AIP KS Tubun seorang Ajun Inspektur Polisi yang sedang bertugas menjaga rumah kediaman Wakil PM Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal AH Nasution.

d. PKI juga menembak putri bungsu Jenderal AH Nasution yang baru berusia 5 (lima) tahun, Ade Irma Suryani Nasution, yang berusaha menjadi perisai ayahandanya dari tembakan PKI, kemudian ia terluka tembak dan akhirnya wafat pada tanggal 6 Oktober 1965.

e. G30S / PKI dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung yang membentuk tiga kelompok gugus tugas penculikan, yaitu : Pasukan Pasopati dipimpin Lettu Dul Arief, dan Pasukan Pringgondani dipimpin Mayor Udara Sujono, serta Pasukan Bima Sakti dipimpin Kapten Suradi.

f. Selain Letkol Untung dan kawan-kawan, PKI didukung oleh sejumlah perwira ABRI / TNI dari berbagai angkatan, antara lain :

- Angkatan Darat : Mayjen TNI Pranoto Reksosamudro, Brigjen TNI Soepardjo dan Kolonel Infantri A. Latief

- Angkatan Laut : Mayor KKO Pramuko Sudarno, Letkol Laut Ranu Sunardi dan Komodor Laut Soenardi

- Angakatan Udara : Men / Pangau Laksyda Udara Omar Dhani, Letkol Udara Heru Atmodjo dan Mayor Udara Sujono

- Kepolisian : Brigjen Pol. Soetarto, Kombes Pol. Imam Supoyo dan AKBP Anwas Tanuamidjaja.

http://voa-islam.com/read/citizens-jurnalism/2015/08/19/38667/sebarkan-ini-dia-kebiadaban-pki/#sthash.VaGchOaT.sPsPVbj3.dpuf

18. Tanggal 1 Oktober 1965 : PKI di Yogyakarta juga membunuh Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiono. Lalu di Jakarta PKI mengumumkan terbentuknya DEWAN REVOLUSI baru yang telah mengambil alih kekuasaan.

19. Tanggal 2 Oktober 1965 : Soeharto mnegambil alih kepemimpinan TNI dan menyatakan Kudeta PKI gagal dan mengirim TNI AD menyerbu dan merebut pangkalan udara Halim dari PKI.

20. Tanggal 6 Oktober 1965 : Soekarno menggelar Pertemuan Kabinet dan Menteri PKI ikut hadir serta berusaha melegalkan G30S, tapi ditolak, bahkan terbit Resolusi Kecaman terhadap G30S, lalu usai rapat Nyoto pun langsung ditangkap.

21. Tanggal 13 Oktober 1965 : Ormas Anshor NU gelar Aksi unjuk rasa Anti PKI di seluruh Jawa.

22. Tanggal 18 Oktober 1965 : PKI menyamar sebagai Anshor Desa Karangasem (kini Desa Yosomulyo) Kecamatan Gambiran, lalu mengundang Anshor Kecamatan Muncar untuk pengajian. Saat Pemuda Anshor Muncar datang, mereka disambut oleh Gerwani yang menyamar sebagai Fatayat NU, lalu mereka diracuni, setelah keracunan mereka dibantai oleh PKI dan jenazahnya dibuang ke Lubang Buaya di Dusun Cemetuk Desa / Kecamatan Cluring Kabupaten Banyu
wangi. Sebanyak 62 (enam puluh dua) orang Pemuda Anshor yang dibantai, dan ada beberapa pemuda yang selamat dan melarikan diri, sehingga menjadi saksi mata peristiwa. Persitiwa tragis itu disebut Tragedi Cemetuk, dan kini oleh masyarakat secara swadaya dibangun Monumen Pancasila Jaya.

23. Tanggal 19 Oktober 1965 : Anshor NU dan PKI mulai bentrok di berbagai daerah di Jawa.

24. Tanggal 11 November 1965 : PNI dan PKI bentrok di Bali.

25. Tanggal 22 November 1965 : DN Aidit ditangkap dan diadili serta dihukum mati.

26. Bulan Desember 1965 : Aceh dinyatakan telah bersih dari PKI.

27. Tanggal 11 Maret 1966 : Terbit Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang memberi wewenang penuh kepada Soeharto untuk mengambil langkah pengamanan Negara RI.

28. Tanggal 12 Maret 1966 : Soeharto melarang secara resmi PKI.

29. Bulan April 1966 : Soeharto melarang Serikat Buruh Pro PKI yaitu SOBSI.

30. Tanggal 13 Februari 1966 : Bung Karno masih tetap membela PKI, bahkan secara terbuka di dalam pidatonya di muka Front Nasional di Senayan mengatakan : ”Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI…”

31. Tanggal 5 Juli 1966 : Terbit TAP MPRS No.XXV Tahun 1966 yang ditanda-tangani Ketua MPRS – RI Jenderal TNI AH Nasution tentang Pembubaran PKI dan Pelarangan penyebaran paham Komunisme, Marxisme dan Leninisme.

32. Bulan Desember 1966 : Sudisman mencoba menggantikan Aidit dan Nyoto untuk membangun kembali PKI, tapi ditangkap dan dijatuhi hukuman mati pada tahun 1967.

33. Tahun 1967 : Sejumlah kader PKI seperti Rewang, Oloan Hutapea dan Ruslan Widjajasastra, bersembunyi di di wilayah terpencil di Selatan Blitar bersama kaum Tani PKI.

34. Bulan Maret 1968 : Kaum Tani PKI di Selatan Blitar menyerang para pemimpin dan kader NU, sehingga 60 (enam puluh) orang NU tewas dibunuh.

35. Pertengahan 1968 : TNI menyerang Blitar dan menghancurkan persembunyian terakhir PKI.

36. Dari tahun 1968 s/d 1998 : Sepanjang Orde Baru secara resmi PKI dan seluruh mantel organisasinya dilarang di seluruh Indonesia dengan dasar TAP MPRS No.XXV Tahun 1966.

37. Dari tahun 1998 s/d 2015 : Pasca Reformasi 1998 Pimpinan dan Anggota PKI yang dibebaskan dari penjara, beserta keluarga dan simpatisannya yang masih mengusung IDEOLOGI KOMUNIS, justru menjadi pihak paling diuntungkan, sehingga kini mereka meraja-lela melakukan aneka gerakan pemutar balikkan fakta sejarah dan memposisikan PKI sebagai PAHLAWAN pejuang kemerdekaan RI. Dan Ideologi Komunis tidak akan pernah mati, selama Syetan masih ada di dunia ini.

38. Di Jogokaryan Kotagede Yogyakarta, PKI bikin ludruk/kesenian rakyat lakonya ; MATINE GUSTI ALLAH = MATINYA TUHAN ALLAH.

==========================================

" JASMERAH "

Pengkhianatan G 30 S-PKI

https://www.youtube.com/watch?v=ddYExsNtX6w

==========================================

" APA YANG KALIAN LAKUKAN SEKARANG AKAN MENENTUKAN APA YANG AKAN TERJADI ESOK "

SMOGA BERMANFAAT & SMOGA CEPET MENYADAR KAN DIRI

Dokumen Rencana Pemberontakan PKI Ditemukan

(Ini berita setahun lalu, dimuat di KBRI Antara News. Tentu sangat layak dipercaya. Antara gitu lho...

Walau berita lama, tapi sepertinya masih relevan hingga hari ini, karena...)

============================

Dokumen rencana pemberontakan PKI ditemukan

Surabaya (ANTARA News) - Dokumen kecil berisi rencana pemberontakan PKI dengan target mendirikan negara komunis di Indonesia ditemukan ahli sejarah Universitas Negeri Surabaya, Prof Dr Aminuddin Kasdi.

"Jadi, pengakuan pihak tertentu ada skenario ABRI melakukan penangkapan orang-orang PKI setelah Oktober atau ada pembantaian terencana oleh NU terhadap PKI, ternyata tidak didukung bukti historis," katanya, kepada ANTARA, di Surabaya, Senin.

Menurut dia, fakta yang sebenarnya justru ada dalam buku kecil atau buku saku tentang ABC Revolusi yang ditulis CC (Comite Central) PKI pada 1957, yang merinci tiga rencana revolusi atau pemberontakan PKI tentang negara komunis di Indonesia.

"Buku yang saya temukan itu justru membuktikan bahwa rencana pemberontakan PKI yang diragukan sejumlah pihak itu ada dokumen historisnya, bahkan dokumen itu merinci tiga tahapan pemberontakan PKI yang semuanya gagal, lalu rumorpun diembuskan untuk mengaburkan fakta," katanya.

Tanpa menyebut asal-usul dokumen yang terlihat lusuh itu, ia mengaku bersyukur dengan temuan dokumen yang tak terbantahkan itu.

"Kalau ada orang NU melakukan pembunuhan, itu bukan direncanakan, tapi reaksi atas sikap PKI sendiri yang menyebabkan chaos itu," katanya.

Ia menjelaskan sikap PKI memang menyakitkan, sehingga NU melakukan reaksi balik. "PKI melakukan provokasi dengan ludruk yang temanya menyakitkan, seperti matinya Tuhan, malaikat yang tidak menikah karena belum dikhitan, dan banyak lagi," katanya.

Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat jangan terpengaruh dengan provokasi politik yang didukung media massa untuk "membesarkan" PKI guna mengaburkan sejarah dengan menghalalkan segala cara.

"Kita jangan terpancing dengan sisa-sisa orang PKI di berbagai lini yang berusaha membangkitkan mimpi tentang negara komunis melalui media massa, buku-buku, dan semacamnya yang seolah-olah benar dengan bersumber kesaksian," kata dia.

"Ada sisa-sisa PKI bercokol di media massa," katanya pula.

Ia menambahkan, testimoni berbagai pihak itu mungkin benar, namun testimoni itu bersumber dari individu-individu yang tidak mengetahui skenario besar dari PKI untuk merancang tiga revolusi dengan goal untuk mendirikan negara komunis di Indonesia.

"Saya bukan hanya bersaksi, karena saya juga sempat mengalami sejarah pemberontakan PKI itu dan lebih dari itu, saya mempunyai bukti yang sangat gamblang dari dokumen PKI sendiri," katanya.

