PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik? (Bagian V)

Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik? (Bagian V)

Kali ini, kita masih membahas tentang cara media massa beropini.

====================
CARA MEDIA DALAM BEROPINI (bagian II)

Secara etika jurnalistik, wartawan tak boleh beropini secara langsung di dalam tulisan mereka. Bila punya opini, sebaiknya sampaikan lewat tokoh yang sependapat dengannya.

Masalahnya, seorang wartawan juga dituntut untuk TIDAK HANYA menampilkan pendapat yang pro, tapi juga yang kontra. Agar berita jadi imbang. Agar lebih fair.


Misalnya seorang wartawan hendak menulis berita tentang figur Mr.X sebagai gubernur.. Ada pro dan kontra di sini. Ada yang bilang dia sukses, ada yang bilang gagal.

Katakanlah si wartawan termasuk pendukung Mr.X. Maka bisa saja dia menampilkan pernyataan dari empat orang tokoh yang juga pro Mr.X, dan satu orang tokoh yang menentang Mr.X.

Apakah bisa seperti itu? Ya tentu saja bisa. Tapi masalahnya, jumlah tokoh yang ditampilkan belum menjamin bahwa "yang banyak akan menang melawan yang sedikit". Justru, bisa terjadi sebaliknya.

Agar lebih jelas, mari kita simak contoh berikut:

CONTOH i:

Menurut A, Mr.X telah gagal sebagai gubernur. Pendapat serupa diiyakan oleh B. Bahkan C dan D pun berpendapat sama.

Namun pendapat berbeda disampaikan oleh E. Menurutnya, kesuksesan Mr.X belum bisa ditentukan saat ini karena dia baru menjabat jadi gubernur selama 1,5 tahun. "Menurut saya, Mr.X itu pemimpin yang baik, kok," ujarnya.

* * *

Ada sebuah rumus pasti pada tulisan manapun:
Kalimat terakhir atau ending adalah kesimpulan.

Jadi empat pendapat tokoh yang diletakkan di bagian atas, telah dipatahkan oleh pendapat satu orang. Karena pendapat yang satu orang ini ditampilkan di bagian akhir.

Artinya, 4 orang dikalahkan oleh 1 orang.

Pada contoh I ini, kita bisa melihat dengan jelas, bahwa si wartawan adalah pendukung Mr.X.

SEKARANG COBA BANDINGKAN jika isi beritanya kita balik sebagai berikut:

CONTOH II:

"Kesuksesan Mr.X belum bisa ditentukan saat ini karena dia baru menjabat jadi gubernur selama 1,5 tahun," ujar E menanggapi banyaknya komentar miring seputar wacana tentang kesuksesan atau kegagalan Mr.X sebagai gubernur . "Menurut saya, Mr.X seorang pemimpin yang baik, kok," lanjutnya.

Namun pendapat berbeda disampaikan oleh A. Menurutnya, Mr.X telah gagal sebagai gubernur . Pendapat yang sama disampaikan oleh B, C, dan D. "Tak ada bagus-bagusnya Mr.X itu.," ujar D bernada sinis.

* * *

Pada contoh II, sangat jelas terlihat bedanya, yakni si E yang satu orang "dikeroyok" oleh empat orang. tentu saja, si E akan kalah

Tapi jangan dikira si E kalah hanya karena dia "dikeroyok" oleh empat orang. Jika kondisinya SATU LAWAN SATU pun, hasilnya sama saja. Contoh:

CONTOH III:

Menurut A, Mr.X telah gagal sebagai gubernur . "Tak ada bagus-bagusnya Mr.X itu.," ujar A bernada sinis..

Namun pendapat berbeda disampaikan oleh E. Menurutnya, kesuksesan Mr.X belum bisa ditentukan saat ini karena dia baru menjabat jadi gubernur selama 1,5 tahun. "Menurut saya, Mr.X itu pemimpin yang baik, kok," ujarnya.

CONTOH IV:

"Kesuksesan Mr.X belum bisa ditentukan saat ini karena dia baru menjabat jadi gubernur selama 1,5 tahun," ujar E menanggapi banyaknya komentar miring seputar wacana tentang kesuksesan atau kegagalan Mr.X sebagai gubernur . "Menurut saya, Mr.X seorang pemimpin yang baik, kok," lanjutnya.

Namun pendapat berbeda disampaikan oleh A. Menurutnya, Mr.X telah gagal sebagai gubernur. "Tak ada bagus-bagusnya Mr.X itu.," ujar A bernada sinis.

Nah, pada CONTOH III dan IV di atas, yang terjadi hanya SATU LAWAN SATU, yakni A "melawan" E. Bedanya: Pada contoh III, yang diletakkan di bagian akhir adalah pendapat pro. Sedangkan pada contoh IV, yang diletakkan di bagian akhir adalah pendapat kontra.

Bagian akhir dari sebuah tulisan merupan kesimpulan. Karena itu bisa kita simpulkan:
Pada contoh III, si wartawan adalah pendukung Mr.X.
Pada contoh IV, si wartawan adalah penentang Mr.X.

Intinya:
Yang penting bukan berapa orang tokoh yang bicara, tapi bagaimana cara si wartawan menempatkan opini para tokoh tersebut.

"Posisi menentukan prestasi," ujar para siswa di sekolah. Ternyata dalam dunia media massa pun hal ini berlaku

BERSAMBUNG >>

(Jonru) 
*dengan sedikit perubahan*
Label artikel Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik? | Kebusukan Media judul Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik? (Bagian V)...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Minggu, 26 Januari 2014

Belum ada komentar untuk "Bagaimana Media Massa Menggiring Opini Publik? (Bagian V)"

Posting Komentar