PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Realitas Bangsa Kita


Bismillahirrahmaanirrahiim.


Memang sangat memprihatinkan kondisi bangsa kita saat ini. Prihatin sekali. Satu FAKTA saja. Sejak tahun 2002 di negeri kita sudah terjadi kasus-kasus bom (terorisme). Modusnya dari dulu sampai saat ini, masih sama. Secara logika, seharusnya kita sudah mendapat kesimpulan besar, siapa aktor intelektual di balik aksi bom-boman itu? Logikanya begitu.

Tetapi dalam menanggapi kasus-kasus terorisme itu, seakan semua media dan pengamat bersuara sama. Lagi-lagi mereka mengatakan, “Semua agama tidak mengajarkan terorisme.” Ada juga yang mengatakan, “Semua ini membuktikan bahwa program radikalisasi oleh pemerintah tidak efektif.” Ada juga yang berdalih, “Sebaiknya pembinaan agama yang lurus digencarkan di setiap keluarga.” Bahkan ada yang langsung tunjuk tangan, “Semua ini biang keroknya adalah Wahabi.” Saya mengira, semua omongan itu termasuk SAMPAH yang tak berguna sama sekali. Tak berguna dalam memintarkan masyarakat; tak berguna juga dalam memberantas terorisme.

Kalau mau, karena pernyataan-pernyataan itu selalu BERULANG dari waktu ke waktu; sebaiknya, kalau nanti ada kasus terorisme lagi, sudah saja pernyataan sebelumnya di-copy paste. Jadi tidak perlu membuat pernyataan baru, cukup disamakan dengan pernyataan lama. Baik koran, TV, atau website, cukup memuat ulang edisi-edisi lama mereka. Tak usah membuat edisi baru. Toh, isinya sama, otaknya sama, nyampahnya juga sama. Buat apa kita membuat sampah baru, kalau sampah lama masih “berguna”?

Media-media massa, para pengamat, dan masyarakat seperti tak mau sama sekali memakai “the conspiracy view” untuk melihat kasus-kasus pengeboman yang terjadi di tanah air selama ini. Pandangannya cenderung “tegak lurus”, sejak tahun 2002 sampai saat ini. Ini adalah fakta yang sangat memprihatinkan. Seolah di negeri ini tidak ada lagi orang pintar. Kaciannn…

                           RADIKALISME Seperti Bonsai. 
Tidak Boleh Tumbuh Besar; Kalau Mau Mati Cepat-cepat Disiram Air.


Untuk membuat aksi bom-boman itu, bagi yang memiliki sarana-sarananya, tidaklah sulit. Misalnya, dia membuat rekaman video berisi ancaman-ancaman bom, berisi semboyan-semboyan jihad; tak lupa background rekaman dibuat mirip milik aktivis jihad. Untuk menyembunyikan identitas, mereka memakai penutup muka. Kalau mau suara bahasa Arab, mereka rekam dulu, lalu dimuat dalam video secara dubbing. Setelah dibuat publikasi bahwa pelaku bom adalah “kaum mujahidin”, barulah dibuat ledakan bom yang dikendalikan oleh agen-agen intelijen. Untuk membuat hal-hal seperti ini sangat mudah, bagi yang punya akses senjata, informasi, dan dana.

Kalau tidak mau cara begitu, bisa dengan cara lain. Misalnya mendekati sekelompok pemuda Islam yang sangat anti pemerintah dan nafsu ingin segera perang. Mereka diprovokasi agar semakin berani melawan. Ujungnya, mereka disuruh melakukan “aksi bom bunuh diri”. Untuk biaya dan fasilitas, semua disediakan atas nama “infaq fi Sabilillah”. Adapun momentumnya disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau ada order politik, misalnya ingin ada pengalihan isu, tinggal dikontak calon pelaku bom bunuh diri.

