PEDULI FAKTA

Twitter @PeduliFakta

Kisah Disimpangkannya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia

Kader Ali Moertopo

Menjelang tahun 1959, dan di tahun 1960, IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Jogjakarta merekrut tenaga pengajar lulusan Pakistan bernama Moekti Ali. Cara pandang Moekti Ali terhadap Islam sangat berbau Ahmadiyah.

Kemudian hari bergabung pula sebagai tenaga pengajar, seorang yang berpikiran sekuler tamatan Universitas di Canada bernama Harun Nasution.

Di tahu-tahun sekitar itu sejumlah mahasiswa yang kelak menjadi kader Ali Moertopo, Kepala Opsus Operasi Khusus Bakin) menjadi mahasiswa IAIN yaitu Kafrawai (Ridwan) dan Zarqowi Suyuthi. Kedua nama ini kemudian menduduki jabatan teras Departemen Agama dan ‘berjasa’ besar untuk merontokkan Ruh IAIN yang asli dan berganti dengan Ruh ‘bohong-bohongan’.

Seluruh nama-nama tersebut di atas bekerja keras menyimpangkan IAIN dari cita-cita semula.

Yang dijadikan jargon untuk memperoleh dukungan atas tujuan mereka itu adalah “De-NU-nisasi”.

Seperti diketahui, partai Masyumi bubar tahun 1960, dan sejak itu pengendalian IAIN di bawah Departemen Agama yang menterinya selama beberapa periode dijabat tokoh dari partai NU (Nahdlatul Ulama).

Sampai dengan munculnya Moekti Ai sebagai menteri agama pada tahun 1972, khittah IAIN tidak berubah. Hanya saja condong ke NU. Tapi sejak Moekti Ali duduk bersila di departemen agama, wajah IAIN dirubah bertahap bahkan pada akhirnya ‘Ruhnya’ “diketok-magic”sehingga sosok dan jiwa IAIN tidak menjadi jelas bagi khalayak ramai. Mau dikata sebagai kawah chandradimuka penggembleng Gatutkaca-Gatutkaca bernafas Islam, tahunya yang muncul “Durna-Durna” alias Kombayana dan Sengkuni yang kerjanya merongrong Islam seperti Harun Nasution, Djohan Effendi, dan Nurcholish Madjid yang kemudian hari disusul dengan kader-kadernya yang “otak-otakan” seperti Azyumardi Azra dan Lutfie Assyaukani.

Sempurnalah padamnya ‘Ruh’ Islam dari IAIN ketika seorang “mudzabdzab” bernama Munawir Sjadzali menjabat menteri agama (selama dua periode, sepuluh tahun, 1983-1993, Red NM). Hukum Faraid (waris Islam, red) mau dirubahnya padahal nyata-nyata ketentuan Faraid diatur Quran.

Munawir pengasas perubahan IAIN menjadi UIN (Universitas Islam Negeri).

Di zaman Munawir inilah terjadi pengiriman besar-besaran sarjana IAIN bersekolah ke Australia, Canada, dan Amerika Serikat. Expatriat ini kemudian menjadi dosen IAIN, dan sebagian dari mereka jadi “tukang kepruk” yang bengis terhadap Islam.

(Catatan HAJ- wartawan Harian Pelita: dr Tarmizi Taher Menteri Agama pelanjut Munawir ketika berkunjung ke Jogjakarta untuk menjenguk Dr Kunto Wijoyo ilmuwan budayawan yang sedang sakit, tidak lupa beliau mengunjungi mantan Menteri Agama Moekti Ali. Begitu beliau sampai dan bersalaman dengan Moekti Ali lalu duduk, langsung Moekti Ali menekankan agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan. Dan saat kunjuang mau berakhir, begitu dr Tarmizi Taher pamit dan bersalaman untuk pulang, ditegaskan lagi oleh Moekti Ali ke wajah dr Tarmizi Taher, agar pengiriman dosen-dosen IAIN ke Barat dilanjutkan).

IAIN berubah jadi UIN dan ini bukan perubahan nama saja, tapi juga substansi. UIN meliputi fakultas-fakultas: 1. Science Teknologi, 2. Sosial Humaniora, 3. Tarbiyah, 4. Syariah, 5. Ushuluddin, 6. Dakwah, 7. Adab. (catatan: selanjutnya kabarnya ada Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, ada Ekonomi Islam, Red).

Tendensi akhir-akhir ini fakultas nomor 1 dan 2 mendapat minat yang sangat tinggi, fakultas nomor 3 dan 4 masih diminati. Fakultas nomor 5, 6, dan 7, makin merosot peminatnya.

Jika peminatnya makin merosot maka besar kemungkinan pada suatu hari fakultas nomor 5, 6, dan 7 akan ditutup. Hal ini sesuai dengan prinsip kemandirian, keuangan universitas-universitas negeri.

Perubahan IAIN menjadi UIN merupakan bahagian dari suatu skenario besar menghancurkan Islam.

Tampaknya melihat sukses besar yang dicapai dalam menghancurkan IAIN maka sasaran sekarang mulai dialihkan ke pesantren-pesantren.

Wapres Yusuf Kalla (Desember 2005, Red SI), hari-hari terakhir ini tidak bosannya mengkaitkan fenomena terorisme dengan keberadaan pesantren. Pesantren terus menerus dibidik dalam retorika Wapres. Pesantren yang bermasalah dan kini sudah ditutup, di Malaysia, tetapi (kenapa) pesantren Indonesia yang mau diobrak abrik. (Itu ibrat) Orang Betawi bilang: “Nenggak arak di mane mabok di mane?”

Hidup adalah perjuangan. Ini tantangan mutakhir yang harus dihadapi umat Islam dengan sabar dan pikiran yang jernih. (Tulisan ini adalah bagian penutup dari makalah “Kau Apakan Lagi IAIN-Ku Ini?”, oleh Ridwan Saidi, Reprint Media Dakwah edisi 361Desember 2005, dimuat Tabloid Suara Islam, Edisi 197 Tanggal 22 Jumadil Awal -6 Jumadil Akhir 1436H/ 13-27 Maret 2015, halaman 13).

***

Kamis, 21 Jumadil Ula 1436H / March 12, 2015

Label artikel ANTI LIBERALISME | Membongkar kebusukan tokoh tokoh liberal | Peduli Fakta | UIN judul Kisah Disimpangkannya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia...By : PEDULI FAKTA
Ditulis oleh: Peduli Fakta - Minggu, 26 April 2015

Belum ada komentar untuk "Kisah Disimpangkannya Perguruan Tinggi Islam di Indonesia"

Posting Komentar