PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

SBY Dibilang Begini, Gus Dur Dibilang Begitu… Ternyata Sama Saja…





Penghargaan gelar Ksatria Salib Agung berupa selempang dan bintang dari Kerajaan Inggris diterima Presiden SBY seusai jamuan santap siang di Blue Drawing Room, Istana Buckingham, London, Inggris, Rabu (31/10/2012) lalu, pukul 14.30 waktu setempat.

Ini ada yang menyebutnya barter gelar Ksatria Salib Agung dengan proyek gas Tangguh Train 3 kepada pemodal Inggris. Di dua tahun sisa kekuasaannya, Yudhoyono kembali membuktikan diri memperuntukkan amanat rakyat untuk kepentingan para tuan pemodal asing yang selama ini jelas-jelas merampok kekayaan bangsa dan negara ini.

Demikian disampaikan Sekjen Eksekutif Nasional LMND, Agus Priyanto, menanggapi barter gelar ksatria ‘Knight Grand Cross in the Order of Bath’ dari Ratu Inggris Elizabeth II kepada SBY dengan pemberian konsesi proyek gas Tangguh Train 3 oleh pemerintah RI kepada British Petroleum./ salam-online

    Kedua sosok ini (SBY dan Gus Dur) dikait-kaitkan dengan ‘kongkalikong’ bisnis minyak. SBY diberi gelar Ksatria Salib Agung karena dinilai berjasa telah ‘menjual’ LNG Tangguh kepada British Petroleum, perusahaan migas asal Inggris. Sementara itu pada bulan Juni 2000, terkuak keterlibatan Gus Dur dalam permainan pengambilalihan Blok Coastal Plain Pekanbaru (CPP) oleh Pemda Riau. Melalui Petra Oil, Gus Dur dikabarkan turut mengelola sumur minyak yang saat itu ditaksir mampu menghasilkan sekitar 50.000 barel per hari.
 
    Pernyataan Sutan Bhatoegana (pendukung SBY) –mengenai Gus Dur kenapa dilengserkan dari kursi kepresidenan–  dalam mengimbangi lontaran  Adhie Massardi yang menuding SBY sesungguhnya bukanlah fitnah. Sebagaimana juga tudingan Adhie Massardi (pendukung SBY) terhadap SBY berkaitan dengan tema ‘menjual’ LNG Tangguh kepada British Petroleum.
    Dalam hal mendapat gelar kehormatan dari pihak Kristen dan Yahudi, kesamaannya, selain direspon negatif oleh rakyat Indonesia, kedua sosok ini juga pendukung aliran sesat seperti Ahmadiyah dan sebagainya.

    Ahmadiyah adalah aliran sesat yang berdusta atas nama Allah. Nabi palsunya yakni Mirza Ghulam Ahmad mengaku mendapatkan wahyu dari Allah, dan dikumpulkan kemudian disebut Kitab Tadzkirah dianggap wahyu muqaddas, wahyu suci. Itu puncak kedustaan dan kezaliman. Karena Allah Ta’ala berfirman.

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ (٣٢)

32. Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal bagi orang-orang yang kafir? (QS Az-Zumar/ 39: 32).

Membela aliran sesat Ahmadiyah berarti membela pendusta tingkat tertinggi yang telah difatwakan murtadnya oleh MUI 2005, dan secara internasional diharamkan masuk ke Kota Suci Makkah. Maka pembelaannya itu merupakan tingkah amat dusta dan amat zalim pula. Sedangkan bila yang berdusta itu pemimpin maka ada ancaman Allah Ta’ala yang mengerikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
« ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ – قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ – وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ ». صحيح مسلم

“Tiga jenis orang yang Allah tidak mengajak berbicara pada hari kiamat, tidak mensucikan mereka, tidak melihat kepada mereka, dan bagi mereka adzab yang pedih: Orang berumur tua yang berzina, penguasa yang pendusta, dan orang miskin yang sombong,” (HR Muslim).

Ancaman lain pun ada.

Bahkan untuk para pendukung sang durjana.

Camkanlah hadits ini.

Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ ، مَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ ، وَلَيْسَ يَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ ، وَمَنْ لَمْ يَدْخُلْ عَلَيْهِمْ ، وَلَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ ، وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ ، فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ ، وَسَيَرِدُ عَلَيَّ الْحَوْضَ.
(النسائى في كتاب الإمارة).

 “Akan ada setelah (wafat)ku (nanti) umaro’ –para amir/pemimpin—(yang bohong). Barangsiapa masuk pada mereka lalu membenarkan (menyetujui) kebohongan mereka dan membantu/mendukung kedhaliman mereka maka dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak (punya bagian untuk) mendatangi telaga (di hari kiamat). Dan barangsiapa yang tidak masuk pada mereka (umaro’ bohong) itu, dan tidak membenarkan kebohongan mereka, dan (juga) tidak mendukung kedhaliman mereka, maka dia adalah dari golonganku, dan aku dari golongannya, dan ia akan mendatangi telaga (di hari kiamat). (HR An-Nasaa’i dalam kitab Al-Imaroh dishahihkan oleh Al-Albani).

***

Berikut ini uraian tentang dua sosok yang para pendukungnya saling tuding hingga ramai secara nasional belakangan ini.

***
SBY dan Gus Dur

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukan satu-satunya presiden RI yang mendapat gelar kehormatan dari negara-bangsa lain, namun tidak direspon positif oleh rakyatnya. Sosok presiden sebelumnya, adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang juga pernah menjabat presiden pada 20 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001.

Pada akhir 31 Oktober 2012 waktu setempat, SBY menerima gelar kehormatan Honorary Knights Grand Cross of the Order of the Bath yang disematkan langsung oleh Ratu Inggris di Istana Buckingham. Gelar kehormatan itu kemudian disederhanakan penyebutannya dalam bahasa Indonesia menjadi Kesatria Salib Agung. Kosa kata “salib” tentu saja sangat sensitif, karena berkaitan dengan akidah dan simbol agama kristen-katolik yang bernuansa kemusyrikan.

Sedangkan Gus Dur pernah menerima Medal of Valor dari Yayasan Simon Wiesenthal. Penghargaan diberikan di Beverly Wilshire Hotel, Beverly Hills, Amerika Serikat pada hari Selasa tanggal 6 Mei 2008 malam. Medal of Valor dalam pemahaman bahasa Indonesia artinya medali keberanian. Yayasan Simon Wiesenthal diduga membawa misi Yahudi. Sedangkan Yahudi diposisikan sebagai pihak yang memusuhi (akidah) Islam.

Bedanya, ketika SBY menerima gelar kehormatan Honorary Knights Grand Cross of the Order of the Bath tersebut, ia sedang menjabat sebagai presiden RI yang insya Allah akan berakhir tahun 2014. Berbeda dengan itu, saat menerima medali keberanian dari lembaga Yahudi, GD sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Kesamaannya, selain direspon negatif oleh rakyat Indonesia, kedua sosok ini juga pendukung aliran sesat seperti Ahmadiyah dan sebagainya.

Ada juga kesamaan lainnya, yaitu kedua sosok ini dikait-kaitkan dengan ‘kongkalikong’ bisnis minyak.

Adhie Massardi yang ketika GD jadi presiden menjalankan peran sebagai jubir, menuding bahwa pemberian gelar kehormatan Honorary Knights Grand Cross of the Order of the Bath kepada SBY tersebut, karena SBY dinilai berjasa telah ‘menjual’ LNG Tangguh kepada British Petroleum, perusahaan migas asal Inggris.

Sementara itu, ketika GD dulu memecat Jusuf Kalla (April 2000) dan menggantikannya dengan Luhut Panjaitan sebagai Menperindag, tak berapa lama (Juni 2000), terkuak keterlibatan Gus Dur dalam permainan pengambilalihan Blok Coastal Plain Pekanbaru (CPP) oleh Pemda Riau. Melalui Petra Oil, Gus Dur dikabarkan turut mengelola sumur minyak yang saat itu ditaksir mampu menghasilkan sekitar 50.000 barel per hari.

Petra Oil semula dimiliki oleh Bob Hassan dan Tommy Soeharto (Hutomo Mandala Putra), kemudian diakuisisi oleh seorang pengusaha. Proses akuisisi itu melibatkan Alwi Shihab (tokoh NU yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri), Rozy Munir (juga tokoh NU yang saat itu menjabat sebagai Menneg Investasi/Pembinaan BUMN), dan seorang pejabat di lingkungan kementerian Investasi. Petra Oil kemudian dijadikan semacam tradinghouse perdagangan minyak di wilayah Timur Tengah khususnya Iran dan Irak.

Ketika SBY dituding Adhie Massardi, muncul reaksi dari salah seorang elite Partai Demokrat, Sutan Bhatoegana, yang mengatakan bahwa GD saat jadi presiden juga nggak bersih-bersih amat, bahkan diturunkan karena terlibat Buloggate dan Bruneigate. Pernyataan Sutan Bhatoegana dianggap fitnah. Maka ia dituntut minta maaf, bahkan Said Agil Siradj (Ketua Umum PBNU), meminta Partai Demokrat memberikan sanksi kepada Sutan Bhatoegana.

Padahal, pernyataan Sutan Bhatoegana cuma mengulang fakta yang memang sudah jadi semacam sejarah.

Kasus Bulog-gate dan Brunei-gate

Kasus Bulog-gate dan Brunei-gate merupakan sebuah fenomena bertema “kekuasaan cenderung korup (power tends to corrupt)” yang juga terjadi pada saat GD menduduki tampuk kekuasaan. Padahal selama ini GD dicitrakan sebagai tokoh yang demokratis. Ternyata ia hanyalah seorang penguasa yang korup. Penguasa yang korup, jelaslah bukan penguasa yang demokratis. Karena, untuk bisa memenuhi hajat korupnya, ia harus otoriter, menekan yang bisa ditekan, memaksa yang bisa dipaksa, dengan berbagai cara.

Dari kasus Bulog-gate, muncul sesosok korban bernama Sapuan. Saat itu Sapuan menjabat sebagai Wakil Kepala Bulog (Wakabulog). Kasus ini menyeret Sapuan ke meja hijau. Dalam rangka menjelaskan masalah sebenarnya, Sapuan pernah membuat pengakuan tertulis.

Sejak 1998 Sapuan sudah mengenal Soewondo sebagai pedagang barang antik. Ketika Sapuan menjabat Wakabulog mendampingi Muhammad Jusuf Kalla yang saat itu merangkap jabatan sebagai Kabulog disamping Menperindag, ada yang memberitahukan bahwa Soewondo merupakan sosok yang dekat dengan Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada suatu kesempatan, sekitar Januari 2000, Sapuan bertemu dengan Soewondo. Pada kesempatan itu Soewondo menyatakan bahwa Presiden Abdurrahman Wahid bermaksud menggunakan dana taktis atau dana di luar neraca Bulog untuk membantu penyelesaian masalah Aceh. Ketika itu Sapuan sempat meminta kepada Soewondo untuk mempertemukannya dengan Presiden untuk mengkonfirmasi keinginan tersebut.

Akhirnya, masih di buan Januari 2000, menjelang Hari Raya Idul Fitri, Sapuan bertemu dengan Presiden Abdurahman Wahid. Ia diantar oleh Ir Soleh Sofyan dan Ir Mulyono Makmur. Namun hanya Sapuan yang diperkenankan menghadap Presiden. Pertemuan berlangsung pukul 16.00 wib.

Pada pertemuan itu, menurut Sapuan, Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan keinginannya menggunakan dana taktis Bulog untuk menyelesaikan masalah Aceh melalui berbagai LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Ketika itu Sapuan menyampaikan, prosedur penggunaan dana taktis itu bisa diatur melalui keppres sehingga jelas pertanggungjawabannya. Namun, melalui Soewondo, Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan tidak setuju menempuh prosedur tersebut.

Sebagai Wakabulog, Sapuan melaporkan pertemuannya dengan Presiden Abdurrahman Wahid kepada atasannya, Muhammad Jusuf Kalla. Ketika itu, Kabulog Muhammad Jusuf Kalla pun melakukan konfirmasi kepada Presiden dan tetap menyarankan agar menempuh prosedur melalui Keppres.

Selanjutnya tidak ada lagi pertemuan antara Presiden Abdurrahman Wahid dengan pejabat Bulog manapun. Namun, setelah liburan Idul Fitri, Soewondo kembali mendatangi Sapuan dan meminta tolong agar dicarikan pinjaman sebesar Rp 35 milyar. Soewondo berjanji, pinjaman itu akan segera dikembalikan dalam jangka waktu satu tahun, yaitu tanggal 14 Januari 2001.

Maka, Sapuan pun membuat surat perjanjian pengakuan hutang yang ditandatangani Sapuan sebagai Ketua Yayasan Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Bulog dan Soewondo sebagai pihak yang berhutang dengan menyandang status mentereng sebagai Asisten Pribadi Presiden. Dalam perjanjian itu disepakati bunga pinjaman sebesar 18 persen per tahun, dengan agunan berupa tanah seluas 200 hektar di Cianjur. Dana yang digunakan sepenuhnya dana Yanatera, bukan dana non-neraca. Peruntukannya juga jelas, yaitu pinjaman pemerintah untuk dana Aceh.

Sapuan mengabulkan permintaan pinjaman itu karena menurut Soewondo konon atas permintaan Presiden untuk menangani masalah Aceh. Bagi Sapuan, alasan tersebut masih sejalan dengan semangat pertemuannya dengan Presiden sebelumnya. Apalagi, selama ini Bulog memang selalu diberi tugas dalam menangani masalah khusus, antara lain masalah Aceh.

Sebagaimana diakui Sapuan, dana Rp 35 milyar milik Yanatera itu seluruhnya diserahkan kepada Soewondo. Namun ternyata mengalir kemana-mana. Menurut temuan Gowa (Government Watch), pada tanggal 14 Januari 2000 Leo Purnomo alias Kie Hau (staf dari AW Air) mencairkan check Bukopin sejumlah Rp 5 milyar di BCA Tomang. Pada tanggal 20 Januari 2000, Teti Sunarti (istri Soewondo) mencairkan check Bukopin sebesar Rp 10 milyar di Bank Mandiri Pulomas.

Pada hari yang sama, 20 Januari 2000, Suko Sudarso (yang saat itu menjabat sebagai Wakil Kepala Litbang PDI Perjuangan) mencairkan dana Rp 15 milyar di Citibank Sudirman. Masih ada lagi. Pada tanggal 24 Maret 2000, Siti Farika mencairkan Rp 5 milyar di BCA Sudirman, kemudian pada tanggal 27 Maret 2000 dana tersebut ditransfer ke BCA Semarang.

No. CekBukopin
   


Sebagai tambahan informasi, Siti Farika diduga merupakan salah satu wanita yang akrab dengan Gus Dur selain Aryanti boru Sitepu. Siti Farika dan Suko Sudarso adalah aktivis GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia), organisasi kepemudaan onderbouw PDI (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan). Sedangkan Soewondo termasuk salah satu orang dekat Gus Dur (Asisten Pribadi Presiden) yang merangkap sebagai tukang pijit pribadi sejak Gus Dur belum menjabat sebagai presiden.

Perusahaan penerbangan AW Air (Airwagon Internasional Airline) dimiliki oleh AW (Abdurrahman Wahid), Soewondo dan pihak lainnya. Di perusahaan itu, AW memiliki saham 50 persen sedangkan Soewondo 15 persen. Pendirian perusahan berdasarkan akte notaris Budiono, SH tanggal 28 September 1999 Namun, setelah Gus Dur dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 1999, ia menyatakan mundur dari perseroan tersebut. (Jaknews.com, Rabu, 07/06/2000, 14.55).

Menurut Kapolri saat itu Jenderal Rusdihardjo, sebagaimana diberitakan Sinar Pagi Online, 8 Juni 2000, pihak kepolisian telah mengamankan dana milik Yanatera Bulog senilai Rp 35 miliar yang diselewengkan. Antara lain, sebanyak Rp 10 miliar diamankan dari istri Suwondo, Rp 5 miliar dari Siti Farikha dan Rp 15 miliar berasal dari 132 sertifikat tanah di Cianjur milik Suwondo.

Ketika kasus Bulog-gate terkuak, salah seorang petinggi NU yang juga pendukung setia Gus Dur, Said Agil Siradj mengatakan, bahwa kasus korupsi senilai Rp 35 miliar itu kecil, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Padahal, agama (Islam) tidak pernah membenarkan pencurian (korupsi) sekecil apapun. Apalagi dari kasus korupsi ini dilengkapi dengan penzaliman berupa jatuhnya korban  setingkat Wakil Kepala Bulog, yang harus mendekam di dalam penjara meski dalam keadaan sakit.

Sedangkan untuk kasus Brunei-gate, sebagaimana diberitakan detik.com edisi 8 Juni 2000, Presiden Abdurahman Wahid mengakui bantuan dari Sultan Hassanal Bolkiah sebesar USD 2 juta yang ditujukan untuk Aceh mengucur ke kantong bendahara pribadinya H. Masnuh.

Selama ini H. Masnuh merupakan “bendahara” non formal Gus Dur. Tugasnya, mengumpulkan dana kemanusiaan. Masnuh juga dikenal sebagai pengusaha kayu asal Surabaya yang saat itu bermukim di Jl. Irian, Jakarta Pusat.

Gus Dur pernah menjelaskan, sebagian dari dana 2 juta dolar AS itu telah dikirim ke Afdhal Yasin, salah satu anggota DPRD I Aceh dan Fuadi salah seorang mahasiswa di Aceh. Namun pada tahap pertama baru terkirim 600 ribu dolar AS. Dana itu, kata Gus Dur, tak hanya untuk masalah Aceh, tapi juga Ambon dan Papua.

***

Jadi, pernyataan Sutan Bhatoegana sesungguhnya bukanlah fitnah, sebagaimana juga tudingan Adhie Massardi terhadap SBY berkaitan dengan tema ‘menjual’ LNG Tangguh kepada British Petroleum. (lihat: British Petroleum Investasi 12 Miliar Dolar AS, Republika online edisi Minggu, 04 November 2012, 13:02 WIB).

Meski begitu, Sutan Bhatoegana tetap memenuhi desakan fans mendiang GD untuk meminta maaf. Apalagi, Sutan mengakui dia juga berasal dari keluarga NU. Jadi, yang selama ini ribut-ribut di ruang publik itu ternyata dari keluarga yang sama toh.

Dalam kasus ini, kalau kita tengok peribahasa ada ungkapan Menang jadi arang, kalah jadi abu: dalam pertengkaran, menang atau kalah sama-sama menderita kerugian.

Apa ruginya?

Jadi terbuka dua-duanya, aib mereka terbongkar kembali.

Bagi orang yang mampu mengambil pelajaran berharga, di situlah indahnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tampak nyata:
(( مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ )) متفق عَلَيْهِ .

Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Hadits muttafaq ‘alaih).

 Imam Nawawi dalam kitab Riyadhus Shalihien menjelaskan:

 وهذا صَريحٌ في أنَّهُ يَنْبَغي أنْ لا يَتَكَلَّمَ إِلاَّ إِذَا كَانَ الكلامُ خَيراً ، وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَتْ مَصْلَحَتُهُ ، ومَتَى شَكَّ في ظُهُورِ المَصْلَحَةِ ، فَلاَ يَتَكَلَّم .

 Ini jelas bahwa seyogyanya seseorang tidak bicara kecuali bila pembicaraan itu baik, yaitu yang nampak maslahat-kebaikannya. Dan kapan ia ragu akan adanya kemaslahatan-kebaikan maka janganlah bicara. (Riyadhus Shalihien bab haramnya ghibah dan perintah menjaga lisan).

 (haji/tede/nahimunkar.com)

Sumber:

http://nahimunkar.com/18846/sby-dibilang-begini-gus-dur-dibilang-begitu-ternyata-sama-saja/
Label artikel Gusdur | Presiden SBY | TOKOH judul SBY Dibilang Begini, Gus Dur Dibilang Begitu… Ternyata Sama Saja…...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Kamis, 16 Januari 2014

Belum ada komentar untuk "SBY Dibilang Begini, Gus Dur Dibilang Begitu… Ternyata Sama Saja…"

Posting Komentar