PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Membenci Islam, Menjajakan Sekulerisme Bermuara Komunisme dan Atheisme


Pada salah satu tulisannya, mendiang Nurcholish Madjid  pernah menyatakan: “Komunisme adalah bentuk lain dan lebih tinggi dari sekularisme. Sebab, komunisme adalah sekularisme yang paling murni dan konsekwen. Dalam komunismelah seseorang menjadi atheis sempurna“

Pernyataan itu dikutip oleh Abdul Hadi W.M. melalui tulisannya berjudul Islam, Marxisme dan Persoalan Sosialisme di Indonesia yang dipublikaskan di situs Bayt al-Hikmah Institute, bisa juga ditemukan di http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/01/28/islam-marxisme-dan-persoalan/.

Bila komunisme adalah bentuk lain dan lebih tinggi dari sekularisme, maka logikanya, sekularisme adalah bentuk lain dan lebih rendah dari komunisme, yang belum murni dan belum konsekwen sebagaimana komunisme. Kalau begitu adanya, tentu dari benak kita timbul pertanyaan, Mengapa mendiang Nurcholish Madjid dan sekutunya begitu getol menjajakan sekularisme?”

Mungkin mendiang Nurcholish Madjid tahu –karena ia juga mengaku-aku ikut menumpas PKI (Partai Komunis Indonesia)– bahwa bila komunisme itu dijajakan apa adanya, pasti kalah, karena akan langsung dilibas oleh kekuatan Islam. Oleh karena itu, boleh jadi mendiang Nurcholish Madjid sedang bereksperimen dengan menjajakan komunisme namun melalui tingkatan yang lebih rendah, yaitu sekularisme. Bila sekularisme ini berhasil diserap, lama-kelamaan akan sampai ke puncaknya yaitu komunisme, dan komunisme merupakan puncak kesempurnaan atheisme. Padahal, atheisme bertentangan dengan Pancasila dan agama-agama yang diakui keberadaannya oleh pemerintah Indonesia.

Hanya Allah yang Maha Mengetahui, hanya Allah yang Lebih Mengetahui apa-apa yang tersimpan di balik hati seseorang, termasuk di balik hati Nurcholish Madjid (dan sekutunya) yang begitu getol menjajakan sekularisme. Bahkan kini komoditas ideologis itu berkembang menjadi sepilis (sekularisme, pluralisme agama, dan liberalisme).

Yang jelas, sebelum ajal menjemput (29 Agustus 2005), Nurcholish Madjid pada tahun 2004 pernah diganti hatinya di negeri tirai bambu (China), dari donor orang China. Dan di China, mayoritas penduduknya berpaham komunis tulen. Di tahun 1980-an, Bambang Irawan Hafiluddin dan Hasyim Rifa’i yang telah bertobat dan keluar dari kubangan kesesatan Islam Jama’ah (LDII), pernah berkunjung ke rumah Nurcholish Madjid di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Kepada Nurcholish Madjid mereka bertanya, ‘Negara mana di dunia ini yang pantas untuk ditiru sebagai teladan?_ Bambang dan Rifa’i spontan terkaget-kaget, karena ternyata jawaban Nurcholish Madjid adalah Negara China alias Tiongkok. Alasannya, karena di sana tidak ada perzinaan, pencurian dan sebagainya.

Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa tahu? Yang pasti, mendiang Nurcholish Madjid adalah pendiri Yayasan Wakaf Paramadina di Jakarta. Salah satu personil yang menjadi aktivis Paramadina adalah Saidiman, ketua Forum Muda Paramadina. Pada tanggal 1 Juni 2008 lalu, Saidiman yang juga aktivis komunitas utan kayu ini, menjadi koordinator lapangan  aksi AKKBB mendukung Ahmadiyah.

Dengan tameng merayakan Hari Lahir Pancasila dan Mendukung Minoritas Ahmadiyah, AKKBB bin CIA ini melakukan unjuk massa dan orasi di Bundaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta. Sebenarnya, tujuan mereka adalah untuk mengalihkan perhatian atau meng-counter aksi massa yang menolak kenaikan harga BBM. Amerika memang berkepentingan agar harga BBM di Indonesia setara dengan harga BBM di luar negeri pada umumnya. Mungkin dimaksudkan agar rakyat kecil yag berprofesi sebagai sopir angkot mati kelaparan karena berhenti beroperasi akibat harga bensin yang melambung.

Menurut protap (prosedur tetap), seharusnya massa AKKBB bin CIA ini menempuh rute yang telah disepakati (antara AKKB dengan kepolisian), yaitu Gambir-Air Mancur Indosat-Bundaran HI, untuk kemudian berorasi di Bundaran HI. Rute ini melewati jalan Medan Merdeka Selatan melintas di depan Kedubes Amerika. Melintasi Kedubes AS bukan tanpa tujuan, tetapi memang begitulah aturan bakunya, untuk menunjukkan kepada majikannya bahwa mereka sudah menjalankan perintah sesuai pesanan. Sebagai ‘nomor bukti’ kira-kira begitulah.