Senada dengan itu, guru besar Universitas dr Soetomo Surabaya, Prof Dr Sam Abede Pareno, menyatakan, buku Memoir on The Formation of Malaysia, karya Ghazali Shafie terbitan Universiti Kebangsaan Malaysia, menunjukkan kaitan erat Konfrontasi Indonesia-Malaysia dengan PKI.

"Dalam buku itu jelas Bung Karno tidak menghadiri persidangan puncak dengan Tungku Abdul Rachman di Tokyo pada tahun 1963, karena PKI tidak suka dengan pertemuan itu," kata penulis buku Rumpun Melayu, Mitos dan Realitas itu.

Oleh karena itu, konfrontasi Indonesia-Malaysia itu bukan sekadar demo anti-Indonesia atau demo anti-Malaysia, melainkan PKI merancang konfrontasi itu agar rencana besar (negara komunis) tidak "terbaca".

Apalagi Bung Karno melontarkan gagasan nasionalis, agama, dan komunis yang justru "melindungi" gerakan PKI.

"PKI memang selalu memanfaatkan kelengahan pemerintah Indonesia yang sibuk menghadapi Agresi Militer I Belanda pada 1947 dengan aksi terpusat di Madiun pada 1948," katanya.

"Lalu ketika pemerintah sibuk dengan Ganyang Malaysia yang juga mereka sponsori itu, PKI menikam dari belakang dengan Gerakan 30 September 1965," katanya.

Pada Juli ini juga ada beberapa agenda besar nasional, di antara yang terbesar adalah Pemilu Presiden 9 Juli nanti yang menyerap sejumlah besar pengerahan sumber daya nasional. (*)

Sumber berita: http://www.antaranews.com/berita/441693/dokumen-rencana-pemberontakan-pki-ditemukan

Indonesia Dijadikan Bancaan Cina Komunis dan Iran Syiah?

Indonesia Dijadikan Bancaan Cina Komunis dan Iran Syiah?

Cina=Tiongkok

RRC = Republik Rakyat Cina
RRT = Republik Rakyat Tiongkok

Cina dan Tiongkok adalah sama.

1. Pembangunan infrastruktur, dialokasikan kpd RRT.
2. Sektor Perkebunan dan Migas, jatah Iran.
- Kontrak: 50 tahun.
- Karena ambil "borongan" maka berbagai harga dpt diskon.

INILAH REALITA POLITIK YG KITA HADAPI BUNG!!!
1. Kiblat beralih dari USA dan Arab Saudi/Timteng kepada RRT dan IRAN.
2. Aktifitas bisnis Iran di Indo akan memperkuat juga Financial dan SDM gerakan2 Syiah.
3. Kebisingan yg dibuat Ahok hanya "pengalih perhatian" dari strategi2 besar lainnya.
4. Biarkan para ustadz Indo sibuk dgn Timur Tengah, tapi halaman belakang muslim Indonesia sdh terambil.

Afwan... mohon izin copas dr group sebelah :
Tipuan gaya Baru

(Ust. Abdul Latif Khan)

Pagi tadi saya melihat sebuah video pencurian mobil yang dilakukan dengan cara yang sederhana namun cukup cerdas. Si pencuri mengikatkan beberapa kaleng di bagian belakang mobil yang sedang di parkir di parkiran. Kemudian ia bersembunyi sampai si pemilik mobil datang. Saat ia menjalankan mobil maka terdengarlah suara berisik dari arah belakang, maka ia keluar dari mobil untuk mencari tahu apa yang terjadi di belakang.
Saat ia turun tanpa sadar ia membiarkan mobil dalam keadaan hidup dengan pintu terbuka. Maka si pencuri mengambil celah kelengahan pengemudi ini dengan buru-buru membawa pergi mobil itu.

****

Saya melihat kondisi seperti itulah yang sedang dilakoni oleh para pegiat "perampok Indonesia" Hanya dengan membuat sedikit keributan yang dilakoni oleh satu dua orang, maka mereka melakukan "perampokan negeri ini dalam senyap".
Lihatlah data berikut yang saya dapat dari copas
Pengukuhan pengurus GAPKI (Gabungan Pengusaha Kebun) di hotel Borobudur pagi ini. Menteri Pertanian yg membidangi tak hadir. Luhut B Panjaitan ambil kendali, dan dia emang diberi kewenangan oleh Keppres untuk mengambil alih tugas2 kementerian (dgn nama Pengendalian dan Percepatan).

Dari sambutannya dpt disimpulkan:

1. Pembangunan infrastruktur, dialokasikan kpd RRT.
2. Sektor Perkebunan dan Migas, jatah Iran.
- Kontrak: 50 tahun.
- Karena ambil "borongan" maka berbagai harga dpt diskon.

INILAH REALITA POLITIK YG KITA HADAPI BUNG!!!
1. Kiblat beralih dari USA dan Arab Saudi/Timteng kepada RRT dan IRAN.
2. Aktifitas bisnis Iran di Indo akan memperkuat juga Financial dan SDM gerakan2 Syiah.
3. Kebisingan yg dibuat Ahok hanya "pengalih perhatian" dari strategi2 besar lainnya.
4. Biarkan para ustadz Indo sibuk dgn Timur Tengah, tapi halaman belakang muslim Indonesia sdh terambil.

Setelah sektor Perdagangan dan Perbankan (hilir dan hulu Ekonomi Moneter), sekarang sektor Infrastruktur serta Perkebunan & Migas (hilir dan hulu Ekonomi Real) mereka kuasai. Belum lagi sektor Media untuk mengendalikan Opini Publik.

****

Kondisi dimaksud cukup mengenaskan. Cuma sedikit jadikan Ahok kompor gas 3 kiloan yang meledak yang suara ledakannya misalnya " Nabi saja tidak bisa lenyapkan prostitusi", "Pelacur dan rumah kos pelacur di beri sertifikat", "apa ada orang mabuk minum bir?" ,dll memang telah membuat kita terusik. Di samping gaya cengengesan Big Boss yang juga sering menjadi headline TV yang memang kebanyakan dari kalangan mereka.

Plan untuk "Rampok Indonesia" dan geser "sakralitas" umat Islam sebagai kelompok mayoritas bangsa dan lemahkan fungsi dan wibawanya ternyata berjalan sesuai schedule.
Beware
Maha Benar Allah yang mengatakan bahwa kita harus bershaff dalam dakwah dan jihad, kita harus membentuk Team Work dakwah yang handal. Serta harus menyadari bahwa menjadi muslim bukan sekedar harus menjadi orang baik, tapi menularkan kebaikan itu pada semua orang. Dan itu harus dilakukan secara progresif.

Hati-hari dengan "Tokoh kaleng Rombeng" semacam Ahok. Karena setidaknya dia begitu ampuh buat pengalihan isu. Di samping "Tokoh Kaleng Rombeng" lain nya. Kita tidak harus menghabiskan energi tuk hadapi model tokoh macam itu. Cukup Tim kecil saja yang mengurusinya. Sementara kita harus fokus pada persoalan besar baik dalam skala global dan Lokal.

***

"Kaleng Rombeng" itu bisa tokoh, bisa isu peristiwa, bisa juga batu akik dan hal lain yang berserak. Sementara mereka memiliki Grand Design yang secara sistematis berjalan.
Allah bersama kita, Allah sebaik-baik pembuat makar.
Seharusnya jika kita "pedang" maka kita bukan "pedang pajangan"
Medan, 29 April 2015

On Apr 29, 2015 8:20 AM, "Abimantrono Anwar" <bimanwar2@yahoo.com> wrote:
Jokowi Menyerahkan Indonesia Kepada Cina Secara Total
Selasa, 10 Rajab 1436 H / 28 April 2015 22:03 wib

http://www.voa-islam.com/…/jokowi-menyerahkan-indonesia-k…/…
JAKARTA (voa-islam.com) - Semakin dalam cengkeraman atas Indonesia. Indonesia benar-benar diserahkan kepada Cina. Dengan penguasaan proyek infrastruktur kepada Cina, maka ini akan memudahkan Cina menggulung seluruh potensi dan kekayaan alam Indonesia, termasuk ekonominya.
Hasil pertemuan bilateral Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping di sela-sela Konferensi Asia Afrika (KAA) di Jakarta, pekan lalu menyisakan banyak pertanyaan. Tiongkok makin mendapat angin untuk menguasai proyek-proyek infrastruktur di Tanah Air.

Dalam pertemuan itu Presiden Jokowi memastikan bahwa Tiongkok akan ikut berinvestasi dalam proyek infrastruktur. Salah satunya adalah Tiongkok yang akan terlibat dalam pembangunan jalur kereta supercepat Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya.

Hasil pertemuan ini bukan hanya mengejukan sejumlah pihak di Tanah Air. Pihak Jepang juga ikut mutung mendengar kedekatan Jokowi dan Xi yang memberi peluang bagi saingannya meraih proyek infrastruktur. Sampai-sampai PM Jepang Abe langsung pulang, tidak mengikuti acara berikutnya dalam rangkaian peringatan KAA di Bandung dengan muka cemberut.

Dalam pertemuan itu, seperti terungkap dalam situs Sekretariat Kabinet, Presiden Jokowi ingin memastikan RRT ikut dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia, yang meliputi pembangunan 24 pelabuhan, 15 pelabuhan udara (airport), pembangunan jalan sepanjang 1.000 kilometer (km), pembangunan jalan kereta sepanjang 8.700 km, dan pembangunan pembangkit listrik (powerplan) berkapasitas 35 ribu megawatt.

Artinya Tiongkok makin merajai proyek infrastruktur di Tanah Air, makin leluasa menancapkan kepentingan bisnis dan dominasi pasarnya di Tanah Air. Pendekatan Tiongkok kepada para petinggi di Tanah Air yang sangat gencar akhir-akhir ini, termasuk mengundang Presiden Jokowi datang ke negaranya, tampaknya bukan usaha yang sia-sia.

Namun patut diingat, publik di Tanah Air masih belum terlepas dari stigma buruk terhadap produk-produk China. Dari mulai barang-barang elektronik, hingga terakhir busway yang dioperasikan di DKI Jakarta diketahui karatan dan cepat rusak.

Bagaimana dengan proyek China di infrastruktur? Sepertinya imagenya sama saja. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinof Chaniago juga mengeluhkan hasil proyek pembangkit listrik "Fast Track Program" (FTP) tahap I 10 ribu megawatt dari Tiongkok, yang hanya memiliki faktor kapasitas 35-55 persen dari kapasitas seluruhnya.

