PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

“Go Ahead” Tagline Promosi Hedonisme

Philip Morris, produsen rokok kelas dunia yang dikenal luas lewat merek Marlboro dengan citra koboi Amerika yang khas telah banyak menjerumuskan remaja Indonesia kedalam kebiasaan adiktif negatif. Apalagi sejak tahun 2005, Philip Moris telah berhasil mengakuisisi 97% saham Sampoerna, salah satu vendor rokok lokal.

Selain lihai dalam melakukan ekspansi bisnis lewat akuisisi, kesuksesan Philip Morris di bidangnya juga didukung oleh satu instrumen penting yang mampu mempengaruhi masyarakat untuk membeli produk-produknya. Instrumen tersebut adalah advertaising atau lembaga periklanan.

Contoh, kesuksesan merek Marlboro sehingga laku di pasaran Indonesia tidak lepas dari citra koboi maskulin yang sangat kuat ditampilkan lewat berbagai media. Masyarakat, terutama kaum pria diajak untuk mengkhayalkan maskulinitas sempurna a la Marlboro. Terbukti jika ada yang bertanya kepada seorang perokok Marlboro, apakah dirinya merasa lebih maskulin dengan rokok Marlboronya, pasti dijawab dengan “iya”.

Industri rokok memang selalu bermain dengan citra disetiap iklan yang mereka tampilkan. Alasannya sederhana, rokok bagaimanapun bukanlah produk primer yang tanpanya kehidupan manusia menjadi terganggu. Maka untuk mendapatkan konsumen sebesar-besarnya, alih-alih menjual rokok itu sendiri, industri rokok menjadikan “citra identitas” yang menjadi kebutuhan psikologis dasar manusia, sebagai bahan jualan.

Itulah mengapa sebabnya, para perokok pemula memulai merokok bukan karena menginginkan rasa nikmat dari rokok, tapi biasanya mereka ini merokok demi kebutuhan agar diakui citranya oleh lingkungan sekitar. Dan ketika seorang perokok pemula sudah cukup terbiasa dengan rokok, citra tidak lagi penting, karena adiksi nikotin sudah akan menjamin dirinya untuk terus mengkonsumsi rokok.



“Go Ahead”, Rokok dan Pemuda

Produk A Mild dari Sampoerna yang 97% sahamnya dikuasai oleh Philip Moris itu memiliki tema iklan yang patut ditelisik secara mendalam. Sebagai salah satu pelopor rokok dengan kadar nikotin rendah (mild), A Mild yang diluncurkan pada tahun 1987 memiliki beberapa tagline menarik. “Other Can Only Follow”, Bukan Basa Basi”, dan “Tanya Kenapa?”, adalah beberapa contoh slogan dan tagline yang disuguhkan A Mild untuk menjaring konsumen.

Pada tahun 2009, A Mild mengusung tagline “Go Ahead”, dari tampilan visual yang disajikan lewat berbagai media seperti iklan televisi dan billboard, kita dapat melihat jelas bahwa tagline ini dibuat untuk menyasar kaula muda. Walau menyasar kaula muda sebagai pangsa pasar, iklan-iklan A Mild dengan tagline “Go Ahead” ini tidak menampilkan narasi yang sederhana. Tidak seperti Marlboro dengan citra koboi yang kuat, iklan-iklan “Go Ahead” menampilkan pesan-pesan yang lebih subtil.

Untuk yang tak pernah nyaman
 yang tak pernah berhenti mencari 
Untuk siapa yang bertujuan untuk tersesat
 mengikuti kemana hati ingin pergi 
Untuk yang malu untuk malu
Berusaha sama agar berbeda
 Untuk yang takut, takutlah pada penyesalan
 Untuk sang pelopor dan sang pemberontak
 Lupa daratan pada setiap tantangan dan kemungkinan
 Untuk yang siap tersandung tanpa harus jatuh 
Untuk yang siap mencari dan tersesat 
Untuk yang siap hidup untuk diri 
Go Ahead!

Teks diatas diambil dari salah satu iklan A Mild dengan versi bertema “Untuk Diri”, jika dibaca atau didengar sekilas, kita akan merasa bahwa kata-kata tersebut penuh inspirasi, atau minimalnya memberi kesan menyemangati. Sedangkan bagi para remaja kita yang mungkin masih terbatas wawasan dan pola fikirnya karena masih dalam masa pencarian jati diri, kata-kata diatas seolah menawarkan identitas “keren” yang siap pakai.

Salah satu tolok ukur kesuksesan sebuah iklan adalah dengan tercapainya peningkatan penjualan produk yang bersangkutan. Dan jika kita melihat realitas, banyaknya pemuda kita yang menghisap rokok A Mild dapat menjadi bukti tersendiri suksesnya iklan dengan tagline “Go Ahead” tersebut. Tapi sayangnya, tagline “Go Ahead” ini tidak hanya sekedar sukses membawa remaja kita menjadi perokok, tapi juga sekaligus membuat remaja kita rusak pemahamannya terhadap sistem tata nilai.


Menggali Makna Dibalik Kata

Kutipan teks dari iklan A Mild diatas jika kita perhatikan secara seksama telah menawarkan kepada para audiens nya untuk melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan marka batasan apapun itu bentuknya. Selain itu audiens juga diajak agar tidak perlu takut terhadap konsekuensi yang lahir dari tindakan yang tidak memperdulikan batasan-batasan.