Namun, pentolan AKKBB yang berkedok humanis ini ternyata serigala berbulu ayam. Begitu melihat ada massa Laskar Islam, watak aslinya keluar, naluri menghabisi musuh-musuhnya pun bangkit. Massa AKKBB bin CIA yang seharusnya menempuh rute yang telah disepakati, justru masuk ke kawasan Monas. Padahal, di Monas sudah disepakati menjadi tempat massa PDI-P dan massa Laskar Islam berkumpul untuk melakukan orasi dengan tema TOLAK KENAIKAN HARGA BBM.

Perubahan rute yang dilakukan AKKBB ternyata tidak dipedulikan pada persidangan Habib Rizieq dan Munarman, sehingga mereka berdua divonis 18 bulan. Seharusnya perubahan rute yang memicu terjadinya bentrokan, dijadikan novum penting yang dapat melemahkan tuduhan JPU (Jaksa Penuntut Umum) terhadap Habib Rizieq dan Munarman.

Karena akibat adanya perubahan rute itulah, terjadi bentrokan antara massa AKKBB dengan Laskar Islam, yang mengakibatkan Guntur Romli dan Saidiman bonyok. Massa AKKBB bin CIA jelas kalah. Karena, massa Laskar Islam (yang di dalamnya terdapat unsur laskar FPI), lebih solid dibanding dengan massa AKKBB bin CIA, yang merupakan massa cair dan spontan karena dibayar sekian puluh ribu rupiah per orang.

Ketika massanya dipentungi dan dipukuli, Saidiman sang Korlap (koordinator lapangan) yang juga aktivis Paramadina ini spontan mengeluarkan umpatan dan sumpah serapahnya, ‘dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing.’

Demikian menurut laporan satu situs yang berpusat  di Surabaya di bawah lembaga yang memiliki cabang di berbagai wilayah.
Sejelek-jeleknya orang Islam, yang di dalam hatinya ada iman, ada keberpihakan kepada Islam, pasti tidak akan keluar kata-kata umpatan seperti itu. Kalau kita tuangkan isi teko, bila teko itu berisi air teh, maka yang keluar dan ditampung di dalam cangkir adalah air teh juga. Begitu juga dengan Saidiman, bila yang keluar dari mulutnya adalah anjing, maka hatinya dipenuhi dengan anjing.

Makian seperti dicetuskan mulut Saidiman itu jelas menunjukkan bahwa ia sesungguhnya membenci Islam. Kebencian Saidiman kepada Islam sudah menjadi pengetahuan umum. Karena, kebencian itu sering diungkapkannya di sebuah milis. Saidiman kerap menuturkan keburukan Islam dan Rasul-Nya, meski ia secara formal mengaku masih Islam. Padahal, yang membenci Islam, di Indonesia ini, bahkan membunuhi Ummat Islam adalah orang-orang komunis dan atheis. Contoh nyata adalah peristiwa Madiun 1948, yaitu dibantainya para Ulama dan Ummat Islam oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Saidiman ibarat murid yang sedang menunjukkan kepada kita, hasil belajar dan interaksinya selama ini dengan sang guru di tempatnya menggali ilmu.

Menunjukkan simpati pada Atheis

Akhir-akhir ini, kita dapati ada sejumlah orang yang gemar menunjukkan keberpihakannya kepada atheisme. Salah satunya Ahmad Syafi’i Ma’arif (ASM). Pada harian Republika edisi 27 Mei 2008, dalam rubrik Resonansi, melalui tulisannya berjudul Kaum Ateis Pun Berhak Hidup di Muka Bumi, ASM menunjukkan pembelaannya kepada kaum atheis. Menurut ASM, kaum anti agama (atheis) itu bisa masuk surga juga karena amal saleh yang mereka perbuat. Pernyataan itu, merupakan proses pemahaman ASM terhadap firman Allah pada surat Yunus ayat 99; Al-Baqarah ayat 256 dan Al-Isra ayat 107. Melalui ketiga ayat tadi, Allah memberikan hak kepada manusia berupa kebebasan untuk beriman atau tidak beriman. Begitu pemahaman ASM. (lihat artikel berjudul Lahn Qaul Ahmad Syafii Maarif June 5, 2008 10:06 pm).
Dalamnya lautan bisa diselami, tetapi dalamnya hati Ahmad Syafi’i Ma’arif siapa yang bisa selami? Untuk apa ia repot-repot membela kaum atheis dengan menyodorkan pemahaman bahwa kaum anti agama itu bisa masuk surga juga karena amal salehnya? Apalagi, belum tentu kaum atheis membutuhkan dukungan Ahmad Syafi’i Ma’arif. Bahkan belum tentu kaum atheis merasa senang dikabarkan bisa masuk surga, karena mereka memang tidak mempercayai keberadaan surga. Yang juga mengherankan, mengapa kok Republika yang katanya koran Islam mau-maunya memuat tulisan seperti itu? Jangan-jangan jajaran redaksi dan pemiliknya sudah condong kepada atheisme bin komunisme juga.