Ada analisis jenius, katanya para pelaku aksi-aksi terorisme itu diperlakukan seperti tanaman BONSAI. Mereka terus dipelihara, tetapi tidak boleh besar dan menyebar. Cukup tumbuh kecil saja, seperti tanaman bonsai. Kalau tanaman itu mau besar, cepat-cepat dipangkas; kalau tanaman itu mau mati, cepat-cepat disiram agar terus hidup. Nah, stock pemuda-pemuda pelaku aksi teror itu selalu dipertahankan dalam jumlah kecil. Nanti “stock” ini sangat membantu untuk mengalihkan isu, ketika para penguasa mulai terpojok. Persis tanaman bonsai; tidak boleh besar, tetapi kalau mau mati cepat-cepat disiram.

Jadi, sumber TERORISME itu sendiri pada hakikatnya adalah elit-elit politik maniak itu. Merekalah yang memelihara kasus-kasus terorisme agar selalu tumbuh di tengah masyarakat; demi mengamankan posisi politiknya. Mereka itulah maniak-maniak -laknatullah ‘alaihim- yang sangat tidak memiliki belas-kasihan, baik kepada pemuda-pemuda Islam lugu itu, maupun kepada bangsanya yang sekian lama diteror oleh isu-isu terorisme.

Sementara media-media sekuler selalu bersikap membabi-buta, sentimen, dan tidak adil. Mereka sok suci dengan merasa benar sendiri. Padahal secara hakiki, mereka hanya mencari pendapatan ekonomi dengan menjual isu-isu sosial-politik dalam bentuk berita-berita, tanpa tanggung-jawab. Andaikan bertanggung-jawab, tentu mereka akan berani membuka info-info off the record di balik isu-isu terorisme itu.
Singkat kata, inilah realitas kehidupan bangsa kita…

[1]. Rakyatnya awam, kurang ilmu, mudah dibodoh-bodohi oleh media massa, pernyataan para pejabat, dan analisis para pengamat.

[2]. Para pejabatnya curang, munafik, dan tidak peduli kebaikan negerinya. Mereka banyak merusak kehidupan, tetapi berpura-pura sebagai para pahlawan. Kasihan sekali.

[3]. Para pemuda bersikap oprtunis dan hedonis. Mereka tak peduli dengan keadaan di sekitarnya dengan prinsip, “Yang penting happy!”

[4]. Para agamawan (misalnya seperti Said Aqil Siradj dkk.) berlomba-lomba menjilat kepada penguasa dengan tanpa rasa malu sedikit pun. Orang seperti itu tak segan-segan menunggangi isu terorisme untuk meraup untung, mendapat popularitas, serta “cari muka” di depan pejabat. Mereka ini oleh para penyair diumpamakan seperti “burung gagak” yang mengais-ais sisa bangkai yang berjatuhan dari mulut binatang buas.

Inilah kondisi bangsa kita. Rakyatnya mudah dibodoh-bodohi, para birokratornya menghalalkan tipu-menipu, para pemuda yang dianggap sebagai “penggerak perubahan” telah terpenjara oleh hedonisme, serta para agamawan -seperti Said Aqil Siradj- lebih banyak menjual agama daripada membela agama dan Ummat. [Said Aqil Siradj ini bisa disebut "bisnisman sukses". Lalu apa yang dia bisniskan? Ya itu tadi, AGAMA. Semoga Allah Ta'ala menodai orang ini dengan penodaan besar, karena dia begitu intens menodai kehormatan kaum Muslimin. Allahumma amin Ya Salam Ya Malik].

Kondisi bangsa kita sangat memprihatinkan. Harapan terjadi perubahan dan bangkit kejayaan, seperti lamunan kosong. Tetapi…bagaimanapun juga, Allah Ta’ala Maha Luas rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Irhamna ya Arhama Rahimin, irhamna. Amin.

AMW.

Oktober 4, 2011


Label artikel Terorisme judul Realitas Bangsa Kita...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Jumat, 14 Maret 2014

Belum ada komentar untuk "Realitas Bangsa Kita"

Posting Komentar