Lantas apa dalil pembenarannya? Kata-kata “untuk yang siap hidup untuk diri” adalah punchline sekaligus dalilnya. Kata-kata ini sejatinya hanyalah penghalusan dari kata-kata “hidup gue, suka-suka gue”.

Jika kutipan teks diatas tidaklah cukup, mari kita telisik iklan-iklan “Go Ahead” yang dipajang besar-besar lewat billboard. “Lupa Daratan-Go Ahead”, “Berisik Kesepian-Go Ahead”, “Jatuh Cinta-Go Ahaed”, “Pikir Pendek-Go Ahead”, “Hilang Arah-Go Ahead”, “Terikat Kebebasan-Go Ahead”, dan lain-lain adalah kata-kata yang dipakai untuk menemani tagline utama “Go Ahead”.

Kata-kata yang terpajang di billboard-billboard tersebut pasti terasa agak aneh di telinga dan di hati pembacanya, dan demi mengurangi “kecurigaan” atas makna dibalik kata-kata tersebut, selalu ada tampilan visual berupa gambar yang seolah menjadi terjemahan “resmi” kata-kata tersebut.

Jika kata-kata dari iklan billboard A Mild tersebut dibaca bersama gambarnya, maka kesan paling cepat yang bisa kita dapat adalah bahwa A Mild mempromosikan kreatifitas. Sekilas, karena mempromosikan kreatifitas, kita percaya bahwa iklan tersebut adalah iklan yang bagus. Tapi jika kita mulai bertanya lebih jauh tentang keatifitas macam apa yang ditawarkan, aggapan bahwa iklan A Mild adalah iklan yang bagus akan segera hilang.


“Go Ahead” Promosi Hedonisme

“Go Ahead” bersama kata-kata yang mengiringinya di setiap kesempatan sejatinya memberikan kepada kita makna implisit bahwa tiada aturan yang dapat mencegah kita melakukan apapun. “Go Ahead” bukan hanya saja berisi seruan implisit tadi, tapi juga merusak konsep makna dengan menyandingkan kata-kata yang bertentangan dan tidak seimbang dalam satu kondisi sepadan.

“Terikat Kebebasan-Go Ahead”, “Diam Bersuara-Go Ahead”, “Berisik Kesepian-Go Ahead” adalah contoh perusakan makna dan arti sebuah konsep. Efek paling jelas ketika pemahaman kita tentang makna rusak, maka perilaku kita ketika mengejewantahkan sesuatu juga akan ikut rusak.

Maka tidak perlu heran jika banyak remaja kita yang memaknai cinta secara kebablasan hingga mengakibatkan hamil diluar nikah, kacau memaknai solidaritas sehingga permasalahan sepele diantara dua kelompok diselesaikan lewat tawuran, bingung memaknai tanggung jawab sehingga merasa berkuasa dan dapat bertindak semena-mena terhadap juniornya dan lain-lain.

“Go Ahead” telah mengajak dan mengajarkan pemuda kita untuk hidup secara hedone, suka-suka diri sendiri. Tiada ukuran tentang kebenaran, kebaikan, kesalahan, serta keburukan melainkan atas dasar kepentingan dan nafsu pribadi semata.

Maka, iklan dengan tagline “Go Ahead” ini jika ia tidak sukses menjaring pemuda untuk menjadi seorang perokok, bisa jadi ia akan sukses merayu dan menawarkan konsep hidup hedonis pada pemuda kita. Gambar serta kata-kata “Peringatan: Rokok Membunuhmu” tampaknya tidak cukup efisien untuk mencegah kerusakan pemikiran yang ditimbulkan oleh iklan A Mild ini.

Tantangan dunia pemikiran dikalangan pemuda pasti jumlahnya lebih banyak dibandingkan seluruh billboard iklan rokok dikumpulkan menjadi satu. Menyikapi tantangan yang menggunung ini, bimbingan, pembinaan serta penempaan pola fikir serta penanaman konsepsi yang benar mutlak diperlukan. 

Jika iklan A Mild saja berani untuk mengajak para pemuda kita berfikir lewat kata-kata yang berat namun memikat, akankah orangtua dan para guru berdiam diri dengan terus berkutat memakai bahasa formal penuh basa-basi kepada anak serta muridnya? Masihkah kita enggan untuk mengajak khalayak disekitar kita untuk berfikir kritis kearah yang lebih baik?

Atau kita merasa cukup dengan “hidup sederhana apa adanya, tak usah banyak bertanya karena akan merepotkan diri saja”? Pilihan ada ditangan anda, berikut segala tanggung jawab dan konsekuensi dari pilihan tersebut.

Wallahu a'lamu bisshowwab

(Eza) 

feel free to remove tag
Label artikel Anti Komunisme | ANTI LIBERALISME | Bahaya Rokok | Fakta Rokok | PKI judul “Go Ahead” Tagline Promosi Hedonisme...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Jumat, 14 Maret 2014

Belum ada komentar untuk "“Go Ahead” Tagline Promosi Hedonisme"

Posting Komentar