Kalau yang agak condong membela atheisme bin komunisme itu media cetak seperti TEMPO, barangkali masih bisa dimengerti. Karena, sejak lahir media cetak itu memang tidak punya komitmen apa-apa terhadap Islam dan umat Islam. Apalagi, Goenawan Mohamad (GM) akhir-akhir ini, terkesan cenderung memberikan posisi terhormat untuk kalangan atheis.

Sebagaimana tercermin melalui salah satu catatan pinggirnya berjudul Atheis, yang pernah dipublikasikan Majalah Tempo Edisi 23/30 Juli – 05 Agustus 2007. Bagi Goenawan Mohamad, di zaman ini iman (atau agama) dikibarkan dengan rasa ketakutan, dan rasa ketakutan dengan segera diubah jadi kebencian. Akibatnya, dunia tidak bertambah damai. Nah, karena agama atau iman kepada ajaran agama –yang dikibarkan dengan rasa ketakutan– maka kedatangan para atheis dengan pisau argumennya yang tajam, adalah sesuatu yang dinantikan. Siapa tahu para atheis inilah yang akan membuat kalangan agama mengalihkan fokus mereka dan kemudian berhenti bermusuhan.”

Demikian tulisan Goenawan Mohammad yang biasa disebut caping (catatan pinggir) yang ia mengaku di suatu wawancara, setiap kali menulis caping itu, ia memakan waktu lima jam, non stop, kadang jam tiga pagi sampai jam 08. bahkan sering diulang-ulang, hingga kadang redaksinya bingung, mana yang dipakai.

Meskipun sudah memakan waktu lima jam dan diulang-ulang, namun sangat ketahuan belangnya. Dalam hal atheis dan agama, Goenawan tampak merem, tidak melek. Padahal di hadapannya telah terpampang sejarah hitam PKI Madiun dan sebagainya. Di antaranya, sejarah ini perlu dia baca kembali:

…pembantaian yang sadis telah dilakukan oleh PKI (Partai Komunis Indonesia) yang berideologi marxisme, di antaranya dalam Affair Madiun atau Peristiwa Madiun (Pemberontakan PKI di Madiun, 18 September 1948 pimpinan Muso dan Amir Syarifuddin).

Seorang wartawan asal Madiun menulis di Majalah Media Dakwah tentang hilangnya kemanusiaan berganti dengan kesadisan. Di antaranya ia mengemukakan adanya dokumentasi di kantor berita foto, Ipphos, tentang foto genangan darah ulama yang disembelihi PKI  (Partai Komunis Indonesia) dalam Affair Madiun atau Peristiwa Madiun 18 Sepetember 1948. Dia sebutkan, foto genangan darah ulama itu setebal bercenti-centi meter saking banyaknya ulama yang disembelihi PKI. Di Kampung Gorang Gareng Madiun saja, ungkap wartawan asal Madiun ini, ada seratusan lebih ulama beserta keluarganya yang dibantai PKI pimpinan Muso dan Amir Sjarifuddin.[1]

Sederhanya, dengan merem dan tidak melek terhadap kenyataan sejarah, GM sedang menjajakan atheisme, karena atheisme itu lebih baik daripada beriman (beragama) tapi tidak bisa menciptakan kedamaian, justru memproduksi permusuhan dan pertikaian.

Membaca pernyataan di atas, GM dan para pendukungnya sudah bisa diduga akan berkilah, ‘Anda salah memahami maksud yang terkandung dari dalam tulisan GM.”

Oh, ya? Masalahnya, selama ini GM lebih sering memposisikan diri –melalui tulisannya di catatan pinggir– tidak tegas, tidak jantan, alias banci. GM bagai bencong yang menjajakan diri di perempatan jalan yang sunyi dan gelap: di kejar dari kiri, dia belok ke kanan; di kejar dari kanan, dia belok ke kiri. Seharusnya digrebek dari segala penjuru, supaya tidak bisa lari kemana-mana.


Tapi khan dulu GM merupakan salah satu budayawan Indonesia yang dimusuhi dan diobok-obok PKI. Begitu mungkin alasan yang disodorkan GM dan pengikutnya. Betul, tapi manusia bisa berubah. Faktanya, ada sosok yang semula laki-laki, kini berhasil menjadi perempuan. Kalau jenis kelamin saja bisa berubah (seketika), apalagi hanya keberpihakan kepada sebuah paham?

Ada kemiripan pesan antara pendapat Ahmad Syafi’i Ma’arif dengan Goenawan Mohamad dalam membela kalangan atheis ini. Ma’arif seolah-olah berpesan, karena beragama atau tidak merupakan hak yang diberikan oleh Allah, maka pilihan menjadi atheis pun tidak ada sanksi apa-apa dari-Nya, bahkan tetap bisa masuk surga-Nya karena telah melakukan amal saleh. Sedangkan GM seolah-olah sedang berpesan, daripada beragama tetapi tidak mampu menciptakan kedamaian, mending atheis sekalian.

Bila dikaitkan dengan pernyataan Nurcholish Madjid di atas, ‘Dalam komunismelah seseorang menjadi atheis sempurna’, maka boleh jadi, Ma’arif dan Goenawan sedang menjajakan komunisme yang lebih rendah tingkatannya, yaitu atheisme. Kalau atheisme sudah mendapat posisi terhormat di kalangan bangsa Indonesia, kelak akan mudah membawa bangsa Indonesia menuju tingkat yang lebih sempurna yaitu komunisme.

Perlu pula kita tengok di kampus perguruan tinggi Islam (IAIN, UIN, STAIN, STAIS dan sebagainya). Kasus di Bandung, ajakan dzikir dengan ucapan Anjing hu Akabar  diteriakkan oleh seorang mahasiswa senior untuk ditirukan oleh mahasiswa baru UIN bandung). Di suatu media dikemukakan: Acara taaruf di UIN (Universitas Islam Negeri) Bandung Jumat, 27 September 2004 pun segera berbuah kecaman. Ulama Bandung, Athian Ali M Dai, menyatakan benih-benih materialis, atheis, dan komunis ternyata telah tumbuh liar dan mencemarkan integritas dan citra UIN SGD Bandung. Ditambahkannya, benarkah hanya IAIN saja yang mengalami nasib seperti ini? Karena yang sangat faktual kader-kader anti Islam dan anti tuhan mulai menampakkan diri secara jalang.

Dari kenyataan-kenyataan itu, siapa bilang ideology komunisme telah mati? Kenyataannya, ideology komunisme masih hidup di Paramadina, di UIN, di IAIN, di AKKBB, di Tempo Grup, di Utan Kayu, di Republika, di Kompas dan masih banyak tempat lain, termasuk di berbagai parpol.

Peringatan Allah dan Rasul-Nya.
Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بَعْضُهُمْ أَوْلِياَءُ بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوْهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فيِ اْلأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيْرٌ
t73.  Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu[625], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. ((QS Al-Anfal: 73)
[625]  yang dimaksud dengan apa yang telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

اْلمُناَفِقُوْنَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُوْنَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ اْلمَعْرُوْفِ وَيَقْبِضُوْنَ أيَدْيِهْمِ ْنَسُوْا اللهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ هُمُ اْلفَاسِقُوْنَ
67.  Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma’ruf dan mereka menggenggamkan tangannya[648]. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. (QS At-Taubah: 67).

[648]  Maksudnya: berlaku kikir

إِنَّ اْلمُناَفِقِيْنَ فيِ الدَّرْكِ اْلأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيْراً -145- إِلاَّ الَّذِيْنَ تاَبُوْا وَأَصْلَحُوْا وَاعْتَصَمُوْا بِاللهِ وَأَخْلَصُوْا دِيْنَهُمْ للهِ فأولئك مع المؤمنين وسوف يؤت الله المؤمنين أجرا عظيما
145.  Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.
146.  Kecuali orang-orang yang Taubat dan mengadakan perbaikan[369] dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka Karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar. (QS An-Nisaa’: 145, 146)

[369] mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.


Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ (أحمد ، وابن أبى الدنيا فى ذم الغيبة ، وابن عدى ، ونصر فى الحجة ، والبيهقى فى شعب الإيمان ، والضياء عن عمر. قال الألباني في ” السلسلة الصحيحة ” 3 / 11 : إسناده صحيح )
Dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya yang paling saya takuti dari apa yang aku takuti atas ummatku adalah setiap orang munafik yang sangat pandai bicara. (HR Ahmad, Ibnu Abid Dun-ya, Ibnu ‘ِِِAdi, Nashr, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ad-Dhiyaa’; dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah juz 3/ 11). (haji/tede)
Label artikel Anti Komunisme | ANTI LIBERALISME | Nurcholish Madjid | PKI | TENTANG ATEIS | TOKOH judul Membenci Islam, Menjajakan Sekulerisme Bermuara Komunisme dan Atheisme...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Senin, 17 Februari 2014

Belum ada komentar untuk "Membenci Islam, Menjajakan Sekulerisme Bermuara Komunisme dan Atheisme"

Posting Komentar