Bandingkan dengan pembangkit listrik yang dibangun kontraktor Jerman, Perancis, dan Amerika yang bisa mencapai kapasitas 75 persen-80 persen. "Tapi kita sudah menawarkan ke mereka (Tiongkok) untuk memperbaiki itu," kata dia.

Karena kasus itu, pemerintah telah memperketat syarat kerja sama proyek infrastruktur dengan investor Tiongkok agar pengalaman tidak mengenakkan saat mengerjakan proyek pembangkit listrik "Fast Track Program" tidak terulang.

Kenapa Tiongkok mampu menguasai proyek-proyek infrastruktur strategis? Faktor harga murah menjadi strategi utamanya. Untuk proyek pembangkit listrik saja, teknologi pembangkit listrik Jerman, Jepang, dan Korea jauh lebih mahal. Teknologi dari Tiongkok memang lebih murah, namun kapasitasnya sangat rendah.

"Pemerintah harus belajar dari pengalaman dengan memperbaiki syarat dan ketentuan kontrak, serta melakukan pengawasan yang ketat dalam eksekusinya," kata Anggota Komisi XI DPR Ecky Awal Mucharam. "Jangan sampai terulang pengalaman buruk proyek pembangunan pembangkit listrik Fast Track Program (FTP) 10.000 MW tahap pertama terulang lagi," tambah politisi dari Partai Keadilan
Sejahtera itu.

Dalam kerja sama proyek tak hanya dengan Tiongkok tetapi juga dengan investor lain, sudah selayaknya dilakukan secara ketat dari mulai proses tender, pengawasan, pelaksanaannya hingga tanggung jawab setelah proyek itu berjalan. Pemerintah mau tidak mau harus memperketat dan mengawasi penerapan teknologi, penggunaan konsultan, desain teknis, dan lain-lain agar proyek itu berjalan sesuai harapan

Tak hanya, itu setiap proyek harus tetap mengedepankan sumber daya di dalam negeri, baik itu sumber daya manusia maupun alam. Pastikan bahwa terjadi penyerapan tenaga kerja domestik diberangi dengan pengurangan tenaga kerja asing.

Sementara bahan baku proyek juga harus mengutamakan produksi dalam negeri. Perketat tingkat kandungan lokal semaksimal mungkin sehingga dapat mendongrak multiplier efek bagi perekonomian nasional.

Faktor lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah, proyek-proyek itu harus diiringi dengan proses transfer teknologi dan pengetahuan. Hal ini perlu dilakukan untuk mempersiapkan SDM kita di masa mendatang sehingga tidak bergantung lagi kepada pihak asing.

Patut diingat, dana yang dikeluarkan untuk proyek-proyek infrastruktur berasal dari utang jangka panjang sehingga yang harus membayar tidak hanya kita tetapi anak cucu kita kelak. Apalagi kemudian proyek ini hanya menjadi ajang bancakan para pihak, tentu yang harus menanggungnya dosanya adalah seluruh rakyat Indonesia. Bisa-bisa celaka dua belas bagi bangsa Indonesia.
Begitulah Jokowi telah menyerahkan Indonesia kepada Cina. Dengan dibangunnya infrastrtuktur oleh Cina, maka ini sangat menguntungkan bagi kepentingan Cina atas Indonesia. (dtta/mr/dbs/voa-islam.com)

Kiriman Rez@
Hari Ini pada 8:25 AM
Ketika Tomy bertanya tentang PKI kepada Pak Soeharto

Ketika Tomy bertanya tentang PKI kepada Pak Soeharto

Saya pernah bertanya pada Bapak Soeharto kenapa Bapak Soeharto mengambil inisiatif untuk Membubarkan PKI padahal Bung Karno tetap Bertahan tidak Mau Membubarkan PKI ?

 Ini jawaban Bapak Soeharto:

Sebagai Bawahan ayah wajib melindungi Harga Diri bung Karno karena Kapasitas nya sebagai pemimpin besar dan juga di akui sebagai pemimpin besar dunia, bung Karno sudah mengucapkan pemikirannya kepada dunia tentang menyatukan Nasionalisme, Agama, dan Komunisme Melalui sidang Umum PBB. Bung Karno menyebut Gagasannya itu "to build a new world".

Setelah melontarkan di forum internasional, Bagai mana mungkin Kemudian Bung Karno mau membubarkan Partai Komunis Indonesia PKI?..

"Jadi Ayah berpikir biarlah Ayah yang membubarkan PKI yang semakin merajalela saat itu"

"Kadang kala Bawahan Harus mengerti keteguhan seorang pemimpin, karena saat itu jika sampai bung Karno Membubarkan PKI dan menjilat ludah sendiri maka akan di cap Apa negara kita ini di mata internasional....

Ayah mengambil inisiatif karena ayah juga sudah menyadari Risikonya"
Tidak masalah ayah disalahkan kelak, namun pasti suatu hari anak cucu bangsa ini akan mengerti dengan sendirinya Apa arti kebenaran dan kesalahan di masa - masa perjuangan"...

 "Itu jawaban yang saya dengar langsung dari Almarhum Soeharto"

Dari FB
Hutomo Mandala Putra Alias Tomy Soeharto (Putra Almarhum Soeharto) 
Wahid Hasyim

Wahid Hasyim

Tokoh asal Jombang yang lahir pada tanggal 1 Juni 1914 ini, merupakan ayah kandung dari Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur, mantan Presiden RI ke-4). Wahid Hasjim meninggal dunia di Cimahi pada tanggal 19 April 1953. Meski antara Durahman dengan Wahid Hasjim mempunyai pertalian darah yang kuat, namun dalam hal menyikapi syari’at Islam keduanya berada pada posisi yang berseberangan.

Wahid Hasyim

Beberapa bulan sebelum meninggal, tepatnya tanggal 4 Februari 1953, Wahid Hasjim dalam kapasitasnya sebagai Ketua PBNU melayangkan surat protes kepada Presiden Soekarno. Pasalnya, Soekarno dalam salah satu pidatonya di Amuntai (Kalimantan Selatan) mengatakan: ‘Kalau kita dirikan negara berdasarkan Islam, banyak daerah yang penduduknya tidak beragama Islam akan melepaskan diri, misalnya Maluku, Bali, Flores, Timor, Kai, dan juga Irian Barat yang belum masuk wilayah Indonesia tidak akan mau ikut dalam Republik.’

Wahid Hasjim sebagaimana tercermin dalam surat protesnya itu, dengan tegas mengatakan: ‘Pernyataan bahwa pemerintahan Islam tidak akan dapat memelihara persatuan bangsa dan akan menjauhkan Irian, menurut pandangan hukum Islam, adalah pernyataan mungkar yang tidak dapat dibenarkan syariat Islam dan wajib bagi tiap-tiap Muslim menyatakan ingkar atau tidak setujunya.’
Keberpihakan Wahid Hasjim yang tegas kepada konsepsi negara Islam justru dipungkiri oleh anaknya sendiri, Abdurrahman Ad-Dakhil, yang biasa disebut Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Ketika memberikan kata pengantar pada buku Ribka Tjiptaning berjudul Aku Bangga Jadi Anak PKI, Durahman antara lain mengatakan bahwa ayahnya ‘Menentang negara agama, karena hal itu akan membedakannya dari kedudukan warga negara non-Muslim.’

Padahal, menurut BJ Boland dalam bukunya berjudul Pergumulan Islam di Indonesia, Wahid Hasjim merupakan sosok yang paling radikal: ‘Ternyata bahwa Wahid Hasjim memang memanfaatkan rancangan Pembukaan yang diusulkan tersebut sebagai titik tolak untuk pengaturan lebih lanjut menuju suatu negara Islam.’
Bahkan menurut Boland, Wahid Hasjim menyarankan agar diadakan ketentuan, bahwa hanya orang Islam yang boleh dipilih sebagai presiden atau wakil presiden Republik Indonesia. Wahid Hasjim ketika itu juga menyarankan agar pasal mengenai agama harus berbunyi: ‘Agama negara adalah Islam, dengan jaminan kemerdekaan bagi penganut agama lainnya untuk menganut agama mereka.’

Ketika itu, gagasan Wahid Hasjim didukung oleh Sukiman yang kelak memimpin Masyumi, sedangkan Djajadiningrat dan Wongsonegoro (tokoh kebatinan) menyatakan keberatan dengan gagasan Wahid Hasjim. Gagasan itu juga ditolak oleh Agus Salim, dengan alasan: ‘Jika presiden harus seorang Islam, lalu bagaimana dengan wakil presiden, para duta, dan sebagainya, lalu bagaimana duduknya janji kita untuk melindungi agama-agama lain?_ (lihat buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Gus Dur Menjual Bapaknya, Darul Falah, Jakarta, Januari 2003).

Jadi, sudah sejak awal konsepsi negara Islam untuk Indonesia dicurigai oleh para tokoh (founding fathers) yang beragama Islam, seperti Soekarno. Anehnya, Durahman justru ikut-ikutan latah menentang gagasan bapaknya, bahkan memfitnah seolah-olah bapaknya itu menentang negara agama seraya mensejajarkan sang bapak dengan tokoh PKI segala. Benar-benar durhaka! 

Kenapa terjadi demikian? 

Bila ditilik dari siapa-siapa yang mendidik Gus Dur dan dia akui sangat terkesan, di antaranya adalah guru bahasa Inggerisnya waktu masih pelajar, yaitu Ibu Rubiyah seorang Gerwani (wanita PKI –Partai Komunis Indonesia) yang tentu saja anti Islam, benci kepada Islam. Pengaruh buruk dari orang apalagi yang mendidik dan mengesankan ternyata dibawa-bawa sampai tua dan bahkan membentuk pandangan hidup. Ketika pengaruh itu dari orang anti Islam, maka buahnya pun dapat dirasakan sampai sekarang. (haji/tede/nahimunkar.com)

Sumber:
http://www.nahimunkar.com/the-men-from-jombang/

Ini Dia 15 Fakta Jokowi Antek PKI Yang Disembunyikan Media

PeduliFakta.Blogspot.com -
Berikut fakta-faktanya :

Pertama, Sampai hari ini Jokowi tidak mampu buktikan keberadaan akte kelahiran, surat nikah asli, kartu keluarga asli dst. Kenapa?

