PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Terorisme dan Kemunafikan Orang Indonesia

Serial terorisme di Indonesia dimulai sejak 11 September 2001, tepatnya sejak Tragedi WTC. Bukan sejak 12 Oktober 2002 ketika meledak Bom Bali I. Mengapa? Karena femomena terorisme di Indonesia itu merupakan hasil dari pemaksaan agenda War On Terror yang dilancarkan oleh Amerika sejak Tragedi WTC.

Indonesia termasuk klien terbaik Amerika dalam isu terorisme. Di jaman SBY kualitas dalam melayani isu terorisme itu semakin hebat. Betapa tidak, demi menyebarkan isu terorisme secara menyeluruh, bangsa Indonesia secara sadar dan paham, telah menghancurkan kehidupannya sendiri.

Kita ini bisa dibilang sebagai: bangsa yang mau mencelakai diri, demi membuat orang lain tertawa terbahak-bahak. Itulah Indonesia. Regim SBY sangat sempurna dalam memerankan posisi sebagai “badut” yang membuat tertawa itu. Kalau di negara lain, isu terorisme diatasi dengan sangat cepat, tertutup, dan efektif; agar tidak merugikan proses pembangunan. Kalau di Indonesia, isu terorisme malah bersaing ketat dengan sinetron-sinetron di RCTI, SCTV, Indosiar, dan lainnya.

Sejak awal munculnya isu terorisme, sebenarnya pihak Polri tidak suka harus menghadapi isu ini. Sebab mereka tidak berpengalaman menghadapi teroris. Yang berpengalaman ialah satuan Gultor (penanggulangan teror) di bawah satuan Kopassus. Mereka lebih berpengalaman. Sedangkan Polri jauh sekali dari kemampuan anti teror.

Namun kemudian Polri mau mengambil tugas anti teror itu, karena mendapat dukungan langsung dari Presiden RI. Bahkan yang terpenting, Polri menerima bantuan dana, fasilitas, dan pelatihan anti teror dari Amerika dan Australia (bahkan sangat mungkin Israel juga). Dengan motif dana itu Polri jadi semangat. Lalu satuan yang dipilih ialah Brimob yang mirip-mirip TNI. Orang-orang Brimob yang bagus dipilih. Dari sinilah nanti lahir Densus88. Satuan ini bisa dikatakan, menggantikan posisi Gultor dari Kopassus.


Seni Kemunafikan Demi Kehancuran Bangsa!

Seiring perjalanan waktu, ternyata Polri merasa SANGAT BAHAGIA mengemban tugas anti teror itu. Mengapa? Ada dua alasannya yang sangat mendasar: a. Mereka mendapat anggaran penuh untuk melakukan operasi-operasi anti teror; b. Mereka mendapatkan reputasi besar di mata masyarakat dan media massa dengan tugas “memberantas teroris” itu. Dua hal ini sangat menggiurkan.

Bahkan Polri yang selama Orde Baru merasa terus berada di bawah TNI, mereka merasa mendapatkan pujian, kekaguman, dan dukungan luas dari masyarakat dan negara. Terutama ketika selesai melakukan operasi anti teror. Jangan dikira. Hal-hal demikian sangat besar artinya bagi kalangan Polri. Mereka anggap itu adalah kemenangan moral besar.

Kemudian masalahnya bertambah rumit ketika isu teror “sangat bermanfaat” untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari isu-isu besar yang sedang menerjang citra Pemerintah. Isu teror dipercaya sangat efektif untuk mengalihkan perhatian publik dari isu-isu negatif yang merugikan citra Pemerintah. Maka bila ada isu-isu sengak tertentu, segera saja berita soal terorisme diangkat. Ya, begitulah.

Dan kebetulan, wartawan-wartawan media bertingkah seperti wartawan infotainment. Mereka sangat haus mencari berita-berita seputar terorisme, sebab terbukti berita semacam itu efektif nyedot iklan. Semakin banyak iklan, paha dan kaki semakin berlendir. [Maksudnya, semakin banyak duit yang didapat wartawan untuk main esek-esek secara haram. Na'udzubillah wa na'udzubillah min dzalik].

Akhirnya seperti lingkaran setan, semua pihak membutuhkan isu terorisme. Polisi jelas butuh, karena soal anggaran dan citra sosialnya di mata TNI dan masyarakat. Pemerintah juga membutuhkan, untuk mengalihkan perhatian publik. Kaum kapitalis membutuhkan juga, agar para aktivis Islam tidak terus koar-koar menyerang bisnis mereka. Bahkan para wartawan media sangat menyukai isu ini, sebab sangat “berlendir”.

Sejujurnya, orang-orang yang saat ini berteriak paling keras, “Awas teroris! Teroris mengancam bangsa! Teroris musuh bersama!” Ternyata orang seperti itu merupakan pihak yang paling menginginkan isu terorisme terus menghantui kehidupan bangsa kita. Ini hanya soal kemunafikan saja.Media-media, seperti TVOne, MetriTV, RCTI, GlobalTV, Trans7, dan lainnya yang sering provokatif dalam memberitakan isu-isu teroris, mereka juga sangat MUNAFIK. Satu sisi, merasa seolah membela kepentingan rakyat; di sisi lain, mereka selalu berdoa agar kasus terorisme selalu muncul. “Ini masalah cari makan untuk anak-isteri, Mas!” Ya, cari makan yang halal dong! Jangan memakan darah, air mata, dan nyawa manusia.

Perlu disadari, isu terorisme ini jelas SANGAT MENGHANCURKAN kehidupan nasional. Otak, hati, tangan, kaki, dan kehidupan kita tidak pernah konsentrasi melakukan pembangunan. Sebab, setiap akan berkarya SELALU DIGANGGU oleh isu terorisme. Kapan bisa mencapai kemajuan, kalau selalu muncul isu terorisme? Coba deh, pikir dengan akal sederhana, apakah ada kemajuan yang tinggi di sebuah negara yang ramai dengan isu terorisme? Tidak pernah itu. Tidak ada negara seperti itu. Dimanapun juga terorisme itu merupakan musuh bebuyutan stabilitas pembangunan.

Fakta yang sangat menyedihkan. Hal ini membuktikan bahwa terorisme di Indonesia itu tidak ada yang ORIGINAL, tetapi by design. Ternyata, para teroris yang sering ditangkap atau ditembak aparat kepolisian itu, rata-rata orang bodoh. Jauh sekali dari kualitas seorang teroris dunia seperti di Irlandia, Spanyol, Amerika, Kanada, dan lainnya. Karakter teroris itu seharusnya: pintar, cermat, bermain data, sabar meretas proses, mengerti konstelasi politik, dll. Ya, seperti diperlihatkan di film-film action itu. [Coba deh, lihat film tentang Jason Bourne]. Sedangkan di Indonesia, para teroris rata-rata kurus-kurus, tinggal di gang, miskin, berwawasan sempit, penguasaan alat minim, pengangguran, dan seterusnya. Para teroris dunia tertawa melihat kualitas teroris Indonesia. Tertawa terbahak-bahak mereka.

Betul yang dikatakan oleh Amran Nasution dalam sebuah tulisannya. Pemberantasan teroris di Indonesia itu seperti: “Memburu hewan liar di kebun binatang.” Lihatlah, betapa mudahnya menembaki hewan di kebun binatang. Sebab hewan-hewan itu sudah dipenjara, tidak bisa lari kemana-mana. Nah, itulah hakikat isu terorisme di Indonesia ini.

Di negeri ini kita tak bisa berharap akan berkarya maksimal. Sepanjang waktu, kita akan terus direcoki dengan isu-isu terorisme. Tetapi kita juga tak bisa mencegah hal itu, sebab ia digerakkan oleh tangan-tangan kekuasaan yang merasa sangat diuntungkan oleh isu tersebut. Intinya, semakin sedikit warga bangsa Indonesia yang mencintai negerinya. Kebanyakan ialah kaum MANIAC (baca: syaitan) yang hidup seperti virus, mencari keuntungan di balik penderitaan masyarakat luas.

Jika suatu saat Indonesia hancur, jangan menangisi siapapun. Kehancuran itu adalah BUAH dar proses yang ditanam oleh kaum maniac itu. Jangan menyesal dan menangis lagi. Wong, itu semua mereka yang membuat. Dan ingatlah, kaum maniak keji itu pasti akan mendapat sanksi paling perih dan mengerikan, daripada orang-orang lainnya.

Ya Allah ya ‘Aziz, kami ini hanya bisa mengingatkan. Tak lebih dari itu. Ampuni kami dan maafkan kaum Muslimin yang ikhlas dalam menjalani hidupnya. Allahumma aamiin.

AM. Waskito.
Label artikel Terorisme dan Kemunafikan Orang Indonesia judul Terorisme dan Kemunafikan Orang Indonesia...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Jumat, 18 November 2011

Belum ada komentar untuk "Terorisme dan Kemunafikan Orang Indonesia"

Posting Komentar