Fakta 2: Nama ayah Jokowi SUDAH TERBUKTI adalah WIDJIATNO, bukan Noto Mihardjo. Widjiatno eks Ketua OPR PKI BOYOLALI

Fakta 3. Sudah TERBUKTI Jokowi dilahirkan di GIRIROTO, NGEMPLAK, BOYOLALI tahub. 1961. Bukan di RS Brayat Minulyo, bukan di Kali Pepe, Solo.

Fakta 4. Sudah terbukti keluarga Jokowi BUKAN Keluarga Miskin. Kakeknya Lurah Kragan. Tuan Tanah, pemilik Huller Kedungredjo, Kragan. 

Fakta 5. Jokowi sengaja sembunyikan adik-adik ayahnya (4 orang) agar tidak dapat dihubungi untuk dapatkan kesaksian mereka tentag Widjiatno & PKI. 

Fakta 6. Widjiatno ayah Jokowi pindah dari Kragan, Karanganyar ke Giriroto, Boyolali tahun 1959 saat menikah dengan aktivis Gerwani Sudjiatmi. 

Fakta 7. BOYOLALI adalah PUSAT kekuatan PKI tahun 1955 - 1965. Satu2nya Kabupaten MERAH di Indonesia. Giriroto Basis PKI Boyolali

Fakta 8. 1 Oktober 1965 pagi buta, 2 jam Letkol Untung umumkan Dewan Revolusi di Jakarta, terjadi pembantaian umat Islam di Giriroto Boyolali.

Fakta 9. Pembalasan umat Islam terhadap PKI Boyolali atau Giriroto, baru terjadi setelah RPKAD+Kodam Siliwangi merebut kembali Kodam Diponegoro. Setelah sebelumnya, selama lebih sebulan, Kodam Diponegoro direbut Tentara Merah PKI. Setelah sebelumnya, selama lebih sebulan, Kodam Diponegoro direbut dan dikuasai Tentara Merah PKI.”

Fakta 10. Setelah Kodam Diponegoro direbut kembali oleh RPKAD dan Pasukan Kodam Siliwangi, baru TNI masuk ke Boyolali Ngemplak Giriroto.

Fakta 11. Saat TNI masuk ke Giriroto, Boyolali, sebagian besar pasuka.n Tentara Merah sudah melarikan diri. Diantaranya keluarga Widjiatno

Fakta 12. Berdasarkan pengakuan para saksi di Tirtoyoso, Manahan Solo, keluarga Widjiatno baru pindah ke Tirtoyoso thn 1971.

fakta 11. Ada missing period (1966-1970) dimana Widjiatno dan keluarganya berada? Sangat Patut Diduga : Dipersembunyiannya.

Fakta12. Ingatlah istilah-istilah populer jaman PKI ini.
1. Revolusi mental, 
2. Gerilya dari pintu ke pintu, 
3. Pekerja Partai, 
4. Pasoepati, dst
Ungkapan-ungkapan yang sering diucapkan Jokowi dan ibunya : ungkapan PKI. Apalagi ketika Jokowi sebutkan ingin bubarkan Babinsa. Itu = usul Aidit. 

Fakta 13. Jokowi sebagai Walikota Solo mendukung penuh operasi intelijen Hendropriono yang menciptakan /rekayasa "Teroris Islam" di Solo. 

Fakta 14. Jokowi saat jadi cawalkot Solo didukung penuh organisasi Cina Komunis Solo : Ho Hap (PMS Surakarta nama resminya).

Fakta 15. Tempat tinggal Jokowi awalnya di Solo di daerah selatan Solo yang dikenal sebagai segitiga PKI (solo-klaten-boyolali). Jika ditarik sedikit keluar, daerah dimana Jokowi tinggal : Solo Selatan, Sukoharjo, Karang Anyar, Sragen, Klaten, Wonogiri: basis PKI. Almarhum Eyang kami adalah mantan Bupati Sukohardjo, warisan catatan mengenai titik-titik atau basis-basis PKI di lingkar selatan tersebut cukup lengkap. Tanpa bermaksud SARA, mayoritas Katolik Solo Selatan, Ngemplak dan Boyolali umumnya eks PKI. Masuk katolik untuk dapat perlindungan gereja.
(TM2000back)

Ada Dalang G30S/PKI di Belakang Allan Nairn


Saya tidak menyangka bahwa pilpres tahun ini harus banyak memberi pelajaran sejarah kepada tokoh-tokoh kita, bila sebelumnya saya memberi pelajaran sejarah kepada Anggun C. Sasmi dan Glen Fredly, sekarang saya bermaksud mengajari seluruh rakyat Indonesia yang berjodoh dengan artikel ini khususnya Nusron Wahid dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mengingat sejarah mereka sebelum mereka terprovokasi oleh jurnalis yang menurut pengakuannya sendiri telah melanggar etika seorang jurnalis karena membuka wawancara off-the-record bernama Allan Nairn. Saya bingung, masa belum kapok diadu domba dan dijajah bule selama 350 tahun? Masa mental inlander kita tidak hilang sehingga menganggap apapun yang dikatakan Allan Nairn pasti benar karena dia bule? Aya-aya wae..

Karena artikel ini akan cukup panjang maka saya tidak lagi membahas tulisan Allan Nairn, tapi akan langsung ke pembahasan. Kita semua sudah tahu bahwa Allan Nairn adalah jurnalis berkebangsaan amerika yang antara lain meliput perang “restorasi kemerdekaan Timor Leste/Timles,” tapi tahukah anda diserahkan kemana informasi yang dikumpulkan oleh Allan Nairn di Timles? Jawabannya adalah kepada Tapol UK yang berbasis di Inggris dan tidak peduli informasinya valid atau masih mentah, informasi tersebut akan diolah Tapol UK sebagai bahan propaganda penyebar kebencian terhadap Indonesia di dunia internasional melalui apa yang dinamakan Tapol’s Bulletin yang isinya tipikal: Indonesia penjajah Papua, Indonesia penjajah Timles, Indonesia penjajah Aceh, Indonesia pelanggar HAM, Indonesia pembunuh dll. Allan Nairn juga terlibat dalam berbagai kegiatan seperti konferensi yang bertujuan mendiskriditkan Indonesia itu.

Kebijakan Tapol UK mendiskriditkan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak berhenti sampai penerbitan buletin Tapol UK saja, tapi mereka juga menggalang dukungan politik di dunia internasional kepada gerakan apapun di semua propinsi di Indonesia yang mau memisahkan diri dan kedua hal tersebut masih tetap dilakukan sampai sekarang, contoh pendirian ETAN di Amerika untuk mendukung kemerdekaan Timles yang sekarang masih terus mendiskriditkan Indonesia adalah pekerjaan Tapol UK; kemudian Ingat pendirian markas OPM di Oxford beberapa tahun silam? Itu kerjaan Tapol UK; Ingat film the Act of Killing? Tapol UK adalah sponsor utamanya; ingat kehadiran pemimpin OPM boneka bernama Benny Wenda di Australia yang didampingi pengacara Australia bernama Jennifer Robinson? Kerjaan Tapol UK dan ketika kuliah di Inggris, Jennifer Robinson menjadi anak didik langsung dari pendiri Tapol UK bernama Carmel Budiardjo, dan masih banyak lagi.

Contoh kerasisan Carmel Budiardjo dalam memfitnah Indonesia dalam tulisannya tahun 1983, yang singkatnya mengatakan bahwa Papua sudah jadi sasaran Indonesia sejak orang Indonesia menginjakan kakinya di Papua pada zaman kuno, di mana orang Indonesia memperbudak rakyat Papua dan mengincar burung-burung langka tapi kemudian sejak tahun 1962 rakyat Indonesia mengincar sumber daya alam di Papua sehingga “pribumi setempat” harus dipaksa pindah apapun caranya, termasuk kekerasan:

“Ever since the Indonesians set foot on Papuan soil, human rights abuses have been the rule of the day. In the antiquity or the dream time, the Indonesian quest had been Papuan slaves and the birds of paradise. Since 1962 however the quest has been for the rich mineral deposits, the vast virgin forest with its timber and the ‘empty’ land. The West Papuans have had to be removed from their land by hook or by crook.”


Tentu saja kalimat Carmel Budiardjo di atas adalah fitnah yang sangat keji sebab nama Indonesia baru muncul pasca kebangkitan nasional tahun 1920an dan mungkin hanya orang dari kerajaan yang berlokasi di Maluku atau Sulawesi dan sekali Majapahit dari Jawa yang pernah singgah di Papua, itupun tidak pernah ada bukti perbudakan orang Papua sebab tidak seperti peradaban bule yang sangat maju dan menjajah dunia dari ujung utara sampai ujung selatan selama ratusan tahun, dan sampai sekarang tidak bisa meninggalkan sikap “bule knows best.” Kemudian alasan Soekarno mengejar Papua adalah karena hukum internasional menyatakan semua daerah yang dikuasai penjajah otomatis menjadi milik negara baru ketika merdeka, dan Indonesia tidak tahu Papua kaya akan sumber daya alam karena yang menemukan dan kemudian merahasiakan temuan tembaga di Eitsberg adalah Freeport. Ketertarikan Indonesia di Papua hanya politik dan tidak ada yang bersifat imperialisme.

Salah satu bukti kerja sama Allan Nairn dengan Carmel Budiardjo:

“The Indonesia Human Rights Network is grassroots-based and U.S. policy-focused, utilizing educational outreach, press work, protest and lobbying. Its advisory board includes such internationally recognized human rights activists as Carmel Budiardjo, Dr. George Aditjondro, Kerry Kennedy Cuomo and journalist Allan Nairn. A national kick-off conference on human rights in Indonesia will be held February 23 - 25, 2001 at George Washington University in Washington, D.C.”


Siapa Carmel Budiardjo dan mengapa dia begitu membenci serta anti Indonesia?

Hari ini Carmel Budiardjo adalah seorang nenek Warga Negara Inggris berusia 90 tahun yang anti Indonesia, akan tetapi 60 tahun lalu dia adalah Carmel Brickman, Warga Negara Inggris penganut komunis yang tinggal di Cekoslovakia yang saat itu bagian dari Uni Soviet, dan bekerja sebagai sekretaris di lembaga kemahasiswaan pada Universitas Cekoslovakia yang menjadi topeng dinas intelijen Cekoslovakia. Saat dia di Cekoslovakia Carmel Brickman bertemu dan menikah dengan Suswondo Budiardjo, anggota Komite Sentral Partai Komunis Indonesia sehingga sejak saat itulah dia mengganti nama menjadi Carmel Budiardjo.

Ketika tahun 50an para petinggi PKI yang mengasingkan diri karena peristiwa Madiun 1948 pulang ke Indonesia, Carmel Budiardjo ikut suaminya dan tinggal di Indonesia dan aktif sebagai anggota PKI. Tahun 1965 ketika PKI berada dalam posisi terkuatnya dan sedang berjalan menuju eksekusi rencana pemberontakan yang dikenal sebagai G30S/PKI, bersama Njoto, ketua Divisi Propaganda dan Agitasi PKI, Carmel Budiardjo adalah penulis naskah pidato Soekarno. Salah satu contoh karya Carmel Budiardjo adalah semua pidato Soekarno terkait perebutan Papua Barat, jadi bisa dibilang Carmel Budiardjo salah satu yang berjasa dalam usaha Indonesia merebut Papua Barat, tapi ironisnya di masa depan dia malah mendiskriditkan Indonesia sebagai penjajah rakyat Papua Barat.

Pasangan suami-istri Budiardjo sangat terlibat dalam persiapan/prolog G30S/PKI terbukti salah satu korban G30S/PKI yaitu DI Panjaitan pernah menangkap Suswondo Budiardjo saat proses menyelundupkan senjata Chung dari Republik Rakyat China di dalam bahan bangunan untuk pendirian gedung CONEFO (sebagian senjata Chung yang terlanjur masuk adalah senjata yang digunakan pasukan G30S/PKI), sedangkan Carmel Budiardjo adalah pemalsu surat Duta Besar Andrew Gilchrist yang menyebut ada “bagian dari angkatan darat Indonesia” (our local army friend) yang bekerja sama dengan Amerika dan Inggris untuk menjatuhkan Soekarno kelak dikenal sebagai “Dokumen Gilchrist,” yang pertama kali disebar oleh Soebandrio kepada wartawan Al Ahram, Mesir pada tanggal 5 Juli 1965.

Menurut Ladislav Bittman, mantan intelijen Cekoslovakia dalam bukunya The Deception Game terbitan 1973, pembuatan Dokumen Gilchrist adalah salah satu operasi yang dilaksanakan Departemen D Dinas Intelijen Cekoslovakia yang tugasnya membuat operasi kabar bohong yaitu mengecoh musuh dengan memberikan informasi palsu kepadanya dengan asumsi dia akan menggunakan sebagai dasar membuat kesimpulan sesuai harapan pencetus kabar bohong, antara lain melalui mengirim surat palsu, surat kaleng dengan fotokopi dokumen palsu kepada pejabat berbagai negara atau surat kabar seperti New York Times dan Der Spiegel atau pejabat setempat yang sudah “dibeli” baik dengan gratifikasi sex atau uang dengan tujuan merusak kepercayaan kepada pejabat pemerintah dan pemimpin politik barat.

Dokumen Gilchrist adalah bagian dari Operation Palmer yang dicetuskan oleh Jenderal Agayants dari Uni Soviet dan Mayor Louda dari Cekoslovakia menyusul gerakan memboikot film-film Amerika di Indonesia dan kebencian itu dimanfaatkan oleh Departemen D untuk menciptakan propaganda bahwa William Palmer, direktur Association of American Film Importers di Indonesia adalah pemimpin CIA di Indonesia. Untuk melakukan hal tersebut Departemen D mengirim banyak surat kaleng anonim ke surat kabar di Indonesia yang isinya menuding Bill Palmer sebagai agen CIA, dan surat-surat tersebut kemudian menjadi sumber berita di berbagai surat kabar di Indonesia.

Berkat agitasi Departemen D, pada tanggal 1 April 1965 demonstran PKI antara lain Gerwani dan Pemuda Rakyat menyerang villa Palmer di Gunung Mas dan menurut sejarah adalah lokasi penemuan Dokumen Gilchrist. Uni Soviet juga memainkan peranan memanas-manaskan suasana melalui siaran luar negeri Radio Moskow yang isinya menyudutkan Amerika terkait “usaha subversi” di negara-negara asia oleh CIA, dan salah satunya adalah Bill Palmer yang selama belasan tahun melakukan kegiatan subversi di Indonesia, dan lain-lain.

Bukti Carmel Budiardjo pembuat Dokumen Gilchrist sangat mudah yaitu dari sangkalan pihak Inggris yang menyatakan walaupun secara tata bahasa tulisan di Dokumen Gilchrist memang ber-grammar ala Anglo Saxon, tapi mereka bukan pembuatnya. Berdasarkan fakta di atas maka kita menemukan petunjuk tentang siapa pembuat Dokumen Gilchrist:

1. Dia harus bisa grammar Inggris seperti seorang native speaker dan ahli dalam menulis dokumen diplomatik;

2. Dia harus memiliki hubungan dengan intelijen Cekoslovakia yang tinggal di Indonesia yang mana tahun 1965 sangat jarang karena Indonesia lebih dekat ke RRC daripada Uni Soviet; dan

3. Dia harus komunis yang dekat dengan pusat kekuasaan.

Dari tahun 1964-1965 hanya ada satu orang di Indonesia yang memenuhi semua syarat di atas yaitu Carmel Budiardjo sebab dia adalah Warga Negara Inggris yang tinggal di Indonesia dan sebelumnya bekerja untuk lembaga intelijen Cekoslovakia dan di Indonesia pekerjaannya adalah menulis pidato kenegaraan untuk Soekarno, dan yang lebih penting lagi dia adalah komunis sekaligus istri dari petinggi PKI yang menyelundupkan senjata untuk persiapan pelaksanaan G30S/PKI. Dokumen Gilchrist menyebabkan kelahiran rumor Dewan Jenderal dan keduanya adalah penyebab Soekarno memukul “para jenderal” terlebih dulu, sehingga bisa disimpulkan Carmel Budiardjo adalah salah satu orang yang mendalangi G30S/PKI.

Ketika ditangkap dan dipenjara Orde Baru, Carmel Budiardjo belum diketahui sebagai dalang G30S/PKI dan oleh karena itu dia dideportasi ke Inggris ketika pemerintah Inggris meminta Indonesia melepaskan Carmel Budiardjo. Sesampainya di Inggris, Carmel mendirikan Tapol UK yang berfungsi sebagai alat propaganda dan agitasi melawan Indonesia dengan isu HAM, demokrasi, “pembantaian 1965″. Ingat, dia adalah tangan kanan Njoto, Ketua Departemen Propaganda dan Agistasi PKI, sehingga melakukan propaganda memang keahlian Carmel Budiardjo.

Tapol UK bersama ISAInya Goenawan Mohamad dan penerbit Hasta Mitra milik kuartet PKI sangat berjasa mengembalikan minat sebagian rakyat Indonesia kepada komunisme menggunakan HAM, demokrasi dan “PKI korban Orde Baru” sebagai pintu masuk, padahal Ladislav Bittman, mantan dinas intelijen Cekoslovakia saja sudah menyatakan G30S adalah G30S/PKI dan bukan G30S/Soeharto atau G30S/USA. Kemudian, Tapol UK melalui kaki tangannya di Indonesia khususnya Kontras dan Amnesty International asal Inggris yang sedang dalam proses masuk Indonesia adalah provokator yang mendorong para eks tahanan politik/tapol PKI yang tergabung dalam YPKP’65 mempersiapkan suatu People’s Tribunal International di Solo (!!!) Tahun 2013 untuk mengangkat kasus 1965 ke International Tribunal Court yang ditargetkan berjalan tahun 2015 melalui Special Reporter Komisi HAM PBB, UNWEG, dan pengadilan People’s International Tribunal Massacre 1965/1966 di Den Hagg pada Oktober 2015 yang mana salah satu tergugatnya adalah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Saya cukup yakin pasti banyak yang sudah mau berteriak: “PKI tidak bersalah,” “Soeharto dalangnya bekerja sama dengan CIA untuk mengeruk emas Papua dan menyingkirkan Soekarno,” atau “urusan internal angkatan darat,” bla bla bla..dan saya mau katakan bahwa semuanya salah. Banyak yang bisa dibahas mengenai hal ini tapi saya kuatir akan membuat artikel ini melebar kemana-mana, kendati demikian tetap perlu mendapat porsi pembahasan:

1. Saya sudah membaca lebih dari 1.000 dokumen CIA dan Departemen Luar Negeri Amerika yang berstatus declassified dengan kesimpulan tidak ada selembarpun yang mengatakan CIA terlibat prolog G30S/PKI padahal dari dokumen berjenis declassified kita tahu operasi CIA menggulingkan Mossadeq untuk digantikan oleh Shah Iran. CIA memang terlibat, tapi hanya pada epilog melalui pemberian daftar nama anggota PKI kepada Kostrad dan uang kepada KAP Gestapu pimpinan Jusuf Wanandi oleh Pater Beek, agen CIA di Indonesia.

2. “Soeharto adalah dalang,” dalam disertasi John Rossa sebenarnya memplagiat teori “missing link” Profesor W.F. Weirtheim, sosiolog komunis dari Belanda yang masih memiliki mental “bule knows best” dan diterima mentah-mentah oleh orang Indonesia bermental inlander padahal teori tersebut dibuat tanpa sedikitpun pernah datang melakukan penelitian di Indonesia perihal G30S/PKI. Semua ilmuwan yang pernah meneliti ke Indonesia dan diketahui tidak memiliki ideologi politik ke kiri atau ke kanan selain kepentingan akademik seperti Harold Crouch, Herbert Feith, Antonie Dake, Victor M. Fic, dll menyatakan teori Weirtheim tidak benar dan asal buat sebab tidak ada bukti yang memperlihatkan indikasi Soeharto terlibat. Lagipula logikanya bila Soeharto terlibat tentu dia akan diganyang oleh teman-temannya di angkatan darat, tapi AH Nasution justru ada di garis depan membela Soeharto dari tuduhan Weirtheim.

Tanggapan Profesor Salim Said pada seorang murid Weirtheim yang menyampaikan bahwa menurut Weirtheim “Indonesia harus mengikuti cara Mao di RRC supaya tidak tunduk pada Amerika dan Soviet serta bagaimana Orde Baru didirikan Soeharto dengan bantuan CIA,” bisa menggambarkan bagaimana sosok Weirtheim yang sebenarnya:

“Eh, sampaikan kepada Wertheim, dia boleh berteori dan berpendapat apa saja di Amsterdam, tapi saya yang turun-temurun hidup di Indonesia sudah capek miskin. Dari kakek moyang saya di zaman kolonial sampai saya di zaman Soekarno, semua hidup miskin. Kalau untuk terhindar dari kemiskinan negeri saya terpaksa menerima bantuan dari Amerika, itu jauh lebih baik dibanding tetap miskin dengan mengikuti nasihat Profesormu itu.”

(Salim Said, Dari Gestapu ke Reformasi, Penerbit Mizan halaman 178).

3. “Konflik internal angkatan darat” juga ciptaan ilmuwan komunis dengan sifat “bule knows best,” dari Universitas Cornell dalam tulisan yang dikenal sebagai “Cornell Paper” dari Ruth McVey dan Ben Anderson yang memang memiliki kedekatan dengan PKI sehingga mereka selalu membela PKI. Sudah lama teori-teori dalam Cornell Paper sudah dinyatakan tidak berlaku oleh semua akademisi dan sejarahwan dunia, tapi mengapa masih terus dipakai oleh sejarawan Indonesia? Aneh sekali bukan?

Sumber informasi “kematian 500ribu s.d. 3juta komunis” yang sampai sekarang masih terus diulang adalah Ruth McVey yang ketika mengatakan itu di dalam sebuah seminar pemuda komunis di New York belum pernah menginjakan kaki di Indonesia untuk meneliti prolog sampai epilog G30S/PKI, padahal menurut Richard Cabot Howland, agen CIA di Indonesia yang mengikuti perkembangan amuk massa terhadap PKI mencatat komunis yang menjadi korban hanya 105.000 jauh di bawah jumlah korban komunis internasional selama komunisme berjaya yang mencapai 250juta jiwa.


Bukti lain bahwa orang-orang Cornell terpengaruh oleh kedekatan mereka dengan PKI adalah ketika George Kahin, Ben Anderson, Ruth McVey mengirim surat-surat penuh kebencian dan memaki dengan kasar Herb Feith di Australia karena artikel yang seolah membenarkan “pembantaian komunis” di Indonesia atas alasan nesesitas atau kepentingan saat itu sebab apabila komunis tidak dihabisi maka non-komunis yang akan dibantai komunis Indonesia. Bayangkan menyerang secara pribadi hanya karena sebuah pendapat, sudah bisa dibayangkan kualitas Indonesianis dari Universitas Cornell kan?


Nah, sekarang kita kembali ke pokok persoalan yaitu hubungan Allan Neirn dengan Carmel Budiardjo istri anggota CC PKI yang merupakan salah satu penyebab terjadinya G30S/PKI. Saya rasa Nusron Wahid dan PBNU belum melupakan kekejaman PKI terhadap NU, dan bila lupa maka dengan penuh kerendahan hati saya menyarankan PBNU dan GP Ansor yang mulai berpihak karena manipulasi ketuanya untuk membaca buku yang diterbitkan NU sendiri berjudul Benturan NU-PKI 1948-1965 tulisan h. Abdul Mun’I'm DZ terbitan Langgar Swadaya yang isinya adalah kompilasi hujatan PKI kepada agama, Tuhan; strategi adu domba PKI dan daftar pembantaian PKI terhadap orang-orang NU.

Pesan kepada kawan-kawan di NU: masih belum kapok diadu domba bule selama 350 tahun? Belum kapok diadu domba komunis dan PKI selama puluhan tahun? Belum kapok ditusuk dan dihianati PKI? Selain itu, Nusron Wahid, berhenti adu domba PBNU, GP Ansor dengan elemen masyarakat demi memuaskan nafsu dan ambisimu!!

Untuk yang mau belajar lebih lanjut, di bawah ini ada beberapa sumber bacaan:

1. Salim Said, Dari Gestapu ke Reformasi, Penerbit Mizan.

2. Victor M. Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965, Penerbit Obor.

3. H. Abdul Mun’I'm DZ, Benturan NU-PKI, 1948-1965, Penerbit Langgar Swadaya.

4. Jemma Purdey, Dari Wina ke Yogyakarta, Kisah Hidup Herb Feith, Penerbit KPG.

5. Peristiwa 1 Oktober, Kesaksian Jenderal Besar Dr. AH Nasution, Penerbit Narasi.

6. Anton Tabah, Jenderal Besar Nasution Bicara Tentang G30S/PKI, Penerbit CV Sahabat Klaten.

7. Ladislav Bittman, The Deception Game. Czechoslovac Intelligence in Soviet Political Warfare. Syracure Reseacrh Corporation.

Revolusi Mental Jokowi itu adalah PKI

PeduliFakta.Blogspot.com -- Revolusi Mental? Itu Cara PKI!
Istilah ‘Revolusi Mental’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Istilah ini sudah digunakan oleh Karl Marx pada pertengahan abad 19. Dalam pengantar untuk edisi kedua dari bukunya bertajuk ‘The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte’ yang terbit pada tahun 1869, Marx menulis: “…Outside France, this violent breach with the traditional popular belief, this tremendous mental revolution, has been little noticed and still less understood…” (Di luar Perancis, kekerasan ini melabrak kepercayaan umum yang tradisional, revolusi mental yang luar biasa ini, telah sedikit diketahui dan masih kurang dipahami). Begitu kesimpulan Marx dalam kalimat pengantar buku tersebut. Simpulan Marx itu tentu saja menunjukkan salah-satu inti ajaran Marx tentang kebutuhan akan pertarungan kelas.
Buku kondang Marx itu pertama kali terbit memang pada tahun 1852. Selain Marx, ada sohib karibnya, Frederick Engels, yang juga memberikan kata pengantar. Dibanding Marx, kata pengantar Engels tidak begitu menukik. Ia hanya mengurai saja, apa yang terjadi di Prancis pada masa itu. Justru kata pengantar Marx di edisi kedua (1869) yang secara terang-terangan menyebut perlunya ‘revolusi mental’, pendobrak keyakinan lama.

Bagi Marx, ‘revolusi mental’ merupakan keharusan untuk menata masyarakat, dari tatanan lama menuju ke tatanan baru yang komunistis. Marx dan para pendukungnya mendorong terjadinya ‘revolusi mental’, yang membenturkan kelompok satu ke yang lain. Batasnya, siapa yang ikut mentalnya direvolusi, dan siapa yang tidak.

Tak pelak, karya Marx menjadi sumber inspirasi bagi gerakan komunis internasional. Dimulai dari gerakan kelas pekerja pada 1864 kemudian 1889, lalu 1919, nyaris seluruh aktivis gerakan ini bersandar pada ‘revolusi mental’. Mereka memilah siapa kawan siapa lawan, lalu berusaha memengaruhi publik lewat agitasi propaganda. Masuk ke masyarakat, mempengaruhi komunitas buruh, menyelusup ke pasar dan pusat keramaian untuk memprovokasi warga. Ini bagian dari cara ‘revolusi mental’.

Walau tak harus tersurat, tetapi cara itu tersirat dalam hampir semua karya Marx pada kurun berikutnya. Karya-karya yang gampang dicari di berbagai situs internet dewasa ini. Sulit rasanya menepis anggapan, bahwa Marx tak mendorong ‘revolusi mental’ itu.

Khusus untuk mengubah cara berpikir, para konseptor aksi komunis pada periode berikutnya, juga meniru Marx. Dari 1864 sampai 1872, para pengikut Karl Marx, seperti Eugene Pottier (penyair Prancis) dan Wilhelm Liebknecht (revolusioner Jerman), mulai menata diri dalam ‘Internasional Pertama’ yang berbasis di London. Hubungan mereka sangat erat pada kaum pekerja di kota tersebut. Mereka juga menulis selebaran. Disebarkan secara luas, lalu dilihat reaksi masyarakat.

Intinya, para pelopor komunisme sudah terbiasa menyebarkan pandangan-pandangan yang mengadu-domba satu kelompok dengan kelompok lain demi sebuah ‘revolusi mental’. Seperti yang dilakukan Georgi Plekhanov di Rusia. Ia memanas-manasi para penggarap lahan agar bentrok dengan pemilik tanah. Sangat mirip kelak dengan aksi Nyoto tatkala menggerakkan pemuda rakyat di lapangan.

Jika Marx lebih banyak memotret dinamika di Eropa utara (Prancis, Jerman dan Spanyol), maka Vladimir Illich Lenin (VI Lenin) lebih fokus pada negerinya, Rusia. Seperti juga Marx, Lenin banyak menulis selebaran untuk dibagi ke khalayak. Tujuannya, menggerakkan masyarakat Rusia melawan Tsar Rusia kala itu.

Dalam karyanya berjudul ‘State and Revolution’ yang diterbitkan pertama kali pada 1918, Lenin secara tersirat menyebutkan perlunya aksi dramatis menyingkirkan kaum kapitalis dan birokrat. Dalam kitab itu, Lenin lebih tegas menekankan pentingnya ‘jiwa revolusioner’ dibersihkan dari kaum borjuis dan oportunis.

Lenin beranggapan gerakan Internasional Kedua (1889-1914), dikomandani Karl Kautsky, sudah jatuh bangkrut. Sebabnya, tulis Lenin, belum ada revolusi yang bisa menggerakkan kaum proletar (miskin) guna menggusur para kapitalis. Karenanya, Lenin menyodorkan cara menggerakkan massa melalui penjelasan-penjelasan provokatif, membenturkan satu bagian rakyat kepada bagian yang lain. Tak perlu diragukan, itulah cara ‘revolusi mental’ guna memulai benturan antar warga masyarakat.

Namun, harap jangan mencari istilah ‘revolusi mental’ itu ke dalam buku ‘Manifesto Komunis’ yang terbit pada 1848. Percuma. Sebab, istilah itu tak ada dalam buku ‘Manifesto Komunis’. Dalam manifesto, Marx lebih suka menggambarkan pertarungan kelas, contohnya kelas borjuis lawan kelas proletar. Walau terbit lebih awal, manifesto komunis sebenarnya hanya untuk kebutuhan praktis.

Kebangkitan Komunis Indonesia
Sejarah mencatat, kebangkitan kelompok komunis di Hindia Belanda (kini Indonesia) berkat campur tangan Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau kondang dipanggil Henk Sneevliet. Pria yang sebelumnya sudah menjadi anggota komunis Belanda itu juga merupakan organisator Komintern (Komunis Internasional). Begitu menginjakkan kaki di Kota Surabaya sekitar tahun 1913, Sneevliet bergabung dengan redaksi koran ‘Soerabajaasch Handelsblad’.

Pada 9 Mei 1914, Sneevliet membentuk ‘Indische Sociaal Democratische Vereniging’ (ISDV, perkumpulan sosial-demokrat Hindia Belanda) di kota yang sama. Melalui perkumpulan ini, Sneevliet melancarkan kampanye hitam pada organisasi lain yang tidak sehaluan. Sebaliknya, ia juga mulai aktif merekrut orang Indonesia untuk menjadi juru penyebar kampanye hitam, seperti Semaun.

Sneevliet juga kemudian bersentuhan secara luas dengan para aktivis Sarekat Islam (SI) yang lain, semisal Alimin Prawirodirjo dan Darsono. Gagasan Sneevliet yang kuat dipengaruhi ajaran Marxisme mulai ditularkan ke para aktivis SI. Mereka terpengaruh, terutama pada ajaran Marxisme yang menyebutkan ‘Agama adalah Candu bagi Rakyat’. Akibatnya, mereka pun mulai membatasi diri dari pergaulan dengan sejawat dalam SI. Kedekatan dengan Sneevliet sudah mengubah diri mereka. Pengaruh gagasan ‘revolusi mental’ ala Marxisme mulai merasuki jiwa dan pikiran sejumlah aktivis SI. Berbagai bahan bacaan yang diperkenalkan Sneevliet dan dialog-dialog bersamanya telah mampu menggoyahkan keyakinan para aktivis SI ‘Merah’.

Dalam bukunya berjudul ‘The Rise of Indonesian Communism’ (1965), peneliti Ruth McVey juga melukiskan hubungan kerja Sneevliet dengan Adolf Baars. Pria yang juga disebut dalam sejarah sebagai salah-satu tokoh pendiri komunisme di Indonesia. Baars banyak menyurahkan waktunya membantu Sneevliet. Selama berbulan-bulan Sneevliet terus memengaruhi para anak-didiknya. Campur-tangan Sneevliet ke dalam aktivitas SI mengakibatkan organisasi yang berdiri tahun 1912 itu pecah. Semaun dan rekan-rekan sehaluan yang sudah tercuci otaknya, lebih memilih bergabung dengan Sneevliet. Mereka begitu terpesona dengan komentar-komentar Sneevliet.

Program cuci otak Sneevliet ternyata mujarab. Setelah membersihkan para aktivis itu dari pikiran-pikiran religius, lalu Sneevliet mengisinya dengan ajaran-ajaran Marxis yang anti-agama. Dalam testimoni tulisannya yang terbit pada tahun 1926 bertajuk ‘The class struggle element in the liberation struggle of the Indonesian people’, Sneevliet mengakui telah menyuntikkan gagasan revolusioner ke dalam SI.

Kata ‘revolusioner’ bagi komunis seperti Sneevliet, tentu saja, bermakna menyerabut seseorang dari lingkungan asal. Taktik serupa juga diungkapkan Lenin pada tahun 1918. Semaun, Alimin dan Darsono merupakan contoh bagaimana kepribadiannya sudah dicerabut dari SI.

Mental mereka telah direvolusi sedemikian rupa, sehingga mudah menjadi boneka komunis. Kelak di kemudian hari, usai Konferensi Batavia pada Januari 1926, para kader komunis yang sudah tercuci otaknya tersebut melakukan kesepakatan untuk aksi sepihak. Mereka tak mau memerhitungkan syarat-syarat keberhasilan suatu aksi. Sebab, bagi Alimin dan kawan-kawannya, yang terpening adalah beraksi frontal. Tak peduli akan jatuh korban banyak.

Komintern sudah sepenuhnya mengendalikan pikiran para petualang politik ini. Mereka tak lagi bebas menentukan sikap. ‘Revolusi mental’ yang digarap kalangan internal PKI dengan dukungan Sarekat Rakyat (SR) kian mendorong aksi pemberontakan Alimin dan pendukungnya di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat pada 1926-1927. Pemberontakan ini gagal. Akibatnya, mereka jadi buronan pemerintah Hindia Belanda.
PKI dan Revolusi Mental

Jika ulasan-ulasan DN Aidit atau MH Lukman dibaca, maka segera tersirat keinginan kuat para pentolan PKI itu untuk melakukan ‘revolusi mental’. Memang, secara tersurat sulit menemukan istilah ‘revolusi mental’ dalam karya-karya tulis para tokoh PKI tersebut. Namun, indikasi kuat segera tampak manakala membaca karya mereka.

Seperti penggambaran Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitprop) pada tahap revolusi masyarakat Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1958 berjudul ‘ABC Politik Indonesia’, secara jelas tertulis desakan PKI agar dilakukan revolusi tanpa perlu menimbang akibat-akibat negatifnya. Brosur PKI yang disebar ke masyarakat itu berusaha menjelaskan alasan mengapa perlu suatu revolusi. Diantaranya, PKI beranggapan penciptaan masyarakat sosialis hanya bisa terwujud melalui revolusi komunis.

PKI menyembunyikan fakta betapa besar korban yang timbul akibat revolusi Rusia. Organisasi komunis ini secara sengaja tidak menyodorkan risiko-risiko akibat revolusi. Bagi para tokoh PKI, program cuci-otak masyarakat perlu dimulai dengan menyebarkan pamflet berisi ajakan revolusi. Memang, di dalam pamflet-pamflet PKI selalu disebut alasan di balik revolusi itu, hanya saja pamflet itu tidak pernah menuliskan dampak revolusi. Sehingga sadar atau tidak, siapapun yang tidak kritis membaca pamflet PKI, maka ia akan mudah tercuci-otaknya.

Pelan namun pasti, program-program cuci-otak ala PKI tersebut menyasar bukan saja ke kalangan kota, melainkan hingga ke desa-desa. Pamflet dan program disebarkan dengan bahasa sederhana, tapi bisa memengaruhi cara berpikir orang awam. Sejak akhir tahun 1958, para pengurus teras PKI membekali juru kampanyenya dengan trik-trik kotor mencuci otak warga. Seperti dengan membuat kampanye hitam pada lawan-lawan politik PKI.


Diantaranya menjuluki Masjumi dan PSI sebagai kepala batu. Dalam Kongres Nasional ke-VI PKI di Jakarta, Wakil Sekjen CC PKI Njoto pada pidato 9 September 1959 menuding parpol yang kritis sebagai ‘kepala batu’. Njoto pula yang aktif turun ke lapangan memengaruhi para kader-kader PKI agar rajin memprovokasi khalayak umum.

Revolusi Mental? Itu Cara PKI!


Istilah ‘Revolusi Mental’ ternyata memang bukan isapan jempol belaka. Istilah ini sudah digunakan oleh Karl Marx pada pertengahan abad 19. Dalam pengantar untuk edisi kedua dari bukunya bertajuk ‘The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte’ yang terbit pada tahun 1869, Marx menulis: “…Outside France, this violent breach with the traditional popular belief, this tremendous mental revolution, has been little noticed and still less understood…” (Di luar Perancis, kekerasan ini melabrak kepercayaan umum yang tradisional, revolusi mental yang luar biasa ini, telah sedikit diketahui dan masih kurang dipahami). Begitu kesimpulan Marx dalam kalimat pengantar buku tersebut. Simpulan Marx itu tentu saja menunjukkan salah-satu inti ajaran Marx tentang kebutuhan akan pertarungan kelas.

Buku kondang Marx itu pertama kali terbit memang pada tahun 1852. Selain Marx, ada sohib karibnya, Frederick Engels, yang juga memberikan kata pengantar. Dibanding Marx, kata pengantar Engels tidak begitu menukik. Ia hanya mengurai saja, apa yang terjadi di Prancis pada masa itu. Justru kata pengantar Marx di edisi kedua (1869) yang secara terang-terangan menyebut perlunya ‘revolusi mental’, pendobrak keyakinan lama.

Bagi Marx, ‘revolusi mental’ merupakan keharusan untuk menata masyarakat, dari tatanan lama menuju ke tatanan baru yang komunistis. Marx dan para pendukungnya mendorong terjadinya ‘revolusi mental’, yang membenturkan kelompok satu ke yang lain. Batasnya, siapa yang ikut mentalnya direvolusi, dan siapa yang tidak.

Tak pelak, karya Marx menjadi sumber inspirasi bagi gerakan komunis internasional. Dimulai dari gerakan kelas pekerja pada 1864 kemudian 1889, lalu 1919, nyaris seluruh aktivis gerakan ini bersandar pada ‘revolusi mental’. Mereka memilah siapa kawan siapa lawan, lalu berusaha memengaruhi publik lewat agitasi propaganda. Masuk ke masyarakat, mempengaruhi komunitas buruh, menyelusup ke pasar dan pusat keramaian untuk memprovokasi warga. Ini bagian dari cara ‘revolusi mental’.

Walau tak harus tersurat, tetapi cara itu tersirat dalam hampir semua karya Marx pada kurun berikutnya. Karya-karya yang gampang dicari di berbagai situs internet dewasa ini. Sulit rasanya menepis anggapan, bahwa Marx tak mendorong ‘revolusi mental’ itu.

Khusus untuk mengubah cara berpikir, para konseptor aksi komunis pada periode berikutnya, juga meniru Marx. Dari 1864 sampai 1872, para pengikut Karl Marx, seperti Eugene Pottier (penyair Prancis) dan Wilhelm Liebknecht (revolusioner Jerman), mulai menata diri dalam ‘Internasional Pertama’ yang berbasis di London. Hubungan mereka sangat erat pada kaum pekerja di kota tersebut. Mereka juga menulis selebaran. Disebarkan secara luas, lalu dilihat reaksi masyarakat.

Intinya, para pelopor komunisme sudah terbiasa menyebarkan pandangan-pandangan yang mengadu-domba satu kelompok dengan kelompok lain demi sebuah ‘revolusi mental’. Seperti yang dilakukan Georgi Plekhanov di Rusia. Ia memanas-manasi para penggarap lahan agar bentrok dengan pemilik tanah. Sangat mirip kelak dengan aksi Nyoto tatkala menggerakkan pemuda rakyat di lapangan.

Jika Marx lebih banyak memotret dinamika di Eropa utara (Prancis, Jerman dan Spanyol), maka Vladimir Illich Lenin (VI Lenin) lebih fokus pada negerinya, Rusia. Seperti juga Marx, Lenin banyak menulis selebaran untuk dibagi ke khalayak. Tujuannya, menggerakkan masyarakat Rusia melawan Tsar Rusia kala itu.

Dalam karyanya berjudul ‘State and Revolution’ yang diterbitkan pertama kali pada 1918, Lenin secara tersirat menyebutkan perlunya aksi dramatis menyingkirkan kaum kapitalis dan birokrat. Dalam kitab itu, Lenin lebih tegas menekankan pentingnya ‘jiwa revolusioner’ dibersihkan dari kaum borjuis dan oportunis.

Lenin beranggapan gerakan Internasional Kedua (1889-1914), dikomandani Karl Kautsky, sudah jatuh bangkrut. Sebabnya, tulis Lenin, belum ada revolusi yang bisa menggerakkan kaum proletar (miskin) guna menggusur para kapitalis. Karenanya, Lenin menyodorkan cara menggerakkan massa melalui penjelasan-penjelasan provokatif, membenturkan satu bagian rakyat kepada bagian yang lain. Tak perlu diragukan, itulah cara ‘revolusi mental’ guna memulai benturan antar warga masyarakat.

Namun, harap jangan mencari istilah ‘revolusi mental’ itu ke dalam buku ‘Manifesto Komunis’ yang terbit pada 1848. Percuma. Sebab, istilah itu tak ada dalam buku ‘Manifesto Komunis’. Dalam manifesto, Marx lebih suka menggambarkan pertarungan kelas, contohnya kelas borjuis lawan kelas proletar. Walau terbit lebih awal, manifesto komunis sebenarnya hanya untuk kebutuhan praktis.
Kebangkitan Komunis Indonesia

Sejarah mencatat, kebangkitan kelompok komunis di Hindia Belanda (kini Indonesia) berkat campur tangan Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau kondang dipanggil Henk Sneevliet. Pria yang sebelumnya sudah menjadi anggota komunis Belanda itu juga merupakan organisator Komintern (Komunis Internasional). Begitu menginjakkan kaki di Kota Surabaya sekitar tahun 1913, Sneevliet bergabung dengan redaksi koran ‘Soerabajaasch Handelsblad’.

Pada 9 Mei 1914, Sneevliet membentuk ‘Indische Sociaal Democratische Vereniging’ (ISDV, perkumpulan sosial-demokrat Hindia Belanda) di kota yang sama. Melalui perkumpulan ini, Sneevliet melancarkan kampanye hitam pada organisasi lain yang tidak sehaluan. Sebaliknya, ia juga mulai aktif merekrut orang Indonesia untuk menjadi juru penyebar kampanye hitam, seperti Semaun.

Sneevliet juga kemudian bersentuhan secara luas dengan para aktivis Sarekat Islam (SI) yang lain, semisal Alimin Prawirodirjo dan Darsono. Gagasan Sneevliet yang kuat dipengaruhi ajaran Marxisme mulai ditularkan ke para aktivis SI. Mereka terpengaruh, terutama pada ajaran Marxisme yang menyebutkan ‘Agama adalah Candu bagi Rakyat’. Akibatnya, mereka pun mulai membatasi diri dari pergaulan dengan sejawat dalam SI. Kedekatan dengan Sneevliet sudah mengubah diri mereka. Pengaruh gagasan ‘revolusi mental’ ala Marxisme mulai merasuki jiwa dan pikiran sejumlah aktivis SI. Berbagai bahan bacaan yang diperkenalkan Sneevliet dan dialog-dialog bersamanya telah mampu menggoyahkan keyakinan para aktivis SI ‘Merah’.

Dalam bukunya berjudul ‘The Rise of Indonesian Communism’ (1965), peneliti Ruth McVey juga melukiskan hubungan kerja Sneevliet dengan Adolf Baars. Pria yang juga disebut dalam sejarah sebagai salah-satu tokoh pendiri komunisme di Indonesia. Baars banyak menyurahkan waktunya membantu Sneevliet. Selama berbulan-bulan Sneevliet terus memengaruhi para anak-didiknya. Campur-tangan Sneevliet ke dalam aktivitas SI mengakibatkan organisasi yang berdiri tahun 1912 itu pecah. Semaun dan rekan-rekan sehaluan yang sudah tercuci otaknya, lebih memilih bergabung dengan Sneevliet. Mereka begitu terpesona dengan komentar-komentar Sneevliet.

Program cuci otak Sneevliet ternyata mujarab. Setelah membersihkan para aktivis itu dari pikiran-pikiran religius, lalu Sneevliet mengisinya dengan ajaran-ajaran Marxis yang anti-agama. Dalam testimoni tulisannya yang terbit pada tahun 1926 bertajuk ‘The class struggle element in the liberation struggle of the Indonesian people’, Sneevliet mengakui telah menyuntikkan gagasan revolusioner ke dalam SI.

Kata ‘revolusioner’ bagi komunis seperti Sneevliet, tentu saja, bermakna menyerabut seseorang dari lingkungan asal. Taktik serupa juga diungkapkan Lenin pada tahun 1918. Semaun, Alimin dan Darsono merupakan contoh bagaimana kepribadiannya sudah dicerabut dari SI.

Mental mereka telah direvolusi sedemikian rupa, sehingga mudah menjadi boneka komunis. Kelak di kemudian hari, usai Konferensi Batavia pada Januari 1926, para kader komunis yang sudah tercuci otaknya tersebut melakukan kesepakatan untuk aksi sepihak. Mereka tak mau memerhitungkan syarat-syarat keberhasilan suatu aksi. Sebab, bagi Alimin dan kawan-kawannya, yang terpening adalah beraksi frontal. Tak peduli akan jatuh korban banyak.

Komintern sudah sepenuhnya mengendalikan pikiran para petualang politik ini. Mereka tak lagi bebas menentukan sikap. ‘Revolusi mental’ yang digarap kalangan internal PKI dengan dukungan Sarekat Rakyat (SR) kian mendorong aksi pemberontakan Alimin dan pendukungnya di Banten dan Silungkang, Sumatera Barat pada 1926-1927. Pemberontakan ini gagal. Akibatnya, mereka jadi buronan 
pemerintah Hindia Belanda.

PKI dan Revolusi Mental
Jika ulasan-ulasan DN Aidit atau MH Lukman dibaca, maka segera tersirat keinginan kuat para pentolan PKI itu untuk melakukan ‘revolusi mental’. Memang, secara tersurat sulit menemukan istilah ‘revolusi mental’ dalam karya-karya tulis para tokoh PKI tersebut. Namun, indikasi kuat segera tampak manakala membaca karya mereka.

Seperti penggambaran Departemen Agitasi dan Propaganda (Depagitprop) pada tahap revolusi masyarakat Indonesia. Dalam buku yang diterbitkan tahun 1958 berjudul ‘ABC Politik Indonesia’, secara jelas tertulis desakan PKI agar dilakukan revolusi tanpa perlu menimbang akibat-akibat negatifnya. Brosur PKI yang disebar ke masyarakat itu berusaha menjelaskan alasan mengapa perlu suatu revolusi. Diantaranya, PKI beranggapan penciptaan masyarakat sosialis hanya bisa terwujud melalui revolusi komunis.

PKI menyembunyikan fakta betapa besar korban yang timbul akibat revolusi Rusia. Organisasi komunis ini secara sengaja tidak menyodorkan risiko-risiko akibat revolusi. Bagi para tokoh PKI, program cuci-otak masyarakat perlu dimulai dengan menyebarkan pamflet berisi ajakan revolusi. Memang, di dalam pamflet-pamflet PKI selalu disebut alasan di balik revolusi itu, hanya saja pamflet itu tidak pernah menuliskan dampak revolusi. Sehingga sadar atau tidak, siapapun yang tidak kritis membaca pamflet PKI, maka ia akan mudah tercuci-otaknya.

Pelan namun pasti, program-program cuci-otak ala PKI tersebut menyasar bukan saja ke kalangan kota, melainkan hingga ke desa-desa. Pamflet dan program disebarkan dengan bahasa sederhana, tapi bisa memengaruhi cara berpikir orang awam. Sejak akhir tahun 1958, para pengurus teras PKI membekali juru kampanyenya dengan trik-trik kotor mencuci otak warga. Seperti dengan membuat kampanye hitam pada lawan-lawan politik PKI.

Diantaranya menjuluki Masjumi dan PSI sebagai kepala batu. Dalam Kongres Nasional ke-VI PKI di Jakarta, Wakil Sekjen CC PKI Njoto pada pidato 9 September 1959 menuding parpol yang kritis sebagai ‘kepala batu’. Njoto pula yang aktif turun ke lapangan memengaruhi para kader-kader PKI agar rajin memprovokasi khalayak umum.

Aksi Njoto itu merupakan wujud dari langkah-langkah PKI untuk mencuci otak masyarakat. Semua fakta diputar-balik oleh Njoto, demi kepentingan program ‘revolusi mental’ di masyarakat. Langkah serupa juga dilakukan Aidit. Ia bukan saja gemar menjelaskan tahap-tahap pembentukan masyarakat Indonesia ke berbagai kalangan di dalam negeri, bahkan sampai ke luar negeri pun dilakukan Aidit.
Ketika berkunjung ke Sekolah Tinggi Partai Komunis Cina di Peking, RRT, pada 2 September 1963, DN Aidit begitu antusias menjelaskan tahap perkembangan masyarakat Indonesia. Tahap-tahap itu tentu sangat penting bagi PKI. Sebab, dari tahap-tahap inilah kemudian PKI bisa merancang aksi cuci-otak.

Boleh dikata, tahap-tahap perkembangan masyarakat Indonesia yang dibuat PKI itu sesungguhnya merupakan pemetaan terhadap situasi dan kondisi masyarakat. Dari pemetaan tersebut, maka tentu saja mudah untuk membidik berbagai kalangan yang hendak direvolusi mentalnya. Jika bidikan ini berhasil, maka PKI kemudian akan mudah menggerakkan